
Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca..
❤❤❤❤
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. Hujan yang melanda kota S, sejak siang tadi belum juga reda. Trio kwek-kwek lagi berkumpul di gubuk yang sederhana milik orang tua Riris.
Tak lengkap rasanya bila berkumpul seperti itu tanpa ada nya kehadiran seorang Aliyah. Aliyah yang selalu bisa menghibur, memberi support dan menjadi penengah di antara ketiga sahabat nya yang somplak itu.
Di saat lagi seru-serunya kedua cewek itu menonton adengan yang menguras air mata. Membuat emosi jiwa naik ke level 10. Dan rasa nya pingin nimpuk itu pemeran cowok yang lagi berakting memerankan sosok laki-laki yang tidak setia terhadap pasangan nya yang sedang mengandung buah hati tercinta.
Tiba-tiba dari arah belakang sofa mereka di kaget kan dengan suara yang menggelegar.. Suara bariton milik pria yang menjadi musuh bebuyutan Aliyah.
"Dorrrr" suara Doni mengkagetkan Riris dan Labibah.
"Kampvreet... Hampir saja jantung ku terlempar keluar" sungut Riris tak kalah keras nya.
"Kamu kenapa sih, Hunny kagetin kita" Labibah merajuk kepada Doni.
"Habis nya, kalian lucu. Sudah nonton nya melotot ke layar laptop tidak berkedip. Tapi, dalam sekejap tiba-tiba kalian berdua mewek nangis sesenggukan tidak jelas"
"Jangan protes. Laki-laki memang seperti itu. Kalau sudah jaya berhasil dalam karier nya. Pasti tidak setia pada pasangan" protes Labibah.
"Astaga! Kenapa laki-laki yang kalian salah kan? Memang nya kalian lagi nonton film apaan sih. Kok jadi infiiiillll aku" bantah Doni yang langsung melihat ke layar laptop yang sedang memutar drama yang lagi viral itu.
"Pantas pikiran kalian semakin error dan lemot yang kalian tonton drama seperti itu" ejek Doni.
"Emangnya kenapa kalau nonton drama itu? Enggak boleh?"
"Kita nonton drama ini kan buat antisipasi saja, Don. Kita kan bisa mempelajari gerak-gerik pasangan kita kalau sudah tidak setia lagi dalam menjalani suatu hubungan yang serius" ucap Riris yang masih menatap ke layar laptop.
"Iya, Ris. Kita kan bisa ambil pelajaran dalam drama ini" sahut Labibah.
"Babby... Sudah cukup stop matiin itu laptop jangan di terusin nonton yang begituan. Non faedah! Yang ada hanya menambah beban pikiran saja. Kamu bisa negatif thinking kepada ku" Doni mengingat kan Labibah.
"Babby.. Babby.. Wleekkk. Jangan sok romantis kamu, Don! Bikin mual perut ku" ejek Riris.
"Lihat itu bangkai yang di simpan rapat sama suami nya. Akhirnya muncul juga ke permukaan karena ulah bejat kedua nya. Tidak tau malu bermesraan di depan umum. Aib yang selama ini di simpan suami nya terbuka sudah terlihat langsung oleh mata kepala sahabat istri nya"
"Si cewek nya juga kegatelan. Enggak malu apa di pegang pinggang nya dengan erat sama suami orang. seakan dunia hanya milik mereka berdua. Melihat kan pada umum kalau wanita itu milik nya! Ihh.. Jijik sekali ya, Ris. Miris melihat kelakuan mereka berdua. Sudah kayak binatang. Dasar pelakor minta status seperti istri"
"Astagfirullah" Doni tepuk jidat tak habis pikir dengan dua cewek yang berada di hadapan nya, saat ini.
"Ada apa, Hunny?" tanya polos Labibah.
"Sudah matikan laptop nya!" titah Doni.
"Sembarangan! Ini lagi seru-seru nya, Doni! Kenapa harus di matikan?" sahut Riris kesal.
"Ya Allah. Kalian berdua itu!" Doni mengelus dadanya.
Doni hanya bisa menggelengkan kepala nya. Dia semakin tak habis pikir dengan kedua cewek sahabat nya itu.
Wajar saja jika istri dari lelaki itu sampai kesulitan menutupi keburukan suami nya dan merangkai kata untuk menjawab pertanyaan sahabat nya atas perselingkuhan yang terjadi dalam hubungan rumah tangga nya.
Seorang wanita akan berusaha terlihat baik-baik saja di depan pasangan. Dia akan merasa kuat, walaupun di dalam hati dia menangis meraung-raung. Menangis di gelap malam yang sunyi mengadukan kepada Sang Khalik. Ketika dia telah lelah. Mengalah bukan berarti kalah. Diam juga bukan berarti tak mengetahui apa yang terjadi pada pasangan nya. Karena seorang wanita memiliki mental yang kuat. Tapi jangan pernah meremehkan kesabaran seorang wanita. Jika ia telah melangkah pergi dan memutuskan tidak akan kembali kepada mu. Hanya kata penyesalan yang akan keluar dari mulut manis mu itu.
Riris menarik nafas nya begitu dalam. Dia mendongak dan menatap langit-langit ruang tengah rumah nya.
