
Suatu pagi dr. Ammar sedang bersiap untuk berangkat ke rumah sakit dan mencari sepatunya di sebuah rak sepatu.
“Yang ini kotor.” pria itu mengembalikan sepatu yang sudah diambilnya. “Ini juga, kotor semua.” decaknya saat melihat ada sepatu yang bersih.
Ia pun mengintip ke ruangan lain mencari sosok pelayan, “Tak ada siapa-siapa pada ke mana semuanya ?” tepat di saat dr. Ammar berbalik, Shafa melintas di depannya.
“Safa sini kau.” panggilnya sebelum enggak di situ hilang dari pandangannya.
“Sial sekali aku bertemu dengannya di sini. Kenapa tadi aku masuk lewat sini ?” umpat Afsha dalam hati merasa menyesal kenapa ia harus masuk buru-buru setelah pekerjaannya selesai. “Ya, tuan.”
“Kau semir semua sepatu yang ada di rak sepatu itu.” dr. Ammar menunjuk rak sepatu yang ada di belakang Afsha. “Selesaikan satu untuk ku pakai sekarang.” tambahnya membuat Afsha harus menelan salivanya dengan susah payah.
Tanpa menjawab Afsha pun segera bergerak cepat dan mengambil sepasang sepatu yang kotor diantara 20 pasang sepatu yang ada dalam rak.
“Satu saja aku lelah. Bagaimana jika sisanya kau semir sendiri saja ?” tentu saja itu hanya dia ucapkan dalam hati.
dr. Ammar ternyata tidak keluar dari ruangan dan tetap di sana malahan pria itu kini duduk di sofa yang ada di sisi timur.
“Kenapa dia tak kunjung pergi dari sini ?” Afsha beberapa kali menatap ke samping karena merasa risih bekerja dengan diawasi. “Memang dia kira aku akan mencuri apa ? Atau aku akan merusak sepatunya ?” decaknya kesal dalam hati namun tak bisa berbuat apapun.
dr. Ammar sengaja menunggu di sana karena ia buru-buru dan satu lagi, karena ia ingin mengawasi Safa yang menurutnya selalu tidak benar dalam bekerja. Ia tak mau terlambat karena kecerobohan gadis itu.
“Gosok yang benar.” celetuk dr.Ammar melihat Afsha yang menggosok sepatu seperti menyisir rambut saja dengan gerakan searah.
“Ya, tuan.” jawab Afsha singkat. “Apa masalah dengan gosokanku ? Jadi maksud nya dia minta aku menggosoknya dengan memutar ?” ia pun mengganti cara menggosoknya dengan memutar. “Kurasa tak ada bedanya juga dan tidak lebih baik dari gosokkan ku sebelumnya.
“Waktu mu sepuluh menit lagi.” celetuk pria itu yang berulang kali melirik jam yang melingkar di tangan.
“Ha ?” terang saja Afsha terkejut karena satu sepatu saja belum selesai dan ia pun segera menggosoknya dengan cepat peduli bersih atau tidak.
“Tapi ini belum selesai, tuan.”
“Bawa saja kemari.” ulang dr.Ammar sehingga Afsha membawa sepasang sepatu yang belum selesai itu padanya.
Pria itu kemudian memakai sepatu yang belum bersih itu. “Sekarang lanjutkan menyemirnya.”
“Iya tuan besar.” jawab Afsha dengan penekanan pada kata besar sembari mengangkat kaki dr. Ammar untuk memudahkan nya menyemir.
“Apa kau bilang ?” pria itu merasa Safa telah mengolok-olok dirinya.
“Dasar orang arogan. Baru jadi dokter saja memperlakukan orang serendah ini.” umpat Afsha dalam hati. “Kasihan sekali nanti wanita yang menjadi istrimu. Mungkin dia akan menjadi babumu untuk seumur hidupnya.”
“Safa dua menit lagi aku harus berangkat atau akan terlambat.” ucap dr. Ammar tak sabar ingin segera melangkahkan kakinya masuk ke mobil.
Afsha kemudian menggosok lebih cepat hingga terdengar suara "krak" pada pergelangan kaki dr. Ammar karena di kejar deadline.
“Berhenti.” dr. Ammar mengaduh kembali menarik kakinya. “Kau mematahkan kakiku atau tidak ?!”
“Oups.” Afsha kelepasan dan terlalu mengeluarkan banyak kekuatan yang semestinya tidak perlu kemudian melepas tangannya begitu saja yang membuat kaki pria itu menghantam ke lantai begitu keras. “Sudah cukup.”
dr. Ammar kemudian mencoba berjalan dengan tertatih mungkin karena pergelangan kakinya keseleo lalu masuk ke mobil setelah memarahi Safa kembali tidak becus dalam bekerja.
“Hiss, bukannya sepatuku tambah bersih namun aku malah mendapatkan satu masalah lagi.” dr. Ammar lirik pergelangan kakinya yang sedikit merah sembari mengemudi mobil karena hampir terlambat.
“Rasakan ! Kaki mu mungkin akan keseleo selama tiga atau lima hari ke depan.” Afsha tersenyum puas karena berhasil mengerjai pria yang menyebalkan itu. Ia pun kembali mengambil sepatu lainnya yang kotor dan segera menyemirnya.