FORGET IT

FORGET IT
Sangat Lindu Bee



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca..


❀❀❀❀


Aliyah tersadar dari mimpi buruknya dan pengaruh dari obat yang di suntikan ke tubuhnya berangsur hilang. Ia segera turun dari ranjang pasien. Kondisinya kini sedikit lebih baik dari kemarin.


"Bee.. Sayang. Di mana bee? Aku mau cari bee!" Aliyah berjalan tertatih-tatih dengan membawa botol infus yang masih menancap di tubuhnya, jarum dan selangnya.


Bunda yang dari semalam menemani Aliyah segera mencegah langkah putrinya yang nekat ingin menemui Denis.


"Sayang, mbak Aliyah jangan di paksakan dulu badannya. Lebih baik mbak Aliyah banyak istirahat saja. Denis kondisinya juga sudah baikan" Bunda Aliyah berusaha menghalangi.


"Tapi Bunda, Aliyah ingin melihat keadaan bee" Aliyah tetap saja melanjutkan jalannya, tak mendengarkan ucapan Bunda.


Zudith yang baru masuk ke dalam kamar rawat inap Aliyah kaget melihat kakaknya yang nekat berjalan keluar ruangan. "Mbak Aliyah mau ke mana? Jangan ngeyel kalau di bilangin!"


"Mbak Aliyah mau cari Bee" Aliyah sedikit kesusahan jalannya.


"Mbak Aliyah itu emang ratu ngeyel plus bandel! Minta Zudith tabok apa! Kalau akak Denis tau pasti marah lihat mbak Aliyah seperti ini!" omel Zudith.


"Mbak Aliyah hanya ingin ketemu Bee! Gitu aja tak boleh" cemberut Aliyah.


"Sudah enggak usah merengek seperti anak kecil. Balik lagi ke ranjang, sana!" titah Zudith.


"Siapa kayak anak kecil! Haah. Siapa yang kamu maksud!" pekik Aliyah dengan mata yang sudah berembun.


"Aku cuma ingin melihat kondisi Bee, ntuu aja! Tak boleh kah, aku memastikan kalau Bee sekarang ini, kondisinya baik-baik saja!" lirih Aliyah yang mulai terisak.


"Mbak Aliyah hanya ingin melihat Bee. Tapi kenapa kamu menghalangi mbak Aliyah untuk bertemu dengan Bee? Atau jangan-jangan Bee? Tak, tak mungkin lah, Bee pergi ninggalin Ay na (meninggal dunia)" Aliyah terus membayangkan yang tidak-tidak tentang kondisi Denis sekarang ini.


"Mbak Aliyah itu bicara apa sih! Jangan ngacau lah! Akak Denis baik-baik saja kondisinya sekarang" ucap Zudith sembari memegang tangan Aliyah.


"Mbak Aliyah malas lihat kamu! Sudah sana pergi jauh-jauh dari pandangan mbak Aliyah!" dengan kasar, Aliyah segera menghempaskan tangan Zudith sembari membuang muka.


"Kamu tak tau rasanya hati mbak Aliyah itu gimana saat ini! Sebelum lihat sendiri keadaan Bee!" cemberut Aliyah.


"Jadi mbak Aliyah enggak percaya sama omongan Zudith! Zudith ini adiknya mbak Aliyah lho. Enggak mungkin lah Zudith berbohong tentang kondisi akak Denis!" ujar Zudith.


"Sudah-sudah jangan mulai bertengkar! Kalau enggak ada di cariin, tapi kalau bertemu kayak Tom and Jerry" ujar Bunda Aliyah.


"Boleh ya, Bunda! Please, Mbak Aliyah lindu Bee" mohon Aliyah pada Bunda nya.


"Hmm" balas singkat Zudith.


"Tuh dengar sendiri jawaban dari adik kamu" jawab Bunda tersenyum.


Hingga tiga puluh menit berlalu. Zudith merasakan lapar mulai menyerang. Segera dia beranjak keluar dari ruangan Aliyah.


