
Zudith melihat jam di dinding. Jarum jam sudah menunjukkan di angka setengah satu pagi. Zudith yang baru saja menyelesaikan tugas nya dan menutup layar laptop di atas pangkuan nya. Ia menaruh laptop di atas meja. Lalu, berjalan keluar kamar mengambil sebotol air mineral dalam kulkas.
Setelah menghilang kan dahaga nya. Zudith kembali ke kamarnya. Ia berbaring di atas tempat tidur. Matanya tak ingin di ajak terpejam. Walaupun tubuh nya sangat menginginkan nya. Ia memainkan kembali ponsel yang ada di tangan nya, sambil menunggu matanya terkantuk.
Zudith menatap layar ponsel nya, menscroll ulang. Membaca chat dari teman-teman nya dan segera membalas chat yang belum sempat di balas nya tadi sore.
Selang beberapa menit kemudian. Tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dari kamar Aliyah.
"Bee.. Bee.. Jangan pergi!!"
Zudith terkejut mendengar suara kakak nya. Dengan gerakan reflek, ia melempar ponsel nya di atas tempat tidur. Lalu, kemudian berlari ke arah kamar kakak nya Aliyah, yang bersebelahan dengan kamar nya.
Kriek... Suara pintu di buka sambil memanggil kakak nya, Zudith menerobos masuk ke dalam kamar Aliyah yang tak terkunci dari dalam.
"Mbak Aliyah.. Ini Zudith. Bangun, mbak Aliyah!"
Zudith segera menghampiri Aliyah dan membangun kan nya.
"Mimpi buruk kah??" tanya Zudith membantu Aliyah bangun dari tidur nya. Tapi, Aliyah tak menjawab pertanyaan Zudith. Nafas nya masih tersengal-sengal tak beraturan. Tangan nya gemetaran, wajah nya pucat dan keringat dingin keluar membasahi seluruh tubuh nya.
Zudith memeluk tubuh kakaknya untuk memberikan ketenangan kepada kakak nya yang belum normal nafas nya.
"Ada Zudith di sini! Tenang kan hati mbak, Aliyah"
Perlahan Aliyah melepaskan pelukan Zudith. Ia mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya pelan. Aliyah duduk meringkuk sambil memegangi kepala nya.
"Mbak Aliyah, mimpi apa?" tanya Zudith pelan.
"Maaf ya. Gara-gara mbak Aliyah berteriak, kamu jadi ke bangun" Aliyah meminta maaf.
"Enggak apa, mbak. Zudith tadi belum tidur. Habis menyelesaikan tugas" jawab Zudith.
Zudith berdiri mengambil air minum yang berada di meja dekat ranjang Aliyah.
"Minum dulu air nya, biar enakan. Mbak Aliyah nya" Zudith menyodorkan gelas di tangan nya ke arah Aliyah.
"Terimakasih, dik" Aliyah meminum air nya sedikit lalu memberikan nya kembali gelas itu kepada Zudith.
"Zudith temanin di sini ya, mbak?" tanya Zudith menawarkan diri.
"Tak usah, dik. Mbak Aliyah sudah tak apa-apa. Kamu kembali aja ke kamar dan segera tidur. Sekarang sudah jam berapa?" jawab Aliyah menolak.
"Tapi, mbak.." sela Zudith.
"Sudah sana, mbak Aliyah sudah lumayan. Kamu tak usah khawatir, balik istirahat sana. Mbak Aliyah baik-baik aja kok" Aliyah bersikukuh dan mencoba menyakinkan Zudith.
"Ya, sudah. Tidur lagi ya, mbak" ucap Zudith akhirnya. Tapi, ia masih menatap Aliyah ragu.
"Maaf sudah mengganggu waktu istirahat kamu" ucap Aliyah.
Tak ada jawaban dari Zudith. Hanya senyuman yang mengembang dari bibir Zudith. Kemudian Zudith berjalan keluar kamar.
...***********...
"Apa aku memang benar-benar bodoh? Semudah itu kah ay kau bohongi bee! Atau memang aku bodoh!!"
Aliyah terus saja komat kamit memaki diri nya sendiri di depan cermin sembari meremas rambut nya.
Sejak pertengkaran nya dengan Denis satu minggu yang lalu. Ia merasa dirinya teramat sangat bodoh atau memang diri nya hanya mainan saja buat Denis.
