FORGET IT

FORGET IT
Terciduk



Selamat membaca...


❣️❣️❣️


Kembali lagi ke Denis dan Aliyah..


Masih di rumah Denis.


Kini, yang di rasakan hati Aliyah kekesalan dan kejengkelan yang merasuki nya. Duo racun yang tiba-tiba datang ke rumah Denis dan dengan seenak jidat nya menghina, menjelekkan, mengejek bahkan tetang-terangan menjatuhkan dirinya di hadapan Denis. Apalagi saat ini, Aliyah tengah berada di rumah orang tua Denis.


Aliyah berjalan masuk ke dalam kamar dengan kaki sedikit di hentakan di lantai, bibir yang cemberut sebuah tanda protes atas kecemburuan nya pada Denis. Denis pun mengikuti dari belakang Aliyah sambil terus memberikan penjelasan pada Aliyah. Namun, Aliyah tetap bersikukuh meminta pulang ke rumah nya waktu itu juga kepada Denis.


"Bee.. Ay pulang sekarang!." ucap Aliyah dengan suaranya yang serak sedikit terisak.


"Sayang.. Dengerin penjelasan bee."


"Iya bee.. Tapi, ay tetap pulang sekarang! Kalau bee tak mau antar pulang ay na sekarang lebih baik ay pulang sendiri aja. Mana kunci mobil na!." protes Aliyah dan langsung meminta kunci mobil nya.


"Tak ada kunci mobil! Pulang nya besok pagi aja!." bantah Denis sambil memeluk Aliyah dari belakang untuk meredam emosi dan kecemburuan Aliyah yang sudah di level tertinggi.


"Pulang sekarang bee." ucap Aliyah yang berusaha melepaskan pelukan Denis. Namun, tangan Denis semakin mengeratkan pelukan nya.


"Kenapa sih, sayang. Harus pulang sekarang? Ayang tak mau kah menemani bee di sini? Tak bahagia kah ayang bersama bee?." bisik Denis pada telinga Aliyah.


"Emm" jawab Aliyah.


"Tak di jawab! berarti ay tak suka berada di sini bersama bee." ulang Denis.


"Ay suka bee. Ay bahagia bisa selalu di samping bee na. Tapi, bee na suka bermain api! suka tepe-tepe sama cewek, kan jengkel hati ay na, kesel tau bee!." akhirnya Aliyah membuka suara protesnya.


Denis menyunggingkan senyum kemenangan di sudut bibir nya. Dia tau bagaimana cara nya untuk meluluhkan hati kekasih nya itu.


"Sayang.. Bee kan sudah biasa bermain api." jawab Denis santai.


"Ntuu kan bee, sudah ay duga." protes Aliyah semakin mengerucut kan bibir nya.


"Haiiss.. Bee belum selesai bicara na, kenapa ay potong? Kan jadi potong bebek angsa." ucap Denis sembari mencium pipi chubby Aliyah.


"Bee.." teriak Aliyah "Ihh.. Bee suka na ambil kesempatan lho."


"Hehehe.. Kan asik lope, kesempatan dalam kesempitan." kekeh Denis.


"Malas lah." balas Aliyah.


"Sayang.. Bee ntuu sudah biasa bermain api dan air. Apa ayang lupa, apa pekerjaan bee?." ujar Denis sekaligus memberikan pertanyaan kepada Aliyah.


"Tau lah, bee."


"Terus kenapa, ayang marah-marah pada bee, jika bee bermain api. Emm.. kenapa hayo?."


"Kalau ntuu api na beda lah, bee." elak Aliyah.


"Kan sama-sama api, sayang." goda Denis sembari membalikkan tubuh Aliyah ke hadapan nya.


"Beda bee.. Beda!." sungut Aliyah.


"Beda bee.. Ntuu api na bisa buat gosong tubuh bee, kalau terbakar. Tapi, kalau yang satu ini, api na bisa buat hati ini kesel dan jengkel. Rasa na pingin timpuk pakai bakiak kayu." ucap Aliyah dengan nada suara yang lirih. Namun masih terdengar oleh Denis.


"Sudah jangan ngambek lagi, lope." ucap Denis sambil menangkup wajah manis Aliyah. Lalu mengecup lembut bibir Aliyah.


Seketika semburat merah terpancar jelas di wajah Aliyah. Dengan cepat Aliyah menundukkan wajahnya dan menyembunyikan di dada Denis.


