
Aku tak membenci takdir,
Aku tak akan menyalahkan keadaan,
Karena aku tahu
Ini terjadi karena kebodohan
Kebodohan ku sendiri.
•••••••
"Kau sudah mandi? Tanya Namjoon padaku.
Aku menggeleng.
"Belum, aku baru selesai sarapan".
"Apa tubuhmu sudah baikan, maksudku kau bisa berjalan sekarang? "
Pertanyaan itu terdengar lucu.Tentu saja tidak, kalian pikir gara-gara siapa aku begini?.
"Belum kucoba, tapi sepertinya aku tak bisa berjalan jauh untuk sementara. Untuk sekedar mandi aku masih bisa memaksanya".
Kurasa ada yang sedang menatapku dari tadi, dan benar. Seokjin melihat ku dengan tatapan aneh, aku tak bisa membaca air wajahnya itu.
Siapa yang tidak salah tingkah jika ditatap seperti itu? Jantungku berdegup tak beraturan, rona wajahku memerah sekarang.
Aku harus menjauh darinya, tidak bisa begini terus. Lama-lama aku bisa mati muda karena kelelahan jantung.
" Aku mau mandi setelah ini. Kalian berdua keluarlah dulu"
Setidaknya itu satu-satunya alasan agar jantungku terselamatkan. Meskipun aku tahu, sulit untuk berjalan sekarang.
"Ada apa? kenapa melihatku begitu? "
Namjoon dan Seokjin tidak menjawab pertanyaanku. Namun beberapa saat kemudian Seokjin beranjak dari ranjang lalu mengambil nampan disamping ranjang tadi.
Dia berjalan kearah Namjoon yang masih didekat pintu kamar.
"Ayo keluar... " Ucapnya pada Namjoon. Lalu menoleh kearahku sebentar. Segera aku membuang pandanganku.
Sekarang tinggal aku seorang yang ada dikamar. Aku mengacak-acak rambut prustasi seperti orang stress. Ya aku sudah gila sekarang. Aku tak punya tujuan hidup semenjak dicampakkan. Semuanya tak terkendali, masa mudaku hancur tak ada yang peduli. Aku tersenyum ironi meratapi nasibku yang tidak beruntung. Jiwaku ingin teriak, aku ingin memaki, tapi siapa yang bisa kusalahkan? tidak ada tempat untuk aku berbagi dari dulu hingga sekarang. Keterpurukanku tidak ada yang tahu, batinku haus ketulusan tak ada yang mengerti, kasih sayang orang tua tak pernah kurasakan. Aku ingin menyerah, tapi begitu pengecut untuk mengakhiri hidupku yang seperti debu ini.
Seperti biasa, aku menangis dalam diam. Hanya bisa duduk memeluk lutut disini. Memeluk tubuh kotorku sendiri.
Sudah cukup meratapi diri, aku lelah. Aku ingin menyegarkan pikiran sekarang. Aku ingin berendam, tapi bagaimana? ini sangat sulit bagiku. Sendi-sendiku terasa nyeri, tulangku kaku untuk bergerak. Ini menyebalkan. Aku bukan wanita yang kuat, tapi aku juga tidak lemah. Memaksakan diri adalah satu-satunya pilihan.
Aku berjalan sangat pelan, selangkanganku perih dan ini bukan pertama kali terjadi. Setidaknya ini tidak mengejutkanku. Lain kali aku harus hati-hati dengan tujuh orang itu. Atau, haruskah aku pindah? heh. Uang darimana coba? tabunganku sudah menipis sekarang. Sepertinya aku harus mencari pekerjaan secepatnya.
Gumam-gumam dari tadi, akhirnya sampai juga kamar mandi. Berendam dengan air hangat adalah hal yang tepat untuk dilakukan, ini sangat nyaman.
•
•
•
Selimut ini membuatku gerah. Alhasil benda itu jatuh menjorok kelantai karena tendanganku.
Ku buka pelan sebelah mataku, rupanya aku sudah dikamar sekarang, pakaianpun sudah melekat ditubuhku. Heh... pasti saat berendam tadi aku ketiduran.
Kulihat ada secarik kertas disamping ranjang.
Kugeser sedikit tubuhku untuk menggapainya. Rupanya ini pesan dari mereka, tujuh pria setengah asing itu. Ya setengah asing karena baru dua kali ini bertemu mereka namun sudah melakukan sesuatu yang terlampau jauh untuk ukuran orang asing.
"Kami pergi dulu, jaga dirimu baik-baik"
Aku meremas kertas itu, lalu kulempar ke bak sampah.
Apa-apaan mereka. Bahkan seorang ****** saja dibayar tinggi, sedangkan aku? heh. Apa yang ku harapkan dari mereka? uang kah? tidak juga!
Bagus, kalian pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah kesini lagi. Itu lebih baik.
Aku kembali melanjutkan tidur siangku. Karena hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.
Perutku menagih untuk diisi, aku bangun, rupanya matahari sudah tenggelam. pantas saja kepalaku masih pusing karena kelamaan tidur ternyata.
