FORGET IT

FORGET IT
CINTA



Aliyah yang sedari tadi mondar-mandir kayak setrikaan emak-emak komplek, belum juga keluar dari kamar mandi.


"Bagaimana ini, kalau Bee meminta haknya malam ini! Aku takut! Aku belum siap!" Aliyah bermonolog sendiri.


Sudah hampir 30 menit Aliyah di dalam kamar mandi.


Denis yang sedari tadi menunggu Aliyah keluar dari kamar mandi, semakin khawatir dengan keadaan istrinya di dalam kamar mandi.


"Ini anak di dalam kamar mandi lagi tidur kah? Atau membersihkan diri! Sudah ada 30 menit, tapi belum keluar juga!" ucap Denis sambil berjalan ke arah kamar mandi. .


Tuk Tuk Tuk


"Ayang! Ayang kenapa lama kali di dalam kamar mandi?" tanya Denis penasaran.


"Ehh.. Tidak apa-apa Bee" jawab Aliyah dari dalam kamar mandi.


"Buka pintunya sekarang! Atau Bee dobrak nih!"


"Iya.. Iya Bee!" balas Aliyah dengan cepat membuka knop pintu kamar mandi.


Aliyah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan piyama handuk berwarna pink dengan rambut yang basah tergulung handuk kecil.


Dahi Denis mengernyit, "Apa istrinya sedang ingin menggoda dirinya, dengan hanya memakai piyama handuk, saat ini?"


Dengan perlahan Denis melangkahkan kakinya mendekati wanita di hadapan nya yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. "Lope." mengecup keningnya, dan membisikkan kata"Ayang seksi" membuat wajah Aliyah merah merona, bahkan dia tidak berani mendongakkan wajahnya ke arah wajah Denis.


Tatapan mata Denis semakin mendamba saat melihat isi di balik piyama handuk yang dipakai istrinya itu. Aliyah lupa tidak membawa dalaman saat masuk ke dalam kamar mandi, tadi. Sehingga kedua gundukan yang masih terlihat sintal itu sedikit menyembul.


"Ayang sengaja menggoda, Bee na kah?" Denis menggenggam tangan istrinya.


"Ay tak menggoda Bee, tapi ay tadi lupa tak bawa dalaman!" lirih Aliyah mengusap lembut punggung suaminya malu-malu.


"Sepertinya istriku benar-benar sudah siap untuk melakukan senam malam bersama Bee di hari pertama kita!" ujar Denis tersenyum.


Dengan malu-malu dan wajah yang sudah merah merona Aliyah segera mendorong tubuh Denis masuk ke kamar mandi.


"Sekarang Bee mandi dulu" ucap Aliyah sambil berlari menjauh dari suaminya.


"Embem" teriak Denis.


"Haaiss! Jangan teriak-teriak Bee sudah malam, nanti malu didengar Ayah sama Bunda!" Jail Aliyah. "Sudah mandi dulu, Bee na. Biar wangi tak bau keringat"


Kedua mata Denis membulat sempurna. "Awas saja nanti, kalau Bee sudah selesai mandi! Ayang masih banyak alasan! Bee kasih hukuman yang lebih berat!"


"Siapa takut! Wleekk!"


-


-


-


Denis keluar dari kamar mandi hanya menggenakan handuk putih yang membalut pinggangnya. Ia berjalan menghampiri istrinya yang tertidur di ranjang empuk dengan tetesan air sisa-sisa saat dia mandi. Bahkan tubuh nya terlihat dada bidang yang telanjang dengan perut yang six pack bak roti sobek serta rambut yang masih basah.


"Sayang" ia mengusap pipi chubby istrinya yang tertidur lelap. Walaupun sebenarnya Aliyah hanya berpura-pura tertidur.


"Ayo bangun jangan bohongi Bee"


Aliyah tidak bergeming sama sekali. ia tetap memejamkan kedua matanya dengan jantung yang berdetak tak karuan.


"Satu"


"Dua"


"Tiga"


"Iya Bee" jawab Aliyah.


"Siapa yang mengajari ay na berbohong pada bee?"


"Maafin ay na bee" Aliyah mengatupkan kedua tangannya di dada sambil menundukkan wajahnya yang tak berani menatap suaminya.


"Ayang sudah bukan anak kecil lagi lho! Status ayang juga sudah berubah menjadi seorang istri bee! Kenapa harus berbohong, di awal pernikahan kita, sayang!" ujar Denis.


"Ay takut bee!"


"Takut kenapa? Takut pada siapa?"


"Takut pada bee!" lirih Aliyah sembari meremas tangannya.


"Emang bee mau gigit ay na, gitu kah? Sampai sebegitu takutnya ay, hingga bohong pada bee!"


"Takut ntuu bee!" isak Aliyah.


"Kok tambah nangis! Jangan bilang mau lepas dari hukuman bee ini!"


"Bee mau hukum ay na?" tanya Aliyah menatap mata Denis ragu-ragu.


"Ya iya lah! Bee mau kasih hukuman ay na yang sudah bohongin bee!"


"Rahasia dung!"


"Bee..! Maafin ay na!" rengek Aliyah. "Ay janji tak bohong lagi!"


"Benarkah? Janji yang kek gimana itu?"


"Janji Bee! Kalau ay na bohong lagi, Bee boleh hukum ay na apa aja!" ucap Aliyah sambil menyodorkan jari kelingking nya ke arah Denis.


Denis senang sekali mendengar ucapan Aliyah, tersirat senyuman di sudut bibirnya.


"Terimakasih, sayang. Bee bahagia mempunyai istri yang penurut dan tak membangkang perintah suaminya untuk kebaikan ayang"


Denis menatap Aliyah dalam, Aliyah bisa melihat cinta tulus di mata suaminya. Dia juga merasa tak salah sudah memilih Denis sebagai pendamping hidupnya, sebagai imam dalam istana surganya.


