FORGET IT

FORGET IT
Mawar Merah



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca...


❤❤❤❤


Denis sudah sampai di halaman rumah sakit Al-Ikhlas. Ia sengaja tidak mengabari Aliyah maupun Zudith tentang kedatangan nya untuk menjenguk Aliyah, setelah mendapat kan kabar kecelakaan kekasih nya tempo hari dari Zudith adik kandung Aliyah. Denis harus meminta ijin cuti terlebih dahulu kepada pimpinan nya untuk mendapatkan cuti selama satu minggu. Ia rela terkena omelan sang manager. Demi untuk bisa melihat keadaan kekasih nya saat ini.


Ia segera mempercepat langkahnya karena ingin segera menemui sang kekasih hati dan ingin melihat kondisi kesehatan kekasih hati nya.


Degub kencang terus memacu kerja jantung nya di sana. Hati nya tak tenang. Itu lah yang di rasakan Denis saat ini. Pria tampan bertubuh kekar itu tampak resah dan gelisah.


Ia menghentikan langkah nya sendiri. Mengatur keluar masuk udara segar untuk mengisi rongga pernapasan nya. Menghirup oksigen lalu mengeluarkan nya perlahan. Denis mencoba menetralkan pikiran nya sendiri. Bayangan buruk yang menimpa kekasih nya segera di buang jauh-jauh dalam otak nya. Ia berharap hari ini akan baik-baik saja dan bisa melihat kembali senyum ceria di wajah sang bidadari tak bersayap milik nya. Bisa mendapatkan kembali pelukan hangat dari sang pujaan hati.


Denis melangkah kan kembali langkah kaki nya yang sempat terhenti dengan pasti menuju kamar VIP. Sebuah kamar inap untuk Aliyah yang sedang di rawat akibat kecelakaan lalu lintas.


Jemari nya menyentuh pintu berbahan kayu mahal yang berukir di hadapan nya. Beberapa detik menunggu tidak ada siapa pun yang menjawab sapaan nya dan berseru untuk mengijinkan masuk.


Tidak ada sahutan. Denis mengulang ketukan lagi. Kali ini sedikit lebih kencang..


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamu'alaikum"


Suara Denis dan ketukan pintu pun tak membuat seorang gadis yang sedang tertidur pulas terbangun. Karena masih dalam pengaruh obat tidur, tadi pagi yang di suntikan ke dalam tubuh nya.


Dengan terpaksa. Denis memberanikan diri untuk membuka handle pintu itu sendiri dan mendorong perlahan daun pintu yang berwarna coklat itu.


Ceklekk...


"Assalamu'alaikum" Ia memberikan salam dan masuk ke dalam ruangan yang serba putih. Tidak ada sautan sama sekali.


Denis terus melangkah hingga berhenti tepat di hadapan bed elektrik pasien. Seorang gadis yang masih terbaring lemas dan berselimut hingga menutupi setengah badan nya saja. Tangan kanan nya pun masih terpasang selang infus. Kening nya yang mulus berhias balutan kain kasa putih yang mengelilingi.


"Cantik" guman lirih Denis. " Di saat tidur dan terbaring lemah begini saja, masih terlihat mengemaskan. Kau memang bidadari yang tak bersayap, yang turun dari kayangan untuk mendampingi aku. Menyempurnakan kisah cinta ku. Ya.. Benar sayang.. Kau memang tulang rusuk ku yang hilang satu. Kini aku telah menemukan nya, di dirimu. My Queen. Jaga selalu hatimu hanya untuk Bee!"


Suatu kebetulan atau memang telah terikat bathin nya. Aliyah membuka kedua kelopak mata nya perlahan dan menoleh ke sebelah kanan. Merasa di kejut kan oleh seseorang. Aliyah mengucek matanya dengan tangan kiri.


