
Afsha hanya diam dan menurut saja saat dr. Ammar menariknya untuk duduk di sampingnya.
Afsha yang sebenarnya masih kesal dan juga marah pada dr. Ammar, menggeser duduknya menjauh tanpa bicara sepatah kata pun.
“Rupanya dia masih marah karena aku mengajaknya bertunangan.” batin pria itu bisa melihat jelas kemarahan dari sorot mata tajam Afsha yang menghindari tatapan matanya.
“Afsha aku ingin yang terbaik untuk kita. Aku ingin menjaga mu dari sesuatu yang tidak kita duga. Aku juga ingin hubungan kita ini segera halal.” dr. Ammar menggeser duduknya mendekat.
Namun Afsha terus bergeser menjauh hingga sampai ke sudut kursi dan tak bisa bergerak lagi tentunya saat dr. Ammar terus menggeser duduknya mendekat.
“Kau ini kenapa ?” Afsha menatap tajam dr. Ammar.
Dia risih pria itu terus mendekatinya.
“Tak ada yang perlu di jaga dari hal yang kau sebut tadi, juga aku masih ingin bebas.” ucap Afsha mendominasi lalu mendorong keras tubuh dr. Ammar menjauh darinya.
Namun tarikan dr. Ammar membuat gadis itu ikut jatuh menimpa dr. Ammar.
“Kau yang membuat ku jatuh, jangan salahkan aku jika aku menarikmu untuk menahan tubuh ku.” ucap dr. Ammar sebelum Afsha kembali marah padanya.
Afsha menatap senyum lebar dr. Ammar yang membuatnya kesal. Di tambah pria itu mengeratkan pelukannya sehingga dia tak bisa lepas.
“Nona, ini pesanan minuman anda.” bibi Fatma datang membawakan dua gelas minuman.
Namun seketika mobilnya membesar melihat pemandangan di depannya.
“Astaga nona, tuan.” pekiknya melihat dr. Ammar masih memeluk Afsha di atas tubuhnya. “Oh, aku tidak melihat apapun.”
Wanita itu terbalik sambil menutup matanya dan kembali ke belakang. Namun ia membentur dinding.
“Auwh.” barulah bibi Fatma membuka matanya untuk berjalan agar tidak terbentur sesuatu lagi.
“Lepaskan ! Lepaskan aku ! Kau membuat pelayan itu salah paham melihat kita.” geram Afsha tak bisa lepas dari pelukan dr. Ammar.
Afsha memukul-mukul dada dr.Ammar dengan keras.
“Sakit.” rintihnya lalu melepaskan pelukannya.
Afsha segera turun dari tubuh dr. Ammar dan duduk dengan berjarak setengah meter.
“Ayolah sampai kapan kau bertingkah seperti anak kecil ?” dr. Ammar duduk menempel ke Afhsa.
Pria itu tampak sabar dan tenang menghadapi Afsha.
Afsha membuang nafas panjang sambil menundukkan kepala.
“Apa benar aku seperti anak kecil ?” batinnya berpikir dengan menurunkan emosinya.
“Ya, baiklah. cepat habiskan minumnya dan kita keluar setelah ini.” ucap Afsha pada akhirnya dengan membuang egonya jauh-jauh.
Sepuluh menit kemudian setelah berpamitan pada ibu Afsha, mereka berdua pun bergegas menuju ke toko perhiasan yang ada di sana.
“Apakah ini toko perhiasan yang kau maksud ?” tanya dr. Ammar menghentikan mobilnya di depan sebuah toko perhiasan.
Afsha mengangguk kemudian mereka berdua pun turun dari mobil dan masuk ke toko perhiasan.
“Mana yang kau suka ?” ucap dr. Ammar setelah mereka berhenti di sebuah etalase toko perhiasan setelah melihat-lihat ke banyak toko perhiasan lainnya.
“Aku mau lihat dulu jika ada yang cocok langsung bawa pulang.” timpal Afsha.
Ia pun melihat semua cincin yang ada di sana. berulang kali ia meminta pelayan yang ada di sana untuk mengeluarkan sepasang cincin yang menurutnya menarik namun berulang kali pula cincin itu dikembalikan lagi ke tempatnya.
“Kita sudah masuk ke sepuluh toko perhiasan. Aku harap kau akan menemukannya di sini.” bisik lirih dr. Ammar dengan nada lembut namun tugas yang langsung mengena.
“Aku akan mengusahakannya.”
Afsha kembali melihat deretan sepasang cincin di depannya. Ia lalu melihatnya dengan lebih teliti dari sebelumnya.
“Tolong aku pengen lihat yang ini, ini, ini dan ini.” Afsha menunjuk 4 model cincin yang langsung dikeluarkan oleh pelayan.
“Di antara empat cincin ini mana yang kau sukai ?” Afsha bertanya sekaligus meminta pendapat karena ia bingung tempatnya modelnya bagus semua.
dr. Ammar mencoba satu per satu cincin itu di jarinya dan juga memakaikannya dijari Afsha.
“Kurasa kau pantas mengenakan cincin ini.” dr. Ammar melihat salah satu cincin yang melingkar di jari Afsha.
“Jika begitu ambil ini saja.” Afsha tak mau membuang waktu lebih lama lagi di toko perhiasan.
dr. Ammar segera membayar setelahnya dan mereka kembali masuk ke mobil.
Di dalam mobil, dr. Ammar kembali mengeluarkan cincin itu dari kotaknya lalu menyematkannya di jari manis Afsha.
“Afsha dengan cincin ini aku melamar mu dan mengikat mu untuk jadi istriku kelak.”
“Ya.” Afsha menerima lamaran itu sembari mengangguk.