"Setidaknya aku tau, apa yang di rasakan Aliyah, saat itu. Saat Awan menghianati cinta pertama Aliyah. Sekuat mungkin dia bertahan untuk tetap berdiri tegak dan tidak hancur seketika melihat kenyataan bahwa kekasih nya telah berkhianat. Iya, menghianati cinta Aliyah dengan teman nya sendiri"
Dengan suara yang keras. Riris mengkagetkan Doni dan Labibah.
"Woooii.. Ngapain kalian!" teriak Riris. "Semprul! Aku bukan patung, oooiikk! Hargai sedikit lah aku. Jangan mentang-mentang aku tidak ada gandengan. Kalian main kecap kecup aja, di depanku!" omel Riris.
"Salah sendiri enggak cari gandengan" jawab Doni iseng sambil terkekeh.
"Truk aja gandengan, Ris! Kenapa kamu masih pertahanan kejombloan mu. Mengsedih!" sahut Labibah tak bersalah.
Riris melotot kan kedua mata nya kearah dua sahabat nya itu. Mentertawakan diri nya yang jones sekarang ini.
"Iseng banget sih, kalian!" cemberut Riris.
"Mangkanya cepet cari gandengan" tambah Doni yang masih dalam mode mengerjai Riris.
"Kalau aku gandengan? Kamu mau minta pajak bumi dan bangunan, kah?"
"Seperti nya yang harus kasih pajak bumi dan bangunan itu, kalian berdua! Kalian harus sadar diri tanpa aku teriakin harus nya sudah faham lah! Apalagi hujan enggak berhenti-henti dari tadi. Semakin malam semakin dingin. Perut keroncongan" kata Riris dengan mengelus perut nya yang berdendang. "Untung saja penghuni nya tidak sedang bergoyang dangdut koploan. Bisa ambyar ini perut"
"Hahahaha.. Riris.. Riris.. Kamu ngelawak apa lapar?" sahut Doni dan Labibah kompakan.
"Bagaimana kalau kita makan bersama? Don, pesan Go food. Cepat! Lapar ini! Apalagi habis nonton layangan pedot menguras tenaga. Buat orang darting"
"Salah sendiri! Siapa suruh nonton drama begituan. Tambah emosikan" ucap Doni sambil memesan Go food dari ponsel nya.
Setelah hampir setengah jam menunggu dalam ketidak pastian. Go food yang tidak kunjung tiba. Waktu terus bergulir dan perut Riris kian meronta. Penghuni nya sudah pada demo juga, berdendang dengan keras nya. Riris yang sudah merasa tidak sabaran lagi.
"Don, kamu enggak salah kirim alamat kan? Lama banget, sudah lapar ini perut!" tanya Riris sambil mengelus menenangkan para penghuni nya yang semakin dangdut koploan.
"Sabar, tunggu saja. Jangan banyak protes! Gratis itu harus sabar menunggu" jawab Doni yang menelusup kan kepalanya di leher belakang Labibah.
"Sabar, palamu! Enak kalian berdua, dusel-duselan kayak enggak ada tempat lain lagi!" kesal Riris.
"Protes! Denda! Bayar sendiri makanan yang di pesan tadi" balas Doni sekenak nya.
"Malas lah! Bayar sendiri sana! Kalian itu enggak mikir gimana cara bisa menemukan Aliyah. Malah mojok terus!" sungut Riris melempar bantal ke muka Doni sembari berdiri dari duduk nya.
Belum sempat melangkah kan kaki nya. Tiba-tiba listrik di rumah nya padam. Suasana menjadi gelap gulita. Tanpa ada penerangan satu pun.
"Astaga! Mamah Mia. Pakai acara mati lampu segala!" teriak Riris meraba-raba benda di sekitar nya untuk berpegangan.
Namun, beda dengan dua insan yang lagi asik mojok berduaan. Memon seperti ini malah di jadikan kesempatan buat Doni menempel terus ke Labibah.
"Hei.. Kamvret kamu, Don! Nyalain senter di ponsel kamu. Jangan ambil kesempatan dalam kegelapan kamu, buaya!" gerutu Riris yang terus meraba hingga dia merasakan ada sesuatu yang aneh di tangan nya.
"What?!!
" Astaga, apa ini? Kenapa ada rasa yang menonjol dan mengganjal? Yaa Allah.. Apa sebenarnya ini?" Riris membatin sembari memejamkan matanya dan tangan yang tidak melepaskan sesuatu yang di pegang oleh nya saat itu.
Posisi nya yang masih berdiri dalam kegelapan dan siapa sosok orang yang sedang berdiri di hadapan nya, sekarang.
"Riris..! Apa yang kalian lakukan?" suara Doni dan Labibah yang mengema di ruangan itu dan bebarengan dengan sinar lampu yang menerangi kembali. Seketika menyadarkan Riris merubah posisi nya berdiri.
"Astaga.. Langit!" teriak Riris sambil menutup mata nya yang langsung merubah warna merah di wajah mulus nya.
❤❤❤❤
Wkwkwk🤭🤭🙈 apa yang di pegang Riris, ya? Hingga berteriak seperti itu?
Kita jedah dulu ya reader.. Author mau sarapan pagi.. Alarm alami sudah mengingat kan.
Kira-kira yang keenakan dalam kegelapan Riris atau Doni dan Labibah?
Jika ada poin yang tak terpakai jangan di kekepin aja ya, readers. Boleh lah kasih mawar atau kopi nya. Wkwkwk🤭🙈