FORGET IT

FORGET IT
Indah Pada Waktunya



Aliyah memeluk sangat erat tubuh Denis, seakan-akan tak ingin berpisah dari kekasih nya. Namun, suara panggilan untuk penumpang pesawat yang akan di naikin Denis telah terdengar. Jam keberangkatan pesawat harus memisahkan Denis dan Aliyah saat ini. Aliyah memeluk kembali Denis dengan di iringi tangisan yang begitu memiluhkan hati Denis.


"Sayang.. Sudah berhenti nangis nya jangan mewek terus. Nanti bee tak jadi pulang lho kalau lihat ayang nangis terus begini." ucap lembut Denis di telinga Aliyah sambil mengusap pucuk kepala Aliyah.


"Ay tak nangis, bee." jawab lirih Aliyah masih terisak.


"Kalau tak nangis, ini apa namanya." ucap Denis mengusap air mata yang menetes di pipi chubby Aliyah.


"Emm.. tak nangis bee." rengek manja Aliyah.


"Tunggu bee pasti akan kembali buat ayang nya. Ingat pesan bee, jangan genit-genit, jangan nakal." ujar Denis menatap ke manik mata Aliyah dan mendekap kembali Aliyah.


"Janji bee." balas Aliyah menyusup kan kepala nya ke dalam pelukan Denis.


"Janji apa, sayang?." tanya Denis mengecup kening Aliyah begitu dalam. Dia tak perduli walaupun di depan umum.


"Janji tak genit-genit, janji tak nakal, janji tetap setia akan menunggu bee menjemput ay na menuju ke KUA." ujar Aliyah tersenyum ke arah Denis.


"Idiih, mau nya di bawa ke KUA. Mau ngapain?." goda Denis.


"Mau di halalin lah, bee." rajuk Aliyah cemberut.


"Emang nya ayang embem sudah siap di halalin?." goda Denis lagi sambil mengecup bibir Aliyah yang telah menjadi candu bagi nya.


"Siap lah, bee." sahut Aliyah.


"Tunggu, bee nya ya sayang. Bee akan jemput ayang pada saat yang tepat dan semua akan indah pada waktunya." ucap Denis sembari mengecup kembali bibir ranum Aliyah untuk terakhir kali nya sebelum dia melangkah kah kaki nya menuju pesawat yang akan membawa nya terbang ke pulau sebrang.


"InsyaAllah, bee. Ay pasti tunggu bee na." balas Aliyah mengecup bibir Denis sebagai hadiah perpisahan kepada sang pemilik hati.


"Assalamu'alaikum bidadari bee. I love you my queen."


"Wa'alaikumussalam cinta na ay. Love you too my king."


"Eemmuuaacchh." kecupan terakhir buat kedua nya.


***


Sudah hampir lima belas menit Aliyah duduk menyendiri di atas kursi taman kampus. Dia sedang menunggu Zudith adik nya menjemput. setelah beberapa menunggu tapi belum ada tanda-tanda kedatangan adik kesayangan nya itu. Karena tadi Zudith berpesan di WA nya. Kalau hari ini akan menjemput kakak nya di kampus.


Nampak di wajah Aliyah yang masih menyisakan kesedihan karena hari kemarin adalah di mana hari Aliyah harus berpisah kembali dengan sang pemilik hati. Menjalani kisah kasih nya dengan Denis hanya lewat udara. Ya, kisah LDR an yang harus di tempuh Aliyah dengan Denis. Mengandalkan dari sebuah komunikasi yang intens. Saling menjaga kepercayaan dan kesetiaan masing-masing. Di saat seperti ini lah kisah mereka di uji. Di mana seseorang yang kita sayangi dan cintai jauh dari sisi kita. Namun, dengan saling berkomunikasi, saling memberi kan kabar dan selalu dapat menjaga dari godaan apapun yang ada di sekitar kita.


Apalagi, kedua sahabat nya Labibah dan Riris hari ini tidak masuk kuliah. sedangkan Doni menghindari nya. Dia cemburu akan kedatangan Denis kemarin, yang membuat Aliyah melupakan kehadiran nya sesat. Aliyah sendirian tidak ada teman hanya suara merdu Ariel noah yang mengalun indah terdengar dari hs nya.


"Kamu belum ada yang jemput?." terdengar suara seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Aliyah dan mengagetkan nya. Dengan terpaksa Aliyah membuka mata. Aliyah tersentak kaget saat melihat Excel sudah berada di samping nya.


"Dia? Mau apa ke sini? Please cepat pergi dari hadapanku. Hatiku saat ini lagi sedih jangan di tambah lagi." guman Aliyah dalam hati.


"Halo" Excel melambaikan tangan nya ke wajah Aliyah dan tersenyum lebar membuat Aliyah merinding lebih takut dari yang kemarin-kemarin melihat Excel.


"Dia sehat kan? Tidak lagi kesurupan atau kerasukan jin kan? Zudith cepat lah datang, mbak Aliyah takut nih. Siang-siang ada penampakan." Aliyah menjerit dalam hati.


