FORGET IT

FORGET IT
Kabur



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca..


❀❀❀❀


...Lebih baik bersama dengan cinta yang baru dari pada harus kembali merajut dengan cinta lama yang pernah mengkhianati mu, mengecewakan mu, menyakitimu....


...Buat apa harus bertahan dengan orang yang tak pernah menghargai kehadiran kita di sisi nya...


...Jika ada cinta lain yang lebih menghargai kita. Mencintai kita bukan karena ada apanya.. Tetapi mencintai apa adanya...


...🌺🌺🌺🌺...


Waktu cepat berlalu. Siang telah berganti sore. Jarum jam sudah menunjukkan di angka 4 sore. Tampak semeringah di wajah Awan.


Setelah membereskan meja kerjanya dengan sigap dan cepat. Sepertinya laki-laki tampan itu sudah tak sabar lagi untuk segera meninggalkan gedung pencakar langit itu. Hati nya sudah tidak ingin menunggu lebih lama lagi tuk bertemu dengan orang yang di cintanya.


Ting..


Pintu lift khusus owner yang membawa turun Awan telah terbuka.


Dengan mempercepat langkahnya untuk sampai di rumah. Tanpa menyapa dua karyawati yang stand by di meja reception.


Dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ponsel Awan berdering nyaring di dalam mobil mewahnya.


Seseorang di sebrang sana tengah menghubungi benda pipih milik Awan.


Telilut.. Telilut..


Panggilan terhubung ke ponsel Awan..


"Selamat sore, Tuan muda" suara pria dari sebrang.


"Sore, ada apa kau menghubungi! Apa ada yang penting!" jawab Awan datar.


"Maaf, Tuan muda. Sedari tadi siang nona Aliyah berusaha kabur dengan naik tembok di samping rumah" jelas pria itu orang suruhan Awan yang menjaga Aliyah.


"Kabur, bagaimana?" bentak Awan.


"Nona Aliyah ingin kabur dari rumah tuan muda. Sekarang dia sedang marah.Tuan muda"


"Tetap jaga, nona Aliyah! Aku segera sampai ke rumah, lima belas menit lagi. Ingat jangan sampai kabur nona Aliyah!" titah Awan.


"Baik, tuan muda. Laksanakan" jawab bodyguard yang bertugas menjaga Aliyah.


Kemudian panggilan lewat seluler pun terputus.


Di balik tembok putih itu. Ada seseorang yang mendengar percakapan antara bodyguard sialan itu dengan tuan mudanya.


Aliyah buru-buru pergi dari persembunyiannya agar tidak di ketahui kegiatan mengupingnya oleh bodyguard itu


Setelah masuk ke kamar. Aliyah mondar-mandir seperti setrikaan. Dia bingung harus melakukan apalagi agar bisa melarikan diri dari sekapan Awan.


Flashback on


Aliyah mencari akal agar bisa keluar dari rumah yang memenjarakan nya. Sudah satu bulan berlalu tapi Awan belum juga punya keinginan untuk memulangkan Aliyah kepada keluarga nya.


Aliyah bergegas keluar berjalan ke taman, sambil berpura-pura melihat bunga-bunga yang ada di taman itu. Dia mengelilingi pagar yang menjulang tinggi sebagai pembatas.


"Astaga, tinggi amat ya temboknya. Padahal amat juga tak tinggi-tinggi juga" gumam Aliyah sambil tepok jidat. Dia terus berjalan lagi memutari tembok pembatas rumah.


"Ini rumah apa penjara sih. Orang sekampung di bawa tinggal di sini juga cukup kali" Aliyah ngedumel sendiri tanpa dia sadari dari jauh ada yang mengawasi dirinya.


Aliyah berhenti dan duduk di bawah pohon mangga. Matanya mulai berkelana ke sana kemari melihat sekelilingnya. Dan bola matanya berhenti pada pohon besar yang berada di luar tembok dari rumah Awan.


"Tapi bentar. Pohon nya tinggi kagak ya? Kalau aku jatuh terus mati tak apa-apa langsung di makamkan. Tapi kalau aku cacat terus Bee na tak mau lagi sama Aliyah, gimana? Amzong dung. Bukannya enak-enak sama Bee. Ngenes, iya! Ohh, deritamu Aliyah. Sungguh malang nasibmu. Putih kulitmu. Hitam nasibmu, Aliyah!" gerutu Aliyah.


Aliyah memutar otaknya kembali.


