FORGET IT

FORGET IT
Kata Tetangga



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca..


❤❤❤❤


Sebuah pernikahan bukan hanya menyatukan dua hati menjadi satu. Melainkan ada tujuan menikah dalam Islam yang harus di pahami juga.


Pernikahan dalam Islam merupakan ibadah dengan kedudukan yang sangat penting dan sakral. Atau di sebut sebagai Mitsaqan ghalizha dalam Al-quran. Berarti perjanjian yang amat kukuh/kuat. Sehingga tidak baik bila menyepelekan sebuah ikatan suci dalam pernikahan. Bahkan mengganggap enteng perceraian untuk menikah lagi.


Selain menciptakan generasi penerus bangsa yang sholeh/sholehah, Allah SWT menyampaikan juga berbagai berkah di balik pernikahan. Meski aktivitas bersama pasangan halalnya itu dianggap sederhana, namun bernilai pahala dan sedekah. Walaupun hanya sekedar mencium kening dan pipi.


Itulah tujuan menikah dalam Islam yang memiliki arti begitu dalam bagi Allah SWT dan Nabi-Nya.


Tujuan utama pernikahan dalam Islam adalah Menjauhkan dari perbuatan maksiat.



Melaksanakan Sunnah Rasul.



"Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari kiamat).") (HR. Ibnu Majah no. 1846, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 2383).



Menguatkan Ibadah sebagai Benteng Kokoh Akhlak Manusia.



Ikatan suci dalam pernikahan sangat bermanfaat untuk menjaga kehormatan diri, serta terhindar dari hal-hal yang dilarang agama.


"Wahai para pemuda, jika kalian telah mampu, maka menikahlah. Sungguh menikah itu lebih menentramkan pandangan dan kelamin. Bagi yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa bisa menjadi tameng baginya." (HR. Bukhari No. 4779).



Menyempurnakan Agama.



Alangkah lebih indah dan terasa sangat nikmat, bila menjalani dan mengarungi kebahagiaan dunia dan akhirat bersama pasangan halal kita dalam istana surga dunia (biduk rumah tangga).


"Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian sisanya." (HR. Thabrani dan Hakim).



Mengikuti Perintah Allah SWT.



Menikah juga salah satu yang menjadi jalan ibadah yang paling dinanti dan diidamkan oleh sebagian kaum adam dan hawa.


Tak perlu ragu, bimbang dan taluk perihal ekonomi.


Yakinlah bahwa usaha yang di barengi do'a, tawakal bersama pasangan halal, tentu akan saling menguatkan dan melancarkan jalannya rezeki. (Ora Et Labora).


"Dan kawinkanlah orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nur Ayat 32).



Mendapatkan Keturunan.



Salah satu jalan investasi di akhirat dalam Islam, selain beribadah termasuk pula keturunan yang sholeh/sholehah. Melestarikan keturunan putra-putra Adam.


"Allah menjadikan kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberiku rezeki yang baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?." (QS. An-Nahl ayat 72).



Penyenang Hati dalam Beribadah.



Pernikahan mampu memicu rasa kasih sayang, penyenang hati terhadap pasangan halal kita. Menciptakan insan yang bertakwa. Bersama memperjuangkan nilai-nilai kebaikan yang bermanfaat dalam rumah tangga dan orang lain.


"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqon ayat 74).



Membangun Generasi Beriman.



Jalan ibadah sekaligus sedekah yang menjadi bekal di akhirat kelak. Salah satunya membangun generasi beriman. Bertanggung jawab terhadap anak, mendidik, mengasuh dan merawat hingga cukup usia.



Memperoleh Ketenangan.



Dalam sebuah pernikahan bisa saling memberi manfaat. Perasaan tenang, tentram, damai atau Sakinah, akan hadir seusai menikah.


"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia ciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan di jadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Al-Rum [30] : 21).


🕊


🕊


🕊


Acara dipingit pun di rasakan oleh Aliyah, saat ini. Tinggal hitungan jam, ia melepas masa lajangnya dan berganti status.


