FORGET IT

FORGET IT
Kau



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca..


❤❤❤❤


Jalanan kota yang ramai padat merayap saat ini. Membuat jalanan semakin melambat. Suara bising mesin kendaraan menjadi musik di siang hari. Zudith yang masih fokus di belakang kemudi di kaget kan dengan suara bunyi dan getar dari benda pipih yang berada di dalam saku celana jeans nya.


Tertera nama Bunda di layar ponsel nya. Segera, Zudith menggeser icon hijau untuk menjawab sambungan telpon dengan Bunda.


"Assalamu'alaikum, Bunda" salam Zudith menyapa Bunda di sebrang sana.


"Wa'alaikumussalam. Adik sudah sampai di mana, sekarang?" tanya Bunda langsung.


"Zudith sudah perjalanan ke rumah sakit, Bunda. Tapi, maaf ini masih kejebak macet" jawab Zudith memberitahu keadaan di jalan yang macet nya parah.


"Segera datang ke rumah sakit. Mbak Aliyah tidak ada di kamar nya" jelas Bunda.


"Maksudnya, Bunda?"


"Mbak Aliyah, hilang. Adik" terdengar suara isak tangis Bunda yang tiba-tiba membuat kaget Zudith.


"Hilang, bagaimana Bunda?"


Tuutt.. tuutt.. Sambungan telpon langsung terputus.


Seketika wajah Zudith menjadi tegang. Ia memukul setir bundar yang ada di hadapan nya.


"Shiitt! Awas saja kalau terjadi apa-apa sama mbak Aliyah" dengus Zudith.


Denis yang sedari tadi duduk di samping kursi kemudi. Menatap heran ke arah Zudith.


"Ada apa? Siapa yang menelpon?" tanya Denis penasaran.


"Bunda" jujur Zudith.


"Kenapa dengan Bunda? Apa ada hal yang sangat menghawatirkan. Hingga kamu menjadi sangat gelisah?" tanya Denis lagi.


"Bukan Bunda, tapi mbak Aliyah"


"Kenapa dengan Aliyah?"


"Mbak Aliyah hilang, Akak Denis"


"Haaah! Jangan bercanda, Zudith!"


"Ini serius, akak!"


Seketika persendian Denis melemas. Tulang-tulang seakan lepas satu persatu. Mendengar kabar bahwa sang pujaan hati, tiba-tiba menghilang dari rumah sakit yang merawat nya.


"Masalah apalagi ini, Ya Allah. PR yang satu belum terselesaikan. Sekarang Engkau telah memberikan ujian yang baru lagi dalam hidup ku. Dapat kah hamba Mu, ini menyelesaikan nya dalam waktu yang bersamaan?" guman Denis dalam bathin nya sambil memijat kening nya yang mulai pening.


Karena emosi yang berapi-api, meletup-letup setelah mendapat kan kabar buruk dari Bunda nya. Zudith tak sadar bahwa ia tengah menekan klakson berkali-kali. Sehingga membuat kebisingan di jalan dan mengakibatkan supir mobil di depan nya ngomel-ngomel mengumpat Zudith.


Sementara di rumah sakit. Bunda dan Ayah Aliyah pun masih menunggu kabar dari pihak rumah sakit dengan hasil CCTV yang terpasang di sekitar area rumah sakit.


****


Matahari mulai tenggelam senja pun telah di ganti kan malam. Suasana yang semakin mencekam menyelimuti hati orang-orang yang menyayangi Aliyah. Hingga kini, belum ada kabar yang pasti tentang keberadaan Aliyah.


****


Di lain tempat.


Setelah mengendarai hampir setengah jam perjalanan. Akhirnya Excel sampai juga di parkiran rumah sakit Al-Ikhlas tempat di mana Aliyah di rawat inap.


Dia segera masuk ke dalam rumah sakit dan berjalan ke meja receptionist untuk menanyakan ruangan tempat di mana Aliyah berada.