"Yaa Allah.. Bantu Aliyah kasih jalan yang tepat. Aliyah sudah bosan di sini. Aliyah sudah kangen orang rumah, kangen Bunda, Ayah, Adek, sahabat-sahabat somplak Aliyah. Apalagi sama Bee na. Aliyah sudah lindu Bee na, Yaa Allah" gumam Aliyah sambil berjalan melewati taman bunga masuk kembali ke dalam rumah.


Aliyah menghela nafas panjang. Pikirannya terbang untuk mencari ide lain. Harus dengan cara apalagi dia bisa pergi dari rumah besar ini.


Betapa ironisnya hidup ini. Awan yang memiliki kekayaan dari orang tuanya. Namun, dia kurang kasih sayang dari kedua orang tua nya. Kenapa harus aku yang kena imbas kegilaan seorang Awan.


Ia berdiri berkacak pinggang dan memutar tubuhnya. Emosi yang kembali memenuhi hati dan menutup kesadaran otaknya. Hingga melakukan tindakan spontanitas yang tak terduga. Ia melepaskan sandal yang di pakainya dan melemparkan ke sembarang arah.


Klotakkk...


"Aduuh! Siapa yang berani melempar sandal ke gundul saya!"


Terdengar suara teriakan seseorang yang penuh rasa sakit begitu melengking hingga menyayat telinga Aliyah.


"Sataga.." Aliyah melotot sempurna, terkejut. Kedua tangannya sibuk menutup mulutnya yang menganga lebar terkesiap.


Aliyah tak sengaja melempar sandal itu ke sembarang arah. Tetapi dia tidak menyangka ada orang lain yang melintas dan sandal itu jatuh tepat di atas kepala gundul bodyguard yang bertugas menjaga nya.


Dua orang laki-laki dengan tinggi tubuh di atas Aliyah dan tubuh yang kekar berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya. Dengan raut muka yang merah padam seperti kebakaran jenggot.


"Lariii.. Selamatkan diri dari manusia purba itu" ucap Aliyah dengan mengambil ancang-ancang.


Dan secepat kilat Aliyah menghilang dari hadapan dua orang laki-laki manusia yang menyeramkan itu.


Flashback off


"Non Aliyah, lagi ngapain mondar-mandir hitungin lantai, ya?" tanya mbok Tun yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Aliyah.


"Astaghfirullahalazdim.. Mbok Tun kagetin Aliyah, aja" ucap Aliyah sambil mengelus dadanya.


"Non Aliyah kenapa? Bukannya jam segini seharusnya non Aliyah sudah cantik dan duduk manis di depan laptop nonton drakor?" tanya mbok Tun.


"Tak apa-apa, mbok Tun" jawab datar Aliyah.


"Non Aliyah, sudah bosan di sini dan tadi mau kabur manjat pohon besar yang ada di samping tembok itu kan?"


"Dari mana mbok Tun tau, kalau Aliyah mau kabur dari sini?" tanya Aliyah serius.


"Kalau non Aliyah pergi dari rumah ini. Pasti Den Awan akan semakin frustasi" gumam mbok Tun nampak sedih di wajah nya.


Gumaman mbok Tun masih dapat terdengar oleh Aliyah.


"Memang dia bisa frustrasi juga ya, mbok Tun?" tanya Aliyah penasaran.


"Den Awan sangat terpukul di saat non Aliyah memutuskan nya" ucap mbok Tun.


" Ya.. Aliyah putusin lah mbok. Kan si Awan yang selingkuh. Masa iya, Aliyah bertahan. Kan sakit mbok Tun, kalau di tahan" ucap Aliyah cemberut.


"Mbok Tun heran saja sama Den Awan. Kenapa dia percaya begitu saja dengan non Mia si uget-uget got itu. Kalau tidak bisa melepaskan dan mengikhlaskan non Aliyah. Kenapa juga Den Awan harus frustasi kehilangan non Aliyah"


"Maybe karena Aliyah beautiful.. beautiful. cantik. cantik sekali" ucap Aliyah spontan sambil terkekeh.


"Non Aliyah memang cantik. Tambah gemes mbok Tun" ucap mbok Tun sambil mencubit hidung mancung Aliyah.


"Auuw.. Mbok Tun, bisa pesek nie hidung Aliyah na"


Sedangkan di depan pintu kamar berdiri seorang laki-laki dengan raut wajah yang memerah.


"Aliyah.. Berani-beraninya kamu mau kabur!"


🌺🌺🌺🌺


Kaburrrr πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ sebelum ketangkap Awan.. WkwkwkπŸ˜‚πŸ˜‚