FORGET IT

FORGET IT
Aliyah Buthaynah



"Assallammu'allaikum.. Peri cantik" sebuah suara mengagetkan Aliyah. Suara seseorang yang langsung membuat nya menoleh ke kanan di samping dia berdiri. Aliyah terkejut dengan siapa yang menyapa nya. Ia segera menggeser posisi nya berdiri sedikit memberi jarak di antara kedua nya.


"Wa'alaikumussalam.." jawab nya gugup.


"Aliyah!" ucap Gustaf dengan nada bersahabat.


Aliyah segera menoleh kembali dan menatap ke arah seseorang yang telah memanggil nama nya. Menatap sepasang bola mata yang teduh. Menatap dari ujung kaki hingga kepala cogan yang kini berdiri tepat di hadapan nya.


"Apa kamu benar Aliyah Buthaynah?" tanya nya kembali. Aliyah hanya menggangukan kepala nya pelan. Hati nya bertanya-tanya. Siapa cogan ini? Dari mana dia mengetahui nama lengkap dan sebutan peri cantik yang di tujukan padanya? Aliyah berpikir mungkin cowok yang berdiri di hadapan nya ini, mengetahui nama nya dari teman kampus atau dari teman lain nya. Aliyah hanya bisa mengira-ngira, menerka nya saja. Namun, pikiran itu seketika terjawab setelah cowok itu mengucapkan sesuatu lagi.


"Apa kau benar-benar tidak mengingat ku atau bahkan kau sudah melupakan ku dari pikiran mu? Apakah waktu telah mengubur nama ku di ingatan mu?" pertanyaan semacam itu biasa nya lebih tepat di tunjukkan kepada seseorang yang sudah saling kenal lama, bukan?


Aliyah menaikan alis nya. Sejenak dia berpikir. Sambil terus memandangi wajah manis cowok yang tersenyum ke arah nya membuat Aliyah semakin salah tingkah. Mengamati hingga detil wajah tampan itu. Namun, hingga seper kian menit Aliyah belum juga mengingat nya. Alhasil dengan berat hati akhirnya dia menggelengkan kepala nya. Mengangkat kedua tangan di depan dada nya, mengisyaratkan bahwa dia benar-benar belum mengetahui siapa cowok itu.


Bahkan Aliyah dengan spontan mengatakan kalau belum pernah mempunyai teman setampan ini. Aliyah menatap kembali wajah cowok yang tetap tersenyum kepada nya, membuat hati Aliyah meleleh seperti coklat brownies. Menatap rambut cowok itu yang tertata rapi dan wajah nya berjanggut. Daerah dagu, pipi, leher serta bibir atas nya di biarkan di tumbuhi rambut halus yang menghiasinya.


"Kamu tidak pernah berubah Aliyah. Kamu semakin terlihat cantik dan pantas di panggil peri cantik" ucap cowok itu lagi. Aliyah merasa semakin penasaran di buat nya. Siapa kah cowok tampan yang berjanggut ini. Dia merasa sangat bodoh, saat ini. Kenapa dia sampai melupakan cowok setampan itu. Dan kenapa otak nya sangat lamban loading nya untuk mengingat nya kembali. Atau Aliyah telah terhipnotis oleh senyuman manis yang di sungging kan terus menerus ke arah nya oleh si cogan itu.


"Astagfirullah.. Aliyah. Sungguh terlalu.. Kau benar-benar menghidap amnesia akut atau memang kau sudah benar-benar melupakan aku dari memori otak kecil mu? Hmm! Apa kau sudah melupakan orang yang selalu membela mu dan menemani mu ketika kau kena marah Bunda akibat lupa waktu jika bermain? Apa kau lupa dengan supir pribadi mu ini, yang tiap hari rela dan ikhlas antar jemput peri cantik nya?" Gustaf memperjelas agar Aliyah segera mengingat diri nya.


Aliyah melonggo dan seger otak nya memproses apa yang barusan di ucapkan cowok itu. File-file yang tertimpun kini di buka kembali. Dengan bersusah payah Aliyah mengingat nya. Otak nya mutar kembali masa-masa indah waktu kecil bersama seseorang yang kini telah berdiri di hadapan nya.


Lalu, kemudian dia berteriak kegirangan setelah dapat mengingat siapa cowok tampan yang sedang berdiri dan tersenyum manis di hadapan nya, sekarang ini.


"Kau.. Kau.. Gustaf.. MasyaAllah.. Kau berubah tidak mirip sekali dengan Gustaf supir pribadi kesayangan ku. Kau terlalu jahat kepada ku! Apakah Kairo begitu hebat bisa merubah seorang Gustaf yang culun, tak bisa rapi, super jorok suka nya main oli dan berantakin barang orang?" ucap Aliyah memonyonkan bibir nya.


