
Sebelum pulang ke rumah Denis. Mereka berdua mampir dulu ke tempat bakso remaja yang terkenal ramai pengunjung karena rasa nya yang enak dan murah meriah.
"Bee.. Mampir makan dulu bakso di situ yok. Kayak na enak lho, bee." ujar Aliyah pada Denis, di saat perjalanan pulang kembali ke rumah Denis dengan menunjukkan warung bakso yang masih terlihat ramai pengunjung. Walaupun jam sudah menunjukkan hampir pukul 22.00 malam.
"Serius?." Denis bertanya ke Aliyah tak percaya. Aliyah mengangguk.
"Serius" jawab Aliyah sampai mengacungkan jari nya berbentuk huruf V tanda kalau ia serius dengan keinginan nya barusan.
"Ayang mau kah?." tanya Denis lagi.
"Mau, bee." Aliyah menatap dengan tatapan yang penuh harap agar kekasihnya itu mau menuruti nya.
"Ya sudah, bee cari parkir dulu ya." ujar Denis akhirnya menuruti juga keinginan kekasih nya.
Aliyah mengangguk kegirangan. Sesaat setelah Denis memarkirkan dengan sempurna mobilnya. Denis mengajak Aliyah untuk makan bakso di sebuah warung bakso remaja.
"Bakso jumbo dua porsi. Es jeruk manis satu sama es campur satu porsi." pesan Denis pada penjual bakso remaja. Ketika mereka telah sampai dan duduk di tempat tersebut.
"Bee.. ay mau na bakso mercon, bukan bakso jumbo." protes Aliyah karena Denis memesankan bakso jumbo untuk nya.
"Emang ayang kuat pedas? Dalam nya ntuu banyak cabe na, yang!." tanya Denis pada kekasih nya.
"Kuat, dung. Ay biasa na makan bakso mercon di tempat pak sabar langganan ay." ujar Aliyah dengan penuh percaya diri banget.
"Ayang, jangan banyak makan makanan yang pedas. Nanti perut ayang na sakit." larang Denis.
"Pokok na ay tahan pedas. Ay na mau na bakso mercon, bee." pintar Aliyah sekali lagi kepada Denis sambil merengek memohon agar permintaan nya itu di kabulkan Denis.
"Tak boleh! Kali ini, bee tak akan meloloskan permintaan ayang. Titik.. Bee tak mau di bantah." ujar Denis kekeh menolak nya.
"Sayang, please.. Boleh ya, ay makan bakso mercon." pinta nya lagi sambil bergelayut di lengan Denis.
"Tak boleh! Makan bakso jumbo atau kita balik sekarang aja, tak jadi makan bakso apa pun." titah Denis demi menjaga kesehatan kekasih hati nya.
"Iya.. Iya, bee. Ay makan bakso jumbo aja. Tapi bee jangan marah kayak gitu." ucap Aliyah akhirnya nurut dengan perkataan Denis. Walaupun ujung bibirnya berbentuk lancip.
"Nah, gitu baru ayang na bee Denis, yang manis dan penurut bukan nya pembangkang." ucap Denis sambil mengelus pucuk kepala Aliyah.
Sambil menunggu bakso yang telah di pesan nya. Mereka pun berbincang asik. Tak selang beberapa menit, bakso pesanan nya itu pun tiba dan siap untuk di nikmati.
"Waw.. Mantap banget nih bakso na.. Sedap." Aliyah memperhatikan mangkuk nya yang berisi bakso jumbo dan menghirup kuah nya.
"Ayang sanggup menghabiskan bakso nya itu?." tanya Denis.
Aliyah bersiap makan dengan menambahkan sambal pada bakso nya dengan beberapa sendok sambal. Namun, dengan cepat Denis memberhentikan tangan Aliyah yang akan menambah kan kembali satu sendok sambal ke dalam mangkuk nya.
"Stop! Sudah segitu saja. Nanti ayang kepedasan." larang Denis.
"Kurang satu kali, bee." pintah Aliyah.
"Tak boleh." kekeh Denis dan akhirnya Aliyah pun menuruti nya.
Keduanya tampak sangat menikmati makanan yang kini ada di hadapan mereka.
