
Selamat membaca..
🍃🍃🍃
Cahaya sinar bulan purnama begitu terang benderang. Gemerlap bintang yang bertaburan di langit menambah keindahan langit malam ini.
Selepas magrib.
Denis yang sedari tadi telah bersiap dengan stelan casual nya. Kini, dia duduk di tepi ranjang sembari bermain game online sedang menunggu bidadari nya yang sibuk berias diri duduk di depan cermin. Sesekali Denis melirik dan tersenyum ke arah Aliyah.
"Gimana rasa nya kalau menunggu cewek yang sedang berdandan? Apalagi dia adalah kekasih hati, harus extra sabar." bathin Denis.
Sepuluh menit berlalu. Aliyah telah selesai. Kini, ia melangkah menuju ke arah Denis yang sedang rebahan santai dengan setia menunggu nya sedari tadi.
"Ayo bee.. Kita jalan sekarang, ay sudah siap, bee." ajak Aliyah seraya mengulurkan tangan nya.
"Hayuk, sayang." balas Denis sembari mematikan layar ponsel nya.
Mereka berdua berjalan dengan saling bergandengan mesra. Walaupun masih ada rasa kesal di hati Aliyah.
Tampak Ibu dan mbak Ria sedang ngobrol di teras rumah menikmati wedang ronde buatan Ibu Denis.
Ketika melihat Denis dan Aliyah keluar dari dalam rumah. Ibu dan mbak Ria tersenyum hangat ke arah kedua nya.
"Kalian mau ke mana?." tanya Ibu Denis.
"Mau jalan-jalan sebentar, bu." jawab Denis santun.
"Cie cie kayak mau nyebrang di gandeng muluh Aliyah nya." goda mbak Ria. "Takut ilang ya, Den."
"Pasti lah, mbak Ria. Cari yang gemesin gini susah lho. Tukang mewek, tukang bengek." Denis menimpali ucapan mbak Ria barusan.
"Ingat, jangan pulang malam, Denis." pesan Ibu Denis.
"Tak pulang malam, Ibu. Tapi, pulang pagi." jawab Denis bercanda.
"Kencan ya kencan, Den. Tapi, tetap harus ingat pulang lah. Itu anak gadis orang." sahut mbak Ria. "Jangan di buat sembrono."
"Iya lah anak gadis orang, masa anak ayam." canda Denis lagi.
"Bee.. " panggil Aliyah.
"Apa sayang." balas Denis.
"Jawab na kok gitu."
"Becanda sayang, jangan manyun gitu. Entar bee khilaf." bisik Denis ke telinga Aliyah.
Mendarat lah cubitan panas di lengan Denis..
"Aww... Sayang, sakit dung."
"Sukurin, habis na bee jahil."
"Sudah berangkat sana, nanti malah kemalaman kalian. Ingat pesan Ibu." ulang mbak Ria.
"Iya mbak Ria. Denis ingat kalau sekarang, tak tau nanti." jawab Denis nyengir.
"Dasar.. minta di pentung itu kepala." sahut mbak Ria lagi.
"Denis dengar kata-kata ibu tadi. Ingat kan!." ucap Ibu Denis.
"Siap, Ibu sayang." jawab Denis sambil memberi hormat kepada Ibu.
Setelah berpamitan kepada Ibu dan mbak Ria. Mereka berdua berjalan menuju ke mobil merah maroon yang terparkir cantik di halaman rumah Denis.
Denis melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang memasuki jalanan kota yang telah ramai padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit di tengah perjalanan tiba-tiba Aliyah menyuruh Denis untuk memperlambat laju kendaraan nya. Karena Aliyah melihat ada sorot lampu sokle dari jauh dan Aliyah mencari asal nya dari mana sorot lampu sokle tersebut.
Dan ternyata lampu sokle itu berasal dari sebuah lapangan yang di pakai untuk pasar malam dadakan atau musiman di sana.
"Sayang.. Pelan-pelan jalan na!." seru Aliyah. Seketika membuat Denis memperlambat laju mobil nya.
"Ada apa, sayang? Bikin bee kaget aja." tanya Denis penasaran.
"Emang ada apa, sayang? Kok bee di suruh berhenti?." tanya Denis seraya mengerutkan dahi nya.
