
...Kemesraan...
...By-Iwan Fals...
...Suatu hari...
...Di kala kita duduk di tepi pantai...
...Dan memandang...
...Ombak di lautan yang kian menepi...
...Burung camar...
...Terbang bermain di deru nya air...
...Suara alam ini...
...Hangatkan jiwa kita...
...Sementara...
...Sinar surya perlahan mulai tenggelam...
...Suara gitarmu...
...Mengalunkan melodi tentang cinta...
...Ada hati...
...Membara erat bersatu...
...Getar seluruh jiwa...
...Tercurah saat itu...
...Kemesraan ini...
...Jangan lah cepat berlalu...
...Kemesraan ini...
...Ingin ku kenang selalu...
...Hatiku damai...
...Jiwaku tentram di sampingmu...
...Hatiku damai...
...Jiwaku tentram bersamamu...
...❣️❣️❣️...
...Selamat membaca......
...❣️❣️❣️...
...Denis POV...
...Jangan pernah berhenti tuk selalu mencintai ku...
...Karena hanya dirimu lah yang berhak atas cintaku...
...Jangan pernah berpaling dari hatiku...
...Karena hanya dirimu lah yang pantas memiliki jiwa dan raga ku...
...Jangan pernah pergi bahkan menjauh dari hidupku...
...Karena hanya dirimu lah yang akan selalu menjadi ratu dalam kehidupanku...
...I love you more.. My Queen.....
...💓💓💓...
...Aliyah POV...
...Ku pejamkan mata ini tuk sesaat...
...Ku biarkan udara mengisi kekosongan rongga di dada...
...Dan perlahan ku hembuskan nafas yang begitu terasa sesak memenuhi rongga dada...
...Akan kah senyuman mu itu...
...Hatimu...
...Cintamu...
...Akan selalu bertahta di relung jiwaku ini...
...Rasa itu yang setiap detik, setiap waktu selalu menyentuh indah di kalbu...
...Love you too.. My king...
...💗💗💗...
Sang fajar mulai muncul di permukaan beberapa jam setelah Aliyah baru terlelap dalam tidur nya. Sinar matahari pagi menjadi alarm pagi alam yang berhasil membangun kan penghuni rumah sederhana itu yang masih terlelap.
Aliyah terbangun karena mulai merasakan pancaran sinar matahari yang masuk melalui celah celah jendela.
Namun, rasa kantuk yang begitu berat di rasa kan Aliyah, sehingga setelah menyelesaikan kewajiban nya sebagai seorang muslim, Aliyah menarik kembali selimut untuk membalut tubuh nya yang kedinginan.
**
Pagi ini Denis telah bersiap diri karena semalam ia berjanji akan mengajak Aliyah jalan-jalan pagi dan menikmati kuliner nasi baronan makanan khas dari lamongan. Bahkan saat ini, Denis tengah berdiri di depan pintu kamar tidur tuk membangunkan Aliyah.
Selang beberapa menit kemudian terdengar suara pintu di ketuk dari luar kamar.
Tok.. tok.. tok..
"Assalamu'alaikum" salam Denis dari luar kamar, tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Denis pun mengetuk kembali pintu kamar itu. Dan hasil nya tetap sama tidak ada jawaban dari dalam kamar. Akhirnya Denis memberanikan diri untuk menarik handle pintu dan terbuka. Denis celingak-celinguk mengedarkan pandangannya di dalam kamar.
"Pantas dari tadi tidak ada sahutan, ternyata ayang masih bobo' dalam balutan hangat selimut tebal yang membungkus tubuh nya" guman Denis sembari berjalan ke arah ranjang.
"Sayang, ayo bangun. Katanya mau ikut bee sarapan pagi nasi baronan." ucap Denis sambil menyingkap selimut yang membalut tubuh Aliyah dan membelai puncak kepala Aliyah. Kemudian, Denis duduk di pinggiran ranjang.
Aliyah membuka kedua mata nya perlahan, merasa ada sentuhan di kepalanya lalu turun di pipi chubby nya. Sambil mengucek kedua mata lalu mengerjap, ia pun terkejut menatap wajah Denis yang kini juga tengah menatap ke arah nya sembari menyunggingkan senyum manis nya.
"Selamat pagi, bidadari bee. Ayo bangun, sayang. Jadi ikut tak? Kalau tak mau, bee sarapan pagi sama si ntuu aja!" goda Denis sembari bangkit dari posisi duduk nya di pinggiran ranjang.
"Ahh, bee.." teriak Aliyah merajuk sambil menutup kembali tubuh nya dengan selimut.
"Makanya, sekarang ayang bangun. Mandi dulu biar segar badannya, wangi, sedap di pandang mata." kata Denis lagi.
"Tadi sudah sholat shubuh kah?." tanya Denis.
"Sudah bee, tapi ay tidur lagi habis nya masih ngantuk bee. Dingin juga hawa nya." Aliyah mengutarakan alasannya.
"Sini peluk bee na bentar, biar tak kedinginan." ucap Denis sembari memeluk tubuh Aliyah.
