
Setelah kepergian dr. Pasha,
dr. Ammar mengikuti temannya itu keluar dari dapur namun Afsha menahan langkahnya dengan menarik bajunya dari belakang.
“dr. Ammar bisa jelaskan padaku apa maksud perkataanmu barusan ?” tanyanya dengan menuntut.
dr. Ammar yang memang sengaja pergi dari sana untuk kabur terpaksa harus menghadapi Afsha.
“Ya kau tahu aku tak mengizinkanmu menjalin hubungan dengan teman dekatku itu apapun alasannya.”
Namun penjelasan dari pria itu tak bisa diterima oleh Afsha. “Apa sebabnya aku tak boleh menjalin hubungan dengannya ?” balas bertanya dengan menuntut.
“Dia itu terlalu baik untukmu jadi Jangan pernah bermimpi mendekatinya.”
“Ck.” decak Afsha kesal mendengar pernyataan sekaligus hinaan untuk dirinya itu karena ia sama sekali tak tertarik dengan pria manapun, apalagi pria yang tak di kenalnya itu. “Lantas kenapa harus beralasan sebagai kekasihku segala ?” sambil tersenyum menyeringai yang membuat dr. Ammar stuck dan mati kata.
“Kau jangan salah paham dan jangan pernah mengira aku ada perasaan padamu. Itu hanyalah sebuah alasan saja tak lebih, ingat itu.” balasnya dengan nada sedikit tinggi untuk menyembunyikan kegugupannya.
dr. Ammar kemudian segera pergi dari sana sebelum ada pertanyaan lagi dari Afsha yang tak bisa di jawabnya.
“Oh, dia malah pergi begitu saja.” Afsha merutuk dr. Ammar meskipun pria itu sudah keluar dari sana. “Alasan yang aneh sekali. Aku pun juga tak mau menjadi kekasihnya.”
Afsha benar-benar tak mengerti jalan pikiran pria itu dan ia tak mempermasalahkan hal itu karena cucian di depannya masih menumpuk.
Di luar dr. Ammar mengantar kepergian dr. Pasha setelah berpamitan padanya.
“Ingat jangan pernah dekati Afsha lagi atau kau akan dapat masalah.” ucap lirih pria itu di depan pagar namun terdengar lebih seperti ancaman.
“Aku tahu, kau tak perlu mengulanginya.” decak dr. Pasha kesal lalu segera masuk ke mobil. “Baru kali ini dr. Ammar terlihat posesif pada seorang gadis.” tersenyum kecut karena ia terpaksa harus menyerah mengejar Afsha.
“Bagaimana aku menghadiri pernikahan Airin, nanti ?” pria itu melempar undangan tersebut setibanya di kamar.
Ya, Airin adalah mantan kekasihnya dulu yang sudah putus namun semenjak putus dengannya, dr. Ammar belum bisa move on.
“Jika aku datang sendirian ke sana maka sudah pasti dia akan menertawakan diriku yang masih single ini dan belum bisa melupakannya.” dr. Ammar menarik nafas berat. “Bagaimana ya, aku tak ingin kelihatan lemah di depan wanita itu.”
Tanpa sengaja ia mendengar suara Afsha dari luar kamarnya sedang mengobrol dengan salah satu pelayan.
“Ya, aku punya solusinya.” pria itu setelah duduk dan melompat turun dari tempat tidur berlari keluar kamar.
“Afsha.” dr. Ammar menarik gadis itu dari belakang yang membuatnya seketika berhenti.
“dr. Ammar lepaskan aku, kenapa kau menarik bajuku ?” Afsha sampai meninggalkan tangan pria itu dari bajunya karena tetap tak mau melepasnya.
“Aku butuh bantuan mu, kali ini.”
“Bantuan ?” Afsha mengerutkan keningnya tumben sekali seorang dr. Ammar meminta tolong padanya.
Pria itu pun menarik Afsha menepi lalu menyerahkan undangan yang tadi ia pungut di lantai pada Afsha.
“Undangan pernikahan ?” Afsha kembali mengerutkan keningnya setelah membaca apa yang ada di tangannya lalu segera mengembalikan undangan itu pada pemiliknya.
“Aku minta tolong padamu ikut denganku di acara pernikahan ini sebagai kekasihku. Kau mau bukan ?”
“What's ?” pekik Afsha terkejut karena beberapa waktu yang lalu pria itu mewanti-wantinya jangan pernah punya pikiran menjadi kekasihnya, sekarang ia menarik semua ucapannya dan memaksa dirinya menjadi kekasih palsunya.