"Lihat ntuu bee! Ternyata lampu sokle ntuu berasal dari pasar malam yang berada di lapangan luas ntuu, bee. Ayo kita ke sana, ya." ucap Aliyah manja seraya menunjuk ke arah lapangan yang ramai dengan macam-macam wahana permainan dan beraneka ragam orang berjualan.
"Ayang mau ke sana? Mau ngapain coba? Tak salah kah?." tanya Denis bertubi-tubi.
"Tak salah lah, bee."
"Ayang yakin mau jalan-jalan ke pasar malam ntuu?." tanya Denis lagi menyakinkan Aliyah.
"Yakin lah, bee. Ay pingin naik bianglala bee. Ya.. ya. mau ya bee." rengek Aliyah dengan manja.
"Tak nyesel nanti?." Denis masih belum yakin dengan kemauan Aliyah yang satu itu.
"Tak.. bee.." sahut Aliyah lembut sambil menggelengkan kepala.
"Deal"
"Deal lah, bee.. Ayo tak pakai lama bee." rengek nya masih bergelayut manja di lengan kiri Denis.
Aliyah berharap kepada sang kekasih agar setuju dan menerima ajakan nya.
"Okay.. Okay.. Terserah ayang. Tapi, jangan nyesel ya kalau tak sesuai dengan harapan ayang." ucap Denis yang masih tak percaya dengan pilihan kekasih nya.
"It'is okay, lope.. Ay tak kan pernah menyesal datang ke tempat itu. Ay yakin seyakin yakin nya, bee." kata Aliyah lagi sambil mengangguk kan kepala.
"Hmm.. baik lah, apa sih yang tak buat ayang bee yang satu ini."
"Emang ayang bee ada berapa?." tanya Aliyah mulai cemberut.
"Ya pasti lah, ayang bee cuma satu dan tetap cuma ada satu di hati bee na."
"Hmm... Pfftt.." jawab Aliyah.
"Bibir na tak usah di maju-majuin gitu. Dan jangan salah kan bee kalau khilaf."
"Apaan sih bee." pekik Aliyah sembari mendaratkan cubitan panas di pinggang Denis.
"Aww.. Ampun ayang.. Sakit ini." pekik Denis kesakitan.
"Hehehe.. Ma'af tak sengaja tangan na." jawab Aliyah nyengir.
"Dasar bajaj, awas aja nanti kalau bee benar-benar khilaf." balas Denis dengan candaan nya.
Kini, Denis mulai menghidupkan mesin mobil nya kembali. Lalu, ia menjalankan dengan lambat menuju ke tempat pasar malam dadakan itu. Dengan berputar-putar sebentar untuk mencari tempat parkir yang kosong. Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya Denis mendapatkan tempat parkir yang kosong dan nyaman di area parkiran yang cukup luas.
Pandangan Aliyah tak lepas dari area wahana bermain di pasar malam itu. Ia tak menyadari jika sedari tadi di perhatikan oleh Denis. Bayangan masa kecil Aliyah yang kini sedang menari-nari di lamunan nya. Membuat sudut bibir nya terangkat dan membentuk garis lengkungan. Senyum yang manis tersungging di bibir berwarna pink itu.
"Eheemm.. Yang lagi ingat seseorang, jadi tersenyum sendiri." sindir Denis kepada Aliyah.
Aliyah masih tak mendengar ucapan sindiran dari Denis yang berada di samping nya.
"Sayang, jadi tak ke pasar malam na." tanya Denis sambil mentoel pucuk hidung Aliyah.
"Ehh.. Iya, bee." jawab Aliyah gelagapan.
"Hayoo.. Lagi mikirin siapa, sampai cuekin bee na lho."
"Ay tak mikirin siapa-siapa, bee. Cuma teringat masa kecil ay na."
"Kenapa dengan masa kecil, ayang?." tanya Denis sedikit kepo.
"Senang aja waktu di ajak sama Ayah dan Bunda ke pasar malam. Bermain komedi putar terus Ayah bermain lempar gelang dapat hadiah boneka besar kesukaan ay, bee.. Nanti bee na main ntuu ya, siapa tau dapat boneka yang besar buat ay bawa pulang." ujar Aliyah.
"Emm.. Mudah-mudahan aja masih rezeki bee, biar bisa kasih boneka ntuu buat ayang."
"Semangat bee.. Hehehe." kekeh Aliyah sembari menepuk pelan kedua pipi Denis.
"Apa dengan hal yang sesederhana ini aja, kamu sudah bahagia, sayang." guman Denis.
🍃🍃🍃
Bersambung..