FORGET IT

FORGET IT
satu



I'm stuck in the dark but


You're my flashlight


You're getting me


getting me through the night


Aku terjebak dalam kegelapan


Tapi kaulah cahaya penerangku


Kau membuatku mampu


melewati malam ini..


Hampir setiap malam aku memutar lagu ini, apalagi jika pikiran ku sedang dilanda kegundahan. Judulnya Flashlight from Jessie J. Kalian pasti pernah mendengarkan atau mungkin menyukainya juga.


 


Namaku Calistha velik, usiaku sekarang 20 tahun. Sudah lulus SMA setahun yang lalu. Awalnya aku tinggal di Jakarta, tapi setelah lulus aku mengganti kewarganegaraan menjadi warga negara Korea dan sekarang aku tinggal dikota impian ribuan bahkan jutaan umat terutama kaum hawa apalagi kalau bukan kota Seoul. Sulit memang mengurus segala persyaratannya, dan membutuhkan waktu yang lama agar hal itu terkonfirmasi.


Aku mengganti kewarganegaraan bukan karena terobsesi dengan wajah-wajah tampan para Idolnya, namun karena ingin menjauh pergi dari iblis betina seperti ibu dan kakak angkatku. Mengingat mereka sekarang membuat moodku buruk saja.


Menurutku, Seoul adalah tempat ternyaman untuk melanjutkan hidup. Karena aku sangat menyukai kulinernya, hanya membayangkannya saja sudah membuat hatiku berdebar kencang. Aku ingin hidup bahagia disini dan melupakan kepahitan dihatiku. Tentu itu tidak mudah, sebab hati letaknya tidak jauh dari empedu.


•••••••


Malam ini suasana hatiku sangat buruk, hal yang ingin aku lupakan rupanya membuatku semakin mengingatnya saja. Aku pergi ke bar yang letaknya tidak jauh dari apertemen tempat ku tinggal, mencoba mencari pelampiasan dengan minum beberapa soju.


Setiap tegukan soju yang kuminum malah membuat bayangan orang-orang yang kubenci bermunculan dan menari-nari di kepalaku.


Flash Back On


Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagiku, karena setiap malam minggu hotel tempat ku bekerja akan selalu dipadati oleh pengunjung. Meskipun Jobku dibagian laundry dihotel itu, kadang pun aku disuruh membantu pegawai yang lain seperti menunjukkan kamar untuk tamu misalnya, atasan bilang aku memiliki penampilan yang menarik jadi dia sering menyuruhku membantu. Aku tak menolak itu karena gajinya pun dua kali lipat seperti yang dijanjikan atasan.


Urusan laundry sudah beres, pekerjaanku mulai santai sekarang. Tinggal membantu yang lain melayani para tamu saja. Itupun kalau ada, karena sepertinya pengunjung mulai sepi akibat hujan lebat yang menghantam kota dengan dasyatnya.


Malam semakin larut ditambah cuaca yang dingin membuat ku bosan saja. Oh aku ingin pulang rasanya, tapi jam bekerja masih sangat panjang. Biasanya sekarang aku sudah selimutan diatas kasur sambil memeluk guling. Namun bos menyuruh kami semua lembur diakhir pekan ini, katanya sih karena dapat kabar kalau ada boy group K-POP bakal berkunjung ke jakarta dan lokasi konser mereka dekat hotel ini.


Bicara soal K-POP mengingatkan ku untuk lebih bersemangat bekerja, rasanya sudah tak sabar ingin menetap dinegeri ginseng itu. Aku sudah menabung lumayan banyak uang dalam beberapa tahun ini dari hasil ku bekerja mulai dari paruh waktu saat masih kelas satu SMA dulu hingga sampai lulus seperti sekarang dengan penghasilan yang lebih besar dari sebelumnya.


ting...


Bunyi notifikasi dihapeku. Aku mengusap layar benda persegi itu. Rupanya itu pesan dari Wahyu, dia kekasihku... dan aku sangat mencintainya.


From : My wawa ❤


sayang, aku dikamar nomor 555, aku menunggumu kemarilah ...


21.33 WIB.


Kapan dia cek in nya? apa mungkin waktu aku ngurusin laundry tadi ya (batinku).


Aku tersenyum membacanya, kemudian membalas pesan itu.


To : My wawa ❤


Aku datang.. Tunggu saja sebentar.


21: 36


Item terkirim.


-----


Lamunanku buyar saat teman kerja memanggil ku.


"Calistha... " aku menoleh.


"Sini... " ucapnya, akupun mendatanginya.


"kenapa mey?" tanyaku pada Lin mey.


"Bantu aku ya, aku tidak terlalu pasih berbahasa inggris jadi kau saja yang layani tamu didepan. Lagipula aku lagi kebelet banget nih, tolong yah.. yah.. please" ucap Lin mey dengan nada memohon.


"Memangnya Jhon dan Natan kemana Mey? " tanya ku lagi.


"ahh... mereka sibuk lagi melayani tamu yang lain. Sudah ya aku pergi, kasian tamunya nunggu lama ntar bos marah. Aku menyayangi mu Calistha, muaachhh...dah... " Lin mey pergi begitu saja.


Aku hanya bisa mengelengkan kepala melihat kelakuan Lin mey, "sudah lah, nanti saja temui Wahyu. Ngak akan lama juga" gumam ku sambil melangkah ke meja resepsionis.


" Selamat datang di hotel Moon King tuan -tuan. Mohon maaf atas ketidaknyamanan barusan karena membuat tuan semua menunggu". Sapa ku mengunakan bahasa inggris sambil membungkukkan badan memberi hormat.


Aku tidak memperhatikan tamu secara inten namun bisa kulihat kostum mereka sedikit mencolok karena hampir semua dari mereka memakai masker.


"Apa begini cara kalian melayani tamu? kalian membuat kami menunggu hampir setengah jam. Lihat saja kulaporkan ke atasan kalian baru tahu rasa " ucap salah satu dari mereka mengunakan bahasa korea dan aku paham yang ia katakan karena aku sudah mempelajari sebagian banyak bahasa mereka.


"Sudahlah Jimin, percuma kau bicara seperti itu padanya. Dia tidak mungkin mengerti yang kau ucapkan ". Sahut pria yang paling tinggi dari antara mereka.


"Sekali lagi saya minta maaf, mohon tuan berbaik hati untuk memaafkan servisan kami yang tidak memuaskan ini" ucapku yang kini mengunakan bahasa Korea. Sebenarnya aku enggan mengunakan bahasa itu sekarang karena takut membuat kesalahan dikalimatku. Tapi tidak mungkin aku membiarkan mereka melaporkan hal ini pada bos, kalau tidak gajiku dan yang lain akan dipotong atau lebih parahnya lagi kami dipecat secara sepihak tanpa pesangon. Tidak, aku tidak mau itu terjadi.


"Selain berbahasa inggris kau pasih berbahasa Korea juga rupanya..!" ucap pria tinggi tadi. Aku tersenyum ramah padanya karna hanya dia yang terlihat santai, sedangkan yang lain memasang wajah dingin terus dari tadi. Dan kurasa itu wajar sih, mungkin mereka lelah.


"Terima kasih pujiannya. Oh ya tuan, mau pesan berapa kamar memangnya? " ucap ku


"mm.. sepertinya empat kamar. Dan tolong cari yang berdekatan serta yang paling nyaman ya".


Aku mengangguk mengerti.


"Atas nama siapa? " Tanyaku


"Kim Namjoon"


"Cek Out? " tanya ku dengan mata yang masih tertuju pada layar komputer.


"Tiga hari"


"Baik, tunggu sebentar".


Tiga menit kemudian.


"Mari tuan, saya tunjukan letaknya". Ucapku sopan sambil membawakan empat kartu kamar. Mereka pun mengikuti ku.


Aku bersyukur karena letak kamar mereka melewati kamar nomor 555.


Aku melihat pintu kamar tempat Wahyu menunggu agak terbuka. Alisku berkerut, namun kuabaikan. Toh nanti aku juga akan kesitu.


Saat beberapa langkah melewati pintu itu, tiba-tiba telinga ku menangkap suara yang aneh. Ada suara desahan wanita dikamar Wahyu, mungkin aku salah dengar. Aku melanjutkan langkah lagi, namun tidak jauh karena langkahku terhenti lagi. Salah satu tamu hotel tadi menabrak punggungku. Mungkin mereka akan kesal karna ini, namun aku tak peduli. Telinga ku sekarang hanya fokus mendengar desahan yang lebih nyaring dari arah kamar Wahyu.


Jantung ku berdegup sangat kencang sekarang, bagaimana tidak... kini suara desahan seorang pria serta kalimat-kalimat menjijikan khas sepasang kekasih sedang bercinta semakin jelas terdengar. Dan aku mengenali suara pria itu, dia Wahyu.


Tubuh ku bergetar, kakiku rasanya begitu berat untuk melangkah. Aku takut, namun tetap ku paksakan mendekati kamar dengan pintu yang setengah terbuka itu.


Samar-samar kudengar tamu tadi bicara, ada yang terdengar kesal dan ada juga yang terdengar khawatir dan penasaran padaku. Aku abaikan mereka, ada hal lain yang lebih membuat ku cemas sekarang.


Kini aku sudah tepat didepan pintu sialan itu, suara menjijikan tentu saja semakin jelas terdengar.


Brakkk