
Jumpa lagi para readers kesayangan... ππ
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca..
β€β€β€β€
"Kamu telah salah langkah menculik Aliyah! Karena aku tidak akan tinggal diam!"
"Aku sudah salah perhitungan dengan meremehkanmu. Ternyata kamu tidak sebodoh dan lemah yang aku kira" ucap Awan sinis dan dingin.
Denis mengernyitkan dahinya. Ia terus memutar otak lebih berhati-hati menghadapi musuhnya yang berdiri di hadapannya.
"Kamu tidak akan bisa mendapatkan Aliyah. Dia milikku hanya milikku! Aku tidak akan pernah melepaskan Aliyah begitu saja kepadamu! Karena sesuatu yang pernah menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku! Dan kamu harus tau, aku dan Aliyah telah mempersatukan cinta kita. Aku telah berhasil memiliki Aliyah seutuhnya sebelum kamu. Kita menghabiskan malam panjang yang sangat indah dan penuh gelora cinta" Awan mengarang cerita bohong yang di kemas sangat cantik sambil melirik penuh arti ke arah Aliyah.
Aliyah menutup mulutnya tak percaya dengan kebohongan yang di buat Awan. Dan memandang ke arah Denis menyakinkan kepada pujaan hatinya bahwa dia tak pernah melakukan hal-hal yang di luar batas dengan Awan. Tapi dia juga merasa bersalah saat mengingat Awan pernah menciumnya dengan paksaan.
"Aku akan membayar lunas perlakuanmu terhadap Aliyah. Aku akan menghabisimu sekarang, pria brengsek!"
Denis menarik pelatuk senjata yang di genggam dan seperkian detik Awan melompat menerjang tubuh Denis.
Dengan emosi masing-masing yang kian meningkat, akhirnya memancing pergulatan panas antara Denis dan Awan.
Denis dan Awan bertarung dengan sengit. Saling menghantam, menghajar, menendang silih berganti. Ruangan yang tadinya hening, kini berubah menjadi ring pertarungan yang sangat mencekam dan menakutkan.
Sementara Aliyah, hanya bisa berdiri kaku tak bergerak dan membisu melihat perkelahian antara dua laki-laki yang sama-sama ingin memilikinya.
Wajah keduanya sudah terlihat lebam-lebam, membiru dan bibirnya mengeluarkan darah. Rambut yang semula rapi kini berubah seperti rambut singa yang berdiri dan tak terurus.
Tangan Awan mencengkram leher Denis dengan tatapan mata yang tajam dan membunuh. Satu jarinya di acungkan untuk memberi kode pada bodyguardnya yang bersembunyi melemparkan pisau ke arah tangan Awan. Dengan gerak cepat Awan menggores perut Denis. Namun, dengan gerakan cepat pulak Denis mendorong tubuh Awan.
Dorr.. Dorr...
Suara tembakan datang dari arah belakang Aliyah. Mata Aliyah beralih melihat ke sumber tembakan.
"Beee.."
Bruukkk..
Seketika tubuh Awan terhempas terjatuh di lantai bercucuran darah. Sebuah timah panas telah menembus jantungnya.
"Astaga, kenapa harus begini. Ya Allah" Aliyah berlari mendekati tubuh Awan yang terkapar di lantai bersimbah darah.
"Maafkan aku Aliyah, tidak seharusnya aku bertindak seperti ini. Tapi cinta butaku padamu yang mendorong hati ini untuk mendapatkan kamu utuh" Awan menghentikan kata-katanya, dengan nafas yang tersengal.
"Berbahagialah lelaki yang mendapatkan mu, Aliyah. Maafkan aku. Maafkan aku" hanya kata itu yang berulang-ulang terucap dari bibir Awan hingga tak terdengar suara lagi.
...πΊπΊπΊπΊ...
Gadis itu tetap setia berada di samping tubuh kekasihnya. Dia terus memeluk tubuh lelaki sang pemilik hatinya, ketika dokter dan beberapa perawat berlarian masuk ke dalam ruang pasien dan menyuruh gadis itu untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
Aliyah pun melangkah dengan ritme yang berat. Ia harus menunggu di luar pintu. Hanya melihat dari kejauhan tak bisa memeluk tubuh Denis untuk memberikan semangat. Ia menahan isak tangis yang semakin deras mengeluarkan airmata. Detak jantung yang berpacu kencang dengan tangan yang gemetar hebat. Dia tidak bisa membayangkan harus kehilangan seseorang yang ia cintai. Belum siap mengikhlaskan kekasihnya pergi untuk selama-lamanya. Mulut yang ranum itu tak pernah berhenti untuk mengucap doa, mengharapkan suatu keajaiban yang di kirim Allah untuk kekasihnya tetap hidup, memberikan kesempatan yang kedua untuk laki-laki yang sedang terbaring di ranjang pesakitan.
