
Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca...
❤❤❤❤
Di sebuah kamar VIP rumah sakit Al-Ikhlas. Masih terbaring seorang gadis di tempat tidur elektrik yang nyaman dan empuk pasca kecelakaan mobil tempo hari.
"Aliyah, sayang.. Bangun sayang.. Princess bunda, kuat. Ayo bangun, sayang" suara Bunda Aliyah yang terus memanggil putri kesayangan nya dengan masih terisak.
Samar-samar Aliyah mendengar suara bunda nya. Namun, kedua mata nya masih enggan untuk terbuka terasa berat.
"Sabar, bunda. Mbak Aliyah pasti akan segera bangun juga. Bunda istirahat dulu, biar Zudith yang jaga mbak Aliyah" ucap Zudith kepada bunda nya.
"Kamu saja ya yang pulang beristirahat, biar Bunda di sini menemani mbak Aliyah" tolak Bunda atas tawaran Zudith.
"Ya, sudah Bunda. Sebentar, Zudith mau ke ruangan dokter yang menanggani proses pemulihan mbak Aliyah" pamit Zudith kepada Bunda.
"Iya, sayang. Hati-hati dan tanyakan yang detail tentang kesehatan mbak Aliyah" pesan Bunda.
Setelah menunggu hampir lima belas menit kemudian.
Aliyah tersadar juga karena mendengar suara bunda nya yang memanggil nama nya terus menerus yang sedang terisak duduk di samping ranjang Aliyah. Begitu Aliyah menoleh ke arah bunda. Ia melihat Bunda nya yang sedang menangis sambil menggenggam erat tangan nya.
"Bunda" panggil Aliyah lirih. Dengan susah payah Aliyah berusaha mengeluarkan suara nya memanggil bunda sambil menggerakkan jemari nya.
Bunda Aliyah terkesiap mendengar suara Aliyah yang memanggil nya. Walau pun terdengar sangat pelan. Namun, bunda tetap mendengar nya.
"Sayang.. Princess Bunda. Terimakasih, Ya Allah. Engkau telah memberikan putri hamba kesadaran nya kembali" ucap Bunda lantang yang langsung memeluk tubuh putri kesayangan nya itu. Yang masih terbaring lemah di bed pasien.
"Bunda.. Aliyah ada di mana?" Aliyah berusaha bangun dari posisi baring nya dan menyandarkan tubuh nya.
"Bunda.. Bunda" panggil Aliyah lagi.
"Iya, sayang. Mbak Aliyah lagi ada di rumah sakit. Berbaring saja dulu kalau belum kuat untuk bangun" ucap Bunda yang melarang Aliyah untuk mencoba duduk.
"Bunda.. Apa yang terjadi sama Aliyah?" Aliyah meraih tangan bunda nya untuk menanyakan kejadian yang menimpa nya.
Aliyah mengedarkan pandangan nya ke sekeliling ruangan yang serba putih itu. Ingatan nya berputar-putar di otak kepalanya, mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan diri nya sebelum berada di dalam ruangan itu.
"Infus? Kain kasa yang membalut di kening nya" guman Aliyah, meraba kain putih yang melingkar di kening nya. Ya.. kini kening nya penuh dengan perban dan menatap pada jarum yang menancap indah di tangan kanan nya. Kaki nya pun masih terasa ngilu, berat untuk di gerak kan karena bengkak.
Seketika ingatan nya berputar cepat di dalam kepala nya. Roll roll film dengan otomatis berputar sendiri nya. Kejadian yang telah terekam di otak nya, kini terlihat sangat jelas. Ingatan nya telah kembali. Dan Aliyah mengingat waktu itu adalah mobil nya telah di tabrak seseorang dengan sengaja dan mengakibatkan dia tak fokus mengemudi kan mobil nya.
Aliyah baru menyadari jika diri nya berada di dalam ruangan serba putih ini dan terbaring di atas bed pasien saat ini. Karena ada seseorang yang ingin mencelakai nya. Pandangan yang mulai berangsur pulih.
Seketika Aliyah menjerit kencang sambil menutup kedua mata dengan kedua tangan nya. Ia masih trauma dengan kejadian malam naas itu. Yang hampir saja merenggut nyawa nya.
"Aaaaaaahh.. Bunda.. Tolong Aliyah" Jerit Aliyah kencang.
Bunda yang hendak mengambil gelas yang berisi air putih di meja sebelah bed pasien tempat Aliyah terbaring. Terkejut mendengar teriakan Aliyah dan langsung merengkuh tubuh putri nya untuk menenangkan nya.
