
Jumpa lagi para readers kesayangan... ππ
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca..
β€β€β€β€
^^^Mungkinkah ini sebuah takdir cinta?^^^
...Yang mempertemukan kita tanpa di rencana...
...Garis cinta yang membawaku tuk melabuhkan hatiku pada seorang Arjuna di udara...
...Suara itu.. Suara yang selalu kurindukan...
...Tawa itu.. Tawa yang selalu buatku ceria...
...Senyum itu.. Senyum yang selalu buatku tenang...
...Sejak saat itu.. Kau selalu menghantui pikiranku...
...Rasa yang tak pernah ku tau artinya...
...Namun, tak rela jika melihat kau bersama yang lain...
...Cemburu.. Apakah benar aku cemburu?...
...Apa hakku atas dirimu?...
...Egois kah diriku, jika ingin memiliki jiwa dan ragamu utuh?...
...Cinta datang tanpa sengaja...
...Tak ada sinyal maupun notif yang memberitahukan kehadiran cinta sebelumya...
...Hanya meninggalkan rasa yang kian mendera...
...Memilikimu adalah kado anugerah yang terindah...
...Tak melihatmu adalah siksaan terberat buatku...
...Tak mendengar kabar beritamu adalah penderitaan yang menyakitkan...
...Karena itu.. Berjanjilah untuk selalu di sisiku...
...Selalu hadir di setiap mata ini terbuka hingga terpejam...
...Selalu bahagia bersamamu...
...Karena kamu adalah segalanya yang di kirim Allah lewat mimpi dan di pertemukan dalam kisah yang berakhir manis...
...Aliyah β€ Denis...
...πΊπΊπΊπΊ...
Selama mengemudikan setir bundarnya. Denis sedikit tak fokus kepada aspal hitam yang terbentang di depannya. Pikirannya hanya tertuju kepada sang pujaan hati yang kini belum tau kejelasan kondisinya.
"Sial! Dasar b4jing4n kau Awan! Kau sudah melakukan kesalahan yang fatal dengan menculik Aliyah! Tunggu pembalasan dariku" kesal Denis mencengkram setir bundar tersebut.
"Kenapa setelah mengenalmu dan memilikimu. Hati ini selalu menjatuhkan egoku terhadapmu. Seakan menolak untuk menyakitimu. Dan selalu kau jadi pemenang di hatiku. Maafkan bee jika tak sengaja memaksamu untuk berhati-hati dalam memilih teman karena bee tak ingin ada sesuatu hal yang menyakiti hatimu lagi. Dan bee sangat menghawatirkan keselamatanmu seperti saat ini. Karena maafkan bee yang tidak bisa ada bersamamu dan menjagamu 24 jam. Bee harus berjuang untuk masa depan kita, sayang"
Ia merutuki dirinya berkali-kali. Hingga tidak terasa kini ia telah sampai di depan sebuah villa mewah dengan pagar besi berwarna hitam yang menjulang tinggi.
Akan tetapi berbanding terbalik dengan kehidupan yang di rasakan oleh Awan. Kaya harta belum tentu membuat hidupnya di penuhi kasih sayang dari kedua orangtuanya. Ia merasakan kesepian di dalam kehidupannya yang bergelimang harta.
Begitu mobil di depan gerbang. Denis dan Zudith memutar otak bagaimana caranya mereka bisa menerobos masuk ke dalam Villa mewah itu.
Zudith turun dari mobil dan bersandiwara di depan satpam penunggu Villa mewah itu untuk berpura-pura mengantar barang suruhan Awan dan segera harus di terima langsung oleh sang empu pemilik Villa mewah itu. Dengan berbagai cara akhirnya Zudith bisa menyakinkan satpam itu membuka kan pintu gerbang Villa mereka tersebut.
Setelah berhasil mengelabuhi satpam tolol itu. Denis dan Zudith berhasil masuk ke halaman villa mewah milik Awan.
