
Jumpa lagi para readers kesayangan... ππ
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca..
β€β€β€β€
...Ku mencintai mu setulus hatiku...
...Ku menyayangi mu semampu hidupku...
...Tunggulah kasih demi cinta ini...
...Tetap tersenyum jangan kau bersedih...
...Bersabarlah kasih...
...Ku pasti kembali...
...Tuk tepati janji yang dulu ku beri...
...Yakinlah kasih demi cinta ini...
...Tak kan terpisah walau sampai mati...
...πΊπΊπΊπΊ...
"Zudith segera hubungi Pak Handoko agar lebih cepat mengarahkan anak buahnya ke sini. Dan segera menangkap Awan yang telah menculik Aliyah selama ini" titah Denis kepada Zudith dengan tetap fokus ke arah jalan di depannya.
"Siap akak Denis. Ini Zudith sedang menghubungi Pak Handoko dan share lokasi" jawab Zudith seraya menekan no kontak Pak Handoko.
Hampir dalam sebulan ini. Awan menyekap Aliyah dengan berpindah-pindah tempat. Denis dan Zudith telah mengawasi gerak-gerik Awan yang selalu mencurigakan.
Dan kali ini keyakinan Denis semakin bulat untuk bisa menangkap Awan dan segera membebaskan Aliyah dari sekapan sang mantan yang terobsesi cinta Aliyah.
"Bersabarlah, sayang. Bee pasti menyelamatkan Ay. Tunggu dan bertahanlah demi cinta kita yang tulus suci ini. Bee datang kepadamu hanya untuk bidadari, Bee. Yaa Allah Lindungilah kekasih hamba, belahan jiwa hamba, tulang rusukku yang hilang satu ada pada diri Aliyah. Dengar dan kabulkan semua do'a-do'a hamba. Yaa Allah. Yaa Rasullullah" Denis terus berdo'a dalam hatinya untuk keselamatan sang pujaan hatinya.
Denis memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi yang mengikuti mobil Awan di depannya dan tetap melafalkan nama Allah. Mulutnya tiada henti berdo'a bertasbih menyebut nama Allah dan Rasulullah.
Hari ini Denis harus menjadi pembalap tapi tidak di arena sirkuit, melainkan di jalanan untuk mengejar sang penculik Aliyah kekasih hatinya. Ia sangat khawatir dengan keselamatan Aliyah.
Zudith masih sibuk dengan ponselnya. Ia kembali mencoba menghubungi nomor pak Handoko petugas kepolisian yang menangani kasus penculikan Aliyah.
Namun sayang sekali mobil yang di kemudikan Denis terhalang dengan lampu merah yang menyala. Menandakan harus berhenti. Tapi cinta Denis tetap berkobar untuk Aliyah tak kan terhenti walau terhadang lampu merah.
"Acemm.. Pakai nyala duluan lagi lampu merah nya. Bisa kehilangan jejak kalau begini" dumel Denis sembari memukul setir bundarnya.
Ketika lampu hijau sudah menyala.
Denis dan Zudith menyusuri jalan raya kembali mencari jejak Awan. Denis menekan pedal gas dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya kini hanya tertuju pada wajah cantik kekasih yang akan di halalkan nya. Senyum yang telah lama ia rindukan tak pernah terlihat lagi semenjak kasus penculikan Aliyah.
"Sayang kamu di mana, bidadari bee? Kasih sinyal lewat telepati hati bee nya" Denis bermonolog sendiri sambil tetap fokus ke depan melihat mobil yang lalu lalang di depannya.
Mobil warna hitam milik Zudith yang di kemudikan Denis terus melaju di jalan raya. Dengan sangat lincah dan lihai Denis menyalip beberapa mobil yang ada di depannya tanpa mengurangi kecepatan. Denis tetap menginjak pedas gas dengan kuat. Di saat ada kesempatan Denis langsung menyalip kembali mobil yang ada di depannya. Dan dia berhasil menyalip mobil tersebut. Yang di perkiraan ada Aliyah dan Awan di dalam mobil sport itu. Zudith yang hafal betul dengan nomor plat mobil Awan, langsung berteriak ke arah Denis.