Hubungan jarak jauh yang hanya terjalin lewat komunikasi yang intens dan saling menjaga kepercayaan di antara mereka. Kini, Benteng pertahanan yang selama ini berdiri kokoh di hati Aliyah seakan runtuh, hancur berkeping-keping. Bagaikan puzzle yang berhamburan. Benteng yang dibangun dengan kesabaran Aliyah kini sedang di uji. Badai tsunami telah meluluh lantah kan benteng beton yang tersusun rapi di hati Aliyah.
"Semudah itu kah, kamu terkena tipu daya seorang Denis, Aliyah? Haah?! Di mana akal sehat kamu, Aliyah? Bahkan kamu menyerah kan hati kamu sepenuhnya pada nya! Kamu memang bodoh, Aliyah!! Bodoh!!" di maki nya bayangan diri nya di cermin.
"Aahhh" teriak Aliyah terisak yang tak kuat menahan rasa sakit di kepala nya.
"Apakah dia untuk aku? Apakah dia jodoh aku? Apakah dia memang untuk aku??"
Hati dan pikiran Aliyah terus bertanya-tanya tanpa ada jawaban satu pun. Karena Aliyah sendiri tak mau berterus terang ada masalah apa sebenarnya dalam hubungan nya saat ini dengan Denis.
Hingga tiba-tiba Aliyah di kaget kan dengan bunyi suara yang menggema di kamar nya.
Drrtt.. Drrttt.. Kriing.. Kriing..
Suara dering telpon Aliyah yang berada di atas nakas. Dengan segera Aliyah mengambil ponsel nya dan melihat ke layar ponsel nya.
"Bee..."
Dengan ragu-ragu Aliyah menggeser tombol hijau di ponsel nya.
"Assalamu'alaikum" sapa Aliyah menundukkan kepala nya tak melihat ke layar ponsel.
"Wa'alaikumussalam.. Cinta na bee" balas lembut Denis menatap ke layar, ingin melihat wajah kekasih hati nya yang sudah satu minggu ini tak di lihat nya.
"Kenapa wajah nya di tekuk? Ay masih marah sama bee? Ay tak lindu sama bee kah? Kalau masih marah dan tak ingin lihat wajah bee na, telpon nya di tutup saja, ya!" pungkas Denis sedikit kecewa dengan sikap Aliyah.
"Bee.." lirih Aliyah sembari melihat ke layar ponsel.
"Apa sayang.. Ayang nangis?" tanya Denis menatap ke bola mata Aliyah yang masih tersisa airmata di sana.
"Ay jatuh cinta pada bee? Apa bee juga jatuh cinta pada Ay na?" tanya Aliyah kepada Denis.
"Iya sayang.. Bee jatuh cinta pada ayang pertama kali bertemu di Cafe waktu itu" jawab Denis jujur.
"Bee betul-betul mencintai ayang. Tak ada kata PHP atau PHK bagi bee untuk seorang bidadari yang tak bersayap pujaan hati bee" Denis menjawab nya lagi.
"Apakah cinta bee murni untuk ay na?" tanya nya lagi sambil terisak.
"Cinta bee murni dan tulus untuk ayang.. Kenapa ayang menanyakan itu semua pada bee. Seakan-akan bee menghianati cinta kita. Ada apa sebenarnya? Kata kan sejujurnya pada bee, biar tak ada kesalah fahaman di antara kita, sayang" ucap Denis lembut kepada Aliyah.
"Ay mau jujur sama bee, tapi bee janji jangan marah" kata Aliyah menatap ke arah Denis.
"Bee janji, sayang. Kata kan semua apa yang menganjal di hati ayang selama ini. Biar bee bisa selalu melihat senyum ayang. Bee tak ingin melihat ada air mata di mata indah ayang" balas Denis menatap ke arah Aliyah sendu.
"Beberapa minggu yang lalu ada seseorang yang mengirim ke no WA ay. Foto-foto mesra bee dengan seorang wanita bernama Rena" terang Aliyah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Coba kirim foto nya ke Bee, sekarang. Bee ingin melihat nya" balas Denis yang sedikit kaget dengan apa yang barusan Aliyah bilang.
Beberapa detik kemudian, Aliyah langsung mengirim kan foto-foto mesra Denis dengan Rena sang barista Cafe Noir.
Setelah melihat foto-foto yang di kirim Aliyah. Denis mengepalkan tangan nya geram dengan kelakuan yang pengirim misterius itu.
