FORGET IT

FORGET IT
Lima



Cahaya matahari masuk melalui celah dijendela. Tidurku mulai terganggu namun masih enggan untuk bangun. Tidak ada energi untuk hal itu sekarang. Mataku hanya terbuka sebelah. Rasanya aku memeluk seseorang. Rupanya aku memeluk Taehyung, kepalanya tepat didepan dadaku.


Jadi semalam itu bukanlah mimpi? semua hal konyol yang terjadi semalam itu nyata? Heh... mati saja kau Calistha, hidupmu makin menyedihkan saja.


Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 05.38, ini masih pagi tapi perutku sudah keroncongan saja. Mungkin karena aku muntah tadi malam. Aku sedikit mengerakkan tubuhku, pelan-pelan mengeserkan diri agar Taehyung tidak terganggu. Kubalikkan badan kesebelah kanan supaya bisa meregangkan tubuhku. Namun aku melupakan sesuatu, Yoongi juga tidur disebelah ku. Ckk... ini sungguh sempit karena tidur bertiga. Tapi aku merasa nyaman semalam.


Kupandangi wajah pria didepan ku, dia sangat tampan, dulu Tuhan mungkin menciptakan dia dari gula putih kah, mengapa dia begitu manis. Sungguh pahatan yang sempurna. Aku terus memandanginya, ujung bibirku melengkung keatas. Sepintas aku ingat kegilaan semalam, mereka semua ahli diatas ranjang terutama pria yang tidur didepan dan dibelakangku sekarang ini. Mataku masih setia menelusuri setiap inci wajah itu. meskipun dia terlihat angkuh tapi aku merasa dia tidak seperti kelihatannya. Aku ingat sekali dia dan temannya yang lain membantuku saat masa sulit berhadapan dengan Wahyu dan Vinata. Aku tak menyangka mereka begitu pengertian. Tapi dengan gilanya aku bercinta dengan tujuh orang sekaligus. Calistha kau sudah rusak, sekarang tak ada lagi yang kau punya. Kamu sudah tak mempunyai harga diri dan kehormatan untuk dibanggakan lagi.


Mataku mulai berair. Aku tak menyesali ini. Tapi aku meratapi nasibku yang begitu buruk. Aku tak punya tempat untuk bersandar, bahkan orang yang ku sayangi sekarang bersama dengan orang lain. Dengan pelan aku mencoba untuk duduk, perlahan ku sandarkan punggung dikepala ranjang. Ku hembuskan nafas kasar. Tak ada gunanya aku menangis sekarang. Tak ada tenaga untuk meratapi semuanya, bahkan untuk bangunpun rasanya sulit, badanku sakit semua. Aku sangat lapar, jadi aku memutuskan untuk pergi kedapur.


Kusibakkan selimut dikakiku, perlahan mengeser kepinggir bagian depan ranjang.


Pergerakkan ku dihentikan oleh Taehyung dan Yoongi.


Taehyung menggeser tubuhku dengan kaki kirinya ke tengah-tengah. Dengan mudahnya ia lakukan itu karena kakinya yang panjang dan kokoh. Sedangkan Tangan Yoongi melingkar diperut rampingku. Kepala mereka berdua didekat bokongku.


"Mau kemana? apa kau masih ada tenaga untuk lari? " ucap Taehyung.


"Kau salah, aku tak ingin lari. Aku hanya ingin kedapur membuatkan sesuatu untuk mengisi perutku yang lapar"


"Apa kau ada tenaga untuk itu? " Ucap Yoongi.


"em, tidak sih. Hanya saja tak ada pilihan lain. Cacingku teriak dari tadi ingin diberi makan"


Tak...


"Aww, yakk.. Kim Taehyung... kenapa kau menjitakku "


"Bodoh, kau ingin kedapur dengan kondisi seperti ini? yang ada kau malah membuat kami kerepotan . Bisa saja kau malah pingsan disana dan bukannya memasak untuk mengisi perutmu" Aku diam mendengar perkataan Tae, yang dia katakannya benar.


"Sudah kau disini saja jangan kemana-mana, biasanya Seokjin sudah bangun jam segini membuatkan sarapan . Kita tunggu saja"


ucap Yoongi dengan mata yang masih tertutup dan tangannya masih saja melingkar diperut ku, lebih tepatnya dipinggangku.


Taehyung juga tak ingin kalah, tangannya kini melingkari kedua pahaku. Entah mengapa aku tidak keberatan dengan perlakuan mereka.


Ini lucu, aku merasa mempunyai bayi. Bayi besar yang tampan. Aku mengelus lembut kepala mereka berdua, ettt... apa yang kulakukan? kuhentikan aktivitas mengelus kepala mereka.


