FORGET IT

FORGET IT
Tukang Ojol



Selamat membaca...


❣️❣️❣️


Sambil berpegang pada bahu Denis, Aliyah menaiki motor Denis.


"Kata na tak kenal, bee? Tapi, dari tadi ntuu cewek nyerocos terus ke bee na!." sindir Aliyah sembari duduk di boncengan Denis dan membuat Denis nyengir.


Kenapa perkataan Aliyah barusan masih terdengar seperti orang yang lagi cemburu? Tapi, wajar saja kalau Aliyah cemburu dan marah melihat sikap Eva tadi. Denis memilih diam tak menanggapi ucapan Aliyah tadi. Karena jika di tanggapi dan di bahas terus, pasti nanti ujung-ujungnya mewek, ngambek, merajuk, bisa-bisa tak dapat jatah tium dung.


Denis mengernyitkan dahi melihat Aliyah yang duduk agak ke belakang tak mau mendekat pada nya.


"Sayang"


"Iya, bee" jawab Aliyah singkat.


"Kenapa duduk na ay jauh? Emang na bee boncengin karung beras, apa?" kata Denis menoleh ke arah sang kekasih yang ada di belakang nya.


"Siapa bilang karung beras? Ini kan ay, bee!." jawab Aliyah cemberut.


"Bee tau, ntuu ay. Tapi, napa duduk na jauh-jauhan, sayang? Apa ay pikir bee ini tukang ojol?." ucap Denis lagi sambil mengedipkan mata nya.


"Biarin, lagian malas aja duduk dekat bee na!." jawab Aliyah melengos.


"Awas aja, nanti kalau jatuh. Bee tak mau tanggung jawab! Salah sendiri tak mau peluk bee!." omel Denis sembari menjalankan motor dan membuat Aliyah menahan ketawa nya.


"Salah sendiri bee na, genit-genit sama si Eva. Kata na tak kenal lah, lupa lah, apa lah, itu lah. Alasan aja bee na bilang begitu ke ay. Eh, ternyata teman smp na juga. Diih.. minta di apain sih bee na?." gerutu Aliyah dalam hati.


Dengan sengaja Denis mengendarai motor nya lebih kencang. Setelah keluar dari pelataran parkir cafe khalisa. Kemudian, Denis menginjak rem nya mendadak. Sehingga terdengar suara decitan yang nyaring di telinga dari ban motor Denis.


CEKIIITTT


"Bee..." teriak Aliyah dengan spontan dan langsung memeluk Denis erat karena di buat kaget dengan kejahilan Denis yang sengaja mengendarai motor nya seperti itu.


Denis hanya tersenyum kemenangan dengan kejahilan nya.


"Bee jahat.. Bee jail.. Bee ngeselin.." ucap Aliyah dengan suara yang sedikit serak karena tak terasa airmata nya sudah merembes di pipi chubby nya sembari memukul kecil punggung Denis.


"Ma'afin bee ya, sayang." ucap Denis menoleh ke belakang dan kaget melihat Aliyah yang sudah menangis sesenggukan.


"Ay kan takut bee. Untung tadi tak ada kendaraan lain! Kalau terjadi kecelakaan gimana, ay tak bisa bayangin bee." ucap Aliyah yang masih menangis karena rasa takutnya belum hilang.


"Iya, sayang. Ma'afin bee ya. Bee salah mengendarai motor kayak gitu, habis na ay tak mau peluk bee sih." ucap Denis sembari turun dari motor.


"Hmm" jawab Aliyah singkat.


Denis melepas jaket yang di pakainya, lalu memakaikan nya pada Aliyah.


"Pakai jaket ini dulu, biar tak masuk angin. Di jalan angin na kenceng, dingin." ucap Denis.


"Kalau jaket na ay pakai, bee pakai apa?." tanya Aliyah manyun.


"Ya, pakai baju lah, sayang. Emang na pakai apa?." jawab Denis sambil mengusap sisa air mata di pipi Aliyah.


"Nanti bee kedinginan lho. Bee kan cuma pakai kaos dan celana jeans pendek selutut. Entar bee bisa masuk angin."


"Kan ada ay, kenapa takut masuk angin?." jawab Denis sembari tersenyum genit ke arah Aliyah.


"Emang kalau ada ay, angin na tak berani masuk gitu kah?." tanya Aliyah lagi.


"Kan ay bisa peluk bee na dari belakang, biar anget. Jadi angin na tak berani masuk ke badan bee karena sudah ada satpam na yang jaga." ujar Denis sambil mentoel hidung mancung Aliyah.


"Ah, kalau ntuu sih, emang mau na bee dari tadi. oh.. bentar-bentar, berarti yang barusan ntuu di sengaja sama bee biar ay peluk bee na." ucap Aliyah sambil mencibikan bibir nya.


"Emm... minta di comot ntuu bibir." Denis menempelkan jari telunjuknya di bibir Aliyah.


