
Selamat membaca...
❣️❣️❣️
Di waktu siang yang sama tapi berbeda tempat..
Dengan memakai kaos polos press body dan di padukan dengan celana jeans, sepatu kets membalut kaki nya. Zudith terlihat santai namun terkesan sopan.
Hari ini, Zudith tengah membantu bunda di toko kue dan cafe lindu yang telah di tinggal beberapa hari oleh mbak Aliyah liburan di kampung halaman akak Denis.
Siang itu terlihat banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang. Muda mudi mondar mandir keluar masuk ke dalam toko kue dan cafe lindu milik keluarga Zudith. Membuat Zudith juga harus turun tangan membantu pegawai nya untuk melayani pelanggan.
Banyak pelanggan yang mengantri untuk membayar jumlah kue yang mereka beli. Dari pelanggan yang memilih menikmati kue itu langsung di tempat. Ada juga pelanggan yang membungkus untuk di bawa pulang di nikmati di rumah masing-masing.
"Pelanggan kita semakin hari semakin bertambah banyak dan omzet toko semakin mencapai target, mas Zudith." ucap mbak Ela pegawai toko kue bunda.
"Iya, mbak Ela. Semua ini berkat kerja keras kita yang selalu memberikan pelayanan yang terbaik dan memuaskan. Bunda juga selalu menjaga cita rasa kue nya. Sehingga membuat customer baru meningkat dengan pesat dan customer lama pun semakin setia." jelas Zudith.
"Alhamdulillah, mas Zudith. Tiap hari toko ini tidak pernah sepi pengunjung." ucap mbak Ela.
Mendengar ucapan mbak Ela. Zudith pun berinisiatif untuk merekrut pegawai baru untuk membantu meringankan pekerjaan di toko dan cafe lindu itu.
"Hmm.. Aku harus segera memberitahu kan kepada Ayah dan Bunda, biar segera merekrut pegawai baru dan mbak Aliyah harus segera membuka pengumuman lowongan kerja untuk pegawai baru." ujar Zudith.
"Ide bagus itu, mas Zudith." Mbak Ela tersenyum dan memberikan aplaus begitu melihat keantusiasan yang di tunjukan oleh Zudith demi berkembang nya usaha keluarga nya.
Dari arah luar pintu masuk terlihat seorang gadis sedang berjalan masuk ke dalam toko kue Bunda. Dan sepertinya wajah dia sangat familiar di mata Zudith.
"Qinara?."
"Ada apa, mas Zudith?." tanya mbak Ela. Mengerutkan keningnya menatap bingung ke arah Zudith.
"Eh, ma'af tidak apa-apa, mbak Ela lanjutkan dulu pekerjaan ini!." kata Zudith.
"Lho, mas Zudith mau ke mana?." tanya mbak Ela lagi semakin bingung melihat Zudith yang tiba-tiba beranjak dari tempat nya.
"Zudith mau melayani pelanggan spesial dulu, mbak Ela." katanya tersenyum sembari menunjuk ke arah seorang gadis.
Gadis cantik yang menarik perhatian nya. Senyum lembut nya serta keramahan nya. Ya.. Itu karena seperti nya Zudith mengenal sosok gadis itu.
"Apa benar dia gadis pujaan ku?." Zudith menatap nya dengan serius dan ternyata memang itu dia.
Perlahan Zudith berjalan menghampiri sosok gadis yang di kenalnya itu. Karena Zudith yakin bahwa dia adalah gadis yang telah berhasil mengobrak-abrik hati nya.
"Qinara!." panggil Zudith seraya mendekati gadis itu.
"Zudith!." seru nya seraya tersenyum saat mendapati Zudith juga berada di cafe tersebut.
"Sedang apa kau di sini? Dengan siapa juga kau di sini?." Zudith bertanya kepada Qinara sambil menautkan kedua alisnya.
Qinara hanya diam membisu tidak menjawab pertanyaan Zudith.
"Sendiri kah kamu atau bersama teman kamu?." Zudith kembali melontarkan pertanyaan nya. Namun, Qinara hanya tersenyum sebagai jawaban nya.
Qinara memilih cake cokelat dan bola-bola coklat. Tak butuh waktu lama untuk gadis itu memilih nya. Kemudian, setelah membayar dia segera keluar. Namun, langkah nya terhenti sesaat. Ketika suara Zudith memanggil kembali nama nya. Jantung nya berdegup cepat tapi ia segera menguasai situasi itu. Dan dia segera melanjutkan kembali langkah nya yang terhenti. Dia tidak menoleh ke belakang. Dia takut mengecewakan Zudith. Dia takut melukai hati Zudith.
***
Zudith melangkah kan kaki nya keluar Cafe Lindu milik keluarga nya tersebut. Ia berjalan perlahan menuju tempat parkiran seraya celingak celinguk ke sana kemari mencari keberadaan seorang gadis yang telah membuat nya galau beberapa minggu ini. Saat Zudith sedang sibuk mencari gadis tersebut. Tiba-tiba pandangan mata nya kepada dua orang dewasa yang sedang berbicara sangat intens. Ia mencoba memfokuskan kembali pandangan mata nya kepada kedua orang tersebut.
"Qinara! Sedang apa dia di sana dan siapa laki-laki yang bersama nya itu?." guman Zudith.
Ia berjalan mengendap-gendap bak seorang pengintai yang profesional dan takut ketahuan musuh nya.
