FORGET IT

FORGET IT
Sebelas



Kadang hubungan itu seperti gelas kaca yang pecah, jika kau tidak melepaskannya maka bersiaplah untuk terluka.


••• 


"Kau pikir aku percaya? dengar ini baik-baik. Jangan pernah berpikir kau akan lepas dari kami. Kau tahu artinya? kau akan terus terikat. Kau akan terus terikat dengan kami, menjadi wanita pemuas nafsu kami hingga kami bosan dan kau boleh pergi saat kami sudah mencampakkanmu. Kau tidak akan bisa lari, keujung dunia sekalipun karena itu percuma"


Jimin mengatakan itu dengan sorot mata tajam serta senyum smirk nya. Siapa yang tidak merinding dengan hal itu.


"Tuan Park, apa yang anda katakan? aku tidak ada salah dan tidak pernah ada dendam apapun diantara kita. Kenapa aku harus terikat hal konyol seperti itu dengan kalian? "


Ucapku padanya.


Jimin memainkan bibirku dengan jempolnya.


"Sayangnya, tidak ada jawaban dari pertanyaanmu itu"


Setelah mengatakan itu tangan Jimin beralih ketengkukku.


"Emmh, Jim... min mmmh"


Dia mencium dan ******* dengan lembut bibirku. Kudorong bahunya agar ciuman ini terlepas, namun kekuatanku tak sebanding dengannya. Tekanan yang ia berikan ditengkuk ku begitu kuat, aku tak bisa menghindari ciuman ini. Aku tidak melawan lagi, cengkraman ditengkuk ku perlahan longgar. Jimin menggigit bibirku.


"Ahhh emmh mm"


Ini memalukan, desahan dari mulut sialan ini lolos begitu saja saat setelah aku memekik karena Jimin menggit bibirku. Dia mengunakan kesempatan itu untuk memperdalam pergerakan lidahnya. Ciuman ini mabukkan. Tak bisa ku pungkiri, ini sangat nikmat. Aku membalas ciuman darinya, bertukar saliva pun tentu saja terjadi.


"mmhh"


Mendesah lagi, sampai-sampai tak menyadari kalau Jimin tersenyum dengan wajah kemenangan.


"Lihatlah, kau begitu menikmati meskipun hanya ciuman biasa. Jadi jangan sok jual mahal jadi wanita. Kau juga tahu, ada banyak wanita yang dengan senang hati mengantri dan sangat ingin memanjat ke atas ranjang kami untuk disentuh. Kau harus bersyukur karena telah mendapatkannya"


Perkataan Jimin barusan membuatku tersadar sekaligus merasa malu. Jimin benar, akulah yang terlalu murahan. Baru saja mulutku mengatakan ingin mereka pergi, namun justru terbuai hanya dengan sebuah ciuman.


Mataku mulai berair tapi masih bisa kutahan agar tak menetes. Rasanya begitu malu hingga tak bisa berkata apa-apa.


"Aku kesini hanya ingin mengatakan itu, kuharap kau tidak sakit karena merindukan sentuhan dari kami. Ingat, jangan mencoba melakukan hal aneh yang bisa membuat reputasi kami hancur. Kalau tidak, jangan harap kau bisa melihat dunia ini lagi setelahnya"


Aku tidak takut dengan ancamannya, namun yang membuatku terganggu adalah saat dia mengatakan aku mungkin saja sakit karena merindukan sentuhan dari mereka. Aku seperti dicap sebagai wanita yang haus akan sentuhan lelaki. Aku bagai seorang ****** dimatanya, dimata mereka semua. Rasanya sakit, hatiku seperti ditusuk ribuan jarum yang tak henti-hentinya mengoyakkan pertahananku.


Aku teriak menangisi diriku, saat setelah Jimin keluar dari apertemenku.


Begitu hinanya aku dimata setiap orang. Ini, sesak. Rasanya begitu menyesakkan. Aku juga membenci diriku ini, karena setiap yang kulakukan selalu salah dimata orang lain. Tak ada yang benar dalam diriku. Siapa bilang hidup itu berharga? hidupku yang seperti debu ini tidak ada artinya, tidak ada harganya dimata orang. Aku ingin mengakhirinya, mengakhiri penderitaan ini. Namun Miris, aku tak berani melakukan itu. Aku memang pengecut.


