
Kring.. Kring...
Drtt.. Drtt..
Ponsel pintar milik Aliyah berbunyi nyaring terdengar. Aliyah mengambil ponsel nya di atas meja. Ia menatap sekilas ke layar ponsel nya melihat siapa yang sedang menghubungi saat ini.
Zudith
Dengan sigap menggeser icon hijau di layar ponsel nya, saat melihat adik kesayangan nya yang menghubungi nya.
"Assalamu'alaikum, adik" sapa Aliyah saat menjawab panggilan adik nya setelah terhubung.
"Wa'alaikumussalam, mbak Aliyah" balas Zudith di sebrang sana.
"Mbak Aliyah sudah berangkat ke cafe?" tanya Zudith sekaligus mengingat kan Aliyah.
"Iya, ini mbak Aliyah mau berangkat ke sana. Kamu tenang aja" Aliyah menenangkan Zudith adik nya.
"Oke, lah kalau mbak Aliyah mau berangkat. Adik jadi tidak begitu khawatir keadaan cafe lindu saat ini" jawab Zudith.
"Santai aja, ada mbak Aliyah yang urus cafe nya hari ini. Kamu selesai kan dulu aja acara kamu, tak usah mikirin cafe sementara waktu." pesan Aliyah.
"Terimakasih, mbak Aliyah sudah bantuin. Sudah dulu ya, mbak. Assalamu'alaikum" ucap Zudith seraya mematikan sambungan telepon nya.
"Wa'alaikumussalam" balas Aliyah langsung menutup telepon nya.
Setelah panggilan berakhir. Aliyah pun kemudian berjalan masuk ke dalam kamar nya untuk bersiap diri dan segera berangkat ke cafe lindu.
Riris yang sedang membersihkan ruang santai keluarga Aliyah yang tadi di buat kumpul mereka bertiga. Beda lagi dengan apa yang di kerjakan Labibah. Ia sedang membersihkan ruang tamu dan teras rumah Aliyah. Mereka berdua terlihat kompak salin gotong-royong beberes di rumah Aliyah sahabat nya itu.
Setelah Aliyah mengganti pakaian nya. Kini, ia mulai merapikan hijab nya dan menyemprotkan parfum favorit nya. Sudah terlihat segar. Ia pun bergegas keluar kamar dan segera berangkat menuju cafe lindu.
Aliyah melangkah mendekati dua sahabat nya.
"Yuk.. Guys kita otewe ke cafe lindu." ajak Aliyah begitu sampai di hadapan kedua sahabat nya.
"Oke.. Kamu sudah siap?." tanya Riris.
"Berangkat" ucap Labibah genit sambil mengapit lengan Riris dan Aliyah.
"Cus.. Go.." sahut kompak Aliyah dan Riris seraya terkekeh.
Mereka bertiga berjalan beriringan masuk ke dalam mobil Aliyah. Setelah menghidupkan mesin mobil. Aliyah pun melaju kan mobil nya meninggal kan kediaman nya menuju cafe lindu.
Di dalam mobil Aliyah mengemudi kan mobil nya dengan raut wajah yang sumingrah karena saat ini Aliyah di dampingi kedua sahabat setia nya, Labibah dan Riris.
Dalam perjalanan nya Aliyah sempat membuka ponsel nya. Ada notif WA yang masuk ke nomer ponsel nya. Ia sempat tersenyum senyum sendiri. Setelah membaca isi chat yang langsung merubah raut wajah Aliyah semakin ceria.
"Pasti itu chat dari abang Denis." celetuk Riris menebak nya.
"Ya iya lah. Emang siapa lagi kalau bukan si abang Denis tercinta. Aliyah kan sudah termehek-mehek sama sang pujaan hati." seloroh Labibah yang duduk di kursi tengah.
"Ya pasti dung. Sang pemilik hati gitu lho. Dapat kabar melalui chat aja sudah girang banget. Apalagi dengar suara nya, bikin tenang hati ini." balas Aliyah antusias.
"Eheemm" balas Riris singkat.
"Apalagi di peluk tiap hari, Al." ledek Labibah.
"Mantap lah. Bonus nya dapat tiuman juga. Bikin hati tambah sejuk dung." ledek Aliyah lagi semakin memanas-manasi kedua sahabat nya itu.
"Asik nya dapat bonus. Tapi tidak di diskon kan." Riris mengolok Aliyah balik.
"Diskon apaan! Kau kira kacang goreng di obral, di diskon segala. Masih segel lah ini." sewot Aliyah yang kemudian terkekeh.
"Bhuahahaha" tawa kedua sahabat nya kompakan. "Awas aja kalau patah hati. Nangis guling guling sampai nyungsep tengkurap di kasur satu minggu enggak keluar kamar."
"Kalian kalau do'ain sahabat kamu ntuu yang baik gitu, jangan bilang patah hati. Aku tabrakin aja sekalian ini mobil. Mau!." sungut Aliyah.
"Jangan lah, Aliyah. Aku belum mau mati dulu. Labibah kan belum rasain pisang molen." sela Labibah sambil cemberut.
"Maaf lah jangan marah, kita kan cuma bercanda. Kalau kamu tabrakin bisa mampus kita bertiga, Al." jawab Riris meringis. "Tapi, bentaran deh. Tadi Labibah bilang pisang molen. Emang pisang molen apaan." tanya Riris sedikit kepo 🤔🤔🤔.
"Sudah jangan suka kepo. Kepo memperpendek umur." sahut Labibah cengar cengir.