Untuk mengusir rasa bosan ada di rumah, Aliyah langsung menghubungi kedua sahabatnya untuk menemani.


Undangan pun sudah tercetak dan disebar pada sanak keluarga, tetangga, sahabat dan juga rekan ayah di kantor.


Di kediaman keluarga Ahwan telah berkumpul keluarga besar dari ayah dan bunda Aliyah. Dari Bu Dhe, Pak Dhe, tante, om dan sepupu Aliyah juga berkumpul bersenda gurau.


Aliyah melangkah masuk ke kamarnya. Ia memandang seisi ruangan kamarnya yang telah disulap menjadi kamar pengantin yang di hias banyak taburan bunga.


Aliyah merebahkan tubuhnya di atas kasur, sambil memejamkan matanya sejenak.


Pintu kamar terketuk pelan.


"Mbak Aliyah, sudah tidur?" tanya Zudith di balik pintu.


"Masuk aja, malas bukain pintu" jawab Aliyah dengan posisi rebahan.


"Mbak Aliyah, nangis?" tanya Zudith sembari membuka pintu kamar kakaknya dan melangkah masuk.


"Siapa yang mewek!" balas Aliyah.


"Itu, masih ada sisa air matanya" tunjuk Zudith.


"Jangan mulai jahil, mbak lagi tak mood!"


"Idih, galaknya!"


Di luar kamar Aliyah terdengar suara langkah yang mendekat ke arah mereka.


"Sayang, kenapa belum tidur?" Bunda menghampiri putra putri nya dan duduk di kasur Aliyah.


"Bunda" panggilnya pelan. Kemudian menghamburkan pelukannya pada Bunda Lucy.


Bunda langsung mendekap tubuh ramping putrinya dan mengusap punggungnya dengan kasih sayang.


Zudith tersenyum menatap ke arah dua wanita yang sangat dia sayangi. Dua wanita yang telah mengisi kisah hidupnya dengan suka dan duka.


"Bunda, maafkan mbak Aliyah" ucap Aliyah lirih.


"Maaf untuk apa sayang? Jangan bersedih, besok adalah hari yang telah kau nanti, bersatu dengan pujaan hati" hibur Bunda Lucy.


"Iya, Bunda. Tapi Aliyah belum bisa bahagiakan Bunda dan Ayah"


"Kata siapa?"


"Kata tetangga" sahut Zudith jahil.


"Iihh, adek"


"Sudah.. Sudah, enggak usah jahil! Sudah malam, mbak Aliyah harus cepat tidur, biar enggak bengkak itu mata! Besok enggak terlihat bersinar wajahnya!" ujar Bunda Lucy.


"Bunda.." lirih Aliyah terasa panas sudah kedua matanya dan air mata sudah mengenang ingin menetes.


"Iya, sayangnya Bunda"


"Bunda tidur sini aja, malam ini temani mbak Aliyah" rengek Aliyah pada Bunda.


"Princess Ayah kan sudah dewasa, kenapa masih minta di temani Bunda tidurnya" sahut Ayah yang tiba-tiba masuk dalam kamar Aliyah, berkumpul bersama.


"Ayah" rengek Aliyah tangannya memeluk erat tubuh Ayahnya.


Suasana yang haru dalam ruangan itu. Mengingatkan kembali, masa-masa kenangan indah yang di lalui keluarga Ahwan dalam suka, canda, tawa, kesedihan, airmata bercampur jadi satu. Ketika kedua buah hatinya masih kecil.


Dari bayi yang mereka gendong, mereka temani tidur. Di saat merangkak, mulai belajar berjalan. Hingga waktu dewasa tiba. Dan kini, princess mereka telah di persunting oleh laki-laki pilihan hatinya.


Pada akhirnya, mereka berempat tidur bersama di satu ranjang dengan posisi Aliyah dan Zudith di tengah-tengah antara Bunda Lucy dan Ayah Ahwan.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung...