
Jumpa lagi para readers kesayangan... ππ
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca..
β€β€β€β€
Seberapa pun tulus yang di beri, kepastianlah yang menjadi pemenangnya.
Segala sesuatu terjadi tepat pada waktunya..
Percaya pada pengaturan Allah dan tenang saja.. Allah akan mendatangkannya meskipun menurut kita terlambat.
Jika ikhtiar sudah sampai puncaknya, maka biarkan doa dan takdir yang bertarung di langit.
...πΊπΊπΊπΊ...
Penyesalan pasti lah datang terakhir, tak mungkin dia datang di awal. Karena kalau di awal pasti tidak ada orang yang akan merasa dirinya salah. Dia akan merasa dirinya yang paling sempurna karena kesombongan dan keangkuhan yang sudah mendarah daging.
Sama seperti kedua orang tua Awan. Percuma mereka berdua menangisi gundukan yang masih basah itu. Di saat putranya masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Namun, hanya harta benda yang putranya dapatkan. Karena mereka berdua mendewakan kedudukan jabatan dan harta yang berlimpah. Baginya dengan uang mereka bisa membeli dan membayar yang mereka inginkan.
Kini, sudah terlambat kata penyesalan itu keluar dari bibir kedua orang tua Awan. Yang ada hanya kata saling menyalahkan di antara keduanya. Kata yang ingin membenarkan dirinya sendiri. Hanya sebuah doa yang di tunggu Awan peristirahatan terakhirnya.
...πΊπΊπΊπΊ...
Kembali lagi ke Denis β€ Aliyah.
Waktu terus bergulir. Hari demi hari silih berganti. Siang telah berlalu dan malam mulai menyambut. Bulan yang telah di tunggu kini telah tiba. Setelah kejadian demi kejadian yang silih berganti berputar seperti roda memberikan sebuah hikmah bagi kehidupan Aliyah.
Denis mengemudikan mobilnya perlahan keluar dari pelataran rumah Aliyah.
"Sayang, kita mau ke mana Bee?" tanya Aliyah semangat dan penuh penasaran. "Bee, kenapa mata Ay na pakai di tutup kan jadi gelap? Ay tak bisa pandang, Bee"
Denis meraih tangan Aliyah membawa tangan lentik dan halus itu menempel di bibirnya. Ia mencium tangan sang kekasih dengan sangat lembut penuh perasaan cinta.
"Maafkan Bee, lope. Bee harus menutup mata ayang untuk kasih kejutan. Kalau mata ayang jadi gelap tak bisa melihat, kan masih ada Bee yang akan selalu menjadi penerang ayang. Ada Bee yang kan selalu di samping ayang" Denis menatap Aliyah dari samping. Seorang wanita yang penuh kekaguman dan kehangatan. Sifatnya yang lemah lembut itulah membuat Denis jatuh cinta pada Aliyah. Tangan Denis yang terus menggenggam tangan kanan Aliyah.
Beberapa menit kemudian mobil yang di kemudikan Denis telah memasuki gerbang pintu restoran De Bintang King milik Langit. Lalu Denis turun terlebih dulu untuk membantu Aliyah membuka seat belt yang melingkar di tubuhnya.
"Sudah sampaikah, Bee?"
"Sudah, sayang. Ayo turun pelan-pelan, awas terbentur kepalanya" ujar Denis yang sangat melindungi Aliyah.
"Bee, jalannya jangan cepat-cepat. Ay takut jatuh" lirih Aliyah manja.
"Tak, sayang. Bee kan selalu mendekap ayang biar tak jatuh"
Lalu Denis dan Aliyah berjalan dengan berdampingan. Tangan Denis yang setia melingkar di pinggang ramping Aliyah. Sedangkan tangan Aliyah yang menggenggam erat tangan Denis.
"Ntuu sih maunya, Bee. Bisa menang banyak dung, Bee na. Kalau tiap hari begini"
"Emang ayang tak maukah?"
"Pasti maulah, Bee. Pakai di tanya segala" cibik Aliyah.
"Ntuu kan mulai bibirnya jangan di monyokan dulu, sayang. Belum waktunya. Hehehe" kekek Denis.
Ruangan restoran De Bintang King telah di sulap sedemikian rupa. Untuk tempat dinner ala Denis β€οΈ Aliyah.
Lantai ruangan restoran yang khusus di pesan oleh Denis. Kini bertaburan kelopak bunga mawar serta di hiasi lilin-lilin kecil di pinggir-pinggir jalannya untuk sebagai penerangan.
Denis yang terus mendekap mesra pinggang Aliyah dengan kasih dan cintanya yang tak terukur dengan apapun itu. Nyawanya pun di korbankan demi menyelamatkan pujaan hatinya.
"Sayang.." panggil Aliyah pelan. Namun sangat terasa hangat di hati Denis.
"Apa, lope" Denis menyahut lirih.
"Masih jauhkah, Bee?"
"Sudah sampai sayang" Denis mendudukkan Aliyah di kursi yang telah di pesannya. Dan membuka kain penutup mata Aliyah.
