
Jumpa lagi para readers kesayangan... ππ
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca..
β€β€β€β€
...π DELIYAH WEDDING π...
...ALIYAH BUTHAYNAH...
...β€...
...DENIS ANGGARA PUTRA...
...ππ...
...πKesungguhanku.....
...Saya akan menerima.....
...Cerewetmu, cemburumu, rewelmu, nangismu, bengekmu, ketawamu, embemmu.....
...Makanan keasinanmu, minumanmu, hambarmu.....
...Endutmu, kuyusmu.....
...Aku bersedia untuk kamu π₯°π...
...β€β€β€β€...
Di hari yang sama, di tempat berbeda.
Di mana pun dia berada. Denis selalu berulang kali-kali mengucapkan kata ijab kabul. Dia terus menghafal kata itu, padahal jauh hari dia sudah menghafal di luar akalnya. Namun, di saat hari H yang di tentukan. Hatinya terus merasa gugup, galau dan cemas, dia takut salah ucap.
"Hahahaha, wajah boleh sanggar bak preman. Mengucapkan kalimat satu baris saja tegangnya kalah seperti ibu-ibu yang mau melahirkan. Jalan mondar-mandir, bolak-balik seperti setrikaan. Menunggu pembukaan sepuluh" ejek Abang Roji, kakak kandung Denis.
"Ini beda, bang! Malaikat juga menyaksikan, ketika aku mengucapkan satu janji suci dihadapan Allah SWT. Tak main-main ini" kesel Denis, yang godain terus sama abangnya.
Abang Roji terkekeh melihat kekesalan di wajah Denis adiknya.
"Sudah sana, jangan ganggu aku terus!"
Denis menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia melakukan itu berulang-ulang untuk membuang rasa gugup dan galaunya.
π
π
Jam 7 pagi, rombongan Denis sampai di depan halaman rumah Aliyah. Tak lupa Keluarga Denis juga membawa satu mobil pick up untuk mengangkut seserahan buat Aliyah.
Denis menghela nafas ragu-ragu, untuk pertama kalinya, jantung dia berdebar begitu kencang. Belum apa-apa, keringat dingin membasahi punggungnya? Lantas bagaimana nanti! Bagaimana nanti, bila sudah duduk di hadapan pak penghulu dan para saksi. Apalagi berjabat tangan dengan Ayahanda dari kekasihnya. Belum tuntas Denis bermonolog sendiri, tiba-tiba seseorang mengagetkan dengan menepuk bahunya.
"Yakin, satu nafas? Tanpa harus mengulang lagi!" tanya abangnya yang melihat keraguan di wajah Denis, sang adik yang berubah pucat.
"Yakin! Satu tarikan nafas demi Ibu dari keturunanku yang keluar dari rahimnya!" jawab Denis dengan semangat berkobar, menyemangati dirinya sendiri.
"Pasti bisa! Yakin bisa! Rajamu akan mempersembahkan yang terbaik buat Ratuku!"
π
π
Denis berjalan dengan gagahnya masuk ke dalam rumah Aliyah, di apit oleh Ibunda dan abang kandungnya. Terbit di sudut bibir, senyum yang manis dan wajah berseri memancarkan aura kebahagiaan di matanya. Walaupun jantungnya berdegup kencang mengiringi langkah kakinya.
Denis memakai beskap putih dengan blangkon di kepala, juga memakai sandal selop warna putih serta keris dan roncean melati panjang sebagai kalung yang melingkar di leher.
Di depan rumah telah berdiri Keluarga Bapak Ahwan menyambut rombongan keluarga Denis dengan hangat. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi kedua keluarga. Momen terindah pernikahan putra putri dari kedua keluarga. Acara akad nikah yang akan dilaksanakan di kediaman keluarga Ahwan. Sesuai permintaan dari keluarga besar Aliyah. Acara akad yang sakral penuh hikmat.
