FORGET IT

FORGET IT
Cake Brownies



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca..


❀❀❀❀


...Sebesar apa kau mempercayai pasanganmu?...


...Dan seberapa dalam kau memahami isi hati pasanganmu?...


...Jika kamu mengetahui dan merasakannya. Pasti kamu tidak akan mudah tertipu dengan muslihat para iblis yang berwujud wanita ular yang dengan bisa nya dapat mematikan saraf otakmu dengan mudah....


...❀❀...


"Riris..! Apa yang kalian lakukan?" suara Doni dan Labibah yang mengema di ruangan itu dan bebarengan dengan sinar lampu yang menerangi kembali. Seketika menyadarkan Riris merubah posisi nya berdiri.


"Astaga.. Langit!" teriak Riris sambil menutup mata nya yang langsung merubah warna merah di wajah mulus nya.


"Ehh.. Maaf Riris. Sudah mengagetkan mu" cicit Langit sembari memundurkan langkah.


"Hahahaha" tawa kedua sahabat Riris yang somplak.


"Ternyata yang mendapat rezeki nomplok malam ini adalah Riris sang jones" teriak Doni sembari tepuk tangan.


"Astaga, Doni sialan. Mau di taruh di mana ini muka! Langit juga kenapa datang tiba-tiba di saat listrik padam? Kayak cenayang bener nih, Langit!" batin Riris terus berguman.


Perlahan Riris sok sibuk mencari ponsel nya. Dia salah tingkah di hadapan Langit, saat ini.


"Kenapa, makanan nya belum datang. Don?" Riris mencoba mengalikan pembicaraan.


Riris melihat ke arah Doni dan Labibah.


"Jangan bilang kamu salah kirim alamat beneran, Doni!" kesel Riris.


"Kamu lagi pesan go food?" tanya Langit kepada Riris.


Riris yang hanya bengong nampak bodoh di hadapan Langit. Tak dapat berkata apa-apa. Dengan rasa canggung dan gemuruh ombak yang kian berlarian di hati nya.


"Hemm.. Iya. Tadi Doni pesan go food. Tapi, hingga kini belum datang juga. Mana penghuni di sini sudah pada protes dangdutan terus dari tadi" kata Riris menundukkan kepala nya.


Langit hanya tersenyum melihat tingkah Riris yang canggung di hadapan nya.


"Ini aku bawain pizza kesukaan kamu" ucap Langit sambil menyodorkan tumpukan pizza yang masih dalam kemasan. Namun harum wangi dari pizza semakin membuat lapar perut ketiga sahabat itu.


"Waw.. Pizza mantap kali" pekik Labibah sembari menghampiri Riris dan Langit.


"Kalau ada makanan aja, langsung melek itu mata" ejek Riris. "Doni.. Kamu itu tidak bertanggung jawab bawa anak orang, sampai kelaparan itu Labibah" tambah Riris.


Dengan spontan Doni mengekor langkah Labibah dan nyeletuk omongan.


"Itu si tukang go food nyasar di rumah janda sebelah kali ya. Hingga jam segini enggak nonggol juga batang hidung nya"


"Nah terus. Sekarang kita makan pizza aja. Daripada semakin lapar perut ini" kata Riris sambil membuka kemasan pizza yang di bawa Langit.


Kini, mereka berempat sedang menikmati pizza di malam yang semakin dingin dengan guyuran hujan yang tiada henti.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Aliyah sedang duduk sendiri nonton TV di ruang keluarga yang sepi penghuni nya. Ia tidak pernah menyangka akan menjadi korban penculikan si Awan. Mantan yang menginginkan hubungan nya kembali seperti dulu. Tapi, Aliyah menolak nya mentah-mentah. Karena hati Aliyah kini telah terisi dengan satu nama yaitu Denis.


Sudah hampir satu bulan lama nya. Ia di sekap di rumah mewah milik keluarga Awan. Selama itu juga Aliyah tidak pernah melihat kedua orang tua Awan. Hanya dua wanita paruh baya yang bertugas membersihkan rumah dan menyiapkan segala kebutuhan Awan di rumah.


Satu kotak cake brownies favorit nya. Masih utuh terbungkus di dalam kardus kemasan nya. Terlihat jelas nama toko bakery itu. Ya. Itu cake brownies buatan Bunda Lucy. Bunda nya yang sudah beberapa hari ini sangat di rindukan.


Sambil mengusap airmata yang menumpuk di sudut kelopak mata. Aliyah mengambil kemasan brownies yang masih tertutup rapat. Ia melanjutkan menonton drakor di TV sambil menikmati brownies kesukaan nya.


