
Jumpa lagi para readers kesayangan... ππ
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca..
β€β€β€β€
Awan memarkirkan mobil sport warna merah miliknya ke sembarang tempat di depan rumah nya. Dan melompat turun dari mobilnya tanpa menoleh ke kiri ke kanan. Dia langsung masuk ke dalam rumah. Berlari kencang tergopoh-gopoh untuk segera menemui Aliyah.
"Di mana Aliyah?" Awan menyemburkan pertanyaan ke bodyguard yang bertugas menjaga Aliyah.
"Nona Aliyah sedang ada di kamarnya, tuan muda" jawab bodyguard yang berkepala gundul itu.
Tidak menunggu bodyguard nya menyelesaikan jawaban dari pertanyaan nya. Awan berlari melesat masuk ke dalam kamar Aliyah.
Awan berhenti tepat di depan pintu kamar Aliyah. Berkacak pinggang dan mengatur nafasnya.
"Aliyah.. Berani-beraninya kau mau kabur!"
"Iya, aku"
"Kenapa mau kabur segala!"
"Aku bosan, Awan. Kamu kurung terus menerus seperti ini. Tak enak, tau!" kesal Aliyah.
"Semua fasilitas sudah tersedia, Aliyah. Masih kurang?"
"Aku bukan burung yang di dalam sangkar! Aku manusia juga butuh bersosialisasi dengan lingkungan! Aku kangen keluarga ku! Aku lindu bee! Camkan itu, Awan!" tangis Aliyah tumpah juga akhirnya.
"Jangan pernah sebut laki-laki itu di hadapan ku, Aliyah! Aku sangat membenci dia!"
"Aku sangat mencintai bee! Bukan kamu!"
"Diam! Tutup mulut mu!"
"Sakit, Awan. Lepaskan!" Aliyah berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Awan. Ia terus meronta memukul-mukul tangan Awan yang menyeretnya ke arah mobil sport mewah milik Awan yang terparkir sempurna di depan rumahnya.
"Cepat masuk.. Duduk dan diamlah!" titah Awan kepada Aliyah.
"Mau kau bawa ke mana lagi, aku!" tanya Aliyah ketus.
"Sudah diam. Nurut saja, kenapa?" ucap Awan sembari memasangkan seat belt ke tubuh Aliyah. Dan segera menutup pintu mobil.
Kemudian Awan berjalan sedikit melingkar dan duduk di belakang kemudi.
Awan melajukan mobilnya perlahan keluar dari pelataran halaman rumahnya. Dengan kecepatan sedang, dia tetap melajukan mobilnya melewati kompleks perumahan elite tempat tinggalnya.
Di dalam mobil.
"Awan, kamu tak bosan kah menculik anak gadis orang?" ucap Aliyah pelan.
"Hemm, apa enggak dengar?" ucap Awan sambil tetap fokus menyetir.
"Dasar budeg! Buka telinga itu lebar-lebar!" sungut Aliyah. "Kembalikan aku kepada keluarga ku, sekarang juga. Awan!" teriak Aliyah di telinga Awan.
Cekiiiiittt, Awan mengerem mendadak. Ia menginjak pol rem mobil sport nya.
"Awan, kamu gila ya! Mau mati?" ucap Aliyah ngegas kaget karena Awan menghentikan mobilnya tiba-tiba.
"Ulang lagi! Apa yang kamu bilang barusan!" Awan menatap tajam ke arah Aliyah.
"Kamu gila! Mau bikin aku mati!" Aliyah mengulang kembali ucapannya.
"Gila!" seru Awan. "Memang sudah gila, aku! Gila karena dirimu!"
"Ayolah, cepat kembalikan aku kepada keluarga ku" Aliyah mengatakan lagi.
"Ok, aku akan mengembalikan kamu kepada keluarga kamu" belum selesai Awan berbicara. Namun, Aliyah sudah memotongnya.
"Beneran kamu kembalikan aku ke keluarga ku?" tanya Aliyah dengan wajah yang sedikit sumingrah.
"Iya aku akan mengantarmu sekarang juga dan sekalian meminangmu" ucap Awan dengan santainya.
"Awaaaann!" teriak Aliyah kencang sambil memukul lengan Awan.
"Dududu.. Yang sudah tidak sabaran untuk di pinang" Awan tertawa terkekeh.
Aliyah memalingkan wajahnya melihat ke arah jendela mobil. "Budu"
"Kamu jahat" gerutu Aliyah yang terus memandang ke luar mobil.
"Karena cintamu, aku jadi jahat! Baru tau? Bahkan aku bisa menjadi lelaki yang sangat kejam dan tidak terkalahkan oleh siapapun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan!" jelas Awan yang membuat merinding Aliyah.
"Iya, kamu harimau yang bertopeng kucing untuk menutupi kebuasan kamu" gerutu Aliyah.
Awan meraih tangan Aliyah. Namun, langsung di tepis Aliyah kasar. Awan mencobanya kembali dan Aliyah menepis lagi berkali-kali.
