FORGET IT

FORGET IT
Kehilangan



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca...


❤❤❤❤


...KEHILANGAN...


...By. Firman Siagian...


...Ku coba ungkap tabir ini...


...Kisah antara kau dan aku...


...Terpisahkan oleh ruang dan waktu...


...Menyudutkan mu meninggalkan ku...


...Ku merasa telah kehilangan...


...Cinta mu yang telah lama hilang...


...Kau pergi jauh karena salah ku...


...Yang tak pernah menggangapmu ada...


...Asmara mengisahkan kita...


...Mengingatkan ku pada dirimu...


...Gelora mengingatkan ku...


...Bahwa cinta mu telah merasuk jantung ku...


...Sejujurnya (sejujurnya)...


...Ku tak bisa (ki tak bisa)...


...Hidup tanpa ada kamu aku gila (aku gila)...


...Seandainya (seandainya)...


...Kamu bisa (kamu bisa)...


...Mengulang kembali lagi cinta kita (cinta kita)...


...Tak kan ku sia-sia kan kamu lagi...


...Asmara mengisahkan kita...


...Mengingatkan ku pada dirimu...


...Gelora mengingatkan ku...


...Bahwa cinta mu telah merasuk jantung ku...


...Sejujurnya (sejujurnya)...


...Ku tak bisa (ki tak bisa)...


...Hidup tanpa ada kamu aku gila (aku gila)...


...Seandainya (seandainya)...


...Kamu bisa (kamu bisa)...


...Mengulang kembali lagi cinta kita (cinta kita)...


...Tak kan ku sia-sia kan kamu lagi...


...❤❤❤❤...


DENIS POV


Meski mendung pun tak berarti hujan. Perasaan cemas tiba-tiba hadir menyeruak di dada. Karena sebuah pertanda terkadang pulak menjadi nyata. Aku menghela nafas panjang ketika gerimis mengundang. Merenungi kegalauan yang melanda. Mungkin hanya lewat air hujan, bisa sampaikan rindu ini pada nya. Mungkin juga tak sederas hujan malam ini. Tapi cukup membuat dunia ku jungkir balik. Menanti mentari yang tersenyum untuk menjemput bidadari ku yang masih tertinggal di sana. Semoga kau selalu merasakan kehadiran ku di hati mu. My Queen..


****


Sudah hampir lima jam berlalu. Namun, hujan yang menguyur kota S belum kunjung reda. Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tak menyurutkan sedikit pun semangat Aliyah tuk menyelesaikan aktivitas nya malam ini.


Hingga waktu menunjukkan pukul 21.00 Wib malam. Aliyah masih saja asik bergelut dengan tugas nya di depan meja kerja. Dengan semangat dan rasa tanggung jawab yang di pikul nya. Amanah yang telah di emban dari Ayah dan Bunda untuk mengurusi segala urusan toko kue dan cafe lindu.


Semenjak toko kue dan cafe lindu itu di buka. Tekad Aliyah adalah harus bisa memajukan lagi usaha keluarga nya. Rencana untuk membuka cabang pun telah di persiapkan dengan matang oleh Aliyah. Dengan jeli dan perhitungan yang telah di evaluasi. Aliyah harus bisa memilih tempat yang strategis untuk membuka cabang baru lagi.


Langit bersandar di daun pintu sambil terus mengetuk-ngetuk kening dengan jarinya untuk mencari sebuah ide buat menjahili Aliyah yang masih serius dengan aktivitas nya.


Sedetik kemudian, muncul gambar bintang yang memutar di kepala nya, tanda Langit telah menemukan sebuah ide cemerlang terbesit di otak nya. Dia mengambil ponsel dari saku celana nya sembari tersenyum smark. Diam-diam ia memfoto Aliyah beberapa kali dengan mimik wajah yang sangat serius tanpa ada sedikit pun senyum yang tersungging di bibir ranum Aliyah. Langit mengambil foto Aliyah tanpa ada suara dari ponsel nya. Sehingga Aliyah tak menyadari dengan kegiatan langit yang konyol itu.


Lalu dia kembali mengarahkan kamera ponsel nya ke arah Aliyah. Namun, kali ini Langit terkesiap mendengar perbincangan Aliyah dengan seseorang di seberang sana.


"Assalamu'alaikum, bidadari nya bee" Denis memberi salam hangat untuk Aliyah sang kekasih hati.


"Wa'alaikumussalam, matahari nya ay" balas Aliyah lembut.


"Ayang lagi di mana?" tanya Denis yang langsung merubah sambungan telepon nya ke VC.


"Lagi di cafe lindu, Bee. Emang na kenapa, sayang" tanya Aliyah balik sambil menatap ke arah mata Denis.


