
Sudah pukul empat pagi, Aliyah tidak bisa tidur. Mata nya seakan masih enggan terpejam walau pun sudah membengkak akibat menangis semalam. Aliyah hanya membolak balikan tubuh nya ke kiri dan ke kanan sambil menscroll berulang-ulang melihat foto-foto sang kekasih yang memenuhi galeri di ponsel nya.
Dengan guling yang setia dalam dekapan dan siap menampung air mata nya yang mengalir deras dari kedua mata nya yang indah.
Hingga Aliyah pun tertidur pulas kelelahan dalam isak tangis nya, setelah melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim. Sholat shubuh terlebih dahulu.
Tepat jam enam pagi. Ia baru tertidur beberapa saat dan mata masih terasa lengket. Jam weker berbentuk doraemon yang tergeletak di meja sebelah ranjang nya, meronta-ronta menjerit ingin di sentuh agar berhenti suara bising nya yang mencekat gendang telinga. Walau tubuh masih lelah dan letih. Ia tetap harus menjalani aktivitas hari ini sesuai dengan jadwal yang telah tersusun.
Pagi ini sungguh cerah. Mentari pagi sudah menyorot masuk ke dalam celah jendela kamar seorang gadis yang masih berbaring malas di atas kasur nya yang empuk.
...*******...
Sore itu, Aliyah baru balik dari kampus menuju ke Cafe Cinta. Waktu yang biasanya di lewati nya dengan senyum ceria berkumpul bersama sahabat nya trio ceriwis. Tidak dengan hari ini, hati nya masih galau dengan kejadian semalam. Chat dari Denis pun hanya di baca nya saja tidak ingin dia membalasnya.
Setengah jam telah berlalu mobil kesayangan nya berada di atas aspal jalanan ibu kota dengan setia mengantar nya menuju Cafe Cinta. Roda empat itu pun terparkir rapi di area parkiran Cafe Cinta.
Aliyah melepaskan seat belt yang melingkar di tubuh nya. Melirik sekilas ke arah kaca spion di depan nya.
"Cantik.. Hehehe.. Semangat Aliyah" kata nya memberikan support pada diri nya sendiri.
Setelah mengunci semua pintu mobil dari sentral lock dengan aman. Aliyah berjalan menuju Cafe Cinta dengan santai untuk menghilangkan rasa penat dan kegalauan hati nya.
Di sana sudah ada karyawan cafe yang beraktivitas sejak tadi. Aliyah pun menghampiri Langit barista andalan Cafe Cinta yang memiliki segudang kreatifitas dan ahli dalam meracik kopi.
"Sore.. Aliyah. Datang juga nih si manis princess bunda, kesayangan nya dia" ucap Langit menggoda Aliyah yang sudah akrab sejak mereka duduk di bangku SD.
"Sore juga.. Abang Langit yang ganteng tapi sayang jones nya tak ilang-ilang" balas Aliyah ngeledek Langit.
Langit dan Gustaf juga sahabat terbaik Aliyah yang melindunginya. Dalam kondisi dan situasi seperti apa pun. Mereka berusaha selalu ada buat Aliyah. Namun, karena pekerjaan orang tua Langit lah yang harus memisahkan ke tiga sahabat itu.
Ayah Langit di pindah tugas kan ke Jakarta. Sedangkan Gustaf harus melanjutkan sekolah menengah pertama nya ke Pondok Pesantren. Orang tua Gustaf menginginkan putra satu-satu nya itu menjadi seorang mubaligh handal. Walaupun harus bertentangan dengan keinginan nya. Gustaf tetap menuruti keinginan dan impian kedua orang tua nya.
Kini, waktu lah yang mempertemukan kembali Langit dan Aliyah. Dengan tidak sengaja Aliyah membelokan kemudi mobil nya ke Cafe Cinta yang biasa dia buat nongkrong bersama ketiga trio ceriwis sahabat nya.
Cinta pertama pada pandangan pertama dengan cinta monyet bagi Langit tidak ada beda nya. Karena cinta pada pandangan pertama Langit kepada Aliyah membuat Langit tidak bisa berpindah ke lain hati apalagi berpindah ke lain body.
Kecantikan Aliyah menurun dari Bunda nya, sedangkan postur tubuh Aliyah yang memiliki tinggi hampir 165 cm itu menurun dari sang Ayah.