"Ayang dapat dari mana semua foto-foto itu? Itu semua fitnah, sayang. Bee tidak pernah ada hubungan spesial apa pun dengan Rena. Bee hanya sekedar berteman baik dengan Rena tak lebih" jelas Denis dengan menatap tajam ke manik mata Aliyah.
"Ay tak tahu pasti siapa yang mengirim foto itu karena no WA nya sekarang sudah tidak aktif" balas Aliyah.
"Dan ayang percaya kan dengan semua foto-foto itu. Hingga ayang tidak mempercayai Bee lagi?"
"Hmm" jawab singkat Aliyah.
"Sayang.. Cinta kita sedang di uji. Cinta secara teoris tidak lepas dari masalah. Berlaku lah sebaik mungkin. Wanita yang baik atau laki-laki yang baik. Kalau kita menjadi lebih baik itu tanda bahwa dia orang yang baik. Jikalau kita tidak jadi sebaik dulu berarti dia tidak baik. Mungkin dia orang yang tepat. Tapi, cara kita yang mencintai nya yang salah"
"Jadi, Bee.." tanya Aliyah lagi.
"Karena sebaik-baik nya cinta, kalau kita perlakuan tidak baik. Dia akan bermasalah juga. Maka berlaku lah sebaik mungkin, kalau tetap bermasalah berarti yang sebenarnya bermasalah adalah pasangan kita. Semua orang setuju perubahan itu baik. Tapi, tidak setiap orang mau berubah. Karena perubahan itu berawal dari kita sendiri bukan berubah untuk menyenangkan hati pasangan kita yang ujung-ujungnya menjadi tekanan buat pasangan kita.. Ayang faham kan yang bee, jelaskan?"
"Faham, Bee.."
"Banyak orang kalau patah hati, langsung setengah mati marah nya. Langsung galau, guling guling, tak fokus pada sekitar nya, tiap hari kerjaan nya nangis, mewek, bengek. Padahal tidak semua cinta yang kita terima itu yang terbaik. Karena dalam cinta itu juga ada ujian dengan cinta yang tidak begitu baik. Kita harus bisa menyikapi dengan bijaksana dan kepala dingin. Jangan langsung sikit-sikit cemburu, merajok, ngambek nya sampai berhari-hari tanpa kejelasan. Kalau kita tak saling terbuka dengan pasangan kita. Mana tahu pasangan kita. Iya, kalau pasangan kita peka. Kalau tidak, akan menjadi kesalahan fahaman dan mengancam hubungan dalam perpisahan" ujar Denis sedetail mungkin.
"Iya, Bee.. Maafin ay na" Aliyah meminta maaf kepada Denis.
"Bee, nyanyiin satu lagu buat ayang. Tapi, habis gitu bobo' ya, ayang nya. Sudah jam berapa ini belum bobo'!!"
"Iya.. Iya.. Bee.." jawab nya manyun.
πΌπΌπΌ
...SUARAMU SYAIRKU...
...Pandang lah aku, hembuskan nafasmu...
...Karena aku amat merindukanmu...
...Jangan lah, jangan kau jauh darimu...
...Tanpa wajah mu, kelam dunia ku...
...Bisikkan aku, katakan cinta mu...
...Karna suaramu bersyair laguku...
...Dendangkan aku, dengarkan padaku...
...Dekaplah aku, wahai kekasihku...
...Bila bermimpi kamu, jaga dari tidurku...
...Aku sebut nama mu, aku seru cintamu...
...Engkau lah kekasihku, hanya engkau nyawaku...
...Aku lah perindumu, aku lah pencintamu...
...Bawa ku bersama mu, agar hilang resahku ...
...Erat kan dekapan mu, dekatlah padaku...
...Cinta berpadu...
πΌπΌπΌ
"Sudah bobo' ya, sayang.. I love you, my queen. Met' mimpi bersama bee. Eemmuach. Assalamu'alaikum, bidadari bee" ucap Denis lembut.
"Terimakasih, cinta. Love you too, my king. Eemmuuaachh. Semoga kita bertemu dalam mimpi indah, bee. Wa'alaikumussalam, matahari ku" balas Aliyah manja.
Mereka menyudahi sambungan VC dan telah menyelesaikan kesalahan fahaman di antara keduanya.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung...
Kita lanjut besok lagi ya reader kesayangan.. Jangan lupa tetap dukung author receh ini.. Dengan like, komen, favorit, rate bintang lima, vote/gift seikhlas nya buat tambahan semangat.. Terimakasih ππ»π