
"Bee, masih lamakah? Pegel nih kaki Ay na" rengek manja Aliyah pada Denis.
"Sabar sikit lah, sayang. Nanti malam Bee pijitin kaki Ay na. Tapi tak gratis lho, harus ada ongkos kirimnya. Hehehe" Denis terkekeh godain sang istri.
"Apaan, ongkos muluh! Ntuu namanya Bee tak ikhlas pijitin Ay na"
"Mana ada tak ikhlas! Ikhlas banget malahan, Bee na" ujar Denis sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Idiih, mulai otak ngeres na! Minta disapu dulu nih, biar bersih isi kepala na"
"Sayang.. Ntuu kenapa dagunya, Ayang?"
"Emang kenapa, Bee? Ada yang belopotan kah?" tanya Aliyah penasaran sambil meraba dagunya.
"Sini Bee lihat dulu"
Aliyah mendongakkan dagunya ke arah Denis yang terlihat tersenyum gemas dengan kepatuhannya terhadap titah suaminya.
"Tak ada apa-apa, sayang. Cuma Bee pingin aja pegang dagu, Ayang" jail Denis dengan berpura-pura mengelap sesuatu yang menempel di dagu Aliyah.
"Aahhh, Bee modus! Cakap ajalah, kalau pingin pegang" sewot Aliyah.
"Kan sudah halal, yank. Bebas tilangkan sekarang, tak takut disemprit Bunda sama Ayah lagi. Hahahaha" Denis ketawa meringis melihat kesewotan Aliyah.
"Ada udang dibalik bakwan. Ada apa dengan menantu Ayah Ahwan?" tanya Aliyah
"Ada ikan Teri di dalam rempeyek. Kasihan Jhoni sudah termehek-mehek" balas Denis.
"Ntuuh kan, Jhoni lagi Bee! Siapa sih dia, Bee?"
"Penasaran ya? Kepo! Mau tau atau pingin tau banget!"
"Tak jadilah! Malas!" ketus Aliyah.
"Diihh, merajuk lho. Ayang na! Nanti malam aja, Bee temuin sama Jhoni"
"Tak mau, tak mood!"
"Beneran tak mood? Rugi besar lho nanti, kalau tak mau ketemu sama Jhoni na!" Denis terus meledek Aliyah.
"Bee.. Stop! Bahas Jhoni na. Tak guna!"
"Kata siapa tak guna? Ayang belum tau aja siapa Jhoni? Kalau sudah ketemu, pasti Ayang na, bakalan tak mau ditinggalin sama Jhoni na. Yang ada minta tambah lagi"
"Gitu kah?"
"Hooh! Jadi tak ketemu sama Jhoni na? Jangan ada kata penyesalan ya di kemudian hari, kalau tak mau ketemu Jhoni!"
"Terserah, Bee"
"Kata terserah itu, bisa diartikan iya dan tidak!"
"Terusss" potong Aliyah.
"Bisa gitu, Bee"
"Bisalah. Tapi kalau Ayang, ada jawab tidak. Bee pastikan Ayang akan rugi besar nantinya. Yang ada nangis guling-guling minta tolong ke Bee buat temui sama Jhoni na" ejek Denis.
"Tau ah, terserah Bee. Artikan yang mana!"
Disaat mereka berdua berdebat masalah Jhoni. Tiba-tiba datanglah seseorang yang naik ke pelaminan mendekati mereka, sambil menyanyikan lagu Aku Bukan Jodohnya.
Aliyah terkesiap. Melongo heran, kenapa orang itu bisa hadir di hari bahagianya ini. Perasaan dia tak ada undang lelaki itu. Denis terlihat sangat tenang, karena yang mengundang lelaki itu adalah dirinya. Dia hanya bisa terkekeh dalam hati melihat raut wajah istrinya yang penasaran dari mana lelaki itu tau hari bahagia nya, saat ini.
"Aku titipkan dia. Lanjutkan perjuanganku 'tuknya. Bahagiakan dia, kau sayangi dia, seperti ku menyayanginya" Excel terus melanjutkan lagunya sambil berjalan menuju pelaminan Aliyah dan Denis.
"Kenapa pakai acara datang ke sini sih! Buat badmood aja! Bukannya gr sama nih orang. Terserah dia juga sudah atau belum move on dari aku! Tapi takut aja, nih orang buat masalah di acara bahagiaku, sekarang ini!" gumam Aliyah. ketar ketir dengan kedatangan laki-laki itu.
"Dan 'kan kuikhlaskan dia. Tak pantas ku bersanding dengannya. 'Kan kuterima dengan lapang dada, aku bukan jodohnya" Excel mengakhiri nyanyian, ketika berdiri dihadapan kedua mempelai.