Rombongan mempelai laki-laki telah di persilahkan duduk. Lalu pembawa acara memulai dengan mengucap rasa syukur pada Allah SWT. Dilanjutkan sambutan-sambutan dari perwakilan kedua keluarga.
Ayahanda Aliyah sendiri yang menikahkan dan menyerahkan putri tercintanya kepada laki-laki yang menjadi pilihan hidupnya. Laki-laki yang menjadi imamnya.
Suara ramai dalam ruangan itu seketika langsung senyap, padahal tidak ada yang mengomando untuk diam. Denis menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata sejenak, kemudian menjabat tangan wali nikah dari ananda ALIYAH BUTAYNAH sangat erat yaitu Ayah kandungnya Bapak AHWAN MUHAMMAD MUCHLIS.
Dengan satu tarikan nafas, Denis melafalkan akad Ijab Qobul. Selanjutnya di teruskan langsung dengan membaca surat Ar-Rahman. Sebagai mahar pernikahannya, untuk memenuhi janjinya pada sang kekasih.
Membaca dan mengerti makna yang terkandung dalam Surah Ar-Rahman.
Ayat dari Surah Ar-Rahman ada yang diulang hingga 31 kali karena artinya yang Maha Dahsyat.
Fa bi'ayyi ala'i rabbikuma tukazziban
Artinya : Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Dan lima keutamaan dari surah Ar-Rahman yang wajib diketahui adalah dapat meningkatkan keimanan, mendapat Ridho Allah SWT, mensyukuri nikmat, matinya orang yang membaca Ar-Rahman seperti Syahid serta mendapat syafaat di hari Kiamat.
Ayahanda Aliyah sangat bangga melihat menantunya melantunkan surah Ar-Rahman, dengan suara merdunya.
Kata SAH dari pak penghulu dan para saksi menggema di ruangan itu, terasa luar biasa membuat bulu kuduk berdiri merinding.
"Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii Khair." pak penghulu mengucapkan do'a dan diikuti semua para saksi dan undangan yang hadir menyaksikan akad ijab qobul Aliyah dan Denis.
"Yes, berhasil! Tidak sia-sia perjuanganmu selama ini, adikku!" lantang suara abang Roji.
Suara tepuk tangan riuh dari para sahabat Aliyah pun tak mau ketinggalan.
"Alhamdulillah, terimakasih. Ya Allah, Engkau telah melancarkan acara hamba untuk menghalalkan jodoh yang Engkau kirim kepada hamba" bathin Denis sembari mengusap keringat yang membasahi dahinya.
Dari dalam kamar, Aliyah menyaksikan Rajanya mengucapkan ijab qobul dengan satu tarikan nafas, secara langsung. Dan ketika terdengar kata SAH, detik itu juga statusnya berubah menjadi Nyonya Denis. Dia telah menjadi Ratu milik Rajanya. Mulai detik itu, kisah LDR-an yang terkesan rumit telah berakhir dan berganti dengan kisah kebahagiaan yang penuh cinta dan kedamaian.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau telah melancarkan semuanya. Engkau berikan hamba jodoh yang tepat di waktu yang indah" ucap Aliyah berurai air mata kebahagiaan dalam pelukan kedua sahabatnya, Riris dan Labibah.
"Selamat sahabatku, kini kau telah menjadi seorang istri. Berbahagialah dalam istana surgamu bersama sang imammu" ucap Riris menyeka airmata Aliyah.
"Jadilah istri yang sholehah, yang selalu bisa menerima kelebihan dan melengkapi kekurangan suamimu" ucap Labibah sembari mengusap punggung Aliyah.
Kini saatnya Aliyah keluar dari kamar, menuju Rajanya yang beberapa menit yang lalu telah mengikrarkan janji suci pada Allah SWT.
Aliyah yang melangkah diapit kedua sahabatnya itu. Terlihat sangat cantik dan anggun, bak bidadari yang tak bersayap, menuju sang Arjuna pemilik jiwa dan raganya.