Denis segera turun dari mobil, Zudith berjalan mengikutinya di belakang. Mereka berdua memasang wajah datar di balik masker hitam yang di kenakannya untuk menutupi wajah mereka.
Di saat mereka berdua membuka pintu utama telah di hadang oleh bodyguard Awan yang berjaga di depan pintu.
Baku hantam di mulai, Denis dan Zudith berolahraga dengan saling serang, saling adu jotos. Hingga terkapar anak buah Awan yang menghadang mereka berdua.
Denis berjongkok seraya mengangkat kerah baju dari pria di hadapannya dan menatap ke bola mata lawannya itu dengan tatapan dingin yang mengintimidasi.
"Dimana Boss-mu?"
Laki-laki berkepala botak yang di tanyai Denis justru tertawa sinis, tetap kukuh tidak mau membuka mulutnya. Tatapannya kini berbalik meremehkan Denis yang ada di hadapannya. Zudith yang berdiri di samping Denis tidak sabar lagi melihat keadaan seperti itu. Dia menendang perut laki-laki itu.
"Katakan, atau kau ingin mempercepat pada kematian yang telah menantimu!" geram Zudith menginjak dada laki-laki itu.
Laki-laki itu kembali tertawa sinis, semakin menyulut emosi Zudith untuk segera menghabisinya.
"Baiklah jika itu pilihanmu, maka aku akan segera mengantarmu ke peristirahatan yang abadi"
Zudith berdiri dan seketika memberikan bokem panas ke muka laki-laki itu dengan kencang dan berulang-ulang hingga mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Masih juga tidak mau bilang di mana bosmu berada, haah!" gertak Zudith.
Hanya jarinya yang bergerak menunjuk ke arah atas, sebagai jawabannya.
...πΊπΊπΊπΊ...
"Kau tidak akan bisa pergi begitu saja dari genggamanku, Aliyah!"
"Apa yang kau inginkan dariku, Awan?" tanya Aliyah getir, namun tetap bersikap tenang dan waspada.
Aliyah berlari hendak menuruni anak tangga. Namun, Awan mencoba untuk meraih tangan Aliyah. Dengan cepat dan sigap Aliyah menghindar.
Aliyah memukul Awan dan menendangnya, hingga Awan mundur selangkah menjauhinya. Awan menatap dengan tajam ke arah Aliyah.
"Kau harus membayar semua ini karena keangkuhanmu, Aliyah!" teriak Awan menodongkan pistol ke hadapan Aliyah.
Dengan cepat Denis memutar tubuh Aliyah dan menendang senjata yang di pegang Awan. Seketika pistol itu terpental lepas dari tangan Awan. Denis melompat tinggi untuk mengambilnya. Tidak di ragukan lagi ilmu bela diri Denis sangat mumpuni dan ahli dalam aksi seperti itu.
Kini posisinya pun berbanding terbalik, Denis menempelkan pistol dalam tangannya ke arah dahi Awan. Denis tersenyum sinis penuh kemenangan meremehkan Awan.
"Aliyah sangat berharga untuk hidupku. Dan apa kau ingin melunasi hutang-hutangmu yang telah menculik Aliyah, hingga kita impas!" ejek Denis memandang Awan dengan tatapan membunuh.
"Mundur kau! Aku tidak punya urusan denganmu laki-laki yang tak berguna buat hidup Aliyah. Jika kau masih sayang dengan nyawamu!" titah Awan sembari membuang ludah dengan tatapan menghina Denis.
Denis semakin geram melihat keangkuhan pria yang berdiri di hadapannya saat ini. Denis menarik pelatuk pistol dalam genggamannya.
Dorr.. Dorr...
Suara tembakan datang dari arah belakang Aliyah. Mata Aliyah beralih melihat ke sumber tembakan.
"Beeeee.."
"Jangan tinggalin Ay na, Bee" teriak Aliyah sembari menutup kedua matanya tak sanggup melihat darah yang tercecer.
πΊπΊπΊπΊ
Uppsst kok jadi begini??? Kabull lagi jee... πββοΈπββοΈπββοΈπββοΈ