
Kembali lagi dengan penulis receh semoga kalian tetap setia membaca dan selalu memberikan dukungan kepada author bengek ini..
Selamat membaca dan semoga kalian suka serta terhibur dengan cerita nya..
❣️❣️❣️
Disaat Aliyah masuk ke dalam rumah. Ia berpapasan dengan Ibu Denis yang membawa baki berisi minuman dan cemilan untuk tamu Denis.
"Ibu.. " panggil Aliyah.
"Iya, Aliyah." jawab Ibu Denis.
"Ibu mau ke depan ya? Dan itu pasti buat tamu nya bee Denis kan? Sini, biar Aliyah aja yang membawa nya keluar. Ibu, lanjut istirahat aja." ucap Aliyah sambil mengambil alih baki dari tangan Ibu Denis.
"Enggak apa-apa, Aliyah. Biar Ibu saja yang bawa ke teras." tolak halus Ibu Denis.
"Aliyah saja, Ibu." ucap Aliyah lagi dan tetap mengambil baki itu. "Sekalian Aliyah pingin bergabung dengan tamu bee Denis." cengir Aliyah sambil berjalan menuju teras depan.
Aliyah berusaha menguatkan hati nya. "Bismillahirrahmanirrahim" Aliyah mengucapkan do'a untuk menyemangati diri nya.
Kini, ia melangkah kan kaki nya dengan pasti dan ikut bergabung dengan Denis dan kedua tamu yang tak di undang itu. Ia harus menyambut tamu nya dengan senyuman, walaupun senyum itu terpaksa Aliyah terbitkan di bibir manis nya.
"Ma'af, cuma air dan cemilan." Aliyah menaruh suguhan nya di atas meja.
"Iya, terimakasih." sahut Eva dengan malas.
"Silakan di minum dulu teh nya, mumpung masih hangat. Biar tak kering tenggorokan nya. Kan sedari tadi ngobrol terus." sindir Aliyah kepada duo racun.
Aliyah memundurkan langkah nya setelah menaruh teh hangat dan cemilan di atas meja.
Lalu, Aliyah membisikan kata-kata sindiran di telinga Denis. "Ohh, rupa na ada tamu special, sampai-sampai lupa ada seseorang yang menunggu di bawah pohon jambu sendirian. Tapi, untung aja tak di gondol kucing."
"Jangan ngambek gitu, nanti bee kasih hadiah. Senyum dung, masa bee tak di kasih senyum, malah di kasih cemberut lho." goda Denis.
"Malas! kalau sudah ada mereka aja, ay di lupakan!." ucap Aliyah merajuk.
"Ayang.. Sini, duduk di samping bee." kata Denis sambil menarik tangan Aliyah dengan tangan kanan nya. Sedangkan tangan kiri nya menepuk kursi yang kosong di samping nya.
Tiba-tiba Maya mengeluarkan suara dan mencibir Aliyah. "Oh, ini ternyata pilihan hati kamu, Denis! Sungguh tidak pantas kamu berdampingan dengan dia, Denis!."
"Siapa kamu? Dan kenapa kamu melarang aku untuk menjadi pendamping bee?." tanya Aliyah kepada Maya.
"Karena aku kekasih Denis di masa lalu nya dan hubungan kita belum kelar!." ucap Maya dengan pede nya.
"Hmm.. Masa lalu nya aja bangga." cibir Aliyah.
"Maka dari itu, aku datang ke sini untuk melanjutkan kembali hubungan kita yang sempat terhenti." kekeh Maya.
"Mimpi" jawab Aliyah singkat.
"Kamu yang mimpi! Dasar anak bau kencur." ucap Maya sinis ke Arah Aliyah.
"Jangan bergaya sok-sok an ingin merebut bee Denis dari Aliyah! Pasti bee milih yang masih kinyis-kinyis dung! Kamu hanya masa lalu bee dan aku masa depan bee!." ejek Aliyah mencibir balik Maya.
"Kamu tak pantas dampingi Denis, bocah ingusan!." bentak Maya.
" Sebenarnya maksud kalian berdua ke mari itu apa? Jangan bilang kedatangan kalian ke sini hanya ingin menyakiti hati kekasihku dan seenaknya kalian menghina serta meremehkan Aliyah di depan mata ku. Bagaimana pun cara kalian untuk menjatuhkan Aliyah dan berusaha memisahkan kita. Aku akan tetap memilih gadis ku dan tetap pilihan ku adalah Aliyah tak akan mungkin tergantikan oleh kalian berdua." ujar Denis sembari menatap tajam ke arah duo racun itu dengan penuh kesal.
"Untuk itu, aku persilakan kalian segera pergi dari rumah ku, sebelum.." Denis belum menyelesaikan ucapan nya. Tapi, Maya menyela dengan sinis.
"Stop, Maya! Pelan kan suara mu. Jangan usik ketenangan istirahat keluarga ku dengan kedatangan kalian yang merusak suasana damai di sini."
