FORGET IT

FORGET IT
Dua



Braakkk...


Dengan keras aku menutup pintu kamar dari luar. Aku tak kuasa mendengarnya lagi. Posisiku masih didepan kamar, dan tanganku masih diganggang pintu. Yang kulakukan disana hanya menggigit bibir bawah ku,agar tidak menangis disana.


Lima menit kemudian aku merasa gagang pintu yang kupegang bergerak kebawah tanda pintu itu segera terbuka dari dalam. Aku mundur beberapa langkah kebelakang. Dengan tangan mengepal aku menguatkan diri untuk tidak terlihat lemah. Meskipun mata ini mulai perih karena ingin menumpahkan diri, aku masih bisa menahannya. Setidaknya untuk sekarang.


Krek... Pintu terbuka.


Muncul sosok wanita yang hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuh bugilnya.


Wanita itu tersenyum manis seolah-olah tidak melakukan kesalahan apapun. Yang nampak hanyalah senyum kemenangan dan hal itu membuatku setengah mati menahan gejolak yang ada, inginku jambak saja rambutnya.


Tidak lama Wahyu pun muncul. Dia hanya memakai celana dan tidak memakai baju, terlihat jelas keringat didada dan diotot perutnya. Dia memeluk Vinata dari belakang dan menaruh kepalanya dibahu wanita itu. Sungguh pemandangan yang bagus sekali.


Sepertinya Wahyu tak menyadari bahwa dihadapan mereka itu aku.


"Siapa yang berani mengganggu kita beb? " tanya bajingan itu dan tentu saja bukan padaku, namun pada jalang yang ia peluk itu. Semakin sesak rasanya.


"Bukan siapa-siapa, hanya sebuah parasit pengganggu. Biarkan saja..! " jawabnya.


"owh... Kalau begitu cepat singkirkan, jangan berlama-lama disini. Apa kau tak ingin lagi?" Bisik Wahyu namun masih terdengar olehku.


Aku membeku, tak tahu harus berbuat apa sekarang. Rasa kecewa, amarah bercampur menjadi satu. Tangisku hampir meledak namun tangan kokoh mendarat dibahu kiriku dan tangan kanan ku digenggam erat oleh orang yang berbeda. Aku terkesiap, seolah mendapatkan energi dari sentuhan itu. Aku melirik orang-orang itu. Ternyata tujuh tamu tadi masih disini, dan mereka berdiri didekatku. Pia yang ku tahu bernama Kim Namjoon tadi, dialah yang menopang bahuku dan yang menggenggam tanganku tadi tidak ku tahu namanya, namun sentuhan pria berkulit pucat itu terasa nyaman.


Aku menetralkan emosi sebentar, lalu berkata.


"Sudah berapa lama? "


Wahyu nampak kaget. Dia melepaskan pelukannya. Aku pikir ini permainan Vinata.


Wahyu menatapku.


"Wahyu, jawab... Sudah berapa lama kalian begini dibelakangku? ! " bentakku.


Plakkk...


Telingaku berdengung, pipiku ditampar oleh Wahyu. Sakit rasanya, aku tak menyangka dia menamparku. Tiga tahun kami pacaran dia tidak pernah sekalipun bicara kasar apalagi menamparku.


"Jangan meneriaki ku. Kau tidak pantas. Kau tahu? aku sudah muak melihatmu, melihat kau yang terus sibuk dengan pekerjaanmu, kau hanya sibuk dengan duniamu sendiri, kau tidak pernah ada saat aku membutuhkan perhatian, bahkan sekarang kau menggandeng tujuh pria sekaligus, kau selalu bersifat polos didepanku dan sekarang... kau bekerja di hotel selama ini rupanya sebagai wanita penghibur kau tidak lebih dariku. Lebih baik kau pergi dari sini hubungan kita sudah berakhir dan jangan menggangguku ataupun Vinata lagi"


Plaaakkkk....


Tanganku sudah gatal dari tadi, dan akhirnya melayang juga.


"Wahyu... " pekik sang pelakor.


Aku tak sempat menghindar, Vinata sudah mendorongku. Untung tujuh pria tadi dengan sigap menyambutku dari belakang. Aku sangat bersyukur mereka disini.