"Mbak Aliyah istirahat dulu saja. Jangan terlalu banyak mikirin hal-hal yang buruk tentang akak Denis. Nanti tambah pusing kepalanya. Sekarang baring dulu saja, biar segera pulih kesehatannya. Zudith mau keluar sebentar mau cari makan, sudah dangdutan ini perut" jelas Zudith panjang kali luas.


Sedangkan Aliyah yang sedari tadi hanya berpura-pura memejamkan matanya untuk mengelabui Bundanya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada kekasih hatinya.


Bunda yang tertidur di sofa, akhirnya memberikan peluang untuk Aliyah kabur dari pengawasan.


Ia menurunkan kakinya sangat pelan sekali, agar tidak terdengar oleh sang Bunda. Lalu mencabut jarum yang masih menempel di tangannya. Sambil berjalan tertatih-tatih, Aliyah keluar dari ruangannya menuju kamar inap Denis.


...🌺🌺🌺🌺...


Dengan langkah yang sangat pelan dan sedikit tertatih, Aliyah terus berjalan menyusuri kamar demi kamar dengan langkah yang pasti. Hingga akhirnya sampai juga di kamar inap Denis.


Aliyah memegang handle pintu dan mendorongnya pelan.


Ceklek...


"Hahaha, bisa saja masnya ini" ucap perawat perempuan yang sedang berhadapan dengan Denis. "Masnya ini ganteng lho, masa belum nikah?"


"Beneran lho, mbak. Kenapa mbaknya tak mau?" Denis semakin mengeraskan suaranya, sengaja memanas-manasi Aliyah agar cemburu.


Sementara Aliyah yang berdiri di depan pintu sedikit kaget dan shock dengan pemandangan di hadapannya.


"Ya Allah, kurang ajar banget nih sih Bee. Minta di tabok apa! Ngerayu cewek lain depan mataku" gumam Aliyah dalam hati menghadapi kenyataan pilu.


Bruukk..


Denis dan perawat perempuan itu langsung terjengkit kaget mendengar suara pintu yang di tutup dengan kerasnya oleh seseorang yang pasti sedang marah, karena sudah terlihat dari cara membanting pintu itu.


"Ayang, kenapa?"


"Tak apa! Lanjut lagi aja, mesra-mesraannya!" sungut Aliyah mengerucutkan bibirnya maju satu senti dan hendak berlalu pergi dengan membalikkan badannya.


"Satu langkah aja, Ay na keluar dari kamar ini, fix Ay na tak sayang lagi sama Bee na!" ancam Denis.


"Siapa yang tak sayang Bee na! Ay lagi kesel tau!" Aliyah merajuk lalu menyilangkan ke dua tangannya di depan dada. "Huuh"


"Ntuu" jawab Aliyah sambil memberikan kode pada Denis.


"Apa yang ayang maksud, Bee na tak faham lho? Sini dekatan ke Bee! Tak lindukah Ay na sama Bee?" ucap Denis sambil merentangkan kedua tangannya.


"Lindulah Bee, sangat lindu Bee na! Tapi apaan ntuu ada sudah ada dia, pasti Bee tak lindu sama ay na lagi!" ketus Aliyah dengan nada bicara yang kurang bersahabat terdengar di telinga.


"Maaf, sudah selesai. Saya permisi dulu" tiba-tiba perawat perempuan itu berpamitan setelah mengganti perban yang melingkar di perut six pack Denis.


"Iya mbak, terimakasih ya sudah di bantuin ganti perbannya" ucap Denis santun kepada perawat perempuan itu.


"Permisi mbak" pamitnya pada Aliyah yang masih berdiri di depan pintu.


"Hmm, seneng ya bisa pegang-pegang roti sobek" ketus Aliyah lagi.


