FORGET IT

FORGET IT
Kencan Buta



Suasana di rumah Excel..


Tap.. Tap.. Tap..


Terdengar suara derap langkah kaki yang semakin dekat menuju kamar Excel. Seorang cogan yang mengalami nasib seperti Siti Nurbaya jaman now, masih terlihat anteng tidur memeluk guling nya di atas ranjang berukuran king size. Dia sedang menikmati mimpi indah nya yang bertemu dengan gadis impian nya. Cogan itu tidak bergeming sama sekali walau pun wanita separuh bayah itu menarik paksa selimut yang membalut tubuh atletis nya. Sudah berkali-kali wanita itu memanggil nama nya. Namun, dia tetap anteng dengan tidur ganteng nya.


"Excel, cepat bangun, sudah jam berapa ini!." seru mama nya sembari memukul pantat Excel.


Hampir sepuluh menit sang mama membangunkan putra kesayangan nya itu. Tapi, yang di bangunkan malah asik dengan mimpi nya. Dia tak mendengar suara mama nya yang nyaring terdengar menggelegar bak petir menyambar tower.


"Mama, tunggu dalam waktu 15 menit, kamu sudah harus siap di bawah! Awas, saja kalau kamu belum turun! Tunggu hukuman dari mama!." ultimatum Mama Excel akhirnya meledak juga sore itu, sambil melangkah keluar kamar Excel.


Sepeninggal mama nya. Excel yang masih terlihat bermalas-malasan mengerjapkan mata lalu menggosok nya. Ia turun dari ranjang empuk nya berjalan ke kamar mandi.


"Kebiasaan mama selalu mengancam akan mencabut nama Excel dari pewaris tunggal keluarga Irwanto. Lama-lama Excel kabur juga dari rumah panas ini." gerutu Excel sambil bersandar di dinding kamar mandi.


Ya, kebiasaan mama nya adalah menyuruh Excel kencan buta. Pasti lah hal itu sangat menjengkelkan bagi Excel. Selama ini, ia paling malas jika di suruh kencan buta dengan gadis yang tidak di kenal nya. Apalagi harus menjadi istri nya, pendamping hidup yang akan bersama nya setiap hari, setiap waktu. Mana mungkin bagi Excel bisa tinggal satu rumah dengan orang yang tidak di cintai nya sama sekali. Cinta tidak bisa di paksakan. Karena cinta adalah kenyamanan bukan hanya memandang dari fiksi nya. Excel sengaja membuat perjodohan nya gagal. Karena dari awal Excel tak berminat dengan kata perjodohan yang terdengar tidak enak di telinga.


Mungkin kencan buta ini akan menjadi kencan yang gagal untuk sekian kali. Tapi, mama nya yang super ngeyel itu tetap saja memaksakan kehendak nya kepada Excel putra tunggal kesayangan nya itu. Dengan malas Excel tetap harus melaksanakan keinginan mama nya yang satu itu. Excel cukup datang ke tempat yang telah di atud oleh mama nya dan akan berakhir dengan kekacauan yang di ciptakan Excel agar dapat kabur dari tempat yang menyebabkan itu.


Setelah membersihkan diri dan bersiap. Excel keluar dari kamar nya melangkah turun ke arah meja makan yang sudah ada mama nya menunggu di sana.


***


Derap langkah kaki nya semakin dekat, hingga terdengar di telinga Mama Excel.


Dengan memakai celana jeans dan kaos press body yang melekat pada tubuh kekar dan atletis nya. Excel sudah siap meluncur untuk kencan buta nya. Lebih tepat nya akan bertemu seorang gadis yang telah di pilihkan mama nya sebagai calon istri nya.


Melihat putra kesayangan nya turun dari tangga. Mama Excel tersenyum sumingrah.


"Sini, sayang. Lihat ini, kamu pasti tidak akan pernah menyesal jika memiliki gadis ini." Mama Excel membuka layar ponsel yang di pegang nya. Ada foto seorang gadis yang akan di jodoh kan dengan Excel putra semata wayang nya.


"Siapa lagi sih, Ma? Gadis yang mau, mama jodoh kan dengan Excel." sahut nya berjalan gontai ke arah mama nya.


"Sudah, sini. Nurut saja sama orang tua. Mama juga sudah siapin makanan favorit kamu, daging sapi rendang yang makyus. Kamu pasti menyukai nya dan akan nambah lagi makan nya nanti." ucap Mama Excel.


"Tumben, mama masak daging sapi rendang super pedes kesukaan Excel. Biasa nya mama larang Excel makan yang pedes-pedes. Pasti ini ada telur puyuh di dalam pentol bulat." sindir Excel yang masih malas dengan acara perjodohan mama nya.