Setelah menghabiskan cake brownies buatan bunda nya. Aliyah mulai merasa sangat ngantuk. Dia meluapkan kekesalan nya pada si penculik diri nya dengan melahap habis cake yang ada di atas meja. Sambil mengumpat si penculik dengan terus memasukkan potongan demi potongan brownies ke dalam mulut nya. Mata yang fokus pada layar datar di hadapan nya. Drakor yang mengisahkan hampir mirip dengan keadaan nya sekarang ini. Semakin membuat ngenes hati Aliyah. Sudut mata nya yang tak lagi kuat menahan cairan airmata. Akhirnya membanjiri kedua pipi Aliyah yang chubby.


Hati Aliyah menjerit sekencang mungkin. Hingga terucap juga di bibir ranum nya.


"Bee.. Ay lindu Bee. Sangat lindu Bee. Bee di mana? Kenapa tak segera selamat kan Ay na Bee? Bee tak lindu sama Ay na kah? Atau Bee sudah melupakan Ay na di sini?" sambil terisak Aliyah terus bermonolog sendiri.


"Bunda.. Ayah.. Adek.. Di mana kalian semua? Bagaimana kabar kalian di sana? Aliyah rindu kalian semua! Rindu siraman rohani Bunda. Rindu berdebat dengan Ayah, yang mempunyai segala macam argumen dan alibi masing-masing. Apalagi sama adek Zudith. Mbak Aliyah sangat rindu sama adek kesayangan mbak Aliyah yang jahil nya satu server sama Bee"


"Ay pingin lihat senyuman Bee.. Yang selalu bisa menghangatkan hati Ay na. Pingin peluk Bee. Yang bisa memberikan kedamaian di setiap langkah-langkah Ay na"Karena kekenyangan dan kegundahan hati. Aliyah mulai bosan dan mulai redum pencahayaan di kedua mata indah milik Aliyah. Akhirnya dia tertidur juga di atas sofa coklat di ruangan keluarga rumah Awan.


Namun, walaupun mata nya terpejam tertutup rapat. Yang di sebut hanya nama seseorang yang selalu membuat nya lindu.


"Bee.."


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Di dalam mobil sport warna merah. Awan melajukan mobil nya di atas rata-rata. Dia ingin segera sampai di rumah. Hati nya sangat berbunga-bunga saat ini. Dia bisa memandang orang yang sangat di cintai nya setiap hari. Tanpa ada yang menghalangi lagi.


"Selamat malam tuan muda" sapa Eko sembari membuka lebar pintu gerbang bercat putih itu.


"Hmm.." hanya jawaban itu yang keluar dari bibir Awan.


Awan memarkirkan mobil nya di garasi utama. Kemudian melangkah kah kaki nya masuk ke dalam rumah mewah yang bernuasa modern europa.


Sembari bersiul terus masuk ke dalam ruangan keluarga. Dia melihat wanita pujaan hati nya sedang tertidur pulas di atas sofa coklat.


"Apa tidak sakit kamu tertidur seperti itu. Tidur meringuk?" batin Awan.


Senyum kecil tersungging di kedua sudut bibir nya. Tanpa sadar tangan nya menggeser pelan tangan Aliyah yang menutupi wajah cantik Aliyah. Setiap hari dapat melihat wajah cantik orang yang di cintai nya dari dekat seperti ini. Dapat menghangat kan dada nya. Perasaan tenang dan damai mengalirinya.


Tanpa menunggu lama serta membangunkan Aliyah. Awan menggendong Aliyah memindahkan ke kamar tidur. Agar Aliyah bisa nyaman dalam tidur nya di ranjang king size yang telah di siapkan oleh Awan.


Kondisi kamar tidur yang gelap gulita. Lampu kamar yang belum di nyala kan. Sedikit membuat Awan lebih berhati-hati. Dia takut membangunkan tidur Aliyah. Setelah dapat meraih remote yang menempel di dinding kamar dekat pintu. Awan segera menghidupkan lampu di kamar tidur Aliyah. Menyalah sudah lampu yang menerangi kamar tidur itu. Dengan hati-hati dia membaringkan Aliyah di atas ranjang king size yang bersprei warna biru yang bermotif Doraemon. Film kartun kesukaan Aliyah dan menyelimuti tubuh Aliyah sebatas dada.


Setelah membaringkan Aliyah. Kini, Awan berdiri di samping ranjang sambil terus memandangi wajah cantik Aliyah. Kaki nya enggan berlalu dari kamar tersebut. Sangat berat langkah nya meninggalkan kamar itu. Detik terus berdetak mengganti menit.