"Kau tak apa? " tanya mereka. Aku menggeleng. Kulirik sekilas kedua insan luknut itu. Entah mengapa, tiba-tiba muncul ide aneh dalam otakku.


Kutarik tengkuk salah satu dari tujuh tamu hotel tadi. Berbisik sebentar ditelinganya.


Tolong bantu aku...


Tanpa menunggu tanggapan, aku menyambar bibir pria itu, dan rupanya dia membalas ciuman dari ku. Lama kelamaan kami saling *******, oh tidak... kenapa aku terbawa napsu begini. Aku segera menghentikan ciuman itu kalau tidak, bisa-bisa aku kelepasan.


"Ayoo kita pergi..! " Seruku mengunakan bahasa inggris agar sibajingan dan sijalang mengerti. Aku hanya ingin memanasi suasana. Aku tidak mau terlihat lemah dimata keduanya.


Aku ingin melangkah pergi namun Wahyu menahan lengan ku.


"Tunggu, jadi benar yang dikatakan ibumu selama ini?" dahiku mengernyit mendengar perkataan Wahyu.


Aku menepis tangannya.


"Jangan sentuh aku.! Aku tak tak tahu apa yang ibu katakan padamu tentang aku, tapi yang jelas aku tak peduli".


"Tunggu... " ucapnya sambil menahan lenganku lagi.


Tubuh ku bergetar, jujur aku sangat terpukul dengan keadaan ini. Dalam hati yang paling dalam aku sangat merindukannya, sangat ingin memeluknya, karna aku sangat mencintai pria didepanku ini. Tak apa jika dia pernah menghianatiku, asalkan dia mau meminta maaf dan memohon untuk tetap bersama aku bisa melakukan itu.


Tapi... perkataannya sekarang membuatku harus mengubur dalam-dalam perasaan itu.


"Lepaskan ini, baru kau boleh pergi" ucapnya. Dia melepas paksa cincin dijariku, cincin tunangan kami. Harapanku terlepas bersamaan dengan lepasnya cincin itu.


Aku tak tahan lagi, air bening yang meronta sejak tadi akhirnya mengalir begitu saja.


Posisiku masih membelakanginya. Dengan cepat aku menghapus air mata sialan ini.


Aku kembali menghadapinya, menetralkan suara agar tak terisak.


"Terima kasih karena membantuku melepas cincin itu, dan kau( menatap Vinata), apa kau puas sekarang...? jalang... "


"Apa kau bilang? Kau yang jalang..!" Vinata terlihat marah.


"Apa? tak terima? kau mau aku menarik selimut itu darimu? " Menatap jijik Vinata dan selimut sialannya.


"Kau... " Aku puas melihat wajah kesalnya.


Aku segera pergi dari sana, berhadapan dengan wahyu membuatku takut. Karena menatap matanya membuatku lemah, aku takut goyah dan kembali berharap padanya seperti orang bodoh.


...


"Maaf ..." hanya itu yang bisa ku ucapkan pada tujuh pria tadi. Aku hanya menunduk dihadapan mereka. Sekarang kami ada di salah satu kamar tempat mereka akan menginap.


Mereka hanya diam, sama sekali tak ada tanggapan. Aku melirik mereka sekilas namun segera menundukkan kepala lagi. Wajah mereka sekarang bak pangeran es, sangat dingin. Aku merutuki kebodohanku.


"Kau berhutang pada kami..! " Seru salah satu dari mereka.


"Bukankah sebaiknya kau menuntaskan misi ini" timpal yang lain sambil berjalan mendekat. Aku tak mengerti maksudnya, tunggu-tunggu..., apa dia bicara tentang ciuman tadi.? yang benar saja.


Flash Back Off


••••••••••••••••••••••••••••


Aku tersenyum masam karena mengingat hal itu. Hari itu hari terakhir ku bertemu mereka. Ku tegukkan lagi segelas soju. Tak terasa aku meminum banyak alkohol malam ini.


Cukup... Aku harus pulang sekarang.


Aku sangat mabuk, jalanpun kesana kemari. Aku masih muda namun sudah merasakan hal pahit seperti ini.


Dugggg...


Aku menabrak dada bidang seseorang.