"Selamat petang, suster. Maaf mengganggu sebentar" sapa Excel dengan tersenyum.


"Iya, mas. Ada yang bisa saya bantu" jawab seorang perawat wanita.


"Ruangan atas nama Aliyah Buthaynah, di mana ya?" tanya Excel lagi.


"Tunggu sebentar ya, mas" dengan cekatan wanita yang memakai seragam putih itu melihat list nama pasien.


"Permisi, mas. Pasien atas nama Aliyah Buthaynah, ada di kamar VIP 1" kata perawat itu ramah. "Dari sini, mas nya nanti lurus saja. Lalu, belok kanan sedikit nanti akan terlihat ada papan nama di atas pintu kamar.


" Terimakasih, suster. Sudah di bantu"


"Sama-sama"


Setelah mendapat kan letak kamar Aliyah. Excel segera melanjutkan langkah nya menuju kamar yang di tunjukkan oleh perawat wanita tadi. Hingga perlahan kaki nya mulai pelan saat mendengarkan samar-samar suara dari dalam ruangan itu.


Entah kenapa rasa ragu, tiba-tiba menyergap nya. Dia merasa ada sesuatu hal yang sedang terjadi di dalam sana.


Namun, bukan kah tujuan nya dia ke sini adalah ingin membantu Aliyah untuk menemukan dalang dari tabrak lari yang menimpa Aliyah tempo hari. Dia harus tetap maju, tidak boleh mundur lagi.


Perlahan Excel melangkah kan kaki kanan nya mendekati pintu yang berbahan dari kayu jati yang tertutup rapat itu. Namun, saat tangan nya hendak menggapai handle pintu. Pintu tiba-tiba terbuka dari dalam karena ada seseorang yang membuka nya terlebih dulu. Hingga tatapan kedua nya saling beradu pandang.


Di depan Excel. Kini berdiri seorang laki-laki yang dulu pernah di lihat nya bersama dengan Aliyah di pantai. Tetapi, beda dengan Denis yang memandang ke arah Excel, malas.


"Ada siapa, Denis?" tanya Bunda Aliyah.


"Denis, tak mengenal nya. Bunda" jawab Denis.


"Assalamu'alaikum" salam Excel, ketika ia harus menguasai kegugupan serta kecanggungan nya. Karena ternyata ada keluarga Aliyah yang sedang berkumpul. Namun, ia tidak melihat sosok yang di cari nya ada di bed pasien.


"Wa'alaikumussalam" jawab Denis dengan sedikit acuh tak memandang ke arah Excel.


Denis mempersilakan tamu nya Aliyah masuk ke dalam.


Excel berjalan ke arah Bunda dan Ayah Aliyah yang duduk disofa. Bersalaman dengan kedua orang tua Aliyah dan juga Zudith yang duduk di kursi samping bed pasien.


"Kamu siapa?" tanya Bunda Aliyah.


"Saya Excel, teman nya Aliyah. Ibu" jawab santun Excel.


"Ada kepentingan apa anda ke sini!" lantang Denis dari posisi berdiri nya. Spontan menegang setelah mendengar nama Excel di sebut.


"Saya hanya ingin menjenguk Aliyah"


"Tak perlu basa basi di sini. Pasti kamu ingin mendapatkan informasi selanjutnya kan!" cerca Denis berjalan ke arah Excel.


"Apa maksud nya?"


"Tak perlu kau tutup-tutupi lagi. Kamu kan dalang dari kejadian ini semua. Hingga kini, Aliyah menghilang!"


"Tutup mulut mu!" Lantang suara Excel.


"Kaauu..!" pekik Denis dengan nada tinggi dan sorot mata yang tajam ke arah Excel di penuhi amarah yang memuncak.


Braak..


❣️❣️❣️❣️


Bersambung...


Cuaca lagi mendung readers sampai di sini dulu ya. Jangan lupa setelah membaca tekan tombol like dan kasih komen di kolom komentar.


Nanti di sambung lagi setelah tidur siang dulu.. 😴😴😴