Finding Perfect Wife

Finding Perfect Wife
Eps. 59 Permintaan Pertama



Sore menjelang magrib barulah dr. Ammar sampai di rumah.


“Cukup melelahkan juga hari ini.” gumamnya saat masuk ke kamarnya yang terasa nyaman sekali di saat penat menyerang.


Ia menurut tasnya ke meja dan tergoda untuk berbaring di kasurnya yang empuk.


“Bagaimana cara aku mempertemukan mereka berdua tanpa kecurigaan dari Afsha ?” gumamnya berpikir mencari solusi namun ternyata malah tertidur.


“Tuan, ini seragam mu.” ucap Kak Cala.


Pelayan itu berdiri di luar pintu bahkan sampai mengetuk pintunya tiga kali namun tak ada sahutan.


“Aku taruh di sini saja jika begitu. Pasti setelah ini tuan bangun untuk makan malam.” gumam kak Cala.


Ia menaruh beberapa helai seragam yang barusan selesai ya setrika kau meja di depan kamar dr. Ammar dan meninggalkannya begitu saja.


Dari arah lain terlihat Afsha yang berjalan dan melewati kamar dr. Ammar.


“Kenapa seragam pria itu ada di luar ?” Afsha berhenti sejenak meskipun sebenarnya tak ada niatan ke sana. “Apa aku bawakan masuk saja daripada kotor ?”


Ia lalu mencoba membuka pintu kamar dan ternyata tak terkunci, “Kebetulan sekali.”


Afsha lalu masuk dan menaruh baju itu di meja sembari menatap ke arah tempat tidur.


“Ck, jam segini dia sudah tidur. Pria pemalas seperti dia pasti akan mendapatkan omelan dari istrinya nanti.” decak Afsha sambil mengirimkan kepala.


Di langkah kedua tiba-tiba ia berhenti dan berbalik.


“Ya, di pesta pernikahan kemarin dia akan mengabulkan tiga permintaanku. Lalu apa yang sebaiknya ku minta padanya ?” gumamnya berpikir membayangkan apa saja yang bisa dimintanya.


“Sebelum dia lupa aku harus mengingatkannya.”


Afsha menatap ke meja, di sana ada sebuah notes kemudian menulis sebuah pesan di sana yang ia selipkan di bawah seragam tadi.


“Sambil menunggumu bangun aku akan memikirkan permintaanku.” Afsha segera keluar dari kamar dan menutup kembali pintunya sebelum ada yang melihatnya dan terjadi kesalahpahaman.


Afsha kemudian berjalan menuju ke kamarnya dan duduk di tempat tidur.


“Apa yang sebaiknya ku minta pada pria itu ?” gumamnya lagi.


Kali ini Afsha benar-benar berpikir mendalam dan menyeluruh.


Afsha menatap ruangan tempatnya berada saat ini dan merasa seperti berada dalam sangkar karena nggak pernah keluar.


Dia tetap berada di rumah itu meskipun sudah selesai bekerja.


“Sepertinya aku perlu menghirup udara segar.” gumamnya setelah menemukan ide. “Baiklah aku sudah putuskan.” ia pun tersenyum menatap hiasan bunga yang tergantung di dinding kamarnya.


Satu jam kemudian dr. Ammar bangun.


“Astaga aku sampai ketiduran.” pekiknya saat membuka mata dan masih mengenakan seragam kerjanya.


Ia pun segera berganti baju karena merasa tak nyaman. “Apa itu ?” tiba-tiba tatapannya tertuju pada secarik kertas yang terdapat di bawah baju di meja.


Ia lalu mengambilnya, “Ck... gadis itu. Dia ingat pada janji ku rupanya.” dr. Ammar tersenyum kecil dan membuat pesan Afsha ke ku tak sampai hitam di dekat meja.


Pria itu kemudian keluarga marah dan bermaksud untuk makan malam.


Namun di saat ia melewati kamar Afsha dan ternyata masih terbuka membuatnya berhenti sebentar di sana.


“Afsha kenapa kau sampai menulis pesan padaku segala ? Padahal kan Kok bisa bicara langsung padaku karena setiap hari kita bertemu.” ucapnya sembari menyentuh daun pintu, tidak masuk ke kamar karena sudah malam.


“Aku tahu kau tiba pelupa makanya aku menuliskan pesan untuk mu agar kau mengingatnya.” jawab Afsha asal. “Sekalian saja atau di sini sebelum lupa aku akan memberitahukan padamu satu permintaanku terlebih dulu.”


“Ya, katakan itu.” dr. Ammar menaikkan kedua alisnya sembari menatap Afsha.


“Aku ingin kau mengajakku keluar ke tempat termahal di daerah ini.”


dr. Ammar diam dan berpikir sebelum menjawabnya.


“Sepertinya permintaannya kali ini tepat sekali dengan rencanaku. Yah tepat sekali, aku akan memberitahukan hal ini pada tuan Abizar.” batinnya tersenyum lebar membuat Afsha merasa aneh saja.


“Hey jangan berencana yang tidak-tidak atau berpikir untuk mengerjai ku.” ancam Afsha tak suka melihat senyuman pria tengil itu.


“Ya, aku menyetujui permintaan. Deal. Aku pikirkan dulu ke mana dan kapan baru aku akan mengabarimu lagi.” balasnya kemudian segera berlalu dari sana.


“Aneh sekali kenapa perasaanku jadi tak enak ya melihat senyumannya seperti itu ?” ia sedikit curiga karena Betapa mudahnya pria tadi mengabulkan permintaannya tanpa syarat apapun.


Jauh di tempat lain terlihat dr. Ammar yang sedang bercakap-cakap melalui ponselnya dengan senyum lebar.