FORGET IT

FORGET IT
Keterbatasan Waktu



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca..


❤❤❤❤


Setelah selesai dengan urusan nya. Denis dan Zudith segera melangkah keluar dari kantor polisi. Dan kembali lagi ke rumah sakit Al-Ikhlas, di mana Aliyah sedang di rawat inap.


Kini, Zudith sudah duduk di belakang setir bundar nya. Sedangkan Denis duduk di samping kursi kemudi sambil memasang seat belt ke tubuh nya. Pikiran nya sedang tertuju pada bidadari tak bersayap kesayangannya.


"Meninggalkan ayang sendirian seperti ini walaupun hanya beberapa jam saja rasa nya tak rela. Bee ingin selalu ada di samping ayang. Memanjakan ayang dengan keterbatasan waktu Bee di sini. Tapi, Bee tak boleh egois juga. Karena untuk mengurusi segala urusan yang belum selesai dan menemukan dalang tabrak lari yang terjadi pada ayang itu sudah jadi tugas Bee. Juga saat ini" Denis dengan pikiran nya sendiri.


Sebelum menjalankan kendaraan Expender hitam milik nya. Zudith mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans yang di pakai nya. Baru saja membuka layar benda pipih di tangan nya. Ada banyak pesan yang masuk. Tapi, netra nya langsung fokus pada sebuah pesan chat yang tertera nama Bunda kesayangan. Segera ia memilih membaca pesan dari Bunda nya dari sekian banyak pesan yang masuk di no WA nya. Yang di anggap sangat penting saat ini.


Zudith membuka pesan dari no Bunda nya dan membaca isi chat tersebut.


Pukul 11.30 WIB. Bunda mengirim pesan ini. Sudah setengah jam yang lalu, karena dalam mode silent. Zudith tidak mendengar ada notif pesan yang masuk.


📩 "Assalamu'alaikum, adik. Masih berada di kantor polisi atau sudah posisi di jalan untuk kembali ke rumah sakit?" (pesan satu).


📩 "Kalau sudah selesai urusan nya. Segera balik ke rumah sakit, mbak Aliyah tidak ada yang menemani sekarang ini" (pesan dua).


📩 "Tidak usah mampir ke rumah makan. Bunda sudah masak makanan kesukaan adik dan abang Denis. Ada rawon surabaya dengan empal daging sapi goreng yang empuk makyuss lengkap dengan sambal dan krupuk udang" (pesan tiga).


📩 "Bunda sama Ayah saat ini perjalanan menuju ke rumah sakit Al-Ikhlas. Bunda tunggu di sana, ya. Wa'alaikumussalam" (pesan empat).


Setelah membaca semua pesan chat dari Bunda kesayangan nya. Zudith langsung mengirimkan chat balasan untuk Bunda.


📩 "Wa'alaikumussalam, Bunda. Ini adik sudah mau perjalanan juga ke arah rumah sakit Al-Ikhlas. Tunggu adik di sana Bunda. Perut ini sudah keroncongan dangdutan campur aduk jadi satu minta segera di isi amunisi. Jadi ngiler pingin cepat-cepat sampai di sana" (mengirim ke no Bunda).


Setelah mengirimkan balasan chat nya. Zudith menghidupkan mesin mobil nya. Dan melajukan perlahan meninggalkan pelataran parkir kantor polisi. Berbaur dengan kendaraan roda empat dan roda dua lain nya di jalan raya yang padat dengan aktivitas dan tujuan masing-masing.


****


Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit. Ayah dan Bunda Aliyah sampai di area parkir rumah sakit Al-ikhlas. Berjalan beriringan Ayah dan Bunda menyusuri koridor rumah sakit masih terlihat ramai lalu lalang perawat, keluarga pasien yang mondar mandir dengan kesibukan nya sendiri.


Sudah satu minggu Bunda mondar mandir di rumah sakit itu untuk bergantian menjaga Aliyah yang sedang di rawat inap akibat tabrak lari yang di alami putri sulung nya itu.


Sesampainya di depan pintu kamar rawat inap Aliyah. Bunda memegang handle pintu dan membuka nya perlahan lahan takut mengganggu tidur siang Aliyah. Karena jarum jam masih menunjukkan tepat di angka 12 siang. Biasa nya jam segitu Aliyah masih terlelap dalam tidur siang nya.


"Assalamu'alaikum" ucap lirih Bunda ketika masuk kamar inap Aliyah.


Ayah dan Bunda masuk ke dalam kamar inap Aliyah. Bunda menaruh bekal makan siang di atas meja dan menoleh ke arah bed pasien.


"Mbak Aliyah" panggil Bunda dari luar kamar mandi.


Hingga berulang-ulang Bunda memanggil Aliyah. Tetap saja tidak ada sahutan dari dalam.


Dengan rasa penasaran dan khawatir pada keadaan putri kesayangan nya. Bunda terpaksa membuka pintu kamar mandi. Tanpa menunggu jawaban dari dalam. Alhasil, Bunda tidak menemukan Aliyah di dalam kamar mandi.


Bunda bergegas berjalan ke arah Ayah yang sedang duduk di kursi di samping bed pasien.


"Mbak Aliyah, tidak ada di kamar nya. Ayah?" Bunda memberitahu kepada Ayah.


Ayah menatap ke arah Bunda. Setelah mematikan layar HP nya. Terkesiap dengan ucapan Bunda barusan.


"Tidak ada, maksud nya gimana. Bunda?" tanya Ayah bingung.


"Kamar mandi tidak ada, Ayah" ucap Bunda lagi.


"Kita tanya ke suster nya saja. Apa mungkin ada pemeriksaan lanjutan untuk kesehatan Aliyah" Ayah memberikan usulan ke Bunda.


"Iya, Ayah. Ayo cepat. Perasaan Bunda jadi tidak enak ini"


***


Bunda dan Ayah segera menghampiri ke meja perawat.


"Siang suster. Saya mau menanyakan pasien atas nama Aliyah Buthaynah. Di kamar Delima. Dia tidak ada di kamar. Apa suster mengetahuinya sedang ke mana?" tanya Bunda sedikit gemetar.


"Sebentar ya, bu. Saya mau tanyakan ke teman yang tadi bertugas memberikan obat ke mbak Aliyah. Apa mengetahui keberadaan, mbak Aliyah sekarang ini" jawab suster jaga.


Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Bisa di katakan begitu. Tapi, tidak dengan Bunda dan Ayah Aliyah, saat ini.


"Maaf, ibu. Hari ini pasien atas nama Aliyah Buthaynah tidak ada jadwal pemeriksaan kesehatan apa pun. Tadi pasien selesai di beri obat, langsung istirahat tertidur di kamar nya" jawab Suster jaga.


"Sekarang, putri saya tidak ada di kamar nya. Suster!" ucap Bunda Aliyah sedikit membentak suster itu.


"Ibu sudah mencari di tempat lain. Mungkin pasien sekarang ini sedang berada di taman rumah sakit atau sedang berjalan-jalan dengan seseorang di sekitar rumah sakit ini" jawab Suster itu dengan santai nya.


"Coba, tolong periksa CCTV rumah sakit ini. Suster!" tiba-tiba suara Ayah terdengar lantang.


"Iya Pak. Tunggu sebentar" jawab suster itu lagi.


****


Jalanan kota yang ramai padat merayap saat ini. Membuat jalanan semakin melambat. Suara bising mesin kendaraan menjadi musik di siang hari. Zudith yang masih fokus di belakang kemudi di kaget kan dengan suara bunyi dan getar dari benda pipih yang berada di dalam saku celana jeans nya.


❤❤❤❤


Bersambung...