"Kenapa berhenti? lanjutkan saja seperti tadi" ucap Yoongi.


"Benar, lanjukan lagi" timpal Taehyung sambil meraih tanganku dan meletakkan diatas kepalanya.


"Huh... seperti bayi saja" kulihat mereka tersenyum mendengar perkataan ku. Aku mengelus kepala kedua bayi besar itu. Ujung bibir ku melengkung keatas karena melihat mereka berdua menikmati sentuhan dariku.


Beberapa menit kemudian.


krekkk...


Yang kutunggu-tunggu sudah datang, Seokjin masuk membawa nampan. Aku tersenyum sumringah melihat kehadirannya.


"Kenapa tersenyum seperti itu? aku tahu aku tampan, cepat hapus ilermu ! " aku memutarkan mata jengah, namun masih tersenyum.


"Makan ini dan habiskan jangan sampai tersisa sedikitpun"


Seokjin memberiku nampan nya langsung. Aku bingung, ini terasa rumit karena makan diatas kasur.


"ckk, sinikan nampannya"


Seokjin mengambil nampan itu dariku.


Apakah barusan Seokjin mengomeli Taehyung dan Yoongi? Entah lah.


"Ayo bangun" ucap Taehyung sambil mengoyangkan bahu Yoongi.


😑 (Yoongi)


"Yoongi bangunlah, yang lain menunggumu untuk sarapan" ucap ku halus sambil menyisirkan rambutnya dengan jari tanganku.


"Aku mau bangun asal kau menciumku dulu"


Ucap Yoongi sambil mengeser kepalanya keatas pahaku.


Ini.... Kulirik Seokjin sebentar seolah meminta pendapat. Dan seokjin mengangguk.


"Baiklah, asalkan kau bangun dan cepat sarapan" kataku sambil mengelus bibir Yoongi.


Cuppp


"Sudah, cepatlah bangun aku juga sudah lapar" ucapku yang tidak sepenuhnya berbohong. Padahal pipiku sudah memerah sekarang karena malu.


Yoongi mengulaskan senyum dan tiba-tiba dia menarik leherku. Sekarang wajah kami begitu dekat.


"ehmmm.... Yoongi...emmm... hentikan. Kau curang" ucapku disela Yoongi menciumku.


.....


Kini didalam kamar hanya tinggal aku dan Seokjin. Wajah ku merah bak kepiting rebus, akibat ulah Yoongi tadi. Kecanggungan ini tak lama, karena Seokjin menyuapiku dengan serius. Dia baik sekali, sifatnya cocok dengan wajah tampan yang ia miliki.


Aku terus memperhatikannya, tanpa sadar makanan ku telah tandas dari tadi.


"Sudah cukup terpesonanya? "


Perkataan Seokjin menyadarkan ku dari kekaguman yang kurasa.


"Ehhh, tidak. Siapa yang terpesona? aku tidak... " ucap ku tak mengakui. Namun mataku tak bisa kompromi.


Mata hitam bulat bening milikku seakan sudah masuk pusaran netra hitam pekat miliknya. karena gugup, mataku mengerjab beberapa kali.


Mungkin Seokjin gemas melihat kelakuanku itu, dia meraih daguku. Dikecupnya bibirku, kemudian melumatnya habis. Ciuman ini sangat menuntut membuatku juga larut dalam cumbuan panas ini. Kami ciuman agak lama karena hanya kami berdua didalam kamar itu.


Hingga terdengar deheman seseorang akhirnya membuatku tersadar, ciuman kami berhenti.


"Ehemmm.. " orang itu tersenyum kaku pada kami, dia mengunakan celana santai bercorak bulu dan kaos berwarna yang sepadan pagi ini. Dapat dari mana dia baju itu? aku tak punya pakaian laki-laki satupun dilemari. Mungkin dia membelinya tadi. Ah sudahlah, apa yang kupikirkan. Itu tak penting juga.


Pria itu Kim Namjoon. Pria berperawakan tinggi itu terlihat Fress pagi ini.


"Kau sudah mandi? Tanya Namjoon padaku.


Aku menggeleng.


"Belum, aku baru selesai sarapan".


"Apa tubuhmu sudah baikan, maksudku kau bisa berjalan sekarang? "


Pertanyaan itu terdengar lucu.Tentu saja tidak, kalian pikir gara-gara siapa aku begini?.


"Belum kucoba, tapi sepertinya aku tak bisa berjalan jauh untuk sementara. Untuk sekedar mandi aku masih bisa memaksanya".