"Itu mbak Aliyah, akak Denis. Pasti mbak Aliyah ada di dalam mobil sport milik Awan" teriak Zudith sambil menunjuk mobil sport warna merah yang ada di depan mobil mereka.
Tin.. Tin.. Tin..
Denis menekan klakson mobilnya tanpa henti. Namun, Awan tak menghiraukan klakson yang di bunyikan Denis. Ia tetap melajukan mobil sport nya.
Tepat di persimpangan jalan. Mobil mereka di hadang oleh bodyguard Awan.
Salah satu pria yang bertato mengedor kaca mobil yang di kemudikan Denis sambil tetap merokok. Dan menyemburkan asap rokok di kaca mobil.
"Woi turun kamu! Lawan kami jika kamu benar-benar laki-laki! Hahaha" ejek lelaki itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Segera Denis menaikan reselting jaket yang di pakainya hingga ke leher.
"Persiapan dirimu untuk kita berolahraga mengerakkan badan, saat ini" ucap Denis kepada Zudith yang duduk di samping nya.
"Siap akak Denis. Mari kita berolahraga bersama, melemaskan otot-otot" jawab Zudith antusias.
Sebelum keluar dari mobil mereka berdua telah mengambil ancang-ancang.
Satu.. Dua.. Tiga.. dalam hitungan ketiga. Mereka berdua keluar dari mobil.
Denis mendekat ke para bodyguard yang badannya masih segar-segar seperti buah yang baru turun dari truk pengangkut buah di pasar buah. Ia telah mempersiapkan semuanya.
Buugh...
Pukulan mendarat di perut salah satu bodyguard yang akan memukul Denis. Namun, gerakan dia telah terbaca oleh Denis. Sehingga Denis bisa menangkis dan berubah arah ia yang mendaratkan pukulan terlebih dulu ke perut pria yang bertato itu.
Denis dan Zudith sangat terlihat bersemangat, sudah lama mereka tidak berolahraga bersama. Tendangan, tinju dan sabetan tongkat dari bambu. Meremukkan tulang, membuat memar di sekujur tubuh dan menghancurkan wajah mereka hingga tak berbentuk.
Zudith menghadiahkan kembali satu tendangan ke arah wajah bodyguard yang sok kuat dan bertahan.
"Hiaaaaaat.. Rasakan ciuman dari sepatuku yang belum di cuci" teriak Zudith dengan mengarahkan kaki kanannya ke muka bodyguard yang berkepala plontos itu. Hingga mereka terkapar di jalanan beraspal.
Mereka berdua sedikit menarik nafas lega ketika dua mobil dari kepolisian datang dan menangkap para bodyguard suruhan Awan.
Kini, saatnya melanjutkan perjalanan untuk menemui target utama. Yaitu menuju persembunyian terakhir Awan membawa Aliyah.
...πΊπΊπΊπΊ...
Hanya lima belas menit, Awan dan Aliyah sudah sampai ke vila milik Awan pribadi.
"Ayo cepat turun! Mau mampus kamu di dalam situ" ucap kasar Awan yang menatap tajam ke arah Aliyah. Karena Aliyah bersikukuh tak mau turun dari mobil Awan.
"Biar aja sekalian aku mampus daripada harus bersama orang gila seperti kamu!" kesel Aliyah yang melengos membuang arah pandangannya.
"Ayo turun!" Awan menyeret tangan Aliyah dengan kasar.
"Awan lepaskan, sakit tanganku!" ucap Aliyah sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Awan yang kuat.
"Kamu yang buat aku jadi kasar"
****
Di dalam kamar.
Suasana di dalam kamar yang begitu dingin tak dapat mendinginkan hati Awan yang terbakar api cemburu yang begitu besar. Seorang Aliyah tetap menyebutkan nama laki-laki lain di hadapannya. Bahkan dia menangis terisak menangisi laki-laki selain dirinya. Hati Aliyah telah di penuhi dengan satu nama yaitu Denis.