Aliyah yang terlihat sangat cantik dan anggun memakai kebaya panjang, hijab dan selopnya senada warna putih serta dipadu kain batik. Kemudian baru di sematkan cundhuk mentul serta ronce melati tibo dodo.
π
π
Dengup jantung yang tak beraturan, rasa gugup dan gemetar itu sama-sama dirasakan sepasang sejoli yang beberapa detik lalu telah sah menjadi pasangan halal. Kedua mata saling bertemu, senyuman manis menemani tatapan dengan keindahan.
Ayahanda Aliyah tercinta menyerahkan putri kesayangannya kepada sang pemilik hati dengan rasa haru dan menahan air mata yang ingin menerobos keluar.
"Aku serahkan putri kandungku ALIYAH BUTAYNAH, untuk menjadi makmummu. Tuntun dia, arahkan dia ke jalan Allah. Lindungi dia, didik dia" Ayah Ahwan terdiam sesaat, sembari menyeka air matanya.
"Laki-laki yang pertama memeluk princess ku adalah aku. Laki-laki yang pertama dilihat princess ku adalah aku. Laki-laki pertama yang mencium princess ku adalah aku. Laki-laki yang pertama merawat dan mendidiknya adalah aku. Tapi, kini aku berharap kamu (menantuku) yang akan menjadi orang yang selalu menemani princess ku seumur hidup. Jangan pernah kau sakiti hati princess ku. Apalagi melukai perasaannya, melantarkannya. Dan bila suatu hari, kau tak mencintainya lagi, tolong jangan beritahu princess ku. Aku takut dia terluka dan kecewa. Tapi beritahukan saja kepadaku. Aku akan membawanya pulang kembali ke rumahku" ucap Ayah Ahwan dengan tercekat.
Denis tetap berdiri dengan gagahnya, menunduk sebentar untuk menguatkan dan menguasai hatinya, agar airmata yang tertahan tidak menerobos keluar. Kemudian, ia menatap pada Ayah mertuanya dengan tulus.
"Saya akan menjaganya, membuatnya selalu bahagia karena kini Aliyah adalah istri halal saya, belahan jiwa saya, tulang rusuk saya. InsyaAllah saya akan menjadi pasangan halalnya hingga di akhirat kelak. Terimakasih Ayah dan Bunda telah memberikan restu kepada kami untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Alhamdulillah, Ayah telah mempercayakan Aliyah pada saya" tutur Denis dengan santun dan lembut. Walaupun degup jantungnya tak beraturan. Rasa dag dig dug terus bertalu-talu bersahutan.
Bunda Lucy dan juga Ibu Denis, menangis sesenggukan, terharu mendengar itu semua. Para saksi dan undangan yang berada di tempat acara itu pun ikut terharu, melihat seorang Ayah menyerahkan putrinya kepada sang menantu laki-lakinya.
Kemudian, Ayah Ahwan menyerahkan putrinya dan di sambut oleh Denis. Terpancar rona kebahagiaan di wajah keduanya. Tak henti-hentinya senyum syukur bahagia terbit di bibir sepasang pengantin baru itu.
Setelah kedua mempelai menandatangani dokumen penting dalam surat nikah, seperti ritual pengantin pada umumnya.
Denis memakaikan cincin nikah pada jari lentik Aliyah dan begitu juga Aliyah memakaikan cincin nikah pada jari Denis. Kemudian, Aliyah membawa tangan kokoh Denis pada bibirnya, lalu menciumnya. Dan di balas Denis dengan senyuman dan kecupan yang dalam di keningnya sambil membaca do'a. Kedua tangannya memegang kepala Aliyah.
"I love you, my Queen. Aliyah Buthaynah" ucap Denis dengan tulus. Dan di balas Aliyah. "Love you too, my King. Denis Anggara Putra" mereka berdua bertukar pandangan dengan senyum mereka.
β€β€β€β€
Bersambung...
Mana kado buat DELIYAH gaes.. π€ππππ