Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 99 Permohonan Resign



Enam bulan berlalu dan hingga saat kini belum ada kepastian yang jelas bagaimana kelanjutan hubungan antara Afsha dan dr. Ammar.


Di rumah dr. Ammar, ia menemui Nyonya Fatima sebelum berangkat kerja.


“Ibu, ini untuk yang terakhir kali nya aku bicara pada ibu dengan baik-baik. Apakah ibu akan merestuiku menikah dengan Afsha?” tanyanya dengan menenteng tas kerjanya.


Sudah berapa kali ia bicara seperti itu bahkan dia sendiri sepertinya bosan menanyakannya. Tapi demi Afsha ia membuang rasa bosan itu jauh-jauh.


“Ammar, setiap hari kau bertanya itu padaku. Dan jawabanku tetaplah sama. Tidak.”


Kali ini pria itu tak membantah penolakan dari ibunya seperti hari-hari biasanya. Ia langsung saja keluar rumah tanpa berpamitan ataupun mengucapkan sepatah kata lagi pada ibunya.


Suara bantingan pintu mobil mengiringi pria itu duduk dalam mobilnya. Ia pun kemudian meniru mobilnya dengan kasar menuju ke Rumah Sakit tempatnya bekerja.


“Mungkin sampai tiga tahun pun ibu akan tetap pada pendiriannya seperti ini. Tak berubah. Tak mungkin aku akan menunggu selama itu.” desaunya berat.


Ia merasa memikul beban di kedua pundaknya. Satu untuk masalah ibunya, satu lagi untuk Afsha. Dan jika dihadapkan pada pilihan maka ia pun akan memilih Afsha. Ia tak mau terus membujang sampai usia tua.


“Apa yang harus kulakukan?”


dr. Ammar lalu keluar dari mobilnya sembari berpikir melewati jalanan menuju ke ruangannya.


“Kenapa dr.Ammar terlihat berbeda sekali hari ini? Apa ada masalah?” batin Yusuf. Saat melihat pria itu duduk kemudian melamun.


Bahkan wajah dr. Ammar pun tertekuk juga tampak gundah.


“Dokter, apakah pasien pertama sudah boleh masuk?”


“Oh, ya. Tentu saja Yusuf. Panggil pasien pertama.”


dr. Ammar segera tersadar dari renungannya dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Hingga pada siang hari pria itu kembali duduk merenung di ruang tempat biasanya ia beristirahat.


“Aku harus tegas kali ini. Aku sudah lama menggantung hubunganku dengan Afsha.” ucapnya mantab, “aku harus melakukannya.”


Ia sudah memutuskan untuk mengambil langkah dalam hidupnya.


“Baiklah, sebaiknya aku membuatnya sekarang.” lirihnya. Lalu berdiri dari tempat duduknya kembali ke ruangannya.


“Sudah selesai.”


Cepat-cepat ia mengambil tulisan yang sudah dicetaknya lalu segera ia lipat dan masukkan ke amplop coklat.


“Semoga saja pimpinan Rumah Sakit ada di tempat.” gumamnya sudah berdiri di depan ruangan atasannya.


dr. Ammar mengetuk pintu 3 kali.


“Masuk.”


“Permisi.” dr. Ammar masuk.


“Duduklah.” Seorang pria dengan rambut putih mempersilakannya untuk duduk. “Ada apa dr. Ammar menemui ku?”


dr. Ammar sudah mempersiapkan diri sebelumnya untuk menemui pimpinan rumah sakit. Ia juga belajar menata kosakatanya supaya terdengar sopan.


“Ketua mohon maaf sebelumnya. Aku secara pribadi ingin mengundurkan diri dari rumah sakit ini.” ucapnya dengan tenang dan mantap.


Ia lalu menyerahkan amplop coklat yang di bawahnya pada pria yang duduk di hadapannya.


“Kenapa kau resign? Apakah kau mempunyai tempat bekerja baru? Atau ada aturan di sini yang tidak cocok denganmu?” Ketua ini juga merupakan pemimpin Rumah Sakit seketika terkejut.


Selama ini dr. Ammar merupakan dokter terbaiknya di sana. Bahkan pasien yang berdatangan pun tak hanya dari daerah setempat namun banyak yang berasal dari luar daerah.


“Bukan ketua. Aku tidak punya tempat praktek lainnya aku ingin menikah dan memulai hidup baru.”


Satu jam lamanya mereka bicara. Ketua mencoba menahan dr. Ammar, namun akhirnya ia merelakan kepergian salah satu dokter terbaiknya itu dengan berat hati.


“Terimakasih, ketua.” dr. Ammar lalu menjabat tangan ketua untuk terakhir kalinya.


Ia lalu mengamati semua barang-barangnya. Tak hanya itu, ia bahkan berpamitan pada semua rekan dokternya di sana.


“Sampai jumpa lagi.” dr. Ammar menatap rumah sakit Aspetar untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke mobil dengan tersenyum tipis.


“Tunggu aku, Afsha.”


Pria itu tersenyum lebar setelah duduk di mobil. Ia pun kemudian Mama itu mobilnya dengan semangat menuju ke rumah.