Hingga akhir nya dia memutuskan untuk berbaring di sisi Aliyah. Memandangi orang yang di cintai sangat menenangkan hati Awan. Walaupun sudah jelas Aliyah menolak untuk kembali pada diri nya. Penyesalan akan terlihat di akhir. Perasaan itu lah yang di rasakan Awan saat ini. Kenapa dia dengan bodoh nya mempercayai semua cerita bohong teman Aliyah waktu itu. Pikiran nya kian berkecamuk. Perasaan nya yang semakin dalam kepada Aliyah.


Namun, begitu wanita itu kebuka kebusukannya. Awan baru menyadari bahwa kebohongan yang mempercayai wanita iblis itu daripada kepada kekasih nya sendiri.


Yaa.. Penyesalan pasti akan hadir ketika kita sudah hancur dan terbuang. Tapi, masih ada harapan untuk kita bangkit lagi dan mengumpulkan semua puzzle puzzle yang berserahkan hingga menjadi satu kembali. Walaupun hasil nya tak kan sempurna seperti sedia kala.


Awan tenggelam dengan pikiran sendiri sambil terus memandangi wajah mulus Aliyah.


"Tidur seperti ini saja. Kau masih terlihat cantik! Wajar kalau di luar sana banyak cowok yang memperebutkan kamu, sayang! Dengan sekuat tenaga dan cara ku akan memperjuangkan kamu kembali agar tetap selalu di sampingku"


Karena tubuh yang lelah, seharian mengurus pekerjaan di perusahaan milik keluarga nya. Pada akhir nya Awan mulai merasakan berat di mata nya. Dan mulai memejamkan matanya.


Pagi hari yang cerah. Tapi tak secerah hati seorang gadis yang mulai terbangun dari mimpi nya. Aliyah menggeliatkan tubuh nya ke kiri dan ke kanan. Alangkah terkejutnya dia melihat ada laki-laki tertidur tengkurap di samping nya.


Aliyah langsung loncat dari ranjang king size yang membuat nyaman tidur nya semalam. Membuang selimut yang membalut tubuh nya ke lantai.


Celingak celinguk Aliyah mencari sesuatu untuk memberikan kejutan pada laki-laki yang kurang acem itu.


Kaki nya melangkah dan berhenti tepat pada gantungan baju yang tertempel di dinding kamar.


Aliyah mengambil sapu lidi kasur penebah yang menggantung di gantungan baju. Dan melangkah kan kembali langkah nya ke arah Awan.


"Dasar penculik gadis orang. Bangun! Jangan molor saja. Enak ya tidur dekat-dekat aku. Manfaatin aku yang tertidur pulas. Ayo cepat kembalikan aku ke keluarga ku!" Aliyah terus memukulkan sapu lidi kasur ke tubuh Awan.


"Aduh.. Sakit, sayang.." Awan menutupi tubuh nya dengan guling agar terhindar dari pukulan maut si Aliyah.


"Emm.. Tak bisa kamu dapat kan aku dengan cara yang sehat. Cara kotor kamu pakai"


Plak.. Plak..


Aliyah terus mengayunkan sapu lidi kasur ke arah Awan.


"Sakit, sayang.. Sudah berhenti pukulin aku" mohon Awan.


"Sayang.. Sayang.. Pala mu peyang. Aku bukan sayangmu! Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Jijik tau!"


"Kamu kan memang, sayang aku"


"Stop sekali lagi kamu panggil aku sayang. Gagang sapu ini masuk ke mulut kamu!"


"Kan kamu.."


Pletakk..


Gagang sapu lidi kasur penebah itu akhir nya melayang juga ke kepala Awan.


Aliyah menyerang Awan dengan seribu pukulan gagang sapu lidi. Emosi yang telah di ubun-ubun Aliyah. Menyulut kobaran api yang telah terbakar.


"Aliyah.. Berhenti kataku!"


"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu kembalikan aku kepada keluarga ku. Sekarang juga!"


"Jangan pancing kemarahan ku, Aliyah!"


"Marah saja! Tak perlu banyak omong"


"Oke kalau itu mau kamu"


Awan bangun dari posisi berbaring nya. Dan akhirnya Awan melawan Aliyah.


Sekuat apapun tenaga Aliyah. Tetap saja tidak bisa mengalahkan tenaga Awan.


Hingga akhir nya. Teriakan Aliyah menggema memecah kesunyian kamar tidur mewah itu di pagi hari.


"Aaaaaahhh"


❀❀❀❀


Kaburrrr πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ takut kenak timpuk..