
Selamat membaca...
❣️❣️❣️
Kini Denis dan Aliyah, sudah berada di pantai pasir putih delegan. Tatapan mata Aliyah terus memandang ke arah lautan lepas. Bibir nya berdecak kagum, melihat pemandangan alam ciptaan Allah SWT. Biru nya langit memantulkan warnanya.
"Bee.." panggil Aliyah sambil menatap Denis yang kini berdiri di hadapan nya.
"Iya, sayang." jawab Denis singkat.
"Tak jadi, bee." Aliyah ingin mengatakan sesuatu pada Denis. Namun, bibir nya tidak mampu tuk berbicara. Apalagi melihat sorot mata tajam Denis tapi menyejukan jiwa yang berdiri tepat di hadapan nya seperti saat ini. Seketika lidah nya menjadi keluh.
Aliyah membuang pandangan nya ke arah lautan luas yang berwarna biru. Menyaksikan lukisan alam yang begitu indah serta langit cerah yang seakan mengerti keadaan hati nya saat ini. Aliyah terus saja memandang lurus tanpa berani melihat tatapan Denis.
"Bee.." panggil Aliyah lagi sambil tersenyum ke arah Denis.
"Apa, sayang? ay terus panggil bee sejak tadi, tapi tak pernah melanjutkan kalimat berikut nya. Bee comot ntuu bibir lama-lama." jawab Denis yang mulai terlihat kesal.
Suasana kembali hening.
Kini giliran Denis yang memandang ke arah Aliyah dengan wajah yang serius. Sehingga membuat Aliyah canggung.
"Kenapa, bee. Menatap ay dengan serius seperti itu?." tanya Aliyah tersenyum dengan wajah yang sedikit menunduk menghindari tatapan Denis.
"Tak apa" jawab Denis singkat.
"Idiihh, apaan. Balas cerita na?." goda Aliyah.
Udara yang sejuk sangat terasa di sana. Sebuah kenyamanan dan ketenangan yang tercipta.
Aliyah berlari cepat menuju pinggiran pantai. Ia sangat takjub.
"Pemandangan yang begitu indah" ucap Aliyah. Ia memejamkan mata sejenak untuk menghirup udara segar yang masuk ke rongga dada.
Tempat yang sangat indah, hembusan angin yang sepoi-sepoi. Pepohonan yang bergoyang, hingga meluruh kan daun-daun yang kering dari dahannya serta ombak yang tidak terlalu besar.
Aliyah segera melepas sepatu yang ia kenakan, ia berlari menuju pinggiran pantai pasir putih itu. Bertelanjang kaki menapaki hamparan pasir putih hingga meninggal kan jejak kaki nya di sepanjang jalan yang ia lalui.
Tawa bahagia yang keluar dari bibir Aliyah membuat wajahnya semakin terlihat cantik berseri. Aliyah berputar-putar, berlari ke sana ke mari menikmati keindahan pantai yang beranjak senja. Ia terus bermain air dan menghindari ombak yang tiba-tiba datang.
Mata Denis terus memperhatikan Aliyah yang begitu bahagia. Rasa kagum yang muncul tiap kali menatap mata teduh sang kekasih. Selain gadis kuat dan mandiri, Aliyah juga seorang gadis yang sangat periang pandai bergaul.
Aliyah memutuskan beristirahat sejenak. Ia duduk di bawah pohon untuk menikmati hembusan angin yang berhembus sepoi-sepoi. Setelah bermain air dan pasir pantai.
"Bee" panggil Aliyah lirih.
"Iya, cinta" balas Denis.
"Ayuk temani ay bermain air." ajak Aliyah menarik tangan Denis.
"Ma'af, sayang. Bee lagi tak ingin." Aliyah memotong ucapan Denis tanpa menunggu hingga selesai Denis berkata.
"Bee, memang menyebalkan." ucap Aliyah berdiri meninggalkan Denis lalu kembali berjalan menyusuri pesisir pantai pasir putih delegan.
"Kau memang sangat lucu dan manja, ay. Jika sedang marah seperti itu." teriak Denis dari kejauhan yang kian menggoda kekasihnya itu.
"Dasar bajaj. Bee malah ketawa seperti itu, setelah membuat hatiku kesal." umpat Aliyah dalam hati dan semakin membuat nya cemberut dengan memandang ke arah pantai.
Cuaca hari ini cukup terang, terdengar deburan ombak yang saling berlomba menghantam daratan dan burung-burung bebas terbang di angkasa.
Aliyah tetap berjalan dengan bertelanjang kaki. Ia menikmati saat jari-jari kaki nya menyentuh pasir yang hangat dan lembut.
Denis hanya tersenyum melihat perilaku Aliyah dan merekam semua kegiatan Aliyah sejak tadi.
"Lihat lah, kaki mu akan kotor, sayang." ucap Denis mengingat kan Aliyah.
