
Chen menahan tanganku saat ingin mengoles salep lagi padanya.
"Apakah yang dikatakan pria tadi benar? tentang tujuh orang yang tidur bersamamu apa itu benar?
Deggg
Kenapa mendadak menanyakan itu? bocah sialan, kenapa mengungkitnya lagi sih? tapi tunggu, berarti Chen bisa bahasa Indonesia dong. Secara Wahyu mengunakan bahasa Indonesia tadi saat mengatakan itu. Bodo ah, aku kesal dia mengungkit ini.
"Salepnya sudah kuoleskan, kalian boleh pergi sekarang"
Aku bangun namun duduk lagi karena lengan ku ditarik oleh Kim Tan.
"Apalagi sih? aku lapar mau masak. Kalian jangan ganggu aku atau pergi dari sini"
Ucap ku mulai emosi.
"Jangan marah dulu, aku tertanya begitu tidak ada maksud apa-apa. Kalau tidak mau menjawabnya ya itu hak mu aku tak memaksa. Tapi, lain kali jangan biarkan orang lain menindasmu seenaknya seperti tadi"
Aku tersentuh mendengar perkataan Chen barusan. Suasana hatiku menjadi hangat sekarang. Aku ingin berkeluh kesah, tapi takut. Takut menaruh kepercayaan pada orang salah.
"Sudahlah, aku lapar mau masak. Kalian tunggu disini"
Aku mengalihkan pembicaraan.
"Mau kubantu? "
Tanya Joss yang sedari tadi diam kini bersuara.
"Boleh, ayo"
Aku membuat nasi goreng untuk makan malam. Joss membantuku memotong sayuran.
"Joss, aku penasaran. Chen bisa mengerti bahasa Indonesia darimana ya, apa dia ikut les atau "
"Dia blasteran, Korea-Indonesia. Ayah dari ibunya atau kakeknya Chen orang Indonesia. Chen mengerti sebagian bahasa itu, tapi tidak bisa mengkosakatakannya"
Ucap Joss memotong perkataanku. Aku mengangguk saja mendengar penjelasannya.
Tidak lama masakan ku dan Joss sudah siap, lalu aku menyusunnya diatas meja.
"Joss, panggilkan Tan dan Chen sekarang. Sementara aku yang menyiapkan minuman ini" Kataku pada Joss sambil membuat es jeruk. Joss mengangguk sambil berlenggang mendatangi dua temannya itu.
"Masak apa?" tanya Chen sambil menaruh bokongnya dikursi.
"Hanya nasi goreng biasa, aku belum pandai memasak makanan Korea. Maaf, hanya ini yang bisa kuhidangkan"
Aku merasa tak enak. Takut masakanku tak sesuai dengan lidah mereka, padahal mereka sudah membantu ku tadi, hanya dengan ini caraku berterima kasih.
"Kenapa mengatakan itu? sudah lama aku tidak makan nasi goreng padahal aku menyukainya. Terima kasih telah membuatnya"
Chen berkata sambil tersenyum.
"Iya, aku juga penasaran dengan rasa nasi goreng. Chen sering bilang ingin memakannya, tapi tidak ada yang memasak ini untuknya. Jadi kurasa hari ini, hari keberuntungannya "
Timpal Jossi, Kim Tan hanya menganggukan kepala setuju dengan perkataan lawannya itu.
"Baguslah, sekarang ayo kita makan. Keburu nasinya dingin"
Ucapku mulai menyendok nasi. Mereka makan dengan lahap, aku senang melihatnya. Selama ini aku selalu makan sendiri, kehadiran mereka disini menimbulkan rasa senang dihatiku.
"Makanlah pelan-pelan, masih banyak kok. Kalau mau nambah jangan sungkan"
Ucap ku sambil tersenyum manis pada mereka bertiga. Wajah mereka bersemu merah, kurasa mereka malu mendengar perkataanku.
---
Selesai mencuci piring, aku menghampiri Chen, Tan dan joss diruang tamu minimalis milikku.
"Kalian tidak ada rencana pulang? "
Kataku seraya menaruh bokong disofa, aku duduk disamping Joss. Mereka menatap ku seperti ingin memakan mangsanya saja.
"Hei jangan pasang wajah begitu. Maksudku bukan ingin mengusir, tapi apa kalian tidak takut nanti dimarahi kalau terlambat pulang"
Mengelak agar tak mendapat masalah. Padahal sebenarnya aku ingin mereka cepat pergi dari sini, agar aku cepat istirahat. Tubuhku sebenarnya masih pegal karena kejadian kemaren.
"Alasan tipis. Kami tidak pulang malam ini. Kami nginap disini saja"
Ucap Joss.