Denis menatap ke arah Aliyah. "Sayang, sudah ahh marah-marahnya. Sini peluk Bee nya. Kalau tak mau, Bee peluk yang lain aja lah"


"Aahhh, Bee..!" suara teriakan Aliyah langsung menggema di ruangan putih itu.


Aliyah menghambur ke pelukan Denis.


Buughh..


"Auuw, sakit ayang" pekik Denis karena lukanya di perut tertabrak tubuh Aliyah.


"Utututu, sakit ya? Kalau di pegang sama perawat tadi tak sakit ya, Bee?" lagi-lagi terdengar suara protes dari Aliyah.


"Apaan coba, ini ayang na kan kenceng banget lho nubruk Bee na"


" Tadi kata na di suruh peluk, gimana sih Bee ini? Ya sudah Ay na jauh-jauh aja" ketus Aliyah sambil memundurkan tubuhnya dari Denis.


"Sayang.. udahan lah kalau ngambek. Bee beneran lindu Ay na lho" Denis mengulurkan tangannya ingin menggapai tubuh Aliyah.


"Ngaku aja lah Bee. Tadi Ay na denger sendiri Bee rayu-rayu perawat ntuu"


"Mana ada, sayang!"


"Tak usah bohong, dosa lho Bee!"


"Beneran sayang, siapa yang ngerayu perawat itu. Mungkin perawatnya aja yang kesemsem sama Bee. Bee kan manis kayak gulali" goda Denis yang semakin membuat marah Aliyah.


"Kan kan, Bee na bohong!" cibik Aliyah memutar tubuhnya membelakangi Denis.


"Sudah merajuknya, sini peluk Bee. Lindu tau satu bulan tak ketemu Ay na"


"Bodo" ketus Aliyah.


"Ohh, Bee bodo gitu kah? Emang iya Bee sekarang jadi bertambah bodo karena tak bisa memikirkan yang lain. Pikiran Bee hanya penuh dengan Ay na"


"Ngeles muluh Bee na!"


"Sayang.. Sudah merajuknya ya. Bee minta maaf. Sudah sini cepet dekatan Bee sebelum Bee di kerubungi semut lho" jail Denis.


"Apa hubungannya Bee dengan semut?" tanya Aliyah yang tanpa sadar ia mendekat ke arah Denis.


"Ada lah hubungannya sama Bee. Karena Bee terlalu manis kalau di anggurin terus" jawab Denis sembari merengkuh tubuh Aliyah ke dalam pelukannya.


"Idiih, Bee main curang"


"Satu kosong, sayang" ucap Denis mencium kening Aliyah.


"Menang banyak, dung. Bee na"


"Biarin, kan Bee sudah ada bilang kalau sangat lindu Ay na. Ay na tak lindu kah sama Bee?"


"Sangat, sangat lindu Bee na. Tiap malam Ay na tak bisa bobo' Bee di sana. Ay na takut" ujar Aliyah.


"Maafin Bee na ya sayang, yang lambat menemukan Ay na"


"Tak apa Bee, sekarang kan sudah berkumpul kembali"


"Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan hidup kepada kita. Aamiin"


"Hmm.. ternyata tersangkanya di sini! Sudah cepat nikah saja kalian berdua! Apaan Bunda di tilap terus sama mbak Aliyah" ujar Bunda yang tiba-tiba masuk ke kamar inap Denis.


"Peace, Bunda. Damai kita" ucap kompakan Denis dan Aliyah.


"Enggak pakai damai, keluar dari rumah sakit bawa orang tuamu ke rumah Bunda buat ngelamar Aliyah! Ini perintah enggak ada tawar menawar" titah Bunda.


"Ashiiiaap, Bunda" ucap Denis lantang.


"Bee.."


🌺🌺🌺🌺


Sampai sini dulu ya gaes jangan lupa tetap like komen rate bintang lima favorit..


Law ada sisa poin di brangkas boleh lah di lempar ke Aliyah ❀ Denis mawar dan secangkir kopi biar cepat nikah mereka.. πŸ™ˆπŸ€­πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