FORGET IT

FORGET IT
Bidadari Tak Bersayap



Duduk di pojokan dan diam menyendiri itulah kesukaan Denis. Jika berada di Cafe Noir, menikmati dari aroma secangkir coffe piccolo di hadapan nya. Lalu menyesap nya. Ia pun kini kembali terdiam sembari mengedarkan pandangan mata nya di sekeliling Cafe Noir.


Hembusan angin malam yang begitu menusuk hingga ke tulang. Namun, terasa damai.


Memandang wajah cantik bidadari nya. Walau pun hanya sekedar di wallpaper ponsel milik nya saja, sudah sangat membahagiakan hati Denis. Menyebutkan nama Aliyah berkali-kali dari bibir nya pun Denis tak kan pernah bosan. Karena nama Aliyah telah terukir indah di dasar hati Denis. Melihat senyum manis yang selalu terkembang di bibir sang pujaan hati yang menjadi obat di kala rindu nya telah membuncah dan selalu bisa menyejukkan jiwa.


****


DENIS POV


Seandainya waktu dapat terulang kembali. Mungkin aku tak kan berani tuk mengenal mu. Aku tak ingin semua tentang mu hanya menjadi kenangan yang indah untukku. Tentang kebersamaan kita. Canda tawa kita. Aku tak ingin.. Sungguh tak ingin semua ini hanya menjadi sebuah kenangan yang amat indah dan tak ingin semua tentang mu hanya menjadi kisah sedih dalam hidup ku.


Aku ingin memiliki kamu seutuh nya bidadari ku. Ratu dalam hidup ku. Mampu kah aku menggapai mu, sayang. Hal yang mustahil yang dapat ku raih. Menjadi kan dirimu bidadari dalam surgaku. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Ya.. Aku pantas di sebut itu.. Tapi, cinta dan kasih sayang yang tulus ini akan selalu untuk mu. Hanya untuk dirimu seorang. Hanya seorang Aliyah yang pantas mendapat kan semua itu.


Kembali airmata itu jatuh membasahi wajah Denis. Namun, dengan cepat ia menghapus nya. Denis tak ingin kekasih nya melihat kesedihan di wajah nya.


Mengenal mu adalah anugerah yang terindah dalam hidup ku. Mendapatkan cinta dan kasih sayang mu adalah kado yang teramat mahal bagi seorang Denis. Melihat canda tawamu itu. Keceriaan yang terlukis di wajah manismu. Itu semangat yang selalu di nanti kan bagi seorang Denis.


*****


Flashback


Denis tersenyum sendiri di kala mengingat pertemuan pertama nya dengan bidadari tanpa sayap yang kini menjadi kekasih hati nya. Sungguh masih membekas di relung hati paling dalam yang selembut es krim dengan senyum nya yang meruntuhkan tembok cina di hati Denis.


Awal pertama kali Denis jumpa dengan Aliyah. Kejadian yang tanpa di sengaja dan di sangka akhirnya menjadi kan mereka sepasang kekasih.


"Permisi, boleh gabung di sini" sapa Denis sambil menarik kursi kosong di depan Aliyah.


"Silakan aja" jawab Aliyah cuek sembari fokus ke layar HP nya.


"Tak ganggu kan? Mbak nya lagi sendirian saja atau lagi nungguin teman spesial?" Denis bertanya lagi.


"Tak ganggu kok, sans aja. Lagian aku tak lagi nungguin siapa-siapa" balas Aliyah masih dengan cuek nya.


"Beneran nih tak nungguin pacar kamu?" Denis lebih memperjelas lagi.


"Tak ada pacar, ngapain di tungguin juga!" jawab Aliyah mulai sewot.


Denis yang berusaha terus menggoda Aliyah agar melihat ke arah nya.


"Serius tak ada pacar? Mbak nya tadi tak lihat cahaya yang turun ke sini?"


"Cahaya apaan? Dari tadi tak ada cahaya pula. Noh.. Cahaya matahari yang ada!" Aliyah menjawab sekenak nya.


"Ohh.. My God.. Aku seperti melihat ada cahaya yang jatuh ke sini, tadi" kekeh Denis.


"Beneran tak ada. Di bilangin juga masih ngeyel banget sih" Aliyah ketus.


"Serius.. Aku tadi lihat bidadari yang turun ke sini dan ternyata itu kamu" Denis menatap ke arah Aliyah serius.


Aliyah hanya bisa tersenyum ngekek dengan gombalan absurd Denis.


"Boleh kenalan kan. Kamu asli mana?"


"Asli Jawa" jawab singkat Aliyah.


"Jawa mana nih?" Denis semakin penasaran pada Aliyah.


"Jawaban dari do'a-do'a kamu" balas Aliyah sembari tersenyum.


"Satu sama dung" tawa Denis "Serius nih, kamu tak lagi nungguin cowok kamu kan. Tak lucu nanti kalau tonjok-tonjokan rebutin Dewi Sinta."


"Di bilang dari tadi tak ada yang aku tungguin, tak percaya pulah" sewot Aliyah.


"Haiss.. Cantik.. Cemberut saja cantik, apalagi tersenyum cair dung es balok" goda Denis.


