FORGET IT

FORGET IT
Siapa Kamu Sebenernya?



"Tunggu beberapa menit lagi cewek buruk rupa! Eh.. Salah, buruk hati. Kamu akan mengetahui siapa sebenarnya pemilik cafe ini! Siapa yang kamu tindas? Kamu rendah kan. Kamu remehkan. Kamu benar-benar sudah salah orang cewek stress. Cewek manjs seperti kamu yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang orang tua mu. Pantas nya kamu di tenggelam kan saja biar jadi santapan ikan. Biar enggak menuh-menuhin dunia ini. Biar berkurang satu yang ingin berebut babang Excel" guman Riris sambil tersenyum kegirangan yang menonton acara spektakuler mempermalukan diri sendiri.


Kini Serly sedang memilih-milih kue yang diinginkan. Berjalan mondar-mandir meliuk-liukan tubuh nya bak model yang berjalan di atas catwalk. Menjadi pusat perhatian pengunjung cafe lindu malam ini.


Seperti anak ayam kehilangan induk nya, sambil mengetuk-ngetukan jarinya di samping pelipis nya seolah berpikir. Mana lagi kue yang akan di beli nya.


Mulai terdengar kusak kusuk dari pengunjung cewek yang mengunjing nya. Karena sebel, eneg, pingin muntah melihat tingkah Serly yang berlebihan sok cantik.


"Itu cewek dari tadi mondar-mandir kayak setrikaan emak aku. Maju mundur biar licin baju nya" celetuk cewek A.


"Uhh.. Bikin eneg pemandangan saja! Lihat cewek ganjen seperti dia" kata Cewek B.


"Ingin muntah 🤮 rasa nya lihat orang yang kepedean seperti itu. Sudah tidak cantik tapi di cantik-cantikin" seru Cewek C.


"Sabar banget mbak yang ngelayani tuh cewek. Kalau aku yang jadi dia, sudah pasti aku jorokin saja. Biar sekalian nyungsep. Hahaha.." kekeh Cewek D.


Itu lah ungkapan para cewek-cewek pengunjung cafe yang geli dan muak melihat gaya sok angkuh nya si Serly. Tapi bukan ungkapan dung. Lebih tepat nya umpatan.


Namun, tanpa di sadari Serly karena kesibukan nya yang berjalan ke sana ke mari. Mondar-mandir memilih kue-kue yang di ingin di bungkus juga yang langsung di nikmati di cafe itu.


Eka pegawai Aliyah yang bertugas melayani pengunjung di bagian pemasaran yang terjun langsung dengan pengunjung cafe. Sudah mencatat semua pesanan Serly. Sedari tadi dia mengikuti ke mana saja arah langkah kaki Serly seperti anak bebek yang berbaris di belakang emak nya sebagai penunjuk arah.


"Sudah cukup itu dulu yang aku pesan. Aku juga belum tahu cowok ku suka kue yang mana dan rasa apa yang ia pilih. Jangan ada yang sampai terlewatkan semua pesanan kue yang sudah aku pilih tadi!" ketus Serly ke arah Aliyah.


"Siap, mbak. Semua pesanan mbah nya sudah tertulis rapi tanpa ada yang terlewatkan satu pun" Aliyah menjawab pertanyaan Serly tetap dengan senyuman manis nya.


"Kapan dan di mana kamu menulis semua pesanan kue yang aku pilih tadi? Memang otak kamu masih fresh bisa menyimpan file segitu banyak. Sini aku mau lihat ulang pesanan kue ku yang tadi aku pilih. IQ jongkok saja bermodal daya ingat tanpa di tulis. Sedang kan kamu sedari tadi hanya mengikuti aku tanpa menulis apapun!" bentak Serly meninggi kan suara nya.


Aliyah masih mode tersenyum nya dan tetap melayani dengan ramah tak menanggapi semua hujatan Serly yang mencekat di telinga.


"Ngapain kamu masih berdiri di sini! Apa kamu budeg (tuli). Cepat ambil tulisan pesanan yang aku pilih tadi" ulang nya.


"Baik mbak, tunggu sebentar" jawab Aliyah lembut dan lagi-lagi Aliyah hanya menanggapi ucapan buruk Serly dengan senyuman yang tetap tersungging di bibir nya.