Aliyah mengerjapkan kedua matanya untuk menetralkan sinar yang masuk.
"Yaa Allah, Bee. Sungguh indah semua ini. Apa Bee yang menyiapkan semua ini?" Aliyah memejamkan kedua matanya dan meneteskan air mata terharu. Ini sangat menyentuh hatinya yang terdalam. Tempat yang sangat indah, romantis. Apalagi semua ini di persembahkan oleh laki-laki sang pemilik hatinya. Betapa hati ini bersyukur pada rahmatMu. Yang menciptakan laki-laki yang terindah seperti Bee Denis. Laki-laki yang bisa mengayomi pasangannya. Membuat bahagia kekasih hatinya.
"Sayang" Denis memanggil Aliyah sendu. Ia berdiri tepat di hadapan Aliyah saat ini. Terdengar suara alunan musik yang mulai di putar untuk mengiringi kisah mereka berdua.
"Jarak adalah pemisah antara kau dan aku. Kita pernah menepi sampai kita merasa sepi, hampa tanpa kehadiranmu. Tapi kita terus berjuang sampai titik penghabisan. Karena kuyakin dengan awal Bee buka pintu hati ay dengan Al-fatihah. Lanjut Bee guncangkan hati ay dengan Al-Zalzalah. Karena Bee tau hati ay tak mungkin sekeras Al-Hadid melainkan selembut Ar-Rahman"
"Jika mata ay adalah sebening embun pagi. Seindah goresan pelangi. Paras cantik ay seangun senja sore, seharum bunga melati semerbak memenuhi relung hati ini. Senyum ay yang selalu menentramkan hati ini. Yang selalu bisa menjadi moodbosteer di pagi hari. Tutur kata ay yang lembut bak bidadari tak bersayap. Engkaulah anugerah yang sempurna. Anugerah yang terindah. Tulang rusuk Bee yang hilang satu telah tertancap di diri ay na. Ay adalah rahasia Bee untuk bisa selalu tertawa bahagia bersama. Semoga Allah mempertemukan kita di penghujung waktu yang telah di tetapkan. Yang kuingin hanya Ar-Rahman ku yang mengikat jalinan suci kita ini menjadikan kita pasangan halal"
"Yaa Allah. Engkaulah yang maha segalanya. Maha membolak-balikkan hati manusia. Yang menuliskan garis takdir manusia. Engkau telah menjawab semua dari doa-doa yang kupanjatkan di sepertiga malam ku. Yang selalu ku selipkan nama Bee di dalam setiap doaku. Bee malam ini hati ay sangat meleleh melebur ke mana-mana penuh haru" Aliyah merubah posisi duduknya menjadi berdiri tepat di hadapan Denis.
Tangan Aliyah terus berada dalam genggaman Denis. Pandangannya membawa kedalam menatap bola mata elang Denis. Mata keduanya bertemu, saling menatap, salin menyapa dalam malam yang indah. Mencetak kisah yang tak akan bisa terlupakan dalam kisah hidup mereka berdua.
"Dengarkanlah, wanita pujaanku. Malam ini akan kusampaikan. Hasrat suci kepadamu, dewiku. Dengarkanlah kesungguhan ini. Aku ingin mempersuntingmu. Tuk yang pertama dan terakhir" Denis menyentuh pipi Aliyah dan membawa pandangan Aliyah padanya.
"Jangan kau tolak dan buatku hancur. Ku tak akan mengulang tuk meminta. Satu keyakinan hatiku ini. Akulah yang terbaik untukmu"
Denis mengeluarkan satu kotak berwarna merah dari saku celananya dan segera membuka penutupnya.
"Sayang.." panggil Denis pelan. Aliyah mengangkat wajahnya menatap Denis, lelaki pujaaan hatinya. Dia membiarkan Denis mengambil tangannya. Aliyah memperhatikan wajah tampan kekasihnya yang selalu bisa membuat degupan jantungnya memompa dengan cepat. Jika bersamanya selalu tersirat sesuatu yang sangat menggelitik hatinya.
"Kamu adalah alasanku tetap tersenyum. Kamu adalah semangat hidupku. Segala yang kulakukan adalah tentang kamu. Jangan buat hatiku hancur dengan menolakku malam ini. Jadilah Ratu dalam Istana Love Bee. Bermunajat pada Allah untuk menentukan pilihan yang tepat. Dalam sholat Istikharahku. Jawaban berkali-kali pulak tetap sama. Yaitu kamu. Will you marry me? I love you my queen" Denis menyematkan sebuah cincin cantik di jari jemari lentik Aliyah.
"Ay kan terus berdoa sampai bismillah kan menjadi Alhamdulillah. Ay kan terus bersujud meminta kepada Allah, sampai apa yang ay inginkan terwujud. I love you too, my king. Dan Ay sangat bahagia bisa selalu bersama Bee. Menua bersama Bee. Karena bahagia Ay, bahagia Bee"
Kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Denis β€ Aliyah.
πΊπΊπΊπΊ