Aku membelalakkan mata.
Hei, rumah ku bukan tempat penampungan anak curut seperti kalian.
"Tapi" ucapanku dipotong oleh Chen.
"Tidak ada penolakan"
Aura Chen kadang dingin kadang hangat, seperti bunglon saja. Membuat nyaliku langsung menciut. Dua temannya juga begitu. Apalagi Kim tan, melihat wajah sangarnya itu membuatku merinding. Joss? hey, wajahmu lebih cocok melakukan agyo dari pada berekspresi dingin seperti itu.
"Terserah kalian saja. Yang penting jangan menggangguku. Kamarnya ada disitu(menunjuk pintu kamar tamu) maaf hanya ada satu, kalian bisa berbagi atau ada yang mengalah tidur disofa saja"
"Aku bisa tidur denganmu"
ucap Joss.
"Hey, tadi aku bilang apa? kubilang jangan mengangguku. Aku ingin tidur tanpa gangguan, untuk malam ini saja. Tolong"
Nada bicaraku menurun, kurasa hatiku kembali beku. Entahlah, akupun tidak mengerti diriku apalagi mereka.
"Memangnya malam-malam sebelumnya tidurmu terganggu? kenapa? "
ucap Chen mengintrogasi.
"Itu tidak penting"
ucapku lesuh. Aku bicara hanya menunduk melihat kaki.
"Kenapa diam? siapa yang membuatmu terganggu? apakah pria tadi orangnya? "
Chen seperti polisi sekarang. Dia bertanya sambil menjapit daguku, membuatku menatapnya.
Chen kumohon jangan seperti ini, aku tidak bisa terbuka pada siapapun sekarang tentang diriku. Meskipun aku mau, tapi aku takut. Hatiku masih lemah, aku takut bersandar pada bahu yang salah. Biar saja segala keluh kesah ini kusimpan untuk diriku sendiri.
"Itu"
Aku menoleh kan kepala agar tidak menatap matanya.
"Aku masuk kamar dulu, selamat malam"
Aku menutup kamar lalu bersandar pada pintu, menghembus nafas kasar. Aku lelah, tubuh, hati dan pikiran. Ku hempaskan diri keatas kasur, menutup wajah dengan bantal.
Aku tipe orang yang tak bisa mengabaikan orang lain, aku mudah merasa tak enak, takut menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain, itulah aku. Aku teringat tiga bocah itu, mereka pasti tidak bisa tidur dengan nyaman karena tidak mengganti baju seharian. Aku tak bisa mengabaikan itu, ku singkirkan bantal tadi dari wajahku. Lalu bangun menuju lemari pakaian, aku membukanya. Untung baju banyak yang kebesaran dan lagi bajuku juga bisa dipakai oleh pria, tidak. Lebih tepatnya itu baju pria tapi masih bisa dipakai oleh wanita meskipun kebesaran.
---
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu kamar tamu. Dua menit kemudian pintu pun terbuka. Kim Tan yang membukanya. Keempat bola mata kami bertemu, mendadak membuat ku gugup.
"Ada apa? " Tanyanya.
Sementara itu, Joss dan Chen menghampiri kami.
"mm, ini baju untuk kalian pakai. Gantilah meskipun hanya atasanya saja. Kalau celana aku tak punya yang cocok untuk kalian"
ucapku menatap mereka sambil menyodorkan tiga kaos yang dilipat rapi.
Mereka mengambilnya satu persatu. Lalu menghirup aroma baju itu.
"Aku sudah mencucinya kok. Kenapa, apakah bajunya bau? aku bisa menggantinya dengan yang lain kalu begitu"
Mereka tidak menjawab, melainkan tersenyum padaku.
"Tidak, ini tidak bau. Malah sangat wangi"
Ucap Joss
"Aku suka aromanya"
Ucap Kim Tan juga.
"Terimakasih"
Timpal Chen seraya tersenyum manis.
Hei kenapa bocah -bocah tengik ini terlihat tampan sih, tolong jangan mengoda imanku.
Aku syok bukan main sekarang. Mereka melepas baju didepanku bersamaan.
"Yakkk, kenapa melepas baju didepanku? "
Aku memekik dengan cepat membalikkan badan sambil menutup kedua mataku dengan telapak tangan. Dasar bocah keparat, beraninya mereka. Membuat pipiku memanas saja, sialan. ABS mereka masih berputar diotakku. Calistha apa yang kau pikirkan? kenapa otakku jadi mesum begini.
Bersambung...
Visual Park Chen
Visual Kim Tan
Visual Kang Jossi
Jangan lupa tinggalkan jejak ya reader tercinta, terimakasih 😊