"Basi kali" Aliyah menahan tawa nya menengok kiri kanan.


"Denis, kamu siapa nama nya?"


"Buat apa nanya nama?" jawab Aliyah datar. "Aliyah" santai.


"Daftar ke KUA, buat halalin kamu, cantik" Denis terus ngegombalin Aliyah.


Aliyah hanya cengar cengir sambil menscrol layar HP nya.


"Aku ada tebak-tebakan buat kamu."


"Apa?"


"Senja apa yang buat bahagia" Denis memberi tebakan kepada Aliyah.


"Senja ada kamu di sini" jawab Aliyah sembari mengembangkan sudut bibir nya.


"Terimakasih.. Aku memang bahagia sejak ada kamu di sini" balas Denis mengedipkan mata nya.


Denis dan Aliyah tertawa bersama.


"Aku ada lagu buat kamu nih... Cocok buat seorang Aliyah seperti bidadari yang tak bersayap."


Cantik...


Ingin rasa hati berbisik


Untuk melepas keresahan diriku


O.. Cantik..


Bukan ku ingin mengganggumu


Walau mentari terbit di utara


Hatiku hanya untukmu


Ada hati yang termanis dan penuh cinta


Tentu saja kan ku balas seisi jiwa


Tiada lagi


Tiada lagi yang ganggu kita


Ini kesungguhan


Sungguh aku sayang kamu


***


Aliyah semakin salah tingkah di buat nya. Senyam senyum terus di depan Denis.


"Ayo nyanyi bareng, kalau tahu lagu nya" kata Denis mengajak Aliyah.


"Tahu lagu nya, tapi tak bisa nyanyi. Kan bukan penyanyi" jawab Aliyah tersenyum kembali.


"Kita challenge aja yuk" ajak Denis.


"Challenge apa?"


"Kita saling bertatap mata. Yang berkedip berarti kalah. Nanti harus kasih no WA. Gimana?" tawar Denis "Deal.. Okay"


"Kenapa syarat nya harus gitu. Tak ada yang lain kah?"


"Tak ada. Kan cuma no WA aja. Tapi, kalau kau beri hatimu itu yang aku mau" tembak Denis.


"Hahaha.. Apaan"


"Deal.. Lanjut"


"Deal lah, siapa takut. Belum perang masa sudah mundur" Aliyah antusias.


Mereka mulai challenge nya. saling bertatap mata.


"Langsung ya.. Tak boleh ngalihin pandangan, yang berkedip berarti kalah" ucap Denis menjelaskan permainan nya.


"Tak boleh nunduk kah?" tanya Aliyah.


"Tak boleh dung. Lihat sini.. Tatap mata aku" pinta Denis.


Aliyah segera menatap tajam ke arah manik mata Denis.


"OMG.. Tatapan kamu tajam banget. Senyum kamu melelehkan imanku" ucap Denis lirih.


"Ya.. Allah.. Sumpah, grogi banget" ucap Aliyah terus terkekeh.


"Okay.. Yuk tarik nafas dulu biar tak pingsan" canda Denis.


"Ada hati yang termanis dan penuh cinta


Tentu saja kan ku balas sepenuh jiwa" Denis menyanyikan lagu sambil menatap ke arah mata Aliyah.


"Oh.. My God.. Mata kamu setajam elang" teriak Aliyah langsung berkedip tak tahan di tatap langsung sama Denis.


"Hahahaha.. Sesuai perjanjian tadi, yang kalah harus kasih no WA dan hati nya" Denis langsung menyodorkan ponsel nya ke Aliyah.


Aliyah pun harus menepati janji nya dengan memberikan no WA nya ke Denis.


"Ternyata beneran bidadari tak bersayap itu ada lho. Bukan hanya di dongeng aja" puji Denis.


"Emang mana bidadari nya" Aliyah celingak celinguk ke kiri dan kanan.


"Nih.. Bidadari nya lagi duduk manis di depan aku" ucap Denis sambil menatap ke arah Aliyah.


"Ehh.. Tak ada sinyal. Susah sinyal di sini" Denis mengoyang goyangkan HP nya.


"Iya susah sinyal nya di sini. Tapi, ngademenin aku tak susah kok" sahut Aliyah tersenyum.


"Terimakasih, ya. Sudah kasih no WA plus bonus hati nya dan tak usir aku dari sini" Denis berdiri dari posisi duduk nya.


"Tak ada yang ngusir kali. Aman-aman aja" balas Aliyah sans.


"Aku tadi ke sini itu nungguin calon istriku, belum datang juga"


"Haah.. Ampun nih orang. Kalau nungguin calon nya, ngapain gabung sama aku. Gila kamu" sewot Aliyah tiba-tiba.


"Kamu lihat cewek nih tak?" Denis memberikan ponsel nya ke Aliyah.


Aliyah terkejut melihat foto yang ada di ponsel Denis.. Dan ternyata itu foto nya Aliyah sendiri.


"Giilaaaa kamu" teriak Aliyah sambil memukul Denis.


"Aku sudah gila karena bidadari tak bersayap seperti kamu" balas Denis tanpa menangkis pukulan Aliyah.


❤❤❤❤


Bersambung