Setelah menyegarkan diri, aku memutuskan untuk ke market terdekat. Di kulkas sudah tak ada lagi bahan makanan untuk ku masak. Sekalian jalan-jalan menghirup udara segar. Namun sebelum itu aku pergi ke ATM dulu untuk mengecek saldo tabunganku. Benar dugaanku, uangku sisa sedikit sekarang. Sedangkan pekerjaan saja belum ada. Untung saja apertemen tempat ku tinggal kubayar lunas diawal jadi tidak perlu khawatir menjadi gembel. Aku harus pintar-pintar mengatur pengeluaran sekarang, kalau tidak aku bakal mati kelaparan. Tidak, itu memalukan sekali. Jika tiba waktunya meninggal, maka aku ingin mati dengan nyaman. Ckk, mana ada orang mati tanpa merasakan sakit. Pikiran konyol ini.
Setelah berpikir panjang, kuputuskan untuk menyetok mie instan dan telur saja. Ya begini lebih baik, kuharap semuanya baik
-baik saja. Sepanjang jalan aku menendang batu-batu kecil yang kulewati. Hingga telingaku mendengar beberapa suara anak muda didalam gang kecil, entahlah sepertinya ada yang sedang dibully disana. Aku tak takut, jadi aku masuk gang itu. Bukan karena ingin membantu orang yang dibully, tapi karena aku melewati gang ini biasanya karena lebih cepat sampai market.
Kedua tangan kumasukkan ke dalam kantong hoody kebesaran berwarna hitam yang kukenakan. Aku berjalan pelan. Aku melihat ada tiga anak laki-laki yang memakai celana sekolah tapi memakai kaos sebagai atasannya berdiri mengelilingi satu orang yang duduk meringkuk ditembok, dia memakai seragam lengkap. Sepertinya mereka masih SMA. Semakin lama aku semakin dekat posisi mereka berdiri. Aku pura-pura tak melihat mereka disana, mataku menatap datar kedepan dan kadang menunduk. Aku tak mau ikut campur urusan orang lain jadi kulewati saja mereka dengan santai.
Namun perjalananku tidak mulus.
"Mau kemana kau ?"
Salah satu dari mereka menarik tudung kepalaku. Membuatku otomatis mundur kebelakang. Kuhempaskan tangannya.
"Lepaskan " ucapku dingin.
"Berani sekali kau"
Ucap yang lain seperti ingin mendorongku, namun dihentikan oleh orang yang menarikku tadi.
"Kau berjalan seperti tidak melihat kami, apa kau tidak ada niat untuk membantu orang ini? " ucapnya sambil menunjuk orang yang mereka bully dengan dagunya.
Aku melihat sebentar orang yang tengah ketakutan itu, kemudian menatap orang yang bertanya tadi.
"Bukan urusanku"
Aku berbalik setelah mengatakan itu.
Namun niat ingin melanjutkan perjalanan ku dihentikan lagi katena orang yang sama.
"Jika kami membunuhnya sekarang, apa kau masih tidak perduli?"
Pertanyaan darinya membuatku berpikir keras, apa maksudnya berkata seperti itu?
Aku menoleh kebelakang, melihat satu per satu wajah mereka.
"Kau pikir aku peduli? aku tak mengenali kalian apalagi dia. Seandainya aku membantu dia dan menghentikan kalian apa kau pikir aku bisa melakukan itu?
Jadi untuk apa aku repot - repot mengkhawatirkan orang lain kalau ujung-ujungnya percuma, karena aku tahu aku tak mampu melawan kalian"
Aku menatap tiga siswa itu sebentar, kemudian berkata lagi.
"Lagipula, aku yakin kalian tidak akan membunuhnya hanya karena hal sepele. Tampang kalian tak sejahat itu. Jika ingin mencari pelampiasan kemarahan aku sarankan jangan pada orang yang salah. Lampiaskan saja langsung pada orang yang telah menyakiti kalian. Dengan begitu dia bisa merasakan sakit yang sama seperti yang kalian rasakan"
Ucapku apa adanya. Mereka hanya diam mendengar perkataanku. Kulihat orang yang meringkuk tadi, sepertinya dia tidak ketakutan lagi.
"Hei kau, tunggu apalagi? cepatlah bangun dan pergi dari sini" ucapku padanya, dia menatapku sebentar tanpa berkata apa\-apa dia bangun lalu pergi menjauh.
Ada kelegaan dihatiku, karena sebenarnya aku tak tega melihat orang dibully. Kulihat mereka bertiga menatap ku.
"Kenapa melihatku seperti itu? sudahlah, aku ingin pergi! apa kalian masih ingin disini? kalau begitu aku duluan. Bye"
Aku berkata seperti itu enteng sekali, padahal jantungku berdetak tak beraturan sekarang. Ckk... ya iyalah itu wajar secara mereka kan Laki-laki dan aku perempuan. Siapa yang tidak takut. Mana wajah mereka tampan-tampan lagi. Heh, mikirin apa sih aku...
"Tunggu! "
Langkahku dihentikan lagi untuk yang ketiga kalinya oleh orang yang sama.
Aku kasih visual Calistha ya,
Please tinggallan jejak kalian 🙏
Dan mohon maaf jika tulisan saya ada banyak kekurangan.
Terimakasih Reader 😊