"Cerdas kali, anak mama yang ganteng ini. Tidak salah lagi, buah jatuh tidak jauh dari pohon nya." puji absurd Mama Excel.


"Ya, iya lah mah, pasti nurun dari mama sama papa. Emang nya nurun dari tetangga." sindir Excel lagi.


"Hussshh.. Ngapain juga harus bawa tetangga. Emang kamu anak tetangga." Mama Excel melotot ke arah putra nya.


"Mana Excel, tau lah, kan yang bikin adonan dan campuran nya mama sama papa, kok nanya ke Excel." tambah Excel.


"Tambah ngawur saja omongan kamu, Cel!." sungut Mama Excel "Kamu kira mama sanco gitu." sungut Mama Excel geregetan.


"Sanco apaan, Mah?." tanya Excel yang binggung dengan istilah emak-emak jaman now. "Sanco itu bukan nya minyak ya?."


"Selinco, Excel!." sela Mama Excel.


"Apalagi nih, mama? Excel tambah enggak mudeng sama bahasa planet mama." ucap Excel terkekeh sambil menggeleng kan kepala nya.


"Terus menurun dari mana, coba? Menurun dari tanjakan ya, Mah?." balas iseng Excel.


"IQ mama itu di atas rata-rata, Excel. Kenapa kamu jadi lemot begini loading nya?." oceh mama yang frustasi melihat keisengan putra nya.


"Kalau cerdas nurun dari mama. Nah, kalau lemot, nurun dari siapa? Dari mana ini, Mah? Coba cari jawaban nya lah, Mama sayang." goda Excel yang semakin membuat mama nya gemes.


"Tahu! Cari saja sendiri jawaban nya di bawah kolong meja." jawab absurd Mama Excel.


"Nah, nah. Yang ngaco Excel atau Mama nih?."


"Kamu lah, Excel. masa Mama." tolak mentah-mentah Mama nya.


"Tadi yang pakai bahasa planet, siapa duluan? Kan Mama. Ya, Excel ikutan juga lah. Ngikutin jejak sang Mama. Kan buah jatuh tak jauh dari pohon nya. Kita kan 11-12, Mah. Tidak ada kecap no dua. Ada nya cuma nomor satu." Excel menimpali ucapan Mama nya.


"Hahaha.. Kamu ini ya, Excel. Malika saja mama rawat penuh kasih seperti anak sendiri. Apalagi kamu yang lahir dari rahim Mama. Ya pasti Mama rawat dengan sepenuh hati, cinta dan kasih sayang yang tiada tandingannya." ujar Mama Excel sambil mengelus pucak kepala Excel.


"Sudah, Mah. Jangan semakin jauh omongan nya. Excel tidak faham dengan bahasa planet emak-emak jaman now. Langsung aja dengan tujuan dan maksud Mama sekarang ini. Siapa lagi yang mau Mama jodoh kan dengan Excel?." tanya Excel malas-malasan yang duduk di samping Mama nya sambil menikmati daging sapi rendang.


"Lihat dengan seksama dan jeli. Ini Serly. Putri nya om Firdaus. Kamu, ingat kan!." Mama Excel menyodorkan ponsel nya ke arah Excel untuk melihat foto gadis yang bernama Serly.


"Serly?." Excel menyatukan kedua alis nya. Mencoba mengingat-ingat kembali apakah ia mengenal sosok Serly yang ada di foto itu.


"Masa, kamu tidak ingat? Serly tetangga kita, putri om Firdaus. Waktu papa masih mengurusi bisnis di Yogyakarta." ujar Mama Excel mengingat kembali ingatan Excel.


"Siapa lagi, Serly? Om Firdaus yang mana juga?." Excel tidak mengingat nya sama sekali. Karena memang Excel tidak ingin mengingat nya saat ini.


"Ya, sudah, yang penting sekarang kamu temui saja Serly di Cafe Lindu." titah Mama Excel dan tidak bisa di bantah.


"Oke, Mah. Assiiaapp." ucap Excel beranjak dari duduk nya yang telah menyelesaikan makan nya.


Kini Excel mengemudikan mobil nya ke arah Cafe Lindu. Tempat pertemuan diri nya dengan Serly yang sudah di atur oleh mama nya.


❣️❣️❣️


Bersambung...


...DUKUNG SELALU AUTHOR RECEH INI DENGAN CARA...


...LIKE ...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...RATE BINTANG LIMA...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH READERS KESAYANGAN...


...❣️❣️❣️❣️...