" Sudah jam berapa ini? Kenapa tak pulang? Mau bobo' di cafe?" brondong Denis ke Aliyah.


"Bentaran lagi, Bee" sela Aliyah.


"Masih ada hari esok, sayang. Jangan terlalu di forsir tenaga nya. Jaga kesehatan karena sehat ntuu mahal" ujar Denis mengingat kan.


"Kacang juga mahal, Bee" jawab Aliyah ngasal sambil terkekeh.


"Mulai melenceng dari rel. Minta di apain ntuu"


"Minta di tium, Bee. Wleekkk" ledek Aliyah sembari mengeluarkan lidah na ke arah layar ponsel.


"Kan.. Kan.. Berani ngeledek Bee na. Awas aja kalau ketemu besok. Jangan salah kan kalau Bee na khilaf. Habis nya, Ayang godaiin Bee, muluh" ujar Denis sambil pura-pura merajuk.


"Utu utu.. Ada yang merajok kayak Mak Toon, merajok tiap hari" canda Aliyah.


"Idiih.. Siapa juga yang merajok. Tak kebalik kah? Yang tukang ngambek ntuu siapa?"


"Tetangga ntuu, Bee. Yang tukang ngambek" sahut Aliyah.


"Jangan bawa tetangga. Nanti ayang ngambek beneran lho" balas Denis mengedipkan sebelah mata nya.


"Haiiiisss.. Bee" teriak Aliyah.


"Sayang, gimana acara Yudisium nya tadi di kampus. Lancarkah?" Denis menanyakan acara Aliyah di kampus nya.


"Alhamdulillah, lancar semua. Bee"


Alhamdulillah, kalau gitu. Semoga di lancarkan sampai acara wisuda sebagai acara pamungkas yang selama ini di tunggu-tunggu, ayang"


"Terimakasih, sayang. Do'a nya dan support yang selalu Bee berikan buat ay na" Aliyah berkaca-kaca.


"Sayang, kenapa di tekuk gitu wajah nya? Sini lihat, Bee" Denis terus melihat ke arah layar ponsel dan Aliyah pun akhir nya juga melihat ke layar.


"Memandang mu, walau selalu tak akan pernah beri jemu di hati ku. Menyapa mu, walau selalu. Masih terasa merdu bagai di awak jumpa"


Segera Aliyah membalasnya. "Tak bosan-bosan ay memandang bee. Tak puas-puas ay merindukan bee"


Tak mau kalah, Denis langsung membalas nya juga. "Hanya satu pinta, bee. Untuk mu dan hidupku. Baik-baik sayang. Ada bee untukmu. Hanya satu pinta bee. Di siang dan malam bee. Baik-baik sayang karena bee untuk mu"


Saling memandang lewat layar ponsel dan saling mengulum senyum manis kedua nya menghabiskan waktu bersama.


"Bahagia ay bila bersama bee. Tenang hati ay dalam pelukan bee. Tetap dengan bee hingga bee menua. Hingga memutih rambut bee" Aliyah menyanyikan sebait lagu.


"Sayang, pulang ya. Sekarang. Sudah malam" pinta Denis.


"Masih hujan, bee. Habis ini lah pulang. Kerjaan nya kurang sikit lagi selesai" bantah Aliyah.


"Cinta, bee tak suka di bantah. Masih ingat kah, ay na sama pesan bee waktu itu! Lagian kenapa takut hujan. Kan, ay na bawa mobil. Ngeles aja kerjaannya. Dasar bajaj!" omel Denis.


"Apa sih, bee. Ini ay na bukan bajaj. sayang" goda Aliyah.


"Malas lah, bee na debat sama ay. Bee selalu kalah"


"Iya.. Iya, bee.. Ay na pulang sekarang. Lagian, ada apa sih dengan bee?"


"Ada cinta di mata ay na buat bee" balas Denis.


"Bee... Mulai keluar gombal mukiyoh na" cibik Aliyah.


"Tak tau ay. Dari tadi hati bee merasa tak enak, ada sesuatu yang buat bee gelisah memikirkan ay na terus. Bee ngawatir sama ay na" jawaban Denis dari apa yang sejak tadi di rasakan nya. Denis hanya berdo'a semoga tidak akan terjadi hal yang tidak di inginkan pada kekasih nya.


"Terimakasih bee sudah ingat kan ay na. Sudah perhatian kan ay na. Ay na pulang sekarang juga ya bee"


"Iya, sayang. Hati-hati di jalan ya"


Kedua nya saling menutup layar ponsel masing-masing.


Langit yang tak tahan lagi dengan melihat itu semua. Memundurkan langkah kaki nya dan bergegas meninggalkan Aliyah sendiri di Cafe Lindu.


❤❤❤❤


Bersambung...