Denis berusaha meredam emosi dan menurunkan volume suara nya. Karena, ia tak ingin mengganggu istirahat siang keluarga nya.
Lalu, Denis berdiri dari kursi nya juga mempersilahkan kedua tamu yang tak di undang itu segera pergi dari rumah nya.
"Kenapa kamu tega mengusir kita, Denis? Lupa kah kamu dengan masa kecil kita? Kita yang selalu bermain bersama. Kamu yang selalu membantu kita untuk menyelesaikan tugas dari guru di sekolah. Kamu yang selalu memberikan payung, di kala kita kehujanan. Kamu yang selalu menemani kita, di kala kita mendapatkan hukuman dari guru BP. Kamu yang selalu menjadi pelindung kita, di kala kita di jahili kakak kelas. Lupa kah kamu tentang itu semua?." ujar Maya dengan suara yang lantang.
"Iya, Denis. Bener apa yang di katakan Maya. Lupa kah kamu tentang masa lalu kita." sahut Eva.
" Sudah berhenti untuk menceritakan masa lalu! Kita memang berteman sedari kecil. Namun, sekarang ini kita telah tumbuh menjadi dewasa dan mencari tujuan masing-masing. Jadi, tolong jangan pernah mengungkit lagi, hal itu hanya untuk alasan kalian saja! untuk itu hargai dan jaga perasaan Aliyah juga." ujar Denis.
"Tapi, Denis. Tolong beri satu kali lagi kesempatan buat aku." pinta Maya dengan usaha nya.
"Dan untuk kamu Maya. Aku sudah tau, saat ini kamu masih menjalin hubungan dengan Arman. Terus, buat apa kamu berusaha menghancurkan hubungan ku dengan Aliyah?." tambah Denis membuka kartu Maya.
Denis menarik panjang nafas nya.. "Sayang.." panggil nya kepada Aliyah. Namun, tak ada jawaban.
"Ck.. sudah ku duga dari awal. Aliyah pasti akan cemburu dan ngambek. Jika ada si duo racun ini. Dasar kalian berdua memang pembawa malapetaka dalam hubungan ku." guman bathin Denis.
"Apa hebat nya dia? Gadis manja dan tau nya cuma cemburu, ngambek, merajuk." sela Eva sinis.
"Ohh, ini ternyata pilihan hati kamu." cibir Maya.
Sebelum melangkah pergi, Maya meraih gelas beisi teh yang berada di atas meja. Lalu menyiramkan ke muka Aliyah. Seketika Denis menajamkan pandangannya ke arah Maya. Ia berjalan mendekati Maya dan mengangkat tangan nya hendak menampar muka Maya karena rasa geram, kesal melihat kelakuan Maya yang seperti itu kepada Aliyah.
Namun, dengan cepat Aliyah memegangi tangan Denis, mencegahnya agar tak menampar Maya.
"Stop, bee.. Sabar jangan pernah kotori tangan bee dengan menampar muka dia. Sayang tangan bee nanti terkontaminasi virus komplikasi iri dengki dan kebencian. Tak bagus buat pribadi bee." ucap Aliyah santai dan menyindir duo racun.
Denis mendesah panjang sembari terus menajamkan pandangannya ke arah duo racun dan mengisyaratkan lewat mata nya menyuruh tamu nya itu untuk segera pergi meninggalkan rumah nya.
Aliyah memasang senyum tipis menawan yang sangat nyaris tak terlihat dan menggelengkan kepala ke arah Denis. "Ay tak suka bee memukul cewek. Karena seorang cowok ntuu seharusnya melindungi bukan malah menampar nya." ujar Aliyah.
"Tapi ini beda, sayang." bela Denis.
"Bee... Dia tetap seorang wanita. Bagaimana pun kelakuannya." kata Aliyah lagi.
"Munafik kau Aliyah." pekik Maya. "Senang kan kamu di bela Denis. Jangan berpura-pura baik di depanku." hardik Maya.
"Cukup, Maya. Tutup mulut mu! Eva cepat bawa Maya pergi dari rumahku. Jangan membuat aku semakin emosi dan kalian akan menanggung sendiri akibatnya!." bentak Denis. Namun, dia tetap meredam emosi nya. Walaupun tangan nya sudah mengepal siap melayang ke muka Maya.
"Ayuk kita pulang saja Maya. Daripada kita nanti terkena amukan Denis." ucap Eva sembari melangkah kan kaki nya seger pergi dari rumah Denis dan menarik tangan Maya.
Maya pun menurut dengan Eva. Dia berjalan dengan menghentakkan kaki nya ke tanah.
❣️❣️❣️
Bersambung...
Bagaimana nasib hubungan Aliyah dan Denis??..
Kepoin terus ya kelanjutan cerita na.
Dengan tetap memberikan dukungan kalian berupa like, komen, rate bintang lima dan tetap jadikan favorit agar kalian tak ketinggalan cerita na.
Terimakasih🙏 🤗🤗