
"Tunggu...! "
Langkah ku dihentikan untuk yang ketiga kalinya oleh orang yang sama.
"Apalagi? apa kalian ingin membully ku sebagai gantinya? sebaik jangan. Setidaknya berbaik hatilah pada perempuan"
ucapku blak-blakan.
"Heh? memang apa yang kau pikirkan? aku hanya ingin bertanya, kamu mau kemana malam-malam begini sendirian, apa tidak takut diculik? "
Pertanyaan itu dari orang yang berdiri paling depan diantara mereka bertiga.
Ini terdengar konyol, sempat-sempatnya aku menilai visualnya. Tapi memang benar, dia tampan sangat tampan dari antara mereka.
Kembali pada pertanyaanya tadi, bahkan hal ini lebih konyol. Dia mencemaskanku? aku tak salah dengarkan? mendengarnya membuat ku bernafas lega.
"Kau mengkhawatirkan ku? jika benar maka antarlah aku, aku ingin membeli sesuatu disana" ucapku sambil tersenyum menjahilinya.
"Kalau boleh aku bisa mengantarmu"
Ucapnya.
"Aku ikut" timpal yang satunya
"Aku juga ikut" ucap yang satunya lagi.
Apa-apaan mereka, aku tadikan hanya iseng mengapa mereka menganggap itu serius. Dasar aneh.
"Ya sudah ayo"
Aku berjalan duluan.
Canggung sih, tapi aku memilih diam saja sepanjang jalan. Lagian mereka juga tidak mengatakan apa-apa dari tadi, hanya memasang wajah datar dibelakang ku.
Kami sudah didepan Super market sekarang.
Aku berbalik menghadap mereka.
"Sudah sampai, kalian ikut masuk atau tunggu disini? "
"Tidak kami disini saja"
Bukan itu maksudku, itu kata halus untuk mengusir kalian, aku ingin kalian pergi dari sini.
"oh, baiklah. Terserah kalian"
---
Aku keluar membawa dua kantong belanjaan.
Kuhampiri tiga bocah tadi.
"Kalian masih disini? " Tanyaku
"Kami menunggumu" jawab mereka.
"Menungguku? aku sudah selesai. Kalian bisa pulang sekarang" kataku
"Sini kantong itu" (belanjaanku sudah berpindah ketangan mereka)
"Dimana rumahmu? "
"Kami antar kau pulang"
Aku melongo, haruskah aku diantar oleh mereka? akhir-akhir ini aku bertemu banyak orang asing sampai masuk rumah pula. Heh, sudahlah hitung-hitung menghemat energi kan belanjaanku tadi lumayan banyak.
"Ya sudah, tapi aku ingin tahu nama kalian. Supaya nyaman juga kalau ngobrol" Kataku.
"Kau duluan, siapa namamu? "
kok aku? yang nanya duluan tadikan bukan kalian, dasar lelaki.
"Namaku Calistha, Calistha Velix. Kalian? "
"Asalmu bukan dari sinikan? Thailand? Indonesia? Singapura? atau Fillipina? katakan kau darimana? "
"Menurutmu? " mengunakan bahasa Indonesia.
"Gadis Indonesia rupanya"
Gadis? kau tidak tahu saja, aku bukan seorang gadis lagi sekarang.
"Aku Kim Tan, dia Park Chen dan dia Kang Jossi" dia memperkenalkan diri dan kedua temannya.
Aku mengangguk.
Kruyuukk
Perut sialanku berbunyi, wajahku memerah karna malu. Aku lapar sekali, untung saja tadi aku sempat membeli roti dan susu yang kusimpan dikantong Hoody ku. Aku memakannya sambil jalan.
Kulirik mereka bertiga, rasanya tidak enak juga kalau tidak menawarkan makananku pada mereka.
"Mau? "
Tanyaku sambil mengangkat sebungkus roti yang sebagian sudah kugigit tadi kedepan wajah mereka.
Tidak kusangka mereka menunduk dan menggigitnya secara bergantian. Mataku membulat, apa mereka tidak jijik makan bekas gigitanku? dan sekarang mereka mengantri meminum susu vanila disebelah tanganku.
Pekik ku takut makananku dihabiskan.
"Kalian tidak jijik? "
Tanyaku pada mereka sambil mengunyah makananku.
"Kau sendiri? "
Ucap Kim Tan bertanya balik.
uhuk uhuk
Aku tersedak karena baru sadar kalau aku juga makan bekas gigitan mereka. Mereka menepuk-nepuk pundakku.