Sejak semalam Aliyah tak bisa memejamkan matanya, walau sekejap pun. Dia terus memandang ke arah wajah pucat Denis. Dan beberapa menit yang lalu , baru di tinggal sebentar untuk berkonsultasi dengan dokter yang menangani Denis. Tiba-tiba ada panggilan darurat dari perawat perempuan yang mengecek keadaan Denis. Mengatakan jika kekasihnya sedang mencari dirinya hendak berpesan sesuatu.
Aliyah berlari dengan nafas terengah dan detak jantung yang berdebar kencang menuju ke kamar sang kekasih. Tak perduli dengan banyak yang memandangnya aneh dan bertanya-tanya.
"Berjanjilah pada bee, sayang! Jika bee tak lagi ada di sisi ay na, jaga diri ay na baik-baik. Tetap jadilah wanita yang mandiri, periang, dan bertanggung jawab. Dan satu permintaan bee untuk terakhir kalinya. Jangan pernah lupa untuk selalu datang dan doa kan buat, bee" pinta Denis yang terbaring lemah di ranjang pesakitan rumah sakit. Pendarahan yang di alami Denis pasca insiden berdarah itu, membuat kondisi tubuhnya yang tidak stabil hingga terus menurun.
"Bee tak boleh kata gitu, Bee tak akan ke mana-mana. Bee harus selalu ada di samping ay na, tidak boleh meninggalkan ay na" tangis Aliyah pecah sambil terus menggenggam tangan sang pemilik hatinya, seakan tak ingin malaikat pencabut nyawa datang untuk mendekati Denis.
"Semoga ay na akan menemukan pengganti bee. Seseorang yang bisa menjaga ay na kelak. Seseorang yang sangat mencintai dan menyayangi ay na sepenuh jiwa dan raganya" ucap Denis dengan nafas tersengal, tatapan mata yang sayu ke bola mata Aliyah, tangan dingin Denis juga terus menggenggam kuat tangan Aliyah.
"Bertahanlah, Bee! Demi ay na, demi cinta kita yang akan tetap abadi. Ay tak mau kehilangan, bee" Aliyah memeluk tubuh Denis dengan isakan tangis yang tak henti.
"Tidak ada harapan lagi buat bee hidup, sayang. Please, berjanjilah pada bee dan tepati itu semua, sayang" pinta Denis kembali.
Dengan keterpaksaan hati yang sangat berat untuk menjawab permintaan sang kekasih, Aliyah pun mengabulkan demi orang yang di cintai " Ay berjanji akan selalu datang dan berdoa buat bee" ujar Aliyah dengan dada yang sesak.
"Maafkan Bee. Bee selalu mencintai dan menyayangi Ay na, walaupun kita di tempat yang berbeda" ucap Denis terpenggal untuk terakhir.
Tiiiiiittt...
Bunyi suara mesin monitor yang memenuhi ruangan putih itu, menandakan jika jantung Denis tak lagi berdetak. Alat bantu yang menempel di tubuh Denis, kini telah berhenti.
Aliyah yang terus merapalkan doa-doa untuk Denis dan menunggu dokter yang menanganinya segera memberikan kabar baik. Namun, Aliyah terkesiap dengan memandang raut wajah dokter yang keluar dari kamar kekasihnya. Raut wajah yang sudah bisa di tebak atas jawabannya.
"Maafkan kami, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien" ucap dokter itu datar yang membuat mata Aliyah membulat sempurna dan terasa gelap dunianya saat itu juga.
Aliyah segera berlari menerobos dokter yang menghalangi jalannya.
"Stop jangan lepaskan alat itu dari tubuh, bee!" teriak Aliyah melarang perawat mencabuti semua alat yang terpasang di tubuh Denis.
"Bee..! Bangun Bee! Bee bercanda kan? Bee tak akan tinggalin ay na!" teriak Aliyah sambil terus memeluk tubuh Denis.
"Tidakkkkk"
...πΊπΊπΊπΊ...
Bersambung...
Hujan yang turun semakin deras.. Semakin membuat ini lapar..
Biar semangat wawa tunggu like komen rate bintang lima na juga.. Apalagi law ada rezeki lebih mawar dan secangkir kopi juga boleh.. ππ€πππ