Bruukk
Awan membanting tubuh Aliyah di ranjang king size di dalam kamar mewah di vila milik pribadinya.
"Stop Awan! Jangan mendekat! Lebih baik..!" ancam Aliyah yang langsung di potong oleh Awan.
"Lebih baik, ayo katakan!" tantang Awan yang terus mendekati Aliyah.
"Lebih baik aku mati daripada kamu menjamahku!" teriak Aliyah.
Mata keduanya saling menatap dengan tajam. Tidak ada sedikit pun rasa cinta Aliyah untuk Awan. Melainkan kata benci yang timbul di hati Aliyah, Kini.
Sedangkan Awan terus memajukan langkahnya, hingga tubuh Aliyah mentok di sandaran ranjang king size yang empuk itu.
"Berhenti Awan atau kamu akan tanggung semua akibat perbuatan kamu!" ancam Aliyah kembali yang melihat sorot mata Awan terlihat jelas ingin memangsa korbannya.
Awan tidak memperdulikan ancaman Aliyah. Ia menganggap ancaman Aliyah hanya gertak sambal. Awan malah mempercepat gerakannya dengan merengkuh pinggang Aliyah dengan gesit dan membaringkan tubuh Aliyah ke kasur yang empuk itu.
"Astagfirullah, Yaa Allah! Apa yang akan Awan lakukan pada hamba?" batin Aliyah bertanya dengan kepanikan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kamu mau apa, Awan? Lepaskan!" kakinya terus menendang kaki Awan. Tapi malah kaki Aliyah yang di jepit oleh Awan. Dia sudah berhasil mengunci pergerakan Aliyah dengan cepat. Bahkan kini, Awan menatapnya sangat dekat ke wajah Aliyah. Hembusan nafas yang hangat dapat Aliyah rasakan.
"Please, Awan. Lepasin aku!" Aliyah memohon dengan suara yang tidak setinggi tadi. Ia meminta dengan nada suara yang merendah.
Matanya kini menunduk. Aliyah tak berani menatap mata Awan. Namun, Aliyah harus menelan kasar salivanya. Ia melihat jelas jakun Awan yang naik turun. Antara takut dan hampir terhipnotis oleh aroma yang kuat dan khas parfum yang melekat di tubuh Awan.
"Aku akan merenggut keperawananmu sekarang juga, agar kamu jadi milikku seutuhnya!" ucap Awan dengan wajah yang sangat dekat.
Aliyah mengerutkan kedua alisnya, kemudian ia mendongak menatap kedua mata Awan yang telah berubah warna.
"Sadar, Awan! Kau bukan siapa-siapa ku!" kata Aliyah menekannya.
"Kau yakin?"
Aliyah menganggukkan kepalanya dengan cepat. Kemudian menundukkan kembali pandangannya. Tanpa sengaja ia melihat ada kesempatan untuk membebaskan diri dari apitan Awan.
"Kamu salah menjawabnya Aliyah, karena saat ini juga kamu akan merasakan rudalku yang akan melesat dengan bebas" ucap Awan sambil melepaskan baju yang di pakainya.
Melihat Awan yang lengah, Aliyah langsung melancarkan jurus serangan yang mematikan itu kembali.
Buugh
"Aduuh!! Sakit bodoh!" seketika Awan meringis kesakitan memegang aset satu-satunya di tendang kembali oleh Aliyah. Bisa pecah itu alat penerus bangsa.
Melihat Awan yang meringis menahan sakit. Aliyah mengambil langkah seribu untuk segera keluar dari kamar terkutuk itu.
"Aliyah..! Berhenti kamu, Aliyah!" teriak Awan dengan suara lantang memecah kesunyian.
Aliyah mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke belakang.
β€β€β€β€
Bobo' dulu lah ngantuk π΄π΄