"Bee.." teriak Aliyah lagi sembari memukul pelan dada bidang Denis yang menempel di dada Aliyah.


"Sssttt.. jangan teriak kenceng, bawel. Nanti di sangka orang kita lagi ngapain. Kalau di bawa ke pak penghulu gimana hayoo?." goda Denis sambil menaiki motor na kembali.


"Ngapain bawa-bawa pak penghulu?." tanya Aliyah.


"Ya, buat nikahin kita lah, sayang." jawab Denis mantep.


"Emm.. Emang bee sudah siap?."


"Siap, tak siap harus siap dung. Kan mau yang enak-enak." goda Denis lagi.


"Ah, malas lah bahas ntuu. Sudah tak usah di perpanjang lagi bee. Stop!."


"Hahaha, emang na stnk, lope. Mau di perpanjang." Denis semakin senang menjahilin kekasih na hingga mewek.


"Bee.. minta di gigit nie telinga na." teriak Aliyah sewot.


"I-iya, sayang."


Sebelum menjalankan motornya kembali. Denis menarik kedua tangan Aliyah untuk memeluk nya. Aliyah hanya menurut saja dengan apa yang di lakukan Denis. Karena dia masih takut dengan kejadian tadi.


***


Tiga puluh menit kemudian..


Kini Denis dan Aliyah tengah berkumpul dengan keluarga besar Denis di kampung halaman nya. Ibu dan juga kakak perempuan Denis menyambut hangat kedatangan Aliyah yang di gadang-gadang sebagai calon menantu dalam keluarga mereka.


Suasana hangat dan penuh canda tawa akan hadirnya Aliyah, semakin membuat ramai rumah orang tua Denis yang biasanya hanya di tempati ibu Denis seorang diri karena kakak perempuan Denis sudah berkeluarga dan telah membangun rumah sendiri di sebelah rumah ibu nya Denis.


Sedangkan kakak laki-laki Denis dan Denis sendiri pun merantau di pulau sebrang.


Semenjak kedatangan Denis dan Aliyah. Haikal terlihat begitu akrab dengan Aliyah. Padahal mereka belum pernah saling bertemu. Aliyah pun juga tidak menyangka jika Haikal sang keponakan Denis, putra dari kakak perempuan kekasih nya itu bisa menempel terus pada nya.


"Iya, sayang. Tante akan menginap di sini dua hari lagi." Aliyah mengusap kepala Haikal dengan lembut.


Ria kakak perempuan Denis berjalan mendekati Haikal "Sayang, ini sudah larut malam, sekarang waktunya kamu harus tidur." ucap nya.


"Enggak mau, bunda. Haikal belum ngantuk. Haikal masih mau bermain sama tante Aliyah." rengek Haikal sambil memeluk Aliyah erat tak mau melepaskan.


"Haikal, sayang. Besok kan masih ada waktu bermain sama tante Aliyah. Sekarang bobo' dulu ya. Sudah malam, sayang." bujuk halus Aliyah pada Haikal.


"Janji, tante enggak pulang tinggalin Haikal kan?." ucap Haikal sembari mengulurkan jari kelingking nya ke arah Aliyah.


"Janji, sayang. Sekarang Haikal bobo' dulu ya." bujuk Aliyah lagi sembari menautkan jari kelingking nya ke jari kelingking Haikal.


Lalu, Ria menyuruh Haikal untuk beranjak dari pangkuan Aliyah.


"Tunggu dulu, bunda. Haikal mau mengucapkan selamat bobo' dulu kepada tante Aliyah dan om Denis". Sebelum turun dari pangkuan Aliyah. Haikal mencium pipi Aliyah terlebih dulu dan berpindah mencium pipi Denis. " Selamat bobo' om dan tante, mimpi'in Haikal ya, tante cantik." ucap nya.


"Selamat bobo' juga, sayang. Gembul na tante. Semoga kita bertemu dalam mimpi yang indah, sayang." ucap Aliyah sambil mengecup kening Haikal, lalu tangan mungil Haikal menggandeng Ria mengajak masuk ke kamar nya.


"Gemes lihat Haikal, pipi na yang gembul, lucu, periang lagi anak na bee." menatap kepergian Haikal hingga hilang di balik tembok.


Denis tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan berbisik lembut di telinga Aliyah. "Bee juga bisa membuatkan yang lebih lucu dan menggemaskan dari Haikal, sayang."


Aliyah terkesiap dan reflek membulatkan sempurna kedua matanya, lalu memukul dada bidang Denis.


"Bee.. Jangan aneh-aneh traveling na." jawab Aliyah sembari berjalan menjauh dari Denis.


Aliyah melangkah kan kaki nya ke teras rumah. Ia ingin duduk santai sambil menghirup udara segar. Tanpa di sangka Aliyah, Denis sudah duduk di samping Aliyah.