Denis menggenggam erat tangan Aliyah, perlahan Denis membenamkan bibirnya ke bibir seksi milik istrinya yang berwarna merah muda menggoda hasrat. Menyec4p setiap inchi bibir itu, mengabsen setiap bagian-bagian dalam rongga mulutnya tanpa ada yang terlewati.


"Uuh.. Hah.." Aliyah segera menghirup oksigen sebanyak mungkin, nafasnya tersengal-sengal ketika Denis melepaskan tautan bibirnya.


"Iihhh Bee.." Aliyah memukul pelan dada bidang suaminya.


"Embem, menggemaskan! Buat Bee semakin tak sabar untuk segera pertemukan dengan Jhoni!" seloroh Denis sambil mengelap bibir seksi milik istrinya yang basah dengan Ibu jarinya. "Jangan pernah ulangin lagi, berbohong pada Bee atau Bee akan menghukum ayang dengan mempertemukan si lele jumbo Jhoni!" kekeh Denis.


Dilihatnya ekspresi istrinya yang penuh selidik ke arahnya. Denis buru-buru membungkam bibirnya yang telah menjaili Aliyah dengan tangannya.


"Tak jadilah"


"Memangnya Jhoni siapa sih, Bee?"


"Tak apa ay. Sudah jangan bahas Jhoni lagi!"


"Memangnya kenapa? Salah?" balas Aliyah cepat. Tanpa sadar ia mengerucutkan bibirnya.


Denis tersenyum manis. "Bidadari Bee, lucu banget sih, kalau lagi ngambek! Jangan salahkan Bee, kalau khilaf berulang-ulang" cetus Denis sembari membelai rambut sang istri yang tergerai. Yang membuat Aliyah malu-malu, diperlakukan manis oleh suaminya.


"Apaan, Bee?" elak Aliyah menundukkan wajahnya. Berusaha menutupi kegelisahan hatinya.


Denis semakin gemas dengan tingkah lucu istrinya. Ditoelnya ujung hidung Aliyah hingga membuat kedua mata mereka saling bertemu.


"Makin cantik aja, bini Bee kalau ngambek begini," goda Denis pada perempuan yang duduk di hadapannya.


"Ohh.. Jadi kalau tak ngambek, ay tak cantik, gitu kah, Bee?" Aliyah nyolot.


"Astaga, salah bicara nih!" Denis tepok jidat. "Alamat mundur lagi ini, si Jhoni bertengger di sarangnya"


Denis tidak mau kecolongan lagi dan tak mau semakin berdebat dengan sang istri kalau sedang ngambek. Bisa panjang urusan.


"Lihat, Bee!" titah Denis cepat.


Aliyah langsung mematuhi perintah sang suami, takut kena hukuman, jika membangkang.


Dengan tatapan ragu-ragu Aliyah menatap ke arah suaminya.


"Pernah Bee katakan ayang jelek? Pernah Bee memandang ayang hanya dari fisik?" ucap Denis sembari memegang kedua pundak Aliyah.


"Tak pernah, Bee katakan itu" jawab Aliyah sembari menggelengkan kepala.


"Pernah Bee menghina keadaan ayang sampai detik ini? Jika Bee menghina fisik ayang, berarti sama saja Bee menghina ciptaan Allah SWT! Mungkin masih banyak yang lebih cantik dan lebih segalanya dari ayang di luar sana. Tapi, kenapa Bee lebih memilih ayang sebagai pendamping Bee! Wanita yang selalu menemani Bee di saat Bee terpuruk sendiri! Hanya ay yang bisa pahami Bee, hanya ay yang bisa ngertiin keadaan Bee, posisi Bee! Dan bagi Bee, ayang adalah wanita yang selalu terlihat cantik di mata Bee. Yang selalu Bee kagumi dari kesederhanaan ayang, yang bisa memikat hati Bee! Bee tak berbohong ay! Bee hanya bercanda tertawa tadi, tak ada niatan buat ay na marah. Ayang paham maksud Bee, kan?" Denis mengatakan semua itu dengan sungguh-sungguh tidak ada kilatan berbohong di kedua matanya.


Aliyah mengangguk percaya.


"Iya Bee. Ay na percaya!"


"Terimakasih, ayang selalu bisa pahami dan buat Bee, bahagia." Denis mengecup kening sang istri.


Sungguh bahagia menikmati pemandangan di hadapannya. Denis tersenyum manis. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya. Aliyah pun tersenyum pada sang suami.


Denis semakin mendekatkan diri dengan tubuh sang istri. Tak ada jarak lagi yang tersisa di antara mereka.


"Mulai hari ini jadilah istri Bee seutuhnya, sayang!" tepat di samping telinga Aliyah, Denis berbisik dan sedikit meniupkan angin.


Degg degg degg


Suara gendang bertalu-talu. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan.


Aliyah bisa merasakan hal itu. Kikuk, pasti. Gemetaran apalagi, itu sudah pasti.


"Ya Allah, alasan apalagi yang harus aku lakukan untuk menunda semua ini. Apakah hari ini harus berakhir? Tugasku menjaga gawang kesebelasan Deltras Sidoarjo dapat di bobol kesebelasan Persela! Ohh.. Aku pasti tidak dapat menolaknya! Tapi aku juga takut, jika disuntik dengan jarum pentul!" pikiran Aliyah terbang ke sana kemari.


"Cinta..!" panggil Denis lembut.


❤❤❤❤


Bersambung...


Jangan lupa bahagia gaes! Kalaupun tak bahagia, berpura-pura lah bahagia. 😂😂😂


Jangan lupa like komen rate bintang lima juga.. 🙏🏻❤❤