"Tanya emak sama bapak kamu aja, Ris. Apa ntuu pisang molen." sela Aliyah tetap fokus dengan kemudi nya.
"Perasaan pisang molen itu yang di jual mang udin. Penjual gorengan dekat rumah. Harganya seribu perbiji." jawab Riris polos nya.
"Wkwkwk..." Aliyah dan Labibah terkekeh mendengar ucapan sahabat nya yang satu itu.
"Sudah.. Sudah jangan di lanjutin bahas pisang molen nya. Jadi sakit kan perut ini, tertawa muluh." tambah Aliyah.
***
Setelah melaju kan mobil nya beberapa kilo meter jarak dari rumah nya ke cafe lindu yang menjadi tujuan mereka. Aliyah segera memperlahan laju mobil yang di kemudikan nya memasuki pelataran parkiran cafe lindu.
Setelah memarkir mobil nya. Aliyah keluar dari mobil dan segera menyusul dua sahabat nya yang telah berjalan mendahului nya, masuk ke dalam cafe lindu milik keluarga nya. Dengan tergesa-gesa sambil melihat ke layar handphone nya. Aliyah tidak fokus melihat ke arah depan.
"Gubraakkk!." Aliyah menabrak seseorang "Maaf" ucap Aliyah seketika.
"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena terburu-buru." ucap seorang cowok yang bertabrakan dengan Aliyah seraya membuka masker nya dan mendongak ke arah Aliyah.
"Excel!." seru Aliyah terkejut melihat Excel berdiri di hadapan nya.
"Aliyah?." kata Excel terkesiap menatap manik mata Aliyah.
"Kamu sedang apa di sini? Jangan bilang kamu sedang mengikuti aku!." tanya Aliyah meyelidik.
"Lha, kamu sendiri, ngapain di sini?." tanya balik Excel bingung melihat Aliyah juga berasal di situ.
"Cafe ini milik keluarga aku. Wajar lah kalau aku bisa berada di sini." jawab Aliyah santai.
"Apa? Cafe Lindu ini milik keluarga kamu?." tanya Excel lagi kepada Aliyah tercengang sembari menggaruk tengkuk leher nya.
"Tuhan mimpi apa aku? Kok bisa harus kencan buta di Cafe Lindu milik keluarga Aliyah. Mampus riwayat kamu, Excel. Go.. Go.. Cepat cari ide untuk bisa keluar dari kencan buta yang menjengkelkan ini. Semua ini gara-gara ide mama yang pakai acara jodoh-jodohan. Masa Excel seganteng ini masih harus di jodohkan juga seperti tidak laku aja. Apa kata mbah gogglai. Jaman sudah berubah. Mama jangan siksa Excel dengan perjodohan ini. Mbah.. Tolong Excel.. Mbah!." guman absurd Excel.
"Excel, kenapa malah diam? Kamu belum menjawab pertanyaan ku." seru Aliyah membuyarkan lamunan Excel.
Pandangan Excel terus memutar. Ia nampak gugup dan salah tingkah. Hingga akhir nya pandangan nya bertabrakan dengan manik mata indah milik Aliyah si gadis manis. Jantung nya tiba-tiba berdegup kencang. Ia bingung harus menjawab apa pertanyaan Aliyah.
"Excel!." suara di depan nya seketika membawa nya kembali tersadar dari lamunan nya.
"Eh.. I-iya Aliyah. Aku ada janji ketemu dengan seseorang di cafe ini."
"Kamu tak lagi sakit kan? Tapi, kenapa wajah mu nampak pucat begitu?." tanya Aliyah lagi sambil memperhatikan dengan detail wajah Excel.
"Enggak kok, Aliyah. Aku sehat-sehat saja. Hanya tadi siang lupa belum sempat makan. Mungkin efek dari belum makan kali, ya." Excel mengalihkan topik pembicaraan nya.
"Oh.. Belum makan. Ayo masuk ke dalam cafe. Kamu bisa makan di sana daripada nanti pingsan di sini, tak ada yang gendong kamu. Bila-bila aku seret kamu karena aku juga tak kuat untuk gendong kamu. Pasti terjungkal bareng yang ada." ujar Aliyah mengajak masuk ke dalam cafe.
"Makasih, atas tawaran nya. Tapi, aku masih nunggu temen aku. Dia belum sampai di sini." Excel mencoba menolak secara halus ajakan Aliyah.
"Kan menunggu di dalam juga bisa, cel. Kamu sudah tak mau ngobrol lebih lama lagi dengan aku? Kata nya minta berteman. Ya, sudah lah kalau kamu tak mau, aku juga tak mau memaksa kamu. Aku masuk ke dalam duluan aja." ujar Aliyah berjalan meninggal kan Excel di parkiran mobil.
"Eh, iya, Aliyah. Oke nanti aku menyusul masuk ke dalam." jawab Excel.
Sepeninggal Aliyah. Terlihat Excel ngomel-ngomel sendiri tidak jelas.
"Bodoh kamu Excel! Sangat bodoh! Kenapa kesempatan emas seperti ini kamu buang sia-sia. Jarang-jarang Aliyah bersikap manis dan mengajak kamu untuk makan bersama. Tidak akan ada kesempatan lain lagi, Excel!." Excel merutuki diri nya sendiri.
Dari jauh ada seseorang yang memperhatikan Aliyah dan Excel dengan tatapan tak suka kedekatan mereka.
***
Bersambung...