Excel pun terlihat canggung. Namun, dia tetap mengambil kesempatan di saat Aliyah sedang sendirian tanpa ada kawalan dari ketiga sahabat nya itu.


"Ada perlu apa, kamu ke sini?." Aliyah bertanya pada Excel lalu menekuk wajah nya dalam.


"Ingin bertemu kamu lah pasti nya." lirih Excel dengan suara yang amat pelan.


Excel yang melihat Aliyah ketakutan hanya bisa menggaruk kepala nya berkali-kali.


Aliyah yang merasa penasaran dengan kedatangan Excel dan ingin bertanya pun mendongak.


"Untuk apa, kamu ingin bertemu dengan ku?." Aliyah menggeser menjauh duduk nya.


"Aku kemari, ingin meminta ma'af padamu. Kemari sebentar kenapa kamu menjauh?." ucap Excel setengah berteriak.


"Zudith tolong mbak Aliyah. Mbak takut di sini ada orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa." guman absurd Aliyah dengan expresi wajah yang menyedihkan.


"Untuk apa kamu minta ma'af? Kamu tak ada salah pada ku?." ucap Aliyah tanpa melihat orang yang di ajak bicara.


"Hahah, Aliyah. Kamu bicara dengan siapa? Aku di sini, bukan di sana." Excel langsung tertawa terbahak-bahak dengan suara yang kencang hingga berair mata nya.


Aliyah yang semakin ketakutan dengan keadaan Excel sekarang ini. Ingin rasanya berlari sekenceng mungkin untuk menjauh dari Excel.


"Iya.. Kamu hantu nya." sahut Aliyah sewot.


"Mana ada hantu seganteng aku." kata Excel seraya menarik tangan Aliyah agar mendekat pada nya.


"Excel, hentikan!." Aliyah menepis tangan Excel kasar.


"Hehehe.. Maaf-maaf." Excel pun melepaskan tangan Aliyah takut di keroyok orang-orang yang ada di taman saat ini. Karena kesalah fahaman.


"Kata nya kemari mau minta maaf! Bukan nya minta maaf malah membuat aku tambah kesel padamu." Aliyah cemberut dan langsung berdiri dari duduk nya.


"Iya.. Iya aku minta maaf Aliyah." ucap Excel bangkit dari duduknya dan berjongkok tepat di depan Aliyah.


"Haiss.. Kenapa pula pakai acara berjongkok." Aliyah mendengus lalu membuang muka dari Excel.


"Aliyah, aku benar-benar minta maaf karena kesalahan ku. Kamu jadi kena marah orang tua ku waktu itu." Excel. semakin membungkuk kan badan nya di hadapan Aliyah.


"Idiih.. Kamu ini apa-apaan sih! Bangun Excel! Malu ntuu di lihat orang banyak." ujar Aliyah menghentakkan kaki nya ke tanah.


"Aku sangat menyesal, Aliyah. Aku beneran minta maaf padamu. Aku berjanji itu tidak akan terjadi lagi." ujar Excel sambil mengangkat jari kelingking nya.


"Bangun dulu, Excel! Aliyah jadi malu kan." Aliyah semakin cemberut.


"Maafkan aku dulu, baru aku berdiri." pinta Excel.


"Iya, aku sudah maafin. Cepat bangun dan pergi dari sini." usir Aliyah.


"Janji kamu sudah maafin aku." ulang Excel.


"Iya, aku janji maafin kamu! Apalagi?." bentak Aliyah.


"Mau aku, kita tetap bisa berteman seperti dulu." ucap Excel dengan cepat.


"Iya.. Iya.. Sudah cepat berdiri."


"Kalau iya, kenapa jari kelingking kamu tidak kamu kaitkan pada jari kelingking ku sebagai tanda kita sudah baikan lagi." Excel berucap.


"Cepetan mana jari kelingking kamu." akhirnya Aliyah mengaitkan jari kelingking nya juga.


Selang beberapa menit kemudian, baru terlihat Zudith berjalan ke arah Aliyah.


"Adik, kemana aja sih. Lama banget jemput mbak Aliyah?." tanya Aliyah sambil menarik tangan Zudith dan berjalan pergi dari Excel.


"Maaf kan Zudith, tadi harus nganterin pesanan kue dulu ke pelanggan." jawab Zudith merasa bersalah karena sudah membuat kakak nya menunggu lama.


"Tak apa, yang penting kamu sudah datang sekarang. Ayo cepat pergi dari sini." ajak Aliyah.


"Kenapa terburu-buru, mbak Ali?." Zudith memastikan ada apa dengan kakak nya yang terlihat ketakutan.


"Tak apa-apa. Perut mbak Aliyah sudah dangdutan ingin cepat di isi penghuni nya." alasan Aliyah menghindari pertanyaan Zudith.


Akhirnya mereka pun pulang ke rumah.


🍃🍃🍃


Bersambung...


...DUKUNG SELALU AUTHOR RECEH INI DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...RATE BINTANG LIMA...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH BANYAK READER TERSAYANG...


...❣️❣️❣️...