"Ya Allah.. Mimpikah aku? Atau dia hanya sekedar bayangan bee! Karena aku sangat mengharapkan kehadiran bee di sisi ku, saat ini" ucap Aliyah dalam bathin nya.


Denis mengangguk sembari tersenyum samar.


"My Queen" seru Denis begitu melihat sang pujaan hati membuka mata dari buaian mimpi nya sesaat.


Aliyah melengkungkan senyum tipis. Setipis kulit ari hampir tak terlihat. Tatapan nya penuh arti. Netral beningnya terus terarah pada wajah pria tampan yang berdiri di samping bed pasien yang menggenggam erat jari jemari nya.


"My King" lirih Aliyah lemah.


"Iya, sayang" sahut Denis cepat. Ia menunggu kelanjutan ucapan sang kekasih. Namun, hingga beberapa menit Aliyah hanya terdiam menatap Denis dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Maafkan, Bee. Baru bisa datang hari ini. Maaf kan, Bee. Tidak bisa selalu menjaga Ayang setiap saat. Rasa kekhawatiran, Bee dan kegundahan, Bee beberapa hari yang lalu tentang Ayang akhirnya terjadi juga. Dan Bee sangat menyesal tak dapat menemani Ayang. Tak ada di sisi Ayang di saat kejadian itu" ucap Denis menyesali.


Aliyah menggelengkan kepala dan menampakkan senyum yang jauh lebih lepas dari sebelumnya.


"Ay bisa mengerti dan memaklumi, Bee. Ay juga tau, Bee tak ada di sisi Ay karena Bee sedang berjuang di sana demi masa depan kita. Bee tak usah merasa bersalah karena kejadian yang telah menimpa Ay" timpal Aliyah sembari tersenyum.


Denis membawakan satu buket mawar merah yang mekar. Begitu segar dan indah di pandang mata. Ia membawa mawar berwarna merah karena keinginan yang kuat untuk selalu bisa menjaga pasangan nya.


Bola mata Aliyah beralih pada satu buket buka yang di sodor kan Denis kepada nya.


"Indah sangat istimewa. Walaupun bunga mawar ini akan layu. Dan tak akan mekar lagi. Namun, cinta dan kasih sayang ay akan tetap tumbuh subur hanya ay persembahan buat bee seorang" ucap Aliyah sembari melengkung kan sudut bibir nya ke atas.


"Bee, membawakan bunga mawar ini, spesial buat Ayang. Walau kesegaran nya hanya bertahan sebentar dan akan layu. Namun, keindahan nya akan terkenang dalam ingatan, Ayang. Walaupun esok hari bunga mawar ini akan layu. Mengering bahkan hilang tertiup angin. Jika bunga mawar ini akan selalu terlihat indah dan tak pernah layu di pandang Ayang. Lama kelamaan Ayang akan merasa bosan jua. Bee, tak mau itu yang di rasakan hati Ayang kepada Bee. Bee hanya berdoa agar cinta dan kasih sayang kita berdua tak kan pernah layu dan mati, walaupun di makan usia"


Jemari lentik Aliyah menyentuh bunga yang di bawa Denis untuk nya. Dengan sangat hati-hati. Wajah nya nampak sumingrah. Lalu menghirup aroma segar dari bunga itu.


Pagi hari yang cerah. Seceria hati Aliyah. Harapan nya terkabulkan. Ketika membuka mata. Yang pertama kali di lihat nya adalah senyuman manis yang tersungging dari bibir sang pemilik hati.


"Terimakasih, sayang. Bunga nya, indah banget"


"Really"


"Ho'oh" Aliyah mengangguk.


"Berikan, Bee ciuman dung. Tanda terimakasih" Denis menyodorkan pipi kanan nya ke wajah Aliyah.


Aliyah terkekeh mendengar ucapan Denis.


"Selalu, meminta imbalan cium" ucap nya dan langsung cup hangat, eeemmuuuaaacchh ke pipi Denis.


❤❤❤❤


Bersambung....