Cinta yang tumbuh sejak mereka SD hingga kini. Namun, kebanyakan orang menyebut nya cinta monyet. Tidak ada pernyataan cinta yang spesial Langit kepada Aliyah saat itu. Langit merasa takut kalau setelah ia menyatakan cinta nya. Maka hubungan yang sudah terjalin selama ini akan menjadi berantakan. Langit sudah sangat nyaman dengan kehadiran Aliyah bersama nya. Lebih baik mencintai dalam diam dan tetap menjadi sahabat terbaik dan teristimewa agar tidak ada kata kebencian dan kekecewaan yang mendalam di hati masing-masing.
Karena Langit juga mengetahui jika Gustaf juga menaruh hati pada Aliyah. Namun, Aliyah tidak pernah memilih di antara kedua nya untuk di jadikan kekasih nya. Melainkan Aliyah lebih memilih melabuhkan cinta nya pada Denis. Mengembangkan sayap-sayap kerinduan nya pada kekasih nya nan jauh di mata namun selalu dekat di hati.
...******...
Salah kah bila diriku terlalu mencintaimu? Jangan tanya kan mengapa. Kar'na aku tak tahu
Aliyah bernyanyi dengan wajah yang sedikit sendu. Pandangan mata Langit seketika tertuju pada kedua manik indah milik Aliyah, yang sempat bertatapan.
"Stop" ucap Langit menarik tangan Aliyah.
Aliyah yang sedang menyeruput kopi Americano buatan Langit itu melongo kaget.
"What" sahut Aliyah yang kaget dengan tarikan Langit barusan. Dan hampir saja Aliyah menyemburkan kopi yang ada dalam mulut nya ke muka Langit.
"Lihat aku!" kata Langit.
"Ada apa?" tanya Aliyah mendelik ke arah Langit.
"Kamu habis nangis?" Langit penasaran.
"Siapa yang nangis!" jawab Aliyah mengalihkan pandangan nya dari Langit.
"Mengapa bengkak mata kamu? Siapa yang buat kamu nangis? Siapa yang nyakitin kamu? Katakan Aliyah! Apa Denis mengecewakan kamu?" Langit memberondong Aliyah dengan pertanyaan yang tidak ada satu pun di jawab Aliyah.
"Jangan bohongin aku, Aliyah! Kamu tidak akan menangis dalam semalam, jika tidak ada sesuatu yang menyakiti hati kamu!" tebak Langit.
"Jangan kepo! Cowok di larang kepo! Kepo memperpendek umur!" Aliyah segera beranjak dari kursi nya. Namun, dengan cepat Langit menarik kembali tanya Aliyah.
"Jangan menghindar dari aku, Aliyah!"
๐ผ๐ผ๐ผ
Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru, sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium hangat nya untukku
Oh, asmara yang terindah mewarnai bumi
Yang ku cinta menjanjikan aku
Terbang ke atas ke langit ke tujuh bersama mu
Oh, dewi cinta, sandarkan aku di bahumu
Agar ku rasa rindu nya hati
Reda kan sudah hadir ku, sayang
Tenang kan diriku
Aliyah bernyanyi kembali dan tersenyum manis ke arah Langit.
Siapa yang tidak langsung meleleh hati nya. Jika di berikan senyuman semanis gulali oleh Aliyah.
"Jujur padaku, Aliyah!" desak Langit lagi.
"Jujur kacang ijo, kau kata" jawab Aliyah.
"Aliyah.. Cerita padaku, apa yang sedang terjadi!" Langit semakin kepo.
"Di bilang, kepo memperpendek umur!" sahut Aliyah sembari memeletkan lidah nya ke arah Langit.
"Bentar.. Bentar seperti nya sangat familiar dengan kata-kata itu" Langit mengingat ngingat kembali kata-kata yang di ucapkan Aliyah barusan.
"Pasti sangat familiar lah.. Kan ntuu kata-kata yang biasa di ucapkan tiap hari di Rumah Mak Toon" sela Aliyah sambil terkekeh.
"Dasar korban bucin yang kebanyakan micin jadi wafer" Langit ikut terkekeh dengan kata-kata nya yang absurd.
"Berapa lapis" balas Aliyah.
"Ratusan" ucap mereka kompak dengan kesoakan kedua nya yang terkekeh.
๐น๐น๐น๐น
Bersambung...
Dukung selalu karya ku ini dengan like, komen, favorit, rate bintang lima, gift dan vote seikhlas nya.
Terimakasih๐ ๐