FORGET IT

FORGET IT
Jhoni, siapa?



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca..


❀❀❀❀


"Peace, Bunda. Damai kita" ucap kompakan Denis dan Aliyah.


"Enggak pakai damai, keluar dari rumah sakit bawa orang tuamu ke rumah Bunda buat ngelamar Aliyah! Ini perintah enggak ada tawar menawar" titah Bunda.


"Ashiiiaap, Bunda" ucap Denis lantang.


"Bee.."


"Apa sayang"


"Kenapa Bee bilang ashiap? Emangnya Bee sudah siap lahir batin kah?" tanya Aliyah serius ke arah Denis.


"Pasti sudah siap lahir batin lah sayang. Semakin cepat semakin baik" balas Denis tersenyum smirk.


"Apanya yang semakin cepat semakin baik, Bee?"


"Baik buat semua, sayang. Terutama baik buat si Jhoni" bisik Denis lirih di telinga Aliyah.


"Jhoni siapa, Bee?" tanya Aliyah yang langsung di tutup bibirnya dengan tangan Denis.


"Jangan kenceng-kenceng kalau bicara soal Jhoni! Bisa mampus Bee di cincang sama Bunda"


"Emang Jhoni, siapa sih Bee? Tak jelas nih Bee na!"


"Sudah stop tak usah bahas Jhoni lagi. Jhoni lagi tidur dengan tenang"


"Tidur di mana, Bee? Ay pingin tau Jhoni siapa sih, Bee?" tanya Aliyah ngotot.


"Jhoni tetangga, Bee. Sudah tak usah di bahas lagi"


"Diih, Bee yang mulai bahas Jhoni. Sekarang ay na yang di suruh diam" sungut Aliyah mencibikkan bibirnya.


"Untung ada Bunda di sini. Kalau tidak"


"Kalau tidak apa, Bee"


"Habis lah, ntuu bibir Bee comot"


Bunda baru saja keluar dari kamar mandi. Mau marah bingung, tapi kalau tidak di ingatkan bisa bablas ini, si Aliyah sama Denis.


"Ehemm.. Nempel terus kayak jenang walo" celetuk Bunda menghampiri keduanya.


"Ehh, Bunda" cengir Aliyah.


"Kancingin dulu itu kemeja Denis! Main peluk-peluk saja, mbak Aliyah. Nanti masuk angin Denis nya" ujar Bunda menunjuk ke arah Denis.


"Hehehe, Bunda bisa saja becandanya" Denis menggaruk kepala nya cengar cengir malu ketahuan Bunda.


"Mbak Aliyah ntuu lindu Bee, Bunda. Maka na peluk terus dari tadi"


"Ada saja jawabanmu, mbak Aliyah. Mending cepat di sah in saja. Biar cepat punya cucu juga, Bunda" balas usil Bunda Aliyah.


"Aamiin Ya Allah, Bunda sudah kasih lampu ijo terus ini dari tadi. Tancap gaspoll remnya doll" sahut Denis terkekeh.


"Apaan, Bee. Semangat banget?"


"Emang mbak Aliyah enggak mau ijab qabul dan duduk bersanding dengan Denis gitu?" tanya Bunda ngusilin putrinya yang super gesrek ini.


"Pasti mau lah, Bunda. Siapa yang tak mau nikah sama Bee. Kan enak bisa dapat sim, biar bisa tak kesemprit kena tilanglah, Bunda" antusias Aliyah.


"Mbak Aliyah ketilang di mana emang?" tanya Bunda lagi.


"Di semprit Ayah Bunda pastinya. Hehehehe" kekeh Aliyah. "Kena tilang pas berduaan di kamar"


"Makanya nikah, nikah, nikah" goda Bunda lagi.


"Iya.. Iya Bunda. Sekarang aja, Bunda. Kata Bee tadi, semakin cepat semakin baik buat si.. Siapa ya tadi, Aliyah lupa. Siapa tadi ya, Bee. Yang lagi tidur tenang?" tanya Aliyah polos ke arah Denis.


"Siapa?" tanya Bunda penasaran.


"Ehh, tak Bunda. Tadi hanya becanda sama Aliyah saja. Jangan dengerin serius si Aliyah, Bunda" segera Denis mengalihkan pembicaraan takut kena timpuk Bunda Aliyah.


"Tapi Bunda, kata akak Chan Teratai kalau sudah nikah, punya sim boleh lah berlanjut ke bab pemersatu bangsa. Buat adonan donat hingga kalis. Terus bisa mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera cinta bersama Bee berpetualang, berkelana, bertraveloka menikmati pemandangan yang hijau nan sejuk"


"Eheem" Denis berdehem seketika.


"Malah panjang kereta jawabannya mbak Aliyah" sahut Bunda.


"Bee kenapa? Keselek apa, Bee?"


Sudut bibir Bunda terangkat membentuk lengkungan tersenyum tipis. Melihat putrinya yang telah tumbuh menjadi seorang gadis. Dan tak akan lama lagi akan di petik sang kekasih.


"Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikan kami nikmat syukur yang tiada tara. Gadis kecil yang dulu selalu merengek meminta gendong, meminta peluk, meminta perhatian Bunda. Kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang telah siap untuk di persunting lelaki pilihannya. Lelaki yang bisa bertanggung jawab dan mengayomi dalam rumah tangganya kelak. Terkadang hati ini ingin memutar kembali waktu itu. Waktu di saat masa-masa yang tak akan mungkin dapat kembali di lalui. Waktu pertama kali mendengar suara jerit tangisnya ketika lahir kedunia ini. Waktu pertama memeluk dan menyusui nya. Dan bergulirnya waktu. Ketika gadis kecilku pertama kali bisa memanggil nama Bunda Ayah. Sungguh bahagia saat itu. Melatihnya berjalan selangkah demi selangkah hingga bisa berlari. Tapi kini, waktu nya telah tiba. Dan aku harus mengikhlaskan untuk melepaskan tanggung jawab orang tua kepada suaminya. Ya Allah, semoga Denis adalah Lelaki yang tepat pilihan Aliyah dan berjodoh hingga akhir hayatnya. Yang selalu menyayangi dan mencintai Aliyah. Karena Aliyah menaruh percaya dan harapan yang tinggi kepadamu Denis. Semoga kamu bisa selalu menjaga hati dan lisanmu. Aamiin Ya Allah" gumam Bunda dan mengamini sendiri. Tak terasa sudut mata Bunda telah berkaca-kaca.


"Bunda kenapa?" tanya Aliyah melihat ke arah Bunda nya yang menghapus cepat air mata yang hendak lolos keluar dari kelopak matanya.


"Enggak kenapa-kenapa, sayang" jawab Bunda tersenyum.


"Jangan bohong, Bunda?" Aliyah menghampiri Bunda nya, lalu memeluk erat Bunda.


"Bunda enggak apa-apa. Bunda hanya terharu melihat kalian bisa rukun. Semoga kalian memang jodoh yang di kirim Allah. Selalu bisa saling menjaga dan melengkapi satu sama lain. Jangan mencari kekurangan dan kesalahan dari pasangan kita. Selalu berkomunikasi dan mengambil solusi yang tepat di saat ada masalah. Jangan mengedepankan ego dan emosi sesaat. Selalu dinginkan pikiran, untuk memutuskan sesuatu hal. Hanya itu pesan Bunda" Bunda menangkup kedua pipi chubby Aliyah dan menciumnya bergantian. "Ohh, my princess"


Denis pun sangat terharu melihat Bunda yang sangat menyayangi putrinya. Ingin menangis tapi pasti malu lah, jika terlihat Bunda. Masa iya lelaki cengeng.


"Buat Denis. Bunda hanya berpesan selalu jaga kepercayaan Bunda dan Ayah. Karena Aliyah juga menaruh percaya dan menaruh harapan yang besar kepada Denis"


"Iya, Bunda. InsyaAllah Denis kan selalu menjaga dan membuat Aliyah bahagia bersama Denis di jalan Allah"


"Bunda mau balik dulu ke kamar mbak Aliyah. Mau siap-siap, Ayah mau jemput" pamit Bunda berjalan keluar dari kamar Denis.


"Iya, Bunda" jawab kompak Denis dan Aliyah.


Kini tinggallah mereka berdua di dalam ruangan putih itu.


"Sayang, akak Chan Teratai siapa?" tanya Denis masih penasaran.


"Ntuu lho, Bee. Tetangga rumah beda RT, RW. Kesayangannya Koko Ndy. Yang biasa bilang kayak gitu"


"Masa iya, ada bilang gitu?"


"Iya, kalau Bee tak percaya. Nanti tanya ke authornya sendiri yang sekarang lagi oleng dianya"


"Emang oleng kenapa?"


"Oleng karena authornya lagi kangen sama seseorang yang jauh di sana. Pasti sekarang lagi nangis guling-guling kayak dadar gulung nyungsep tengkurap. WkwkwkπŸ˜‚"


"Sayang.. "


"Uupssttt.. Iya Bee lupa. Kita jangan ghibahin authornya di sini, nanti kita di pisahinin lagi, Bee"


"Huum.. Mendingan kita sekarang asikin aja yuk, mumpung tinggal kita berdua" ucap Denis langsung menarik tubuh Aliyah ke dalam pelukannya kembali.


"Ihhhh, Beee.. Gelii nie"


"Yang mana, yang geli hayo?"


"Bee... au ah"


🌺🌺🌺🌺🌺


Salam lindu buat Bee yang tak bisa ku sentuh saat ini. Yang bisa memandang lewat sebuah foto dan hanya dapat ku sapa lewat doa.


Semoga Bee di sana selalu baik-baik saja, sehat selalu dan dalam Lindungan Allah SWT. 😘😘😘