Samar-samar terdengar dari jauh perdebatan yang sedang terjadi Qinara dengan laki-laki itu. Dan berakhir dengan pertengkaran yang hebat antara Qinara dan laki-laki tersebut.
Zudith mengepalkan tangan. Wajahnya terlihat memerah menahan emosi yang ingin meledak. Karena tak terima gadis yang di damba nya itu di caci maki dan di tampar oleh laki-laki yang sedang bersama Qinara.
Zudith kembali berjalan melangkahkan kaki nya ke arah Qinara berdiri seraya menatap tajam sosok yang kini berdiri di hadapan nya.
Laki-laki itu menoleh saat Zudith memanggil gadis yang sedang berdiri di hadapan nya.
"Zudith!." ucap nya seraya sedikit menyipitkan mata nya dan mengerutkan keningnya.
"Bian!." Zudith tak kalah terkejut saat pandangan nya terfokus pada sosok laki-laki yang telah menampar Qinara. Dan ternyata laki-laki itu adalah Bian teman masa kecil nya dulu.
"Sedang apa kamu di sini? Kenapa pula kamu menampar Qinara?." tanya Zudith seraya menajamkan pandangannya ke arah Bian.
"Qinara, dia adalah calon istriku." ucap lantang Bian, menjelaskan siapa sebenarnya Qinara.
"Calon istri katamu? Apa aku tidak salah dengar!." Zudith mengerutkan kening nya tak percaya. "It's impossible." kata Zudith lagi.
"Tidak! Jangan kau dengan ucapan Bian itu, Zudith!." tolak Qinara.
"Iya benar, kamu itu adalah calon istriku! Kedua orang tua kita telah sepakat untuk menjodohkan kita." ucap Bian lebih memperjelas lagi, tentang perjodohan nya dengan Qinara.
"Tapi, aku tidak mencintai mu, Bian!." Qinara kekeh menolak tentang perjodohan nya dengan Bian dan wajah nya juga terlihat sangat kesal sekarang.
"Persetan dengan cinta. Lama-lama nanti kamu pasti mencintai aku!." ucap Bian narsis.
"Lalu kenapa kamu menampar Qinara, tadi?." tanya Zudith penasaran.
"Aku menampar Qinara karena dia mencoba untuk berselingkuh dari aku." jawab Bian.
Zudith terdiam sejenak saat mendengar penjelasan yang di ucapkan Bian kepadanya. Namun, Zudith tidak langsung mempercayai ucapan Bian barusan.
"Enggak, jangan percaya dengan apa yang di bilang Bian. Dia salah mengartikan nya. Kita cuma salah faham saja, Zudith."
"Kalau kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan. Coba kamu lihat ini." ucap Bian sambil memperlihatkan foto di layar ponsel nya.
"Hahaha.. Bian.. Bian.. Itu aku yang duduk di samping Qinara. Perhatikan dengan seksama." ucap Zudith sambil mentertawakan Bian.
"Ohh, rupanya kamu cowok selingkuhan Qinara selama ini. Hebat sekali ya kamu Zudith! Aku pikir kamu adalah cowok yang baik tapi ternyata kamu juga brengsek, perebut cewek orang." ucap Bian menatap sinis ke arah Zudith.
"Bagi aku tak masalah, sebelum janur kuning melengkung. Sah-sah saja kita menikung nya." jawab Zudith santai.
"Brengsek kau Zudith. Milik temen sendiri kau embat juga." ucap Bian memalingkan muka seraya tersenyum sinis kepada Zudith.
"Haah.. Enggak salah dengar aku? Yang brengsek itu kamu. Ingat reputasi mu sudah bukan rahasia umum lagi. Karena kamu adalah seorang playboy yang suka gonta ganti cewek. Dan kenyataan itu enggak bisa di pungkiri lagi, Bian! Jangan bergaya sok alim di hadapan Qinara karena nyata nya sekarang ini kamu memang cowok brengsek." ucap Zudith yang menaikkan intonasi dan volume suara nya.
"Ck.. Ck.. Apa enggak trima kamu. Sini maju lawan aku, kalau kamu memang laki-laki sejati." ejek Bian.
"Apa maksud kamu, Bian? Kamu mengajak duel 1vs 1. Okay!." timpal Zudith.
"Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan Qinara? Hingga kamu berani membela dia?." tanya Bian menatap Zudith tak senang. Karena kehadiran Zudith saat ini sungguh telah mengganggu waktu nya dengan Qinara.
"Qinara adalah kekasih ku, wajar saja jika aku membela nya dari cowok brengsek seperti kamu!." ujar Zudith kemudian.
Senyum manis yang khas milik Zudith kini terpancar di tujukan kepada gadis pujaan nya. Dan lebih menyakinkan Bian tentang hubungan nya dengan Qinara Zudith mulai mendekati ke arah Qinara dan menggenggam erat tangannya.
Tiba-tiba jantung Qinara kembali berpacu sangat cepat dengan apa yang di lakukan Zudith kepada diri nya.
"Apa! Bulshit!." seru Bian tidak mempercayai ucapan Zudith.
Qinara juga berusaha menyakinkan Bian dan membenarkan ucapan Zudith.
"Aku memang kekasih Zudith saat ini dan kita berdua saling mencintai." timpal Qinara.
Zudith dan Qinara melenggang pergi meninggalkan Bian yang terpaku tak percaya dengan senyum kemenangan yang terukir di bibir Zudith.
❣️❣️❣️
Bersambung..
Tetap berikan dukungan akak berupa like, komen, rate bintang lima dan juga favorit..
Terimakasih 🙏🙏😊