Gustaf tertawa terkekeh dengan puas nya. Dia tidak sakit hati dengan ucapan Aliyah barusan. Ia sangat bahagia karena akhirnya peri cantik idaman nya telah mengingat nya kembali.


"Hai.. Peri cantik jangan berisik. Di rem sedikit bicara nya jangan bablas tanpa hambatan buka aib masa lalu seorang Gustaf. Gustaf yang sekarang telah berubah" Gustaf menatap Aliyah dengan gemas. Lalu merentangkan kedua tangan nya. "Apa kau tidak ingin memeluk ku.. Peri cantik."


"Gustaf.. " Aliyah menghambur ke dalam pelukan nya, mengobati rasa kangen nya yang bertahun-tahun telah menumpuk kepada sahabat kecil nya yang telah lama tidak berjumpa tiada kabar berita hingga menetes airmata Aliyah.


Gustaf menatap ke arah manik mata Aliyah setelah melepaskan pelukan nya. Tangan nya bergerak mengusap pelan airmata yang telah menggenang kembali di pelupuk mata indah Aliyah.


"Utututu... Tambah manis saja kalau begini" kata Gustaf. Aliyah tersenyum simpul memperlihatkan gigi putih nya yang tertata rapi.


"Apakah kau masih merindukan aku? Masih menginginkan ku bersama mu kembali?" Gustaf melayangkan pertanyaan kepada Aliyah dan di jawab anggukan oleh Aliyah, tanda ia masih menginginkan itu semua. "Jika kau merindukan ku, menginginkan ku bersama mu. Kenapa kau melupakan aku. Mengingat nama ku saja tidak ada di pikiran mu? Apa mungkin di hati mu tertulis nama ku? Hmm?" ucap nya dengan nada sedikit kecewa, merajuk dan menampilkan wajah cemberut untuk menggoda Aliyah sang peri cantik idaman nya.


"Haiiss.. Siapa juga yang melupakan kamu!" balas nya dengan bibir yang manyun. "Jangan salah kan aku. Jika tak mengingat Gustaf yang sekarang! Siapa suruh kamu jadi tampan seperti sekarang ini! Adakah seseorang yang telah merubah dirimu. Gustaf sang supir pribadi Aliyah?" pada akhir kalimat Aliyah mengedipkan mata nya sehingga membuat Gustaf kembali tertawa dan mentoel hidung mancung Aliyah.


"Peri cantik ku yang telah merubah seorang Gustaf menjadi tampan dengan tongkat ajaib nya" ucap Gustaf dan langsung mendapatkan tatapan tajam setajam silet oleh Aliyah.


"Apa benar kau adalah Gustaf ku. Gustaf supir pribadi Aliyah sewaktu kecil yang dengan setia mengantar jemput Aliyah. Mengayun pedal sepeda tanpa kenal lelah" Aliyah tertawa kecil. Lalu menyilangkan kedua lengan nya. Sambil memperhatikan intens Gustaf. Teman semasa kecil yang berpenampilan apa ada nya. Tidak ada kata jaim, walau pun penampilan nya sangat berantakan. Namun, kini penampilan nya berubah total.


Ya.. Seorang Gustaf yang telah menjadi mubaligh handal dengan hafalan-hafalan Al-quran di luar kepala dan pemahaman agama yang lebih religius.


"Kairo telah merubah Gustaf ku" kata Aliyah lirih. Namun, Gustaf tetap mendengar suara Aliyah dan tersenyum manis di sungging kan di bibir nya.


Beberapa menit kemudian, seseorang datang menghampiri kedua nya dan berbicara kepada Gustaf. Bahwa dia harus segera pergi karena ada jadwal lain yang harus segera di selesai kan.


"Peri cantik.. Maafkan aku harus pergi, pamit undur diri terlebih dulu. Dan meninggalkan mu lagi. Sekarang. Tapi, aku akan datang ke Ayah mu untuk melamarmu" goda Gustaf sembari memeluk Aliyah sebentar tanda perpisahan nya kembali. Lalu melangkah dengan berat hati meninggal kan peri cantik impian nya


"Jangan bercanda, nanti tak bisa tidur kamu" ledek Aliyah membalas ucapan Gustaf.


"Tunggu saja kabar baik nya" balas Gustaf mengedip kan matanya. Lalu mereka saling melambaikan tangannya pelan.


"Seorang Gustaf tidak akan pernah main-main dengan ucapan nya peri cantik. Gustaf akan menjadi supir pribadi mu seumur hidupmu, jika Allah SWT meridhoi nya. Karena kamu yang berhak berada di samping Gustaf. Saat ini dan selama nya" ucap Gustaf dalam bathinnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Bersambung....