FORGET IT

FORGET IT
Ayo Katakan



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca..


❤❤❤❤


...Sesuatu yang kau anggap benar dan baik...


...Belum tentu benar dan baik pula bagi orang lain...


...Karena di waktu dan tempat yang kurang tepat...


...❣️❣️❣️❣️...


"Tutup mulut mu!" Lantang suara Excel.


"Kaauu..!" pekik Denis dengan nada tinggi dan sorot mata yang tajam ke arah Excel di penuhi amarah yang memuncak.


Braak..


Denis membanting kursi yang ada di hadapan nya. Berjalan mendekat ke arah Excel. Lalu, menarik tubuh Excel dan mendaratkan sebuah bogem tepat di pipi sebelah kiri.


"Shiitt..."


"Plaakk.." Excel membalas Denis dengan sebuah tamparan yang panas ke wajah nya dengan sekuat tenaga.


"Sial.. Panas juga tamparan nya" batin Denis.


Bugh..


Bugh..


Terjadilah pertengkaran yang cukup pelik di antara kedua cowok yang sama-sama ingin memperebutkan Aliyah. Hingga membuat Zudith cukup sulit untuk memisahkan nya. Dan semakin membuat emosi Zudith meninggi.


"Berhenti kalian!" teriak Zudith, akhirnya.


Namun, kedua nya tak mengubris teriakan Zudith. Tak memperdulikan hindahan adik dari wanita yang ingin mereka rebutkan. Denis dan Excel semakin gencar saling mendarat kan pukulan demi pukulan ke tubuh masing-masing.


"Semua ini gara-gara kamu, hingga Aliyah menghilang" ucap Denis dengan bogem ke perut Excel.


"Kenapa menyalahkan aku!" balas Excel melayangkan tinjunya ke wajah Denis. Namun, dengan sigap Denis menghindar dari tinjuan Excel.


"Cepat sekarang katakan, siapa dalang dari semua kejadian ini!" teriak Denis tepat di telinga Excel.


Excel hanya terdiam. Tidak menjawab pertanyaan Denis.


"Mengapa, kamu diam. Jangan jadi pengecut. Cepat katakan sekarang atau memang dalang nya adalah kamu sendiri, ya?"


Pertanyaan Denis bagai pisau tajam yang lolos menembus tepat di jantung nya. Rasa sesak tiba-tiba menyergap perasaan nya. Excel terdiam kembali. Lidah nya keluh, tidak dapat menjawab pertanyaan Denis itu.


Ada rasa bersalah juga di hati Excel. Andaikan dia tidak nekat untuk meminta Aliyah sebagai pacar bohongan nya. Agar perjodohan nya dengan Serly di batalkan. Tapi, kenyataan nya berbanding terbalik. Semua kejadian yang menimpa Aliyah adalah sebuah kesalahan terbesar bagi Excel. Tapi, harus bagaimana lagi. Nasi telah menjadi bubur. Kini Aliyah telah menjadi korban kegilaan Serly. Excel hanya bisa meratapi kesalahan nya dan membantu keluarga Aliyah sebisa mungkin.


"Diam mu adalah sebuah jawaban yang tak perlu kau ucapkan lagi" kata Denis datar.


"Tenang lah! Aku datang ke sini hanya ingin memberitahu kan sesuatu hal yang penting. Tapi mengapa kau terlihat sangat marah padaku? Aku ingin menemui Aliyah selayaknya seorang teman yang ingin menjenguk nya. Memberikan support kepada Aliyah, hanya itu tidak ada yang lain" jelas Excel tanpa ragu.


"Tenang, kau bilang. Di mana otak kamu. Di saat kita semua di sini, menanti kabar di mana keberadaan Aliyah, sekarang ini. Kau bilang tenang! Aku tak bisa mempercayai mu sepenuhnya. Aku benar-benar ragu. Karena kamu. Aliyah menjadi celaka. Andaikan kamu tak pernah masuk ke dalam kehidupan Aliyah. Aku pastikan kejadian ini tak akan pernah terjadi" tegas Denis.


"Sial.. Dia benar-benar cerdas" batin Excel seraya menatap nanar mata Denis.


"Ayo katakan! Yang aku butuhkan hanya penjelasan dan jawaban yang pasti. Bukan diam mu tanpa kata-kata" ulang Denis tegas.


Diam


Excel masih diam dengan kebisuan nya. Suasana sepi, hening menjadi lebih menegangkan.


Denis yang akan melayangkan tinjunya kembali ke arah Excel. Namun, telah terbaca oleh Excel.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Excel sembari memundurkan langkah nya.


"Jangan basa basi lagi. Aku benci dengan itu semua. Kamu seorang laki-laki tulen kan bukan banci. Jadi cepat katakan. Di mana Aliyah Sekarang" bentak Denis.


"Baik lah, sabar. Aku akan memberikan bukti yang akan menjawab semua pertanyaan kamu" ucap Excel sambil mengambil sebuah benda pipih dari saku celana nya.


Dengan segera memutar rekaman yang di dapatkan dari rumah Serly tempo hari.


"Astaga!" Denis menunjukkan jiwa emosi nya setelah mendengar suara ketiga cewek yang dengan bangga nya merayakan keberhasilan nya mencelakai kekasih hati nya. Namun, dia mencoba sebisa mungkin untuk menahan nya.


Diam Denis, bukan sekedar diam. Ia menelaah apa yang dia dengar dari rekaman yang Excel putar.


"Serly?" Denis mulai membuka suara. "Apa dia dalang dari semua ini? Bisa di percaya kah? Atau ada orang lain lagi di balik semua ini?"


"Maaf, aku tidak tau kalau soal itu. Aku hanya mendapat kan bukti ini dari rumah Serly" ucap Excel menyakinkan Denis beserta keluarga Aliyah.


Denis kembali diam. Sorot matanya semakin tajam menghunus setiap kali ia menatap bola mata Excel. Ada sesuatu yang menghujam hati nya begitu kuat. Rasa kesal dan benci memenuhi seluruh hati.


Jika saja Excel tidak mendekati Aliyah dan menjadi kan korban dari drama kebodohan Excel dengan keluarga nya. Pasti kejadian ini tak akan terjadi pada bidadari kesayangan nya. Namun, semua itu sudah terjadi. Dan kini, Aliyah menghilang entah di mana keberadaan nya.


"Aku datang ke sini bukan ingin membuat keributan" ucap Excel.


"Sudah cukup, jangan di terus kan bicara mu!" sahut Zudith semakin muak melihat Excel.


Namun, Excel tak mendengar kan peringatan dari Zudith. Dia tetap saja berbicara semau nya ingin menjelaskan permasalahan yang terjadi.


Wajah Zudith sudah memerah menahan emosi nya, sedari tadi. Namun, Excel yang terus berucap semakin memicu emosi Zudith meninggi. Tanpa basa basi lagi. Zudith berdiri dari kursi nya. Segera mendekat ke arah Excel berdiri saat ini. Dengan sekali bogem tinju keras tepat di perut Excel.


Bugghhh...


Tergelak lah Excel di lantai putih di dalam ruangan yang nampak sepi, hening itu. Yang mendapat kan tinjuan dari Zudith adik Aliyah.


Ayah Aliyah menunduk lemah kedua tangan nya memegang kepala merasakan pusing dan shock melihat putra nya meninju Excel.


"Zudith.." teriak Bunda Aliyah, seketika langsung ambruk.


❣️❣️❣️❣️


Bersambung...


Selamat menikmati malam panjang.. Happy Weekend.. 🌹🌹🌹