"Bee.. Di sini udara na dingin banget kalau malam. Suasana na nyaman, tenang. Apalagi keluarga bee, yang menyambut ay dengan hangat. Jadi betah deh berlama-lama." ucap nya dengan senyuman di wajahnya.


Kini, Aliyah berdiri sambil menatap langit yang di sinari cahaya bulan dan di kelilingi bintang-bintang.


Denis memeluk Aliyah dari belakang. Lalu, ia menopang kan dagu nya ke bahu kanan Aliyah.


"Bee, ingin selalu seperti ini bersama mu, my queen." ucap nya lembut.


"Ay bahagia sekali bee. Ay juga tak percaya kalau ay sekarang ini bisa bersama seperti ini dengan bee." Aliyah mengusap kedua lengan Denis yang melingkar di tubuh ramping nya.


Lalu, Aliyah merubah posisi nya jadi menghadap persis di depan Denis. "Ay takut bee, benar-benar takut. Jika ternyata bee tak pernah datang di hadapan ay dan bee melupakan ay." ujar Aliyah dengan wajah sendunya.


Denis menempelkan bibirnya ke kening Aliyah. "Dalam hidup bee, setiap detik, setiap menit, setiap waktu, setiap hari yang ada hanya bayangan ay, senyum ay, tawa ay. Bagaimana bisa, bee melupakan ay. Jika pikiran bee selalu di penuhi tentang ay." ucap Denis.


Aliyah menatap kedua manik mata Denis yang begitu indah. "Ma'afin ay na bee. Jika ay masih kekanak-kanakan, pencemburu, ngambekkan, walaupun begitu ay tetap akan berjuang untuk meraih apa yang ingin ay miliki." ucap Aliyah sambil menundukkan kepala.


"Jika bee, malam ini ingin sesuatu dari ay, apakah ay meloloskan permintaan bee?."


"Apa ntuu, bee?."


Aliyah mendongakkan kepala, menautkan kedua alis nya dan menajamkan tatapan nya pada Denis dengan sedikit curiga.


"Bee, ay tak mau yang macam-macam!." ucap nya sambil memundurkan langkahnya.


Dengan cepat Denis menarik tubuh Aliyah ke dalam dekapan nya. Tatapan nya kini terfokus pada kedua manik mata kecoklatan milik Aliyah. "Memang na, ay sudah tau, sudah bisa baca pikiran bee? Yang di inginkan bee saat ini, ntuu apa?." tanya Denis mengalihkan pandangan nya ke bibir sexy milik sangat kekasih yang berwarna merah muda dan kini telah menjadi candu bagi nya.


Aliyah menggeleng kan kepalanya. "Tak tau lah, bee dan ay juga tak mau tebak-tebak sendiri." ucap nya sembari berusaha melepaskan tubuh nya dari delapan Denis. Namun, usaha nya sia-sia. Denis semakin memperdalam dekapan nya. "Bee, lepasin. Entar ada yang lihat lho."


"Tium bee na dulu."


"Tak mau lah, bee." jawab Aliyah sambil menggeleng kan kepala.


Ekspresi wajah Denis seketika berubah murung, dia kecewa dengan jawaban Aliyah.


Padahal dalam pikiran Denis, dia ingin tau bagaimana rasanya, jika Aliyah yang mencium nya duluan dan memimpin.


"Bee.. cepat lepasin ay." ucap Aliyah sambil meronta ingin melepaskan dari dekapan Denis. Namun, tetap saja Aliyah tak dapat meloloskan diri nya karena tubuh mereka semakin melekat.


"Berikan bee ciuman dulu, baru bee lepasin ay." ucap Denis.


"Ah, bee" ucap nya cemberut. "Ya, sudah. Janji ya bee. Habis ay cium bee na lepasin ay."


Denis menganggukkan kepala nya sebagai jawaban.


Dengan cepat Aliyah mencium bibir Denis dan hanya berupa kecupan saja di bibir Denis.


"Emuach"


"Sudah bee" ucap Aliyah.


"Ntuu bukan ciuman, sayang. Bee tak mau lepaskan ay kalau gitu caranya."


"Tapi, kan ay sudah cium bee na." kekeh Aliyah.


"Ntuu cuma kecupan, sayang. Beda dengan ciuman." tolak kekeh Denis.


Aliyah menghela nafas panjang dan Denis tersenyum melihat ke arah Aliyah. Namun, tiba-tiba Aliyah mendekatkan bibir nya pada bibir Denis. Ini pertama kalinya Aliyah melakukan itu. Tapi, jika tak segera di mencium nya. Denis pasti terus memeluknya seperti sekarang ini. Apa kata orang nanti, jika ada yang melihat mereka seperti itu? Pasti malu lah!.


❣️❣️❣️


Bersambung..


Tetap berikan dukungan kalian ya.. Yang tetap setia membaca karya recehku ini.


Berupa jejak 👣 like, komen, rate bintang lima dan jadikan favorit juga ya..


Terimakasih 🙏🤗🤗