Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 82 Semakin Rindu



Malam hari di rumah Afsha


Gadis itu tak bisa tidur meskipun sudah lewat tengah malam. Tentu saja semua itu karena apa yang telah terjadi di antara dirinya dan dr. Ammar tadi.


“Pria sialan kau dr. Ammar ! Meskipun kau sudah pergi jauh dari sini pun kau masih meninggalkan masalah untukku. Kau membuatku tak bisa tidur begini. Awas jika nanti aku bertemu denganmu lagi.” ucap Afsha kesal.


Ia pun menyalurkan kekesalannya itu pada bantal yang ada di sampingnya dan memukulnya dengan keras sembari bayangkan memukul pria itu sungguhan.


Sedangkan di rumah dr. Ammar


Pria itu terlihat berbeda sekali dari biasanya. Entah kenapa dia sangat bahagia sekali sampai-sampai lainnya ada di sana pun bisa mengetahuinya dengan jelas.


“Apa kau tahu kenapa tiba-tiba dr. Ammar memberi kita bonus di akhir bulan begini ?” ucap kak Amla pada kak Zaitun.


Barusaja dr. Ammar memanggil 4 orang itu dan tiba-tiba saja dia memberikan 4 amplop pada mereka semua dengan tersenyum lebar tanpa penjelasan apapun.


“Mungkin saja tuan kita yang dapat bonus dari rumah sakit atau dari mana dan membaginya dengan kita. Sudah, nggak usah dipikirkan yang penting kita dapat.” balas Kak Zaitun sampai mencium amplop coklat tersebut.


Baginya sekecil apapun uangnya, untuk pelayan sangatlah berarti bagi kehidupannya dan ia akan mengirimkannya pada keluarganya di desa.


dr. Ammar merebahkan dirinya di tempat tidur.


“Afsha... dalam waktu singkat kau berhasil mengambil hatiku. Benar-benar pencuri kau ! Dan aku sama sekali tak menyangka gadis sepertimu bisa mencuri hatiku.” desaunya dengan tersenyum lebar.


Pria itu kemudian tertidur lelap setelah lelah membayangkan Afsha, kekasih barunya.


**


Dua minggu berlalu. Afsha yang ketus di awal hubungan mereka karena masih syok dan belum bisa menerima kenyataan jika mereka sepasang kekasih kini mulai beradaptasi dan bisa menerimanya.


Bahkan dr. Ammar sering menelepon gadis itu di waktu senggangnya seperti saat ini.


Hampir setiap hari pria itu menghabiskan jam istirahatnya untuk makan siang saja dan sisanya menelepon Afsha.


“Aku sudah meminumnya satu jam yang lalu. Kenapa hanya obat saja yang selalu kau tanyakan padaku ? Tidak bisakah kau bahas yang lainnya ?” jawab Afsha kesal lalu duduk dengan membanting tubuhnya di kursi kantor ayahnya.


Mendengar Afsha yang marah pria itu pun tak kesal malah membuatnya semakin tersenyum dan tentu saja menggodanya agar gadis itu lebih marah lagi. Sungguh suatu kesenangan tersendiri bisa membuat Afsha kesal karena dirinya.


“hmmh. Apa sebenarnya yang membuat putriku bisa sampai semarah itu ?” gumam Abizar yang mendingan dengan jelas teriakan putrinya karena ruangan mereka bersebelahan.


Karena penasaran pria itu berdiri dari tempat duduknya lalu menuju ke sisi dinding yang bersebelah dengan ruangan Afsha.


Pria itu memasang dengan cermat telinganya untuk menangkap setiap informasi yang didengarnya.


“Jika kau terus saja membuat ku kesal seperti ini maka aku akan melempar obatnya dan tak akan meminumnya.” ancam Afsha di ujung rasa kesalnya karena pria itu terus saja membuatnya kesal dari tadi.


“Jadi, memang seperti itu gaya berpacaran mereka ? Meskipun tak ada masalah mereka berdua tetap saja bertengkar seperti biasanya ?” gumam Abizar mendengarkan sedikit ucapan putrinya.


Ia lalu menggelengkan kepalanya putrinya yang lembut bisa berubah kasar begitu pada pria yang di kasihi.


“Apa mungkin memang seperti itu caranya Afsha mengungkapkan rasa cinta nya pada seorang pria ?”


Abizar benar-benar tak habis pikir dan masih menggelengkan kepalanya meskipun dia sudah duduk kembali ke tempat duduknya.


“Sialan ! Jangan pernah meneleponku lagi !” ucap Afsha kembali berteriak dan membanting ponselnya setelah mematikan panggilan tersebut.


“Kau semakin membuatku rindu, Afsha.” ucap dr. Ammar tersenyum kecil kemudian menaruh ponselnya ke meja.


Entah kenapa pria itu mempunyai selera yang aneh dia makanya suka pada gadis yang lembut dan penurut seperti pada kebanyakan pria umumnya tapi malah menyukai Afsha yang sering berkata kasar padanya.