Sesaat pikiran nya di bayangi lagi wajah si duo racun. Wajah yang semula berbinar, kini menjadi mendung dan sendu. Aliyah tidak mampu lagi menahan emosi dan rasa kekesalan nya pada duo racun itu. Dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada dirinya. Jika sang pemilik hati nya di ambil oleh si duo racun. Karena cinta yang di miliki untuk raja nya sangat besar. Sehingga keluarlah dengan deras cairan bening dari kedua mata indah milik Aliyah membasahi kaos yang di pakai Denis.


Denis segera mengangkat wajah Aliyah ketika merasakan ada sesuatu yang membasahi kaos yang di pakai nya. Tak ingin orang yang di cintai dan di damba nya semakin deras dengan tangisan nya. Denis mengusap air mata dan mencubit hidung bangir Aliyah.


"Sudah berhenti mewek na. Air mata ayang berharga, jadi jangan keluar kan hanya untuk mereka.


" Iya bee.. Tapi.. Emm." Aliyah memundurkan langkah nya sedikit memberi jarak pada Denis. Namun, Denis menahan langkah Aliyah. Dia langsung menutup bibir ranum Aliyah dengan bibir nya. Denis mencium nya dengan kelembutan sangat dalam hingga beberapa detik kemudian melepaskan bibir yang telah menjadi candu itu.


"Biar kan orang lain dengan penilaian tentang kita, jangan di ambil pusing. Anggap saja anjing menggonggong kafila berlalu. Orang lain cuma bisa berkomentar apa saja karena mereka hanya menilai dari cover nya aja. Tapi bee sudah tau semua isi nya. Abaikan mereka. Anggap aja angin yang berhembus dan berlalu. Hujan deras yang singgah sesaat kemudian terang kembali. Yang menjalankan kita. Ayang dan bee, mereka hanya penonton yang dengan suka-suka memberikan komentar negatif, bagi yang tidak suka dengan hubungan kita. Tapi bagi yang mendukung hubungan kita ini pasti mereka dengan senang hati memberikan komentar positif nya." ujar Denis secara gamblang.


"Ta-tapi bee.." sela Aliyah lagi.


Denis menaruh jari telunjuk nya di bibir Aliyah.


"Tak ada kata tapi, sayang. Karena bee mencintai ayang dan ayang mencintai bee, itu yang pasti!."


Denis mengeratkan kembali pelukan nya sambil menempelkan dahi nya ke dahi Aliyah.


"Selesaikan dulu kuliah ayang. Setelah ayang wisuda. Bee pasti akan datang untuk melamar ayang. Meminta ayang pada Ayah dan Bunda untuk menggantikan tanggung jawab mereka dan bee akan selalu membuat ayang bahagia dengan menghujani kasih sayang dan cinta tulus bee dan segera menjabat tangan Ayah dengan ucapan Ijab Qobul." tambah Denis.


Butiran bening kembali menetes terjun bebas membasahi pipi nya. Sungguh Aliyah tak kuasa menahan tangisan nya di pelukan Denis, setelah mendengar apa yang di ucapkan Denis barusan.


"Kita hanya bisa berdoa terus dan terus. Berjuang untuk mewujudkan dan membuktikan cinta kita ini, sayang." Denis berucap kembali sembari mencium kening Aliyah.


"Bee.."


"Gemesin banget lho wajah nya kalau lagi ngambek, mewek gitu." ledek Denis.


Terdengar suara langkah seseorang mendekat ke kamar, di mana Aliyah dan Denis ada di dalam nya. Semakin mendekat dan semakin jelas.


"Ingat, sertifikat halal nya belum turun!." tegur seseorang dari balik pintu.


Denis segera melepaskan pelukan nya dan tersenyum kecut. Aliyah hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian tersenyum ke Ibu Denis yang tiba-tiba menyebulkan diri dari luar kamar. Rasa malu yang terlihat jelas di wajah nya.


"Sabar ya, nak Aliyah. Tunggu sertifikat halal nya di sah kan. " ucap Ibu Denis kemudian tersenyum ke arah Aliyah. "Dan kamu harus lebih giat lagi kerja nya, biar bisa segera mengesahkan sertifikat halal nya. Jangan main kecap kecup anak orang." ledek Ibu Denis sekaligus sindiran kepada putra bontot nya itu.


"Haisss.. ini terciduk dung, nama nya." ucap Denis sembari meraup muka nya dengan kedua telapak tangan nya."


❣️❣️❣️


Bersambung..


Tetap tinggal kan jejak nya berupa like, komen, rate bintang lima dan jadikan favorit.


Terimakasih 🙏😊😊