"Sehina itu, aku? Hingga menyentuhmu pun aku tak kau ijinkan?"
"Pasti lah, tak aku ijinkan! Kamu belum halal untuk aku" jawab Aliyah yang tetap memandang ke luar jendela mobil.
"Ok, hari ini juga aku menghalalkan kamu!"
"Enak aja! Siapa yang mau sama kamu"
"Enggak urus"
"Siapa suruh kamu urus aku!"
"Semua ini gara-gara cinta kamu, Aliyah!"
"Katanya persetan dengan cinta! Kamu kan ganteng, kaya, punya segalanya. Sudah sana cari yang lain jangan ngotot ke aku!"
"Enggak mau! Mau nya kamu!"
"No tawar menawar! Bukan lagi jualan di pasar!"
"Cerewet"
"Tau gitu. Kenapa tetap kau cinta?"
"Itu yang buat aku kangen"
"Alasan"
Awan menatap ke arah wajah Aliyah dengan pandangan memelas terlihat mengenaskan. Sedangkan wanita yang di harapkan menerima cintanya kembali hanya diam membisu tak merespon sedikit pun.
"Aku sangat mencintaimu Aliyah. Walaupun ku tau di hati kamu sudah ada nama orang lain yang terlukis. Namun, aku tetap mencintaimu. Aku sudah berusaha tuk melupakanmu tapi semua itu sia-sia. Hingga kini yang terbayang hanya wajahmu dalam ingatanku. Dan jika terlintas bayangan kau bersama laki-laki lain. Itu semua membuat aku semakin frustasi dan marah" Awan mengungkapkan semua isi hatinya kepada Aliyah.
Aliyah tak kunjung membuka bibirnya tuk bersuara. Ia hanya mematung dan menopang kedua pipinya yang chubby.
Di atas kebimbangan itu lah Aliyah, saat ini.
"Aku hanya mencintai bee. Tak kan ada cinta lain lagi di hatiku. Selain cinta bee. Tak ada kata kesempatan kedua Awan. Kenapa dulu kau menyia-nyiakan kepercayaan dan cinta tulusku, hanya demi orang lain yang memfitnahku. Kini, kau datang lagi untuk memohon kepadaku. Tak bisa, sungguh aku tak bisa menerimamu lagi. Walaupun nyawaku taruhannya" gumam Aliyah
Lima menit berlalu hanya dalam keheningan dan kebisuan.
Sedetik kemudian Awan menatap kembali ke dalam bola mata bening wanita di depannya.
Dada Awan bergemuruh, jantung yang berdetak kencang. Harus dengan cara apalagi dia akan mendapatkan cinta Aliyah kembali. Baru pertama kali ini, Awan merasa dirinya tergila-gila dan tak ingin kehilangannya.
"Tak mungkin kita bersatu kembali, Awan. Please. Jangan teruskan kegilaan ini. Aku sudah capek!" tak terasa air mata Aliyah berlinang di hadapan Awan.
"Aliyah.. Aku mohon beri aku kesempatan kali ini saja. Untuk membuktikan kepada semua, jika cintaku kepadamu tidak kalah besar dengan laki-laki itu" timpal Awan sedikit emosi sembari memegang dua pundak Aliyah dengan erat.
"Maafkan aku, Awan" jawab Aliyah lirih sambil menepis tangan Awan dari pundaknya.
Merasa kecewa dan sakit hati. Awan mencengkram pundak Aliyah, sampai membuat dia kehilangan kendali. Karena emosi yang menguasai dirinya, saat ini.
Aliyah hanya bisa berdoa ada seseorang yang menyelamatkan nyawanya dan berharap semua ini hanyalah mimpi tidurnya.
Melihat Aliyah meronta ingin melepaskan diri. Membuat Awan semakin kalap dan bernafsu. Tangan kirinya langsung mendekap erat tubuh Aliyah. Sedangkan tangan kanannya menaikkan dagu Aliyah.
Aliyah yang terus meronta menjambak rambut Awan. Dan akhirnya ada kesempatan menendang benda pusaka Awan dengan tendangan panasnya.
Seketika Awan melepaskan tangannya. Dan berganti memegang pusaka satu-satunya yang berharga.
"Sialan kamu!"
"Toloooong" teriak Aliyah sambil terisak menangis memukul-mukul kaca jendela mobil.
"Hahaha.. Teriak hingga putus pita suara kamu tidak bakalan ada yang menolong" ejek sinis Awan.
"Toloooong, Ya Allah. Siapa saja kirimkan buat nolong Aliyah"
"Hahaha.." Semakin keras suara tawa Awan mengejek Aliyah yang semakin ketakutan dan duduk terpojok hingga menempel di kaca pintu mobil.
πΊπΊπΊπΊ
Kaburr lagi takut di timpuk sendal para readers.. ππ€πββοΈπββοΈπββοΈ