Serly semakin mengerutkan kening nya. Sehingga terlihat jelas kedua alis nya hampir menyatu.


Disaat Serly memikirkan dan sedang mencari jawaban atas ucapan Aliyah barusan. Kini Eka datang sambil membawa kertas tagihan yang di berikan kepada Aliyah.


"Mbak Aliyah. Ini nota tagihan kue yang sudah di pesan mbak nya dan semua kue yang untuk di bawa pulang telah di packing, siap di bawa. Semua nya telah di masukan ke dalam kotak yang berisi kue pilihan mbak nya tadi. Ini semua sudah sesuai dengan yang di tunjuk mbak nya" ucap Eka sambil menyerahkan nota tersebut kepada Aliyah serta menunjuk ke arah meja yang ada kotak kue yang siap di angkat oleh Serly.


Lagi dan lagi Serly terbengong dan semakin di buat bingung dengan keadaan saat ini.


"Kenapa dia cuma bertugas mengecek saja? Terus cewek itu yang bertugas mencatat dan menyiapkan semua pesanan ku. Siapa sebenarnya kamu? Kenapa cewek yang seragam tadi begitu menghormati dia? Aku harus segera cari tahu, status jabatan apa yang sebenarnya dia miliki di cafe ini" ujar Serly yang di kepala nya saat ini di penuhi dengan berbagai pertanyaan tentang Aliyah.


"Hei.. Kamu sini!" panggil Serly.


"Iya, ada apa ya, mbak? Apa mbak nya, mau nambah lagi kue yang di pesan?" tanya Aliyah segera menghampiri Serly.


"Siapa kamu sebenernya? Kenapa tugas kamu hanya sekedar mengecek saja? Apa kamu manager cafe ini, sehingga kamu dengan seenak nya memerintah bawahan kamu? Masih jabatan manager sudah banyak tingkah!" cerca Serly seraya mencibirkan bibir nya.


"Maaf kan saya, mbak. Jika mbak nya kurang nyaman dengan layanan pegawai saya tadi. Dan Alhamdulillah saya bukan manager cafe ini" ujar Aliyah.


"Bukan manager saja sudah berani memerintah karyawan lain. Sesama karyawan itu saling bantu bukan nya seenak jidat kamu nyuruh teman kamu menggantikan tugas kamu. Mau di pecat kamu? Mana bos kamu, sekarang aku mau laporkan kamu!" sela Serly yang semakin menghina Aliyah.


"Alhamdulillah mbak, mbak nya sudah bertemu langsung dengan pemilik cafe ini" balas Aliyah dengan santai dan sopan.


"Apa maksud kamu! Mana owner cafe ini!" teriak Serly.


"Owner cafe ini, yang berdiri di hadapan kamu saat ini!" ucap seseorang dari belakang Serly.


"Excel!" seru Serly mengepalkan tangan nya serta mengertakan gigi nya.


"Aku kenapa? Kesal? Marah? Ingin tampar wajah tampan aku ini! Silakan, aku terima dengan hati dan segera aku laporkan telah terjadi penganiayaan" ucap Excel sembari tersenyum dan berdiri tepat di hadapan Serly.


"Sialan kamu! Sepertinya kamu sudah mengetahui semua dan pasti kalian telah mengatur dan menjebak aku!" teriak Serly melotot menatap ke arah Excel.


"Ya, memang aku telah mengetahui cafe ini milik Aliyah. Tapi, buat apa aku menjebak kamu. Tidak ada untung dan guna nya. Seharusnya kamu bersyukur dan berterimakasih kepada Aliyah. Masih mau melayani kamu dengan baik. Bahkan dia tidak membalas semua perkataan dan hinaan yang kamu lontarkan kepada nya. Dan dia tidak langsung mengusir kamu dari sini" kata Excel lagi.


Seketika wajah Serly merah padam kebakaran jenggot. Kini giliran dia yang merasa di permalukan dengan kelakuan nya sendiri. Rencana hanya tinggal rencana.


Serly pun kini beranjak pergi keluar meninggalkan cafe itu tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut nya.


❣️❣️❣️


Bersambung...