"Biarin, nanti ay bisa mencucinya." ucap Aliyah tanpa menoleh ke arah Denis.
Aliyah berjalan semakin jauh menyusuri pantai. Tanpa rasa, takut Aliyah berlari hampir ke tengah.
Tiba-tiba datang ombak yang sangat besar menghantam karang, membuat Aliyah terkejut dan langsung memundurkan langkahnya. Namun, bagian depan pakaian nya telah basah kuyup terkena ombak.
Denis berlari berhasil menyusul Aliyah. "Sayang, apakah kamu baik-baik saja?."
"Tak apa, bee. Hanya pakaian ay yang sedikit basah." jawab Aliyah tanpa berani menatap ke wajah Denis.
"Iya, bee. Tapi, ay masih ingin bermain air." jawab Aliyah sambil cemberut.
"Dasar bajaj, selalu ngeles kalau di kasih tau."
"Ahh, beeee."
Tiba-tiba Denis menarik tangan Aliyah dengan kuat. Aliyah kaget melihat gerakan cepat Denis dan tak bisa menahan nya.
"Lepasin ay, bee."
"Turunin, ay na." teriak Aliyah.
Denis telah mengangkat tubuh Aliyah seperti karung beras di atas punggung nya. Sedangkan Aliyah terus memukul punggung Denis.
"Bee.. Turunin ay. Ay bisa jalan sendiri." Aliyah tidak menyerah, dia terus memukuli punggung Denis dengan sekuat tenaga.
Hingga akhir nya, Denis menurun kan Aliyah dari gendongan nya.
Denis menangkup kedua pipi chubby Aliyah dengan tangan nya. Kini Denis menatap intens ke arah bola mata indah Aliyah.
"Hati ini selalu gelisah tanpa ada nya kabar darimu. Meskipun, bee diam tapi rasa ntuu menyiksa bathin bee. Andai.. Andai.. Dan Andai.. Bee hanya bisa berandai-andai."
Aliyah hanya diam mematung melihat ke arah wajah Denis.
"Kebutuhan hp nie adalah sinyal. Tapi, kebutuhan bee adalah ayang. Tanpa sinyal hp nie sepi. Tapi, tanpa ayang bee terasa sunyi."
Denis menarik nafas dalam.
"Kau lah semangat bee. Kau lah mentari bee. Kau lah bintang bee. Kau lah masa depan bee. Kau lah calon ibu dari anak-anakku kelak."
Denis memeluk erat tubuh Aliyah dan mencium keningnya penuh perasaan. Namun, Aliyah segera melepaskan diri nya dari pelukan hangat sang kekasih. Semburat kemerahan terlihat di wajah sayu nya.
Denis meraih kembali kedua tangan Aliyah dan menatap kedua bola mata nya. Namun, tanpa di duga Denis, Aliyah memeluk tubuhnya dan mencium hangat pipi Denis lalu beralih ke bibir nya, senyum nya mengembang. Setelah itu berlari lah Aliyah menjauh dari posisi Denis yang mematung terkesiap dengan sikap Aliyah barusan.
Beberapa detik kemudian, Denis tersadar dan segera mengejar Aliyah. Seketika itu, terjadi lah aksi kejar-kejaran. Denis yang dengan sengaja memercikkan air pantai pada wajah Aliyah. Seketika mata Aliyah membulat sempurna tanpa menunggu lama, Aliyah segera membalas Denis dengan memercikkan air pantai juga pada wajah dan tubuh Denis.
Kini Denis dan Aliyah tengah berdiri di pinggir pantai, menyaksikan keindahan senja. Denis menggenggam tangan Aliyah. Perlahan Denis mendekatkan wajahnya hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.
"Apa yang ay rasakan saat bee bersamamu?." bisik lembut Denis.
Aliyah tak menjawab. Ia hanya diam menatap wajah Denis tanpa berkedip. Entah bagaimana kini, bibir mereka sudah saling bertemu. Mereka bercumbu cukup lama sampai akhir nya Aliyah mendorong lembut tubuh Denis.
"Kenapa, sayang? Apa ay tak suka, jika bee mencium bibir ay?." bisik lirih nya lagi.
"Ma'afin ay na, bee." ucap Aliyah sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ay tak bisa nafas." ucap nya dengan nafas yang tersengal.
"Sini, biar bee kasih nafas buatan." senyum manis terpancar dari bibir Denis sambil menangkup kedua pipi chubby Aliyah dan menempelkan kembali bibir nya ke bibir ranum Aliyah.
Terdengar sepenggal alunan lagu yang merdu..
🎼🎼🎼
Tetap lah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita akan abadi
Biar lah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
Berdua
Berdua
Menjadi saksi kita berdua
❣️❣️❣️
Bersambung...
Tetaplah meninggalkan jejak 👣 kalian teman. Berupa like, komen, rate bintang lima dan favorit kan juga ya.
Terimakasih 🙏💓💓