"Mbak Aliyah.. Tenang, sayang. Di sini ada Bunda. Mbak Aliyah enggak usah takut lagi. Ada Bunda yang selalu mendampingi mbak Aliyah. Sekarang tenangkan hati nya dulu. Sabar, ya sayang"
"Siapa yang tega mau bunuh Aliyah, Bunda. Aliyah salah apa sama dia, Bunda. Mobil Aliyah di tabrak berkali-kali, Bunda. Aliyah takut, Bunda. Wanita itu jahat sama Aliyah!" ucap Aliyah sambil terisak. Nafas nya pun tersengal-sengal.
...******...
Dengan tubuh yang masih lemah. Aliyah mencari sesuatu yang sangat di butuhkan saat ini.
"Bunda.. Mana ponsel Aliyah?" ucap Aliyah sembari terus berusaha mencari di laci meja yang berada di samping bed pasien.
"Bunda, enggak tahu sayang, di mana ponsel mbak Aliyah. Nanti saja tanya kan ke adik. Mungkin di simpan sama adik. Sekarang mbak Aliyah, istirahat dulu. Jangan di paksakan bangun!" ujar Bunda berusaha mengalihkan.
"Tapi, Aliyah butuh ponsel ntuu sekarang, Bunda" rengek Aliyah.
"Sabar lah, sayang. Habis ini pasti adik datang ke sini" Bunda kembali memeluk tubuh Aliyah yang masih lemah. Tapi rasa sesak yang memenuhi dada nya tidak seketika hilang. Aliyah masih dapat merasakan nya.
"Adik kemana sih, Bunda" tanya Aliyah tak sabar.
"Adik masih di cafe. Mengurusi pekerjaan di sana juga, sayang" jawab Bunda lembut.
"Masih lama kah, Bunda? Aliyah bosan di sini!" kata nya lagi menatap hampa ke depan.
"Sabar lah sedikit saja. Adik kan juga capek mondar mandir mengurusi semua sendiri"
Ceklek..
Terdengar suara pintu di buka seseorang dari luar.
"Assalamu'alaikum" ucap kompak si duo somplak yang menjenguk Aliyah.
"Wa'alaikumussalam" balas Aliyah lirih.
"Aliyah... What happen with you? Comel ku.. Cinta ku.. Sayang ku.. Hidup ku.." teriak kompak kedua nya dari pintu langsung menghambur memeluk tubuh Aliyah kencang.
"Lebay kalian dua. Sudah lepaskan sakit kali tak bisa nafas. Kalian dua ingin mempercepat kematian ku, apa!" sungut Aliyah.
"What? Enggak salah kamu, Aliyah. Ngatain kita berdua mau bunuh kamu" ucap mereka berdua barengan sambil mengecek suhu di kening Aliyah.
"Apa-apaan, sih kalian. Sudah sana jauhan dari aku. Tambah badmood kali lihat kalian dua. Husshh.. Husshh.. sana" usir Aliyah kepada kedua sahabat somplak nya itu.
"Hallo... Ada yang melengseh kabel di otak Aliyah ini" ucap Riris mengeleng-gelengkan kepala nya.
"Iya, mungkin mur baut nya juga ada yang lepas di otak Aliyah. Hingga membuat konslet otak nya. Jadi enggak konek antara kerja dari otak sama pikiran, Aliyah" tambah Labibah sambil cekikikan.
"Maklum mungkin akibat benturan keras di jidat nya sehingga menambah kekonseltan kabel-kabel kecil yang mengelilingi otak besarnya" ujar Riris sambil menepuk-nepuk jidat nya sendiri.
"Waduh, gimana jadi nya si Aliyah kalau begitu. Nasib percintaan nya di ujung tanduk. Mungkin kah abang Denis masih menerima Aliyah dengan keadaan yang rada konslet?" ucap Riris yang menahan tawa nya.
"Pasti abang Denis langsung putus kan. Karena enggak mau punya pacar yang putus kabel nya" sambung Labibah ikutan Riris mengerjai Aliyah.
"Jadi abang Denis bilang lebih baik ku putus kan saja cari pacar lagi" ucap mereka berdua kompakan sambil terkekeh.
"Kurang ajar kalian dua. Ada sahabat na sakit malah ketawa bahagia. Do'ain yang jelek pulah" Aliyah melempar bantal ke arah kedua sahabat nya.
❤❤❤❤
Bersambung....
Author nya minta maaf ya readers jika cerita nya radak oleng.. Karena author na sudah ngantuk..
Terimakasih masih setia membaca karya receh ku ini.. 🙏🏻🙏🏻