"Hah, pedas sangat." ujar Aliyah seraya mengibas-ngibaskan tangan di bibirnya.
"Hmm" jawab Denis singkat.
"Tadi awal nya biasa aja, bee." lanjut nya lagi.
"Apa bee bilang tadi, maka nya tak usah banyak-banyak sambal. Jadi kepedasan kan, sekarang!." ucap Denis sambil meraih tisu di depan nya lalu mengelap peluh yang menempel di dahi Aliyah.
"Tapi, bakso nya enak banget, bee." ujar Aliyah yang terus menikmati baksonya dan sesekali menghirup kuah bakso nya.
"Sudah jangan di lanjut makan nya kalau kepedasan."
"Huuuh, haah, ssshh." Aliyah merasakan sensasi pedas di lidah nya.
Setelah bakso tersebut habis. Kini, Aliyah berganti menikmati es campur yang sudah menanti nya untuk di santap. Sedangkan Denis membayar makanan yang telah mereka nikmat.
Setelah selesai semua nya. Mereka pun beranjak menuju tempat parkir mobil.
"Ingin muntah lihat itu muka."
Sebuah suara mengejutkan terdengar. Denis dan Aliyah menoleh ke arah sumber suara berasal.
"Woi.. Gaya nya sok polos, sok lugu asli nya perebut cowok orang!." Maya berteriak pada Aliyah di depan umum.
"Apa?." sela Aliyah.
"Kamu! Bocil bau kencur yang sudah merebut cowok aku!." ucap Maya mendekati Aliyah.
"Apa salahku padamu? Apa dosaku pada mu? Kenapa kau melimpah kan semua kesalahan mu padaku?." ujar Aliyah seraya meluapkan kekecewaan nya pada si duo racun.
"Dasar ******!." ucap Maya dengan volume dan nada yang tinggi ke arah Aliyah.
******?
Itu adalah sebutan yang terdengar mengejutkan di telinga nya saat ini. Aliyah menoleh sekilas dari bahu nya. Ia dapat melihat dengan jelas wajah maya yang mengaku sebagai kekasih Denis.
Aliyah memutar haluan. Ia kembali lagi mendekati si maya yang tak tau malu.
"Apa yang baru saja kau sebutkan padaku. ******? Wanita perebut kekasih orang? Wanita penggoda? Apa kau telah memikirkan baik-baik kata yang kau sebutkan untukku? Jangan tolol! Jangan sok suci dengan kelakuan kamu! Bukan kah kau yang perawan tua? Kau bingung dengan siapa kau akan menikah karena telah di kejar oleh usia mu! Kau malu dengan semua orang karena predikat yang kau sandang saat ini. Hingga seperti itu perlakukan mu kepadaku! Ingat dan camkan di otak kamu! Aku bukan ******! Aku bukan wanita perebut kekasih orang! Aku bukan wanita penggoda! Dan satu kata untuk mu wanita munafik UBAH.
"Ubah lah sikapmu itu! Ubah lah kata-kata mu itu! Ubah lah hati mu dari rasa iri dan dengki, jika kau melihat seseorang yang bahagia! Ubah lah kata-kata mu yang suka menggunjing orang lain! Bercermin lah pada kaca yang besar, hingga kau tau di mana letak kesalahan dan kekurangan kamu sebelum kamu mencela seseorang! Jangan biarkan penyakit hati itu menggerogoti hingga ke tulang, meracuni darah yang mengalir ke seluruh tubuhmu dan berakhir pada penyesalan yang tak berujung karena di campakkan oleh orang-orang terdekat kamu! Jangan lunturkan sifat kelembutan seorang wanita hanya dengan keegoisan dan emosi sesaat. Aku meminta ma'af jika ada salah kata dan perbuatanku!." pungkas Aliyah. Sekali putar langkah kakinya sudah tertuju pada tujuan akhir. Yaitu pintu keluar.
Aliyah benar-benar pergi meninggalkan si duo racun tanpa menoleh lagi.
🍃🍃🍃
bersambung...
...DUKUNG SELALU AUTHOR BENGEK INI DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...RATE BINTANG LIMA...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH BANYAK PEMBACA TERSAYANG...
...❤❤❤...