"Ah, ini sih maunya bee, minta di peluk pagi-pagi." balas Aliyah sambil memukul pelan dada bidang Denis.
"Emm.. Sudah bentaran aja, ntar jadi kebiasaan." ucap Denis melepaskan pelukan nya, lalu berjalan keluar dari kamar.
"Hmm" jawab Aliyah singkat.
**
Denis menunggu Aliyah di teras rumah sambil menikmati secangkir coklat panas.
Tak berselang lama Aliyah pun keluar dari kamar sudah rapi dan berjalan menghampiri Denis di teras rumah. Dan masih dengan ekspresi sedikit merajuk menoleh ke arah Denis karena sedari tadi sorot mata Denis melihat ke arah nya.
"Kenapa bee, lihatin ay kayak gitu? Tak pernah lihat cewek manis habis mandi apa?." tanya Aliyah dengan kepedean nya.
Denis terkekeh mendengar ke narsisan kekasih nya itu. Tapi, memang wajah Aliyah manis semanis bibirnya yang telah menjadi candu buat Denis.
"Ayo sayang. Ay sudah siap nih." ucap Aliyah sambil menarik tangan Denis
"Iya bentar, sayang. Bee habisin dulu minum coklat panas na. Ntuu punya ayang minum dulu, biar hangat dada na, mencegah penyakit jantung juga bisa memperbaiki mood ayang supaya lebih semangat lagi dan meningkatkan daya ingat ayang ke bee." ucap Denis memberikan secangkir coklat panas ke arah Aliyah sambil mengedipkan matanya.
Aliyah mengambil cangkir yang di sodorkan Denis ke arah nya.
"Mantap banget rasa nya, bee.. Sedap." ucap Aliyah sambil meminum coklat hangat dari cangkir yang mengeluarkan aroma harum memikat indera penciuman nya.
"Pasti lah mantap, bee kan bikin na dengan perasaan lho, yang." ucap Denis menyakinkan Aliyah.
"Dengan cinta dan kasih sayang, gitu kah bee?." sahut Aliyah mencibirkan bibir nya.
"Seratus buat ayang." ucap Denis sambil menghapus sisa coklat yang menempel di sudut bibir Aliyah lalu di jilat nya jari tersebut. "Manis kayak orang nya yang minum."
"Idiih, bee. Pagi-pagi sudah tebar pesona."
"Tak apa kan, sayang. Tebar pesona na sama kekasih bee sendiri." ucap Denis sambil mengecup bibir merah Aliyah.
"Bee.." teriak Aliyah.
"Mumpung ada kesempatan. Bee tak mau buang sia-sia." ucap Denis sambil nyengir.
"Jadi tak ini, sarapan nasi baronan na?." Aliyah memprotes Denis.
"Jadilah, sayang. Hayuk berangkat."
Selesai menghabiskan coklat panasnya. Denis dan Aliyah segera berangkat ke warung mbok Rumi untuk segera menikmati nasi baronan.
***
Setibanya di warung mbok Rumi. Denis dan Aliyah langsung memesan nasi baronan dua porsi untuk di makan di tempat.
Setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya pesanan mereka telah siap untuk di nikmati.
Beberapa menu makanan yang tersaji, kelihatan nya cukup menggugah selera makan Denis dan Aliyah. Lebih mantap lagi jika di santap dengan nasi yang masih hangat.
Denis mulai menyantap nasi beserta lauk yang ada di dalam piring nya, begitu juga dengan Aliyah. Namun, tiba-tiba datang seseorang yang mengusik ketenangan dan kenyamanan hati Aliyah.
"Hai, Denis. Kita ketemu lagi, di sini." seru Eva dengan wajah yang sangat ceria sambil duduk di samping Denis.
"Eh, iya. Eva. Pagi, sendirian aja." balas Denis.
"Hmm.. ada si lampir lagi di sini. Mimpi apa semalam aku nya sampai-sampai si lampir ini ngikutin muluh. Mana perut sudah lapar. Tapi, gara-gara lihat tuh muka si lampir jadi tak mood makan nasi baronan." gerutu Aliyah dalam hati.
"Sayang, apa bee sudah selesai makan na?." tanya Aliyah lembut.
Denis menoleh ke arah Aliyah sambil menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Belum, sayang. Emang ada apa, tergesa-gesa?." sahut nya sembari mengusap lengan Aliyah.
Makanan masih terlihat banyak sisanya di atas piring Aliyah. Namun, ia kini menyudahi makannya karena kedatangan Eva yang membuat ***** makan nya hilang seketika.
"Ay pingin pulang, bee. Kayak na lebih nikmat kalau di makan di rumah aja."
Denis tersenyum sembari menatap wajah Aliyah yang mulai cemberut.
"Ada apa nih, dengan bidadari bee? Kok tiba-tiba ada awan mendung yang bergelayut di wajah manis na ay? Coba bilang sama bee." tanya Denis yang tidak melanjutkan sarapan pagi nya.