Lelah menangis aku memutuskan pergi kekamar mandi, karena berendam adalah hal tepat untuk menyegarkan pikiran yang kacau.


 •••


Dengan menyibukkan diri mungkin aku bisa melupakan sesuatu yang membuatku sedih.


Hari sudah gelap saja, aku berjalan menelusuri trotoar yang diterangi lampu jalan. Inilah salah satu alasanku menyukai korea, tidak ada kegelapan walaupun saat malam hari.





Sampai di mall aku langsung disibukkan dengan mencari sesuatu yang ada didaftar belanjaanku, tapi jangan salah. Daftar belanjaan itu tertera diotak ku jadi tidak ada tulis menulis lagi dikertas, karena aku terlalu malas untuk itu. Daging, sayur, dan buah-buahan segar serta berbagai macam bumbu-bumbu dapur sudah masuk troli. Minus ikan, karena aku tidak menyukai ikan jenis apapun itu. Beda hal nya dengan udang dan cumi ya.


Aku membelikan sikat gigi dan keperluan lainnya untuk tiga bayi itu, bayi? ya siapa lagi kalau bukan Kim Tan, Chen dan Jossie. Dan aku serasa menjadi seorang ibu karena mengurusi mereka.


Tidak lupa juga aku membeli berbagai macam cemilan dan bir siapa tau aku menginginkannya kelak kalau sedang stress.


Tidak terasa troli yang ku pakai sudah terisi penuh, entah apa saja yang kuambil tadi. Ckk, bagaimana aku membawa belanjaan ini pulang? ini pasti akan merepotkan.


Aku lupa kalau kartu itu bukan milikku, Chen pasti marah karena uangnya terpakai banyak olehku, padahal baru sehari aku memegangnya. Maaf Chen, aku khilaf. Aku memutuskan pulang naik bus saja agar menghemat setidak sedikit uang Chen.


Karena bus belum datang, aku duduk dihalte untuk menunggu. Selain aku, ada sepasang kekasih juga yang duduk disana. Pasangan itu terlihat romantis, senyum di wajah sang wanita tak lepas karena perlakuan manis dari si pria. Dia membawa belanjaan sambil mengelus pucuk kepala sang kekasih.


Sikap pria pada kekasihnya itu membuatku teringat seseorang, dia adalah Wahyu. Kenangan manis yang dilewati bersamanya kurang lebih tiga tahun tentu saja tak mudah untuk ku lupakan. Dulu Wahyu juga memperlakukanku dengan sangat baik, dia bisa menjadi teman, dan kakak sekaligus. Aku sadar, cintaku masih ada untuknya. Andai saja dia mau minta maaf dan meminta cintaku kembali tentu saja bisa aku lakukan. Tapi sepertinya itu tak akan terjadi, sekarang Vinata lah yang dia inginkan. Dia tak mungkin mengingat ataupun menginginkan diriku. Aku cukup tahu diri, aku wanita yang tidak pantas untuknya.


Aku menghembuskan nafas asal. Belajar mengikhlaskan semua yang terjadi.


...


Tidak lama bus pun berhenti dihalte dekat apertemenku dan aku turun di pemberhentian. Belanjaan yang banyak ini memang repot dan menguras banyak tenagaku. Aku berjalan beberapa meter lalu berhenti sebentar begitu seterusnya, sampai ada suara bariton seseorang yang tidak asing bahkan sangat sangat dikenali oleh gendang telingaku.


Aku mematung dan enggan berbalik melihat orang itu, aku tak yakin akan baik-baik saja jika melihatnya apalagi berbicara dan menatap mata hitam pekatnya. Mungkin saja hatiku akan terluka lagi karena kata-kata menyakitkan darinya. Aku tidak setegar itu, telinga dan hatiku belum siap.


Aku berjalan agak cepat tanpa menoleh kearahnya.


Belanjaan ini begitu menyiksaku, sulit rasanya berjalan lebih cepat ini terlalu berat dan banyak. Ujung-ujungnya aku berhenti lagi tentu saja untuk beristirahat lalu menaruh semua belanjaan itu didekat kakiku dan bersamaan dengan itu. Sosok yang kurindukan namun sulit untuk ku gapai itu berdiri tepat dihadapanku.


Dia menatapku dengan sorot mata tajam khas miliknya, wajah tampan dengan rahang terpahat sempurna itu tertangkap oleh retinaku.


Deggg


Mata kami bertemu dan terkunci lama.