
Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca...
❤❤❤❤
...Senyummu yang indah.. Tak ada suara yang keluar dari bibir ranummu.. Tapi, mengandung sejuta makna.. ......
...Senyummu yang selalu hangat.. Akan selalu menjadi motivasi dan inspirasi terbesar dalam hidupku...
...Terus lah tersenyum buat Rajamu.. Wahai Ratuku.....
...Hanya senyuman manismu yang menjadi moodbooster.. Di setiap ku membuka mata dan memejamkan mata ini.....
...❤❤...
Hari menjelang siang..
Ketiga trio kwek kwek itu telah memasuki pelataran parkir mobil rumah sakit Al-Ikhlas.
Labibah yang duduk di depan samping kemudi, segera melepas seat belt yang masih terpasang rapi di tubuh nya. Kemudian ia turun terlebih dulu meninggal kan Riris dan Doni yang masih sibuk dengan benda pipih yang berada di tangan masing-masing.
Labibah berjalan menyusuri jalan yang berpaving.
Krucuukk.. Krucuukk..
Suara misteri yang mulai terdengar dari usus dua belas jari Labibah. Magic com yang sedari tadi kosong. Kini harus segera di isi. Irama dangdutan yang kian berdendang di dalam perut Labibah itu siap menghabiskan semua makanan yang di lihat nya.
Ia menoleh ke salah satu penjual kaki lima yang sudah standby di area rumah sakit Al-Ikhlas. Dan pandangan nya tertuju ke penjual pentol titot titot kesukaan nya.
"Abang.. Pentol campur tahu, enggak pakai siomay, sepuluh ribu" pesan Labibah ke penjual pentol.
"Iya, mbak. ini pakai saus kacang apa saus tomat" tanya penjual nya.
"Saus kacang saja, bang. Sambal nya yang banyak ya. Biar mantap makan pentol nya" jawab Labibah sembari melihat ke dalam dandang yang berisi pentol campur tahu dan kawan-kawan nya.
Tiba-tiba ada emak-emak yang sok dekat.
"Enggak sakit itu perut nya, mbak? Pakai sambal segitu banyak. Untung cabe sudah turun harga nya, lagi enggak mahal sekarang. Kalau lagi mahal bisa bangkrut abang nya" ucap emak-emak kang julid.
"Kalau mahal, tanam sendiri saja kali bu. Kan murah, sekalian pohon nya" jawab Labibah sekenak nya sambil melangkah pergi ngeloyor meninggalkan penjual pentol dan emak-emak kang julid yang melotot ke arah nya.
***
Ke mana si Labibah? Cepet amat ngilang nya!" celetuk Riris. Bertanya ke Doni yang masih anteng duduk di belakang setir bundar nya sambil mengoperasikan ipad di tangan.
"Eh.. Iya. Kemana pergi nya si beb.. Uppsst.. Si Labibah maksud nya? Tanpa pamit langsung kabur saja itu anak, minta di tabok! untung aku masih sabar, kalau tidak..." ucap Doni mengantung sambil mematikan layar ipad nya. Namun, ucapannya barusan menimbulkan tanda tanya di otak Riris.
"Kalau tidak, kenapa. Don?" tanya Riris menimpali dengan kekevoan nya.
"Ya. Tidak kenapa, Ris! Palingan nanti dia nungguin aku! Hahaha" jawab Doni terbahak.
"Kampvret kamu, Don! Seperti nya bau-bau ada udang di dalam bakwan jagung ini!" tebak Riris.
Doni tersenyum kikuk. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada Rahasia besar yang di sembunyikan Doni dengan Labibah selama ini. Diam-diam mereka berdua menjalin asmara tanpa di ketahui Riris dan Aliyah. Kedua nya masih merasa canggung saja kalau harus menceritakan kisah kasih nya yang masih seumur jagung.
"Ayo cepetan turun, kita cari tuh bocah!" pekik Riris. Sembari turun dari mobil Doni.
Doni pun segera turun dari mobil sebelum terkena siraman rohani dari bu guru Riris. Setelah mengunci semua pintu dari sentra lock. Kini, ia berjalan mengimbangi langkah Riris yang sedikit terburu-buru.
"Ris.. Santai saja jalan nya. Kenapa terburu-buru sih. Seperti mau labrak tetangga yang julid" protes Doni.
"Kamu itu yang jalan nya lelet kayak keong emas. Eh, salah keong emas kemahalan" balas Riris tanpa berhentikan langkah nya.
"Kalau bukan keong emas. Terus kayak apa?" tanya Doni sok polos.