"Ay mau pulang aja, bee. Ay tak selera makan na." jawab Aliyah sembari menundukkan kepala.
"Coba bilang sama bee. Kenapa ay tiba-tiba tak berselera makan? Kemarin katanya pingin cobain nasi baronan makanan khas lamongan. Tapi, kenapa sekarang ay minta pulang. Kan aneh, sayang?."
"Bee.." panggil Aliyah semakin manyun bibir nya dan langsung menggandeng erat tangan Denis. Ketika melihat pergerakan Eva yang ingin bermanja pada Denis.
"Sayang, sudah selesai kan makan nya, ayo pulang." rengek Aliyah.
Eva tampak tersenyum kemenangan melihat wajah Aliyah yang tiba-tiba saja terlihat berubah kesal.
"Kenapa terburu-buru, Denis. Kita kan bisa sarapan pagi bersama? Emang nya mau ke mana? Kapan lagi lho, kamu bisa temani aku sarapan pagi seperti ini?." ucap Eva yang semakin agresif mendekati Denis.
Denis hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Bingung dengan kondisi seperti ini. Bagaikan buah simalakama. Jika ia tak menuruti Aliyah untuk pulang dan segera pergi dari tempat itu karena Aliyah yang cemburu dengan hadir nya Eva. Pasti, dia tidak enak hati dengan Eva teman sekolah nya dulu. Di kira nya nanti sombong, sudah tak mau lagi berkawan dengan nya. Namun, bila tak menuruti kemauan Aliyah, pasti nanti akan terjadi banjir bandang karena airmata Aliyah akan menganak sungai, mewek, bengek, ngambek itu yang bakalan terjadi pada Aliyah.
Namun, tiba-tiba terdengar celutukan dari seseorang yang mengejutkan Denis dan Aliyah.
"Denis, lebih baik kamu pacaran sama aku aja. Bahkan aku telah siap untuk menjadi ibu dari anak-anak kamu. Daripada kamu pacaran dengan anak baru gede macam dia, yang sifatnya masih kekanak-kanakan. Yang hanya bisa ngambek, mewek, merajuk. Mana bisa dia mengurus rumah tangga nanti." Eva mengucapkan kalimat yang sangat menyakiti hati Aliyah tanpa sungkan lagi dia berucap seperti itu.
"Nih cewek, gatel banget ya. Ngucapin seenak jidat nya tanpa di pikir dulu, di saring dulu kata-katanya itu nyakitin hati orang, apa kagak. Pingin timpuk bakiak beneran ntuu mulut si lampir, biar penceng sekalian." geram Aliyah sambil mengepalkan tangan nya.
"Stop, Eva. Kamu tidak berhak mengatakan seperti itu tentang Aliyah. Membully nya, menghakimi, bahkan memojokkan Aliyah dengan ucapan itu. Hanya aku yang mengerti dan memahami Aliyah. Jadi tolong jangan pernah kamu mengatakan yang tidak baik tentang Aliyah karena kamu belum mengenal siapa Aliyah sepenuhnya." ucap Denis membalas perkataan Eva barusan yang benar-benar membuat Denis terkejut dan sedikit kecewa dengan Eva, kenapa harus terlontar kalimat seperti itu dari mulutnya. Karena perkataan seseorang itu adalah cerminan dari isi hatinya.
"Dan satu lagi, yang perlu kamu ingat. Aliyah adalah calon istri aku, ibu dari anak-anak ku dan akan tetap menjadi ratu dalam kehidupan ku. Jadi tolong jangan pernah kamu ganggu hubungan kita. Bikin bad mood, tau?." seru Denis sarkas.
Denis segera membayar makanan yang telah dia beli dan segera menggandeng erat tangan Aliyah keluar dari warung mbok Rumi.
Sepeninggal Denis dan Aliyah. Eva tetap menyunggingkan senyum manis nya di hadapan kedua nya. Namun, di hati Eva mengeram kesal. Hati nya merasa sakit saat mendengar kalimat pembelaan untuk Aliyah yang di ucapkan Denis.
***
Denis membukakan pintu mobil untuk Aliyah. Setelah Aliyah masuk dan duduk di jok mobil depan samping kemudi. Denis pun ikut masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobil. Tak lupa ia juga memakaikan seat belt untuk Aliyah dan juga diri nya. Setelah itu baru ia mulai menjalankan mobilnya.
Aliyah melirik ke arah Eva berdiri yang menatap ke arah mobil nya dari luar mobil dengan sinis. Aliyah mengerti dari tatapan sinis Eva kepada nya. Namun, Aliyah tak ambil pusing dengan sikap Eva barusan.
Kini mobil yang di kendarai Denis melaju dengan kecepatan sedang meninggal kan warung mbok Rumi menuju tempat yang telah di janjikan Denis buat kejutan kepada Aliyah.
❣️❣️❣️
Bersambung...
Tetap berikan jejak kalian kawan.. Berupa like, komen, rate bintang lima dan selalu jadikan favorit ya.
Terimakasih 🙏🤗