Lelaki itu adalah Excel Irwanto. Lelaki yang pernah menjadi salah satu kandidat yang bersaing dengan Denis kala itu. Namun, dia harus tersingkirkan karena pilihan sang gadis hanya pada satu nama DENIS dan tak akan tergantikan dengan nama siapa pun juga.
Berdiri tepat dihadapan wanita yang pernah mencuri hatinya, bersanding dengan lelaki pilihannya. Bak Raja dan Ratu yang duduk di singgasana. Perasaan kikuk, canggung menghinggapinya. Dia datang untuk menghargai sang empunya yang punya hajat. Dengan menampilkan senyum terbaik dan termanisnya, Excel menjabat tangan lelaki yang pernah menjadi rivalnya itu dan memberikan ucapan selamat serta doa yang terbaik juga untuk kedua mempelai.
"Selamat ya bro, ternyata perjuanganmu selama ini enggak sia-sia. Jarak yang terbentang tidak menjadikan halangan buat kalian bersatu dalam indahnya mahligai pernikahan. Semoga kalian berdua selalu menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah" ucap Excel dengan ketulusan hati, tapi tidak dengan matanya yang menyimpan kilatan tak rela.
Excel berusaha tetap tegar. Walaupun rasanya sakit teramat sakit. Luka yang tak mengeluarkan darah. Apalagi melihat wanita yang sangat dicintainya terlihat cantik dan anggun malam ini. Bersanding dengan lelaki lain.
Andaikan! Excel berandai-andai, membayangkan yang bersanding dengan wanita cantik dan anggun itu adalah dirinya. Pasti sangat bahagia sekali dalam hidupnya.
"Hai, bro! Masih kuat berdirikah? Jangan pingsan di sini, tak ada yang membopong tubuhmu" canda Denis sedikit menyindir lelaki yang sedang memberikan selamat padanya.
Excel mengerjapkan mata, dan secepat mungkin menyadarkan dirinya. Ia harus tetap tegar dan mengikhlaskan Aliyah bersanding dengan orang yang tepat.
Senyum terulas dari sudut bibirnya. Excel memeluk Denis.
"Aku ikhlaskan dia untukmu bro. Aku titipkan dia ke pelukkan mu. Tapi, jangan pernah sekali-kali kau buat terluka hatinya. Kalau sampai kau kecewakan dia. Aku tidak berpikir seribu kali untuk merebutnya kembali dia dari pelukanmu" ucap Excel pada Denis penuh penekanan.
"Terimakasih do'anya, bro. Kan selalu ku jaga dia dan tak akan ku lukai hatinya. Jangan khawatir dan ragukan sebesar apa cintaku untuknya. Aku akan buktikan pada dunia, pada siapapun itu. Cintaku sangat besar untuk bidadari tak bersayap milikku. Hanya milikku! Orang lain tak berhak menyentuhnya!" jawab Denis yakin.
"Aku tunggu buktinya, bro" Excel menepuk bahu Denis pelan. Kini, giliran Excel menyalami sang mempelai wanita.
Meskipun rasa getir menghinggapi perasaannya. Ia berusaha menahan air mata yang ingin lolos dari kedua matanya. Ia tak pernah menyangka akan berdiri bersama dengan wanita sang pujaan hatinya. Tapi bukan bersanding sebagai mempelai laki-laki, namun hanya sebagai tamu undangan. Menyakitkan bukan?
"Selamat berbahagia ya. Ternyata yang mengisi foto dan nama di buku nikahmu adalah dia, bukan aku. Yang terukir indah dalam undangan pernikahan itu juga bukan namaku, melainkan nama dia dan namamu"
"Terimakasih sudah hadir dan memberikan kami do'a yang terbaik. Dan aku ucapkan juga do'a terbaik untuk kamu. Semoga kamu juga akan mendapatkan cinta dan kasih sayang dari seorang gadis yang baik pula seperti dirimu" ucap Aliyah sembari segera melepaskan genggaman tangan Excel yang menggenggamnya erat.
Dengan berat hati Excel melangkahkan kakinya meninggalkan pelaminan dan segera bergabung dengan para tamu undangan lainnya. Usai dia dipaksa untuk berfoto ria bersama kedua mempelai dengan posisi dia diapit oleh Denis dan Aliyah di tengah-tengah. Bagaimana perasaan Excel, ya?
❤️❤️❤️❤️
Kebangetan nie si othor somplak bin gesrek.. Timpuk aja dengan serangkaian mawar merah atau satu cangkir kopi biar melek ntuu.. Wkwkwk 🙈🤭🤣🤣
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian berupa like, komen, masukan juga dalam favorit.. Vote dan gift juga tak apa kok lempar buat DELIYAH.. Terimakasih 🙏🌹❤️