"Hei kenapa kaget begitu? ada -ada saja"
"Yakkk"
Niatku ingin protes tadi batal seketika, aku dikagetkan atas kehadiran orang yang sama sekali tidak ingin ku temui. Orang itu Vinata dan Wahyu. Dunia ini begitu sempit kah? sampai-sampai sering terjadi perjumpaan seperti ini.
" Hai, Calistha. Kita ketemu lagi"
Vinata menyapa sambil bergelantungan manja dilengan Wahyu. Idiih melihat tampang tak bersalahnya membuatku muak. Ingin pamer kemesraan didepanku? lakukanlah.
Aku tak merespon sapaan Vinata melainkan pura-pura tidak sadar akan kehadiran mereka. Aku menoleh kearah Jo, Tan dan Chen.
"Ayo cepat, keburu hujannya turun"
Aku menunjuk langit yang tidak ada tanda-tanda mendung sama sekali. Aku berjalan melewati dua sejoli itu tanpa ragu. Namun bukan Vinata namanya kalau tidak suka mengangguku.
"Tunggu, kurasa tiga pria ini orang yang berbeda dari yang kemaren bersamamu. Iyakan sayang, aku benarkan? "
Perkataan Vinata menggali ingatan Wahyu.
"Yang dikatakan Vinata benar. Mereka orang yang berbeda. Apa tujuh orang itu tidak cukup untuk mu? sampai-sampai anak sekolah pun kau babat habis juga. Calistha, apa kau begitu haus sentuhan lelaki? kalau iya, kau bisa memanggilku kapanpun kau mau"
Wajahku bagai ditampar oleh perkataan Wahyu itu. Harga diriku sudah tidak ada dimatanya, ingin membela diri juga percuma. Yang ia katakan tidaklah salah. Itu benar adanya. Tapi kau tahu Wahyu? kau menyakiti perasaanku. Kau masih dihatiku, tapi kau terus menghancurkannya. Tidakkah kau sadar, kau lah orang pertama yang membuatku begini. Lalu untuk apa aku peduli?
"Kamu benar, aku memang haus sentuhan. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan mau disentuh olehmu. Aku jijik disentuh oleh orang sepertimu. Dengar? aku jijik"
Plakkkk.
Wahyu menamparku lagi. Ini kedua kalinya dia meninggalkan jejak dipipiku. Air mataku menetes seiring rasa sakit ini.
"Kau...!" Chen menarik kerah baju Wahyu dan Bukkk.
"Wahyu"
Vinata memekik melihat Wahyu dipukul.
Wahyu bangun dan dengan cepat melayangkan tinjunya kewajah Chen. Chen tidak sempat menghindar.
*Bukkk
"Chen*" Kini giliran aku yang memekik. Segera aku berlari memeluk Chen agar tidak terjadi baku hantam lagi. Karena aku melihat mata bocah itu mulai merah karena amarah, sepertinya dia ingin membalas pukulan Wahyi. Aku takut dia kena masalah karena diriku, apalagi dia masih sekolah.
"Tidak Chen, hentikan. Jangan membalasnya kumohon"
Aku menatapnya sambil meneteskan air mata, jujur aku tak sanggup melihat perkelahian. Dia juga menatapku, Chen menghapus air mataku.
"Kau mengkhawatir aku, atau khawatir padanya? " Chen bertanya sambil mengusap pipiku yang masih basah.
"Itu tidak penting, ayo kita pergi dari sini"
Aku menarik lengan Chen sambil menoleh kearah Tan dan Joss.
"Kalian berdua kenapa diam saja, ayo"
Kami pergi meninggalkan Vinata dan Wahyu disana. Aku sempat melirik kebelakang ingin melihat keadaan Wahyu, namun tidak lama. Karena Wahyu kedapatan melihat aku mengkhawatirkannya. Wahyu, ada Vinata disampingmu jadi aku tak perlu mencemaskan keadaanmu. Calistha lupakan dia, demi kebaikanmu.
•
•
•
Kami sudah sampai diapertemenku, dan aku sedang mengolesi salep diwajah Chen yang ada sedikit robek diujung bibirnya.
"Aw, pelan-pelan"
Chen mengeluh
"Iya, ini juga sudah pelan kok. Lain kali jangan berkelahi seperti tadi lagi. Aku tak mau ada yang terluka hanya gara-gara diriku"
Chen menahan tanganku saat ingin mengoles salep lagi padanya.
"Apakah yang dikatakan pria tadi benar? tentang tujuh orang yang tidur bersamu, apa itu benar? "
Visual Wahyu Setya Praja. Dia blasteran Indonesia-Taiwan
Bersambung...