"Kayak siput sawah. Hahaha" tawa Riris sambil membayangkan jalan nya Doni.
"Asem kamu, Ris! Siput sawah itu apa nya kreco?" tanya absurd Doni.
"Kreco yang di masak bumbu lodeh di kasih parutan kelapa. Huuumm, sedap" ledek Riris sembari menarik tangan Doni.
"Sebelas dua belas tapi kamu cinta kan sama Labibah! Hayoo, ngamuk kamu, Don!" tembak langsung oleh Riris tepat sasaran. Yang membuat merah wajah Doni dan skakmat.
Doni hanya bisa celingak celinguk ke kiri dan ke kanan. Mengalihkan diri dari tembakan jitu si biang kevo Riris.
"Labibah di mana, Ris?" Doni mengalihkan pertanyaan absurd ke Riris.
"Enggak tau. Apa anak itu sudah masuk ke kamar Aliyah duluan ya? Biarin saja lah. Nanti kalau nyasar pasti balik sendiri. Kan di sini sudah ada alarm khusus buat Labibah" seru Riris sambil meninju ke lengan Doni.
***
Di dalam ruang rawat Aliyah. Yang ada Aliyah dan Denis berdua.
"Sayang, mau apa? Kalau masih lemes, baring aja tak usah bangun" cegah Denis. Ketika Aliyah bangkit dari posisi bebaring nya.
"Ay pingin duduk bee" rengek manja Aliyah.
"Sini, bee bantu. Pelan-pelan aja sayang. Nanti bisa ketarik selang infus nya" ingat Denis sambil membantu Aliyah yang bersandar di sandaran kepala ranjang.
"Iya bee, sakit lah kalau berkali-kali di suntik" jawab Aliyah bermanja kepada Denis.
"Masa sakit, di suntik. Yang?" tanya Denis yang sedikit menjahili Aliyah.
"Ho'oh, bee.. Sakit lah. Ay aja sampai merem tutup mata, takut lihat jarum suntik nya, bee"
"Kenapa, tak di lihat jarum suntik, sayang. Nanti kalau salah masuk gimana?"
"Apa nya yang salah masuk, bee?" tanya Aliyah melongo ke wajah Denis.
"Sudah tak usah di bahas" Denis menskip pembicaraan itu.
"Idiih, apaan lah bee? Kebiasaan ini, bee na. Kalau bicara selalu tak selesai" Aliyah manyun.
"Tak usah di gituin juga ntuu bibir na. Kalau bee khilaf, gimana hayoo" goda Denis sambil mendekat kan wajah nya ke wajah Aliyah.
"Bee.. Iihhh minta di timpuk nih!" teriak Aliyah.
"Apa, sayang? Bee tak dengar. Ayang minta telor ceplok?" Denis semakin menjahili Aliyah.
"Siapa juga yang minta c1pok!" jawab Aliyah bablas.
"Sayaaaang.." pekik Denis.
"Uupppsstt.. Maaf, bee. Ampun, jangan mendekat. Stopp!" ucap Aliyah sambil mendorong wajah Denis agar menjauh dari wajah nya.
"Salah siapa, tadi yang minta telor ceplok" Denis mendekat kan kembali wajah nya.
Ceklek...
"Assalamu'alaikum" ucap kompak duo bebek yang mengkaget kan Aliyah dan Denis.
"Stop!" pekik Riris dari depan pintu yang baru di buka nya.
"Belum sah, jangan main sosor aja, kamu Aliyah. Minta di mandiin tujuh sumur kamu" ujar Riris sambil ngeloyor masuk ke dalam kamar inap Aliyah.
"Siapa yang main sosor. Kau kata banyak main nyosor" sungut Aliyah.
"Terus kalau enggak nyosor, apaan tadi" kepo Riris.
"Ini tadi, Aliyah nya ada bilang kalau takut sama jarum suntik" jelas Denis yang berpindah posisi duduk nya.
"Hahaha.. Aliyah.. Aliyah. Sama jarum suntik gitu kamu takut. Tapi kalau sama jarum pentul enggak takut" ucap Riris yang terkekeh.
"Sama saja Riris jarum pentul lebih sakit tau" celetuk Labibah sambil mengunyah pentol nya.
"Iya kalau kamu Labibah, mending makan pentol daripada makan pentul" jawab Riris sewot.
"Pasti lah enak makan pentol yang ada mie keriting" tambah Labibah lagi.
"Haaahh" Riris melongo. "Labibah